
"Nyonya Mery...." Sapa Justin pagi itu berjalan menghampiri saat melihat nyonya Mery baru saja keluar dari rumah Jia.
"Iya tuan..." Balas nyonya Mery tersenyum pada Justin.
"Perkenalkan nama saya Justin,kemarin kita bertemu tapi saya belum sempat memperkenalkan diri." Justin mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh nyonya Mery.
"Apa Jia ada di dalam nyonya?"
"Iya tuan Justin,Jia ada di dalam.Semalam dia sempat merasakan sakit pada perutnya makanya saya semalam menginap di sini."
"Apa Jia sakit?" Tanya Justin panik.
"Iya,tapi anda tenang saja sekarang dia sudah baikan dan sedang tidur karena semalam dia tidak tidur sama sekali.Tuan anda temannya kan,saya minta tolong pada anda untuk menghubungi suaminya.Saya rasa dia sangat membutuhkan suaminya untuk menemani masa-masa kehamilannya,apalagi anak dalam kandungannya.Tadi malam saat Jia merasakan sakit,hanya dengan memandang foto suaminya sakitnya bisa hilang.Saya rasa itu adalah ikatan batin antara mereka bertiga yang cukup kuat."
Justin cukup terkejut dengan cerita nyonya Mery,dia tidak menyangka pagi ini akan mendapatkan berita yang cukup membuat hatinya sakit lagi.Egois memang karena Justin memiliki niat untuk mendekati Jia dalam keadaan seperti ini,tapi mendengar cerita dari nyonya Mery barusan membuatnya sadar kalau Jia sangat mencintai suaminya dan dia tidak berhak untuk masuk dalam kehidupannya melebihi ikatan seorang teman.
"Terimakasih nyonya,saya akan segera menghubungi keluarganya." Justin terpaksa berbohong,karena memang dia tidak tahu suami Jia siapa ataupun keluarganya.
"Baiklah tuan,kalau begitu saya permisi."
"Iya nyonya,sekali lagi terimakasih."
"Huueekkkk...hooeekkkk..."
"Jia....Jia kamu tidak apa-apa kan?" Justin berlari menuju ke dalam rumah mencari keberadaan Jia sambil berteriak memanggilnya panik,karena mendengar suara Jia muntah-muntah.
------
"Hoooeeekkkkk....hoeeeekkkkkk...." Nara berada di depan wastafel memuntahkan semua isi dalam perutnya,baru saja dia masuk dalam kamar hotelnya dan entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa mual.
"Tuan...apa anda baik-baik saja?" Reno berdiri di depan kamar mandi dan mengetuk pintu berulang kali,tapi tidak ada sahutan dari Nara hingga membuatnya dan Abel cemas.Ini sudah kesekian kalinya Nara muntah-muntah,saat di pesawatpun seperti itu.
"Tu..."
"Aku tidak apa-apa Ren...Sekarang ayo kita cari Jia." Nara berjalan keluar dari kamar mandi tanpa menghiraukan Abel dan Reno yang cemas melihat keadaannya.
"Tuan wajah anda sangat pucat,sebaiknya anda istirahat dulu." Bujuk Reno memegangi lengan Nara karena dia hampir saja terjatuh.
"Aku kesini bukan untuk istirahat,tapi aku ingin mencari istri dan anakku.Kalau kalian tidak mau membantu,biar aku sendiri yang mencari mereka." Ucap Nara yang sudah berada di depan pintu tanpa menoleh ke arah Reno dan Abel.
Tidak mau berdebat dengan Nara yang sudah bisa di pastikan akan kalah,mereka memilih mengikuti Nara dari belakang.Reno sangat tahu sifat keras kepala bosnya,tidak ada yang bisa meluluhkannya selain istrinya Jia.
"Jia kamu ada dimana? Kamu harus lihat keadaan suamimu sekarang Jia." Ucap Abel dalam hati merasa prihatin dengan kondisi Nara yang berantakan dan tidak terawat.
------
Di rumah Nara
"Apa kalian bilang? Menantuku kabur,kenapa sampai bisa terjadi?" Tuan Wiratama terkejut mendengar laporan dari salah satu pelayan di rumah Nara.Awalnya ingin memberi kejutan untuk Nara dan juga Jia dengan kepulangan mereka yang lebih cepat dari yang seharusnya tapi malah mereka yang mendapatkan kejutan.
"Apa Jia pergi dari rumah? Apa maksudnya pah....?" Seru mama Ajeng di depan pintu.
"Papa juga belum tahu ma,kemarilah aku akan menghubungi Reno."
Setelah beberapa menit tuan Wiratama mengakhiri telfonnya dengan Reno. "Iya ma Jia pergi dari rumah,dan sekarang Nara bersama Reno ada di Belanda menyusul Jia."
"Ma...sudahlah kita sebaiknya mendoakan Jia dan calon cucu kita semoga mereka baik-baik saja dan Nara segera membawa mereka pulang."
"Hahhh...cucu? maksud papa?"
"Iya ma kata Reno Jia hamil." Mendengar kalau dia akan mendapatkan cucu,mama Ajeng sangat bahagia matanya berkaca-kaca terharu dan sekaligus sedih karena harus mendengar kabar bahagia dengan cara seperti ini.Merasakan kepalanya berat karena pusing tiba-tiba penglihatan mama Ajeng menjadi gelap dan...
Brukkkk....
"Ma...ma...bangun...."
------
"Paman...kenapa tidak bilang dari tadi?" Arga terlihat marah dan kecewa.
"Maafkan paman Ga,Jia meminta paman untuk tidak memberi tahu siapa-siapa tentang kepergiannya ke Belanda kemarin.Paman kira dia sudah menemuimu ,karena Jia bilang begitu." Leo tampak merasa bersalah karena sudah menutupi kepergian Jia.
"Sayang,kamu jangan menyalahkan paman Leo.Paman Leo kan tidak tahu kalau Jia pergi dari rumah." Aruna yang merasa kasihan pada paman Leo mencoba berbicara dengan Arga pelan-pelan.
"Tapi kita sudah setengah perjalanan Run.Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Jia.Dia tidak mengenal siapa-siapa disana,dan juga tidak punya tempat tinggal,bagaimana kalau Jia bertemu dengan orang jahat?" Arga seakan lepas kontrol memikirkan sesuatu yang buruk menimpa Jia,dia mengusap kasar wajahnya tampak cairan bening membasahi kedua ujung matanya.Arga benar-benar rapuh bila menyangkut adik semata wayangnya itu.Dia akan benar-benar hancur kalau sampai terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Jia.
Aruna menatap iba melihat keadaan suaminya begitu juga paman Leo yang semakin merasa bersalah.
"Apa aku harus memberi tahu Arga kalau Jia membeli rumah di sana?" Batin Runa bingung antara mau jujur atau tidak.
"Ah nanti saja,aku takut kalau itu hanya akan membuatnya semakin marah karena merasa di bohongi." Runa menggelengkan kepalanya pelan merespon apa yang ada dalam pikirannya saat ini menolak untuk jujur.
"Nanti di bandara berikutnya kita bisa putar arah balik ke Belanda sayang,kamu tenang ya.Mending sekarang kita berdoa semoga Jia dalam keadaan baik-baik saja." Aruna menggenggam erat tangan Arga mencoba menenangkannya.
--------
Rumah Jia
"Jia......." Justin terkejut panik melihat Jia tergeletak di lantai kamar mandi.Dengan segera dia mengangkat tubuh Jia membawanya ke sofa.
"Jia sadar....bangun Jia!" Justin menepuk-nepuk pipi Jia perlahan untuk menyadarkannya.Tak berapa lama Jia tersadar setelah Justin memberikan minyak angin pada hidungnya.
"Justin...." Ucap Jia lirih setelah mengerjapkan matanya berulang kali.
"Kita harus ke rumah sakit Jia,kondisimu sangat lemah.Kamu harus mendapatkan perawatan intensif."
"Aku tidak apa-apa Justin." Jia mencoba berusaha bangun untuk duduk tapi dengan segera Justin menahan tanganya.
"Jangan banyak bergerak,kamu harus turuti perkataanku kalau kamu menyayangi anakmu Jia!" Ucap Justin pelan tapi penuh penekanan hingga membuat Jia mengalah dan mengangguk pelan .Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan bayinya.
"Baiklah kamu tunggu disini aku akan minta tolong pada nyonya Mery untuk ikut dengan kita." Jia hanya mengangguk mendengar permintaan Justin.
"Kenapa kamu begitu baik Justin....Siapa kamu sebenarnya?" Gumam Jia lirih menatap kepergian Justin.
.
.
.