
"Wanita memang merepotkan". Reno hanya bisa menggerutu sepeninggal Abel yang lari entah kemana meninggalkan dia sendiri yang kebingungan.
Deg..Deg...
"Huft...ini cuma mimpi apa beneran nggak sih.Tadi tuh beneran Reno nglamar aku apa cuma bercanda" Gumam Abel sambil memegangi jantungnya yang berdetak kencang.
"Memang harus romantis kaya gimana sih kalau ngelamar wanita." Gumam Reno sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Kamu itu ternyata nggak peka ya jadi cowok." Sahut Aruna tiba-tiba yang kini sudah ada di belakangnya dengan senyuman mengejeknya.
"Maksudnya...?" Reno mengerutkan keningnya.
"Iya,kamu itu nggak peka.Cewek itu maunya di kasih sesuatu yang romantis apalagi di moment ngajak nikah,minimal kasih bunga kek atau coklat apalagi kamu nglamarnya gadis abg yang masih agak-agak puber gitu." Kata-kata Aruna membuat Reno berpikir keras .
"Huh...susahnya mau ngajak nikah aja."
*****
My husband:
"Runa sharelock alamat rumah Jia,aku baru saja sampai di bandara mau menuju ke sana sekarang."
"Uhuk...uhuk..."Runa tersedak setelah membaca pesan dari suaminya.
"Pelan-pelan kak..." Jia menepuk pundak Runa dan menyodorkan segelas air putih untuk kakak iparnya.
"Kakak nggak apa-apa kan? Baca pesan dari siapa sih kak,sampai kaget gitu?" Tanya Jia setelah melihat Runa tenang.
"Ehm...dari Arga Jia,dia sudah sampai di bandara dan mau menuju kesini." Runa menatap Nara dan Reno sebelum menjawab pertanyaan Jia.
"Kak Arga....! Bagus dong kak,kita kan bisa kumpul disini." Jia tampak bahagia mendengar kakaknya akan segera tiba.Berbeda dengan Runa,Nara dan Reno,perasaan mereka menjadi tidak tenang.Terutama Nara yang tahu akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan sebentar lagi.
Hening....
****
Bugh.....
"Kakak....stop....!" Jia berteriak panik saat kakaknya datang tiba-tiba memukul suaminya.
"Ga,lepasin ....!" Runa tak kalah panik melihat kemarahan suaminya.
"Lepasin dan pergi dari hidup Jia!" Seru Arga yang masih memegangi krah baju Nara dengan tatapan penuh emosi.
"Aku nggak mau dan nggak akan pernah melepaskan Jia,Jia istriku." Seru Nara dengan tegas.
"Kakak,lepasin Nara! Maksud kakak apa,kenapa kakak tega meminta Nara untuk ninggalin aku?" Ucap Jia di sela isak tangisnya,hatinya terasa perih melihat darah keluar dari bibir suaminya terlebih lagi mendengar ucapan kakaknya barusan.
"Lelaki ini tidak pantas untukmu,dia nggak bisa membahagiakan kamu,dia hanya bisa menyakitimu Jia!" Terlihat begitu besar kemarahan Arga.
"Apa kakak tega melihat aku menjadi janda! Apa kakak mau keponakanmu lahir tanpa ayah! Bagaimana nanti aku menjelaskan padanya,kalau pamanya sendiri yang meminta orang tuanya berpisah kak!".Arga tercengang mendengar perkataan Jia,dia mencoba mencerna kata-kata adiknya dan mulai mengendurkan cengkraman tangannya.
"Maksud kamu apa Jia?"Arga belum sepenuhnya paham.
"Aku hamil kak,kakak akan punya keponakan." Jawab Jia masih tetap menangis di pelukan Abel.
"Apa kamu hamil?" Arga bertanya lagi untuk meyakinkan pendengarannya,yang dijawab anggukan kepala dari Jia dan juga Runa saat dia bergantian melihat istrinya untuk memastikan kebenaran.
Arga melepaskan tangannya dari kerah baju Nara dan berjalan menghampiri adiknya dan langsung memeluk erat adik semata wayangnya,menghujani pucuk rambutnya dengan begitu banyak kecupan.Ada air mata di kedua sudut matanya yang tidak bisa di bendung.Suasana hatinya berubah menjadi bahagia mengetahui kabar akan memiliki keponakan.
"Maafin kakak sayang." Gumam Arga sesaat setelah melepaskan pelukanya.Di tatapnya kedua mata Jia,dan mengusap air matanya yang masih berjatuhan lalu memberi kecupan di keningnya.
Arga menoleh ke arah Nara yang berada di belakangnya. " Kali ini aku masih memaafkanmu dan memberimu satu kesempatan lagi,ingat ini kesempatan terakhir!" Arga mengacungkan jari telunjuknya pada Nara dan berucap penuh penegasan.
Nara lega mendengar perkataan Arga,walaupun itu terdengar masih dengan nada kemarahan tapi Nara cukup tenang karena Arga mau memberinya kesempatan lagi.
"Terimakasih sayang,kamu nyelametin papa lagi."Batin Nara dalam hati.
******
Nara memandangi wajah istrinya yang terlelap sudah dari beberapa jam lalu,sedangkan dia sendiri masih terjaga mengingat kejadian tadi saat kedatangan Arga,dan besarnya kemarahanya.Dia mengutuki kebodohannya dulu,karena lebih percaya pada kara di banding dengan istrinya sendiri hingga mengakitbatkan kejadian yang menyakitkan ini terjadi.
Nara mengusap perut Jia lau menciumnya lembut. " Terimakasih my baby,papa menunggumu hadir di dunia ini sayang." Gumamnya setelah mencium perut Jia.
.
.
.
Jangan lupa kasih like dan votenya ya kakak....