NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Jawab Saja Pertanyaanku



"Tidak apa-apa bi,biar saya tunggu Jia di sini." Ucap Abel pada bibi pelayan.Tadi sampainya di rumah Jia, Abel di beri tahu kalau Jia sedang tidak mau di ganggu oleh siapapun,makanya dia memutuskan untuk menunggu Jia keluar dari kamar saja.


"Oh ya non,entah saya salah atau tidak memberi tahu nona.Tapi saya pikir saya harus memberi tahu anda,karena anda sahabat dari non Jia." Ucap bibi pelayan sesaat setelah dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali berbalik menghadap Abel,hingga membuat Abel mengerutkan dahinya.


"Iya bi,ada apa? Bibi bisa katakan sama saya tentang Jia." Abel menatap bibi pelayan penuh tanya.


"Begini non,tadi sebelum non Abel datang ada seorang wanita yang datang kesini menemui non Jia.Setelah menemui wanita itu non Jia tampak marah dan terjadi pertengkaran diantara mereka dan non Jia juga mengusir wanita itu." Abel tampak kaget mendengar cerita dari bibi pelayan,dia tampak berpikir keras menerka siapa wanita yang sudah menemui Jia hingga membuat Jia marah.


"Apa mungkin Mia,ah tapi mana mungkin dia berani mengganggu Jia lagi, lalu siapa? Tanya Abel dalam hati.


"Terimaksih bi,atas informasinya."


"Iya non,saya permisi dulu."


------


"Bagaimana Ren,apa Abel sudah datang menemui Jia." Tanya Nara saat sudah keluar dari ruangan meeting.


"Abel belum mengabari saya tuan,saya akan menelfonnya dulu." Jawab Reno langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Abel,tapi hingga beberapa kali tidak ada sahutan dari Abel.


"Dia tidak mengangkat telfonnya tuan." Ucap Reno,membuat Nara cemas karena setelah dia mengecek ponselnya tak ada panggilan dari Jia,dan Jia juga tidak mengirimkan satupun balasan pesan padanya membuat Nara cemas karena ini bukan seperti istrinya yang selalu bawel kalau dia tidak segera membalas pesan atau menelponnya kalau sudah sampai di kantor.


"Coba kamu telfon ke nomor rumah." Perintah Nara setelah menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengendorkan dasinya.


"Maaf tuan,kata bibi non Jia ada di dalam kamar tidak mau di ganggu oleh siapapun dan Abel menunggu di ruang tamu belum menemui nona Jia." Nara yang merasa aneh kaget mendengar laporan dari Reno,karena ini benar-benar bukan kebiasaan istrinya.


"Dan....ehm...tadi ada wanita yang datang ke rumah dan bertengkar dengan non Jia,tuan." Ucap Reno hati-hati supaya tidak membuat bosnya panik,tapi tetap saja langsung terlihat kepanikan di wajah Nara.


"Benar dugaanku,ada yang tidak beres,ayo kita pulang sekarang Ren." Nara segera bangkit dari duduknya keluar dari ruangannya di susul Reno mengikuti dari belakang.


-----


Di jalan Nara tidak bisa tenang karena memikirkan Jia,dia terlihat berulang kali menelfon nomor istrinya tapi tidak ada jawaban sama sekali dan itu membuatnya semakin cemas.


Reno hanya bisa diam melihat kegelisahan bosnya,dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata agar cepat sampai di rumah karena dia sendiri juga penasaran dengan wanita yang sudah menemui istri bosnya itu.


Sampainya di depan rumah, Nara segera melangkahkan kakinya sambil sedikit berlari agar cepat menemui istrinya.


"Tuan Nara." Abel langsung berdiri kaget karena melihat kedatangan Nara yang tiba-tiba masuk ke rumah dengan langkah terburu-buru dan di lihatnya juga Reno kekasihnya di belakang Nara.


"Dimana Jia,Bel." Nara bertanya saat sudah ada di depan Abel.


"Jia masih ada di dalam kamar,aku tidak berani mengganggunya karena bibi bilang Jia nggak mau di ganggu." Ucap Abel ikut cemas karena dia melihat wajah Nara yang begitu cemas.Tak mau menunggu lama Nara bergegas menuju kamarnya.Abel hanya bisa penasaran menatap kepergian Nara,di tatapnya Reno tapi tetap sama tidak menemukan jawaban,karena memang Reno juga belum tahu dan tidak ingin menyimpulkan terlebih dulu walaupun dia yakin dengan kesimpulannya.


Di depan kamar Nara sudah semakin panik karena ketika hendak membuka pintu ternyata di kunci dari dalam dan Nara semakin cemas karena ini lagi-lagi bukan kebiasaan istrinya mengunci pintu kamar,pintu kamar akan terkunci kalau hanya ketika mereka berada di dalam berdua.


"Tuan pakai ini saja." Ucap seorang pelayan yang memberikan kunci cadangan pada Nara,dengan cepat Nara mengambilnya lalu segera membuka pintu.


"Sayang...kamu dimana." Mata Nara berpencar menyapu semua ruangan mencari keberadaan istrinya.Tampak raut wajahnya semakin gelisah saat tak mendapati Jia di ranjang dan juga kamar mandi.Matanya seketika menangkap bayangan di balkon kamarnya dengan langkah panjang Nara segera menghampirinya dan betapa leganya dia saat melihat istrinya tertidur di atas ayunan yang terletak di balkon kamarnya.


Nara menghela nafas panjang,memudarkan sedikit kecemasannya.Di tatapnya wajah Jia mengusap wajahnya kasar saat melihat bekas air mata di ujung mata kecil istrinya itu.Ada rasa sakit di hatinya melihat bekas air mata Jia walaupun dia belum tahu apa yang sudah membuat istrinya menangis yang jelas dia tahu istrinya sedang terluka.


Nara membelai lembut wajah Jia memberinya kecupan di kening saat sudah membaringkannya di ranjang.


"Apa yang sudah membuatmu menangis sayang,aku tidak akan memaafkan diriku bila air matamu keluar karena aku." Gumam Nara kini menggenggam erat tangan Jia.


Reno dan Abel memilh keluar meninggalkan Nara,mereka tidak mau mengganggu.Walaupun alasan utamanya adalah mereka juga ingin melepaskan rindu karena sudah satu minggu tidak ketemu,ya memang saat ujian orang tua Abel membatasi gerak Abel untuk keluar apalagi untuk bertemu dengan Reno.


"Menurutmu siapa wanita yang sudah menemui Jia tadi,sampai membuat Jia seperti ini.Karena selama aku mengenal Jia,dia tidak pernah seperti ini." Tanya Abel mengerutkan keningnya berharap Reno memberinya jawaban.


"Entahlah,tapi kalau dugaanku benar mungkin wanita itu adalah Kara." Jawab Reno dengan tatapan kosong ke depan karena pikirannya sedang berpikir keras menebak maksud kedatangan Kara.


"Kara? maksudmu Kara sahabat kalian mantan tuan Nara?" Tanya Abel dengan wajah serius.


"Iya..." Ucap Reno,Abel tidak menyangka kalau wanita itu yang sudah menemui Jia,dia bisa membayangkan sakitnya hati Jia sekarang apalagi tadi dia sempat bertengkar pasti sudah ada kata-katanya yang membuat Jia marah.


"Itu masih dugaanku,bisa salah." Imbuh Reno yang melihat keterkejutan Abel.


"Semoga saja tidak." Gumam Abel pelan tapi masih bisa di dengar oleh Reno.


"Sebenarnya Kara sudah kembali lagi ke negara ini,dan beberapa hari ini dia juga berusaha ingin menemui tuan Nara di kantor,tapi tuan Nara tidak pernah mau menemuinya.Dan jika benar tadi yang kesini adalah dia berarti dia sudah bertindak nekat." Ucapan Reno membuat mulut Abel menganga kaget tak percaya.


-------


"Jujur sama aku Nara,apa kamu masih berhubungan dengan Kara?" Pertanyaan Jia membuat Nara terkejut,pasalnya saat Jia membuka mata pertanyaan itulah yang pertama dia lontarkan dengan tatapan tajam di matanya.


"Sayang kamu bicara apa? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu." Ucap Nara mencoba menggenggam tangan Jia lagi tapi langsung di tepis kasar oleh Jia.


"Jawab saja pertanyaanku!" Seru Jia lagi.


.


.


.


.


Kakak-kakak jangan lupa kasih vote dan like juga ratenya ya,biar aku tambah semangat nulisnya,terimakasih.