NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Diamlah



"Sayang tante dan om tinggal ke atas dulu ya melihat kondisi Jia,kamu di sini dulu nanti gantian sama tante." Ujar mama Ajeng yang sudah berdiri di ikuti papa Wira dan berlalu meninggalkan Abel dan Reno.


"Iya tante." Sahut Abel.


"Ren,anak orang jangan di apa apain." Ucap papa Wira menggoda Reno sebelum meninggalkan mereka menyusul istrinya yang sudah berada di tengah tangga.


"Iya tuan." Reno gelapan saat akan meyauti ucapan ayah tuannya itu,seakan tahu apa yang sudah di lakukan Reno terhadap Abel.


Ekspresi Abel tak kalah kagetnya saat mendengar ucapan Wira.Muka Abel langsung memerah menahan malu.


"Dasar anak muda jaman sekarang,di pancing sedikit saja langsung ketahuan ." Batin Wira tersenyum tipis saat melihat ekspresi Abel dan Reno.


Di ruang tamu hanya tinggal Abel dan Reno,beberapa saat menjadi hening sepeninggal mama Ajeng dan suaminya.Abel yang sebelumnya duduk di sebelah Reno tiba tiba saja berpindah tempat duduk agak menjauh dari Reno.Dia teringat saat tadi Reno marah marah Di klinik sekolahan,dan tiba tiba saja membuatnya merinding takut.


"Kenapa kamu pindah tempat duduk" Reno menegur Abel dan mengerutkan dahinya.


"Ehm...nggak apa apa,cuma agak panas aja." Jawab Abel dengan mengibaskan tangannya seolah kepanasan padahal cuauca hari itu tidak sedang panas malahan cenderung mendung lalu memalingkan wajahnya dari Reno.


Reno yang kesal dengan alasan Abel sudah berdiri hendak menghampirinya namun terhenti karena terdengar suara dering dari ponselnya dan terpaksa dia duduk kembali untuk mengangkat telfon.


"Kali ini kamu selamat,tapi nanti aku tidak akan melepaskanmu." Batin Reno sebelum menjawab telfonnya,menatap Abel dengan tatapan mengancam.


"Halo." Sapa Reno menjawab telfonnya.Beberapa menit kemudian Reno tampak serius mendengarkan perkataan dari orang yang menelfonnya dan sesekali menganggukkan kepalanya.


"Ok,kamu awasi dia jangan sampai kabur! Aku akan segera ke sana bersama tuan Nara." Reno beranjak berdiri setelah mengakhiri telfonnya dan segera bergegas untuk memberi laporan pada Nara.Tadi Nara sempat meminta Reno untuk mencari keberadaan Mega.


Melihat kondisi Jia membuat Nara murka dan ingin secepatnya membuat perhitungan pada Mega.


Abel melongo karena melihat perubahan sikap Reno,dan juga kesal karena Reno meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan apapun.Sebenarnya dia penasaran siapa yang tadi menelfon Reno hingga membuat sikap Reno langsung berubah serius,namun dia enggan untuk bertanya dan memilih tetap duduk di sofa sambil melihat kepergian Reno.


Tok...tok..


"Permisi tuan." Reno meminta ijin untuk masuk.


"Iya Ren,masuklah." Sahut Nara dari dalam.Saat Nara melihat ekspresi wajah Reno dia sudah dengan apa yang akan di sampaikan Reno.


"Ma,pa Nara titip Jia sebentar ya.Nara ada urusan sebentar." Ucap Nara lalu beranjak keluar kamar di ikuti Reno.Reza yang melihat bahasa isyarat dari kedua temannya merasa penasaran dan segera mengikuti mereka keluar.


"Iya,tapi jangan lama lama cepatlah kembali bila urusanmu sudah selesai." Perintah mama Ajeng.


"Iya ma."


"Dimana wanita itu sekarang Ren?" Tanya Nara saat sudah keluar kamar.


"Dia ada di sebuah cafe tuan,Beny sedang mengawasinya sekarang.Sebaiknya kita segera kesana tuan." Ucap Reno.


"Wanita siapa? Kalian mau menemui siapa,jangan bilang selingkuhanmu Nara?" Tanya Reza penuh selidik.


Plak..


"Jaga bicaramu! Aku tidak mungkin selingkuh,aku tidak sepertimu yang sudah pacaran seratus kali." Seru Nara kesal dan langsung memukul bahu Reza saat mendengar ucapannya.


"Hehe iya maaf,habisnya kalian mencurigakan." Sahut Reza terkekeh tanpa merasa bersalah.


"Sudahlah aku tak punya waktu menjelaskan padamu sekarang.Ayo Ren kita pergi sekarang."


"Baik tuan." Sahut Reno.


"Hey kalian kemana,aku ikut." Seru Reza mengikuti Nara dan Reno.


"Kalau kamu ikut,bagaimana dengan Jia kalau nanti dia siuman?" Seru Nara melototkan matanya.


"Huh aku kan sudah membawa perawat kesini,kamu tenang aja dia bisa di andalkan." Sahut Reza dengan menghela nafas dan memelaskan wajahnya agar boleh ikut,dan akhirnya Nara mengijinkan dia ikut.


Walaupun Reza seorang dokter tapi dia termasuk pria yang menyenangkan punya selera humor yang tinggi,dan mudah bergaul,tapi kadang dia bisa besikap aneh juga.Berbanding terbalik dengan kepribadian Nara dan Reno yang selalu terlihat serius.


Abel yang sedang memainkan ponselnya,seketika menoleh ke arah tangga saat mendengar suara langkah kaki.


Abel berdiri melihat tiga orang pria berjalan menuruni tangga.


"Kalian mau kemana? Abel memberanikan diri untuk bertanya saat mereka hendak melewatinya.


"Wah rupanya ada gadis manis di sini,kamu teman tunangan Nara ya?" Tanya Reza yang sudah mendekati Abel tanpa menghiraukan kedua temannya.


"Aku Reza,teman Nara dan Reno.Nama kamu siapa?" Reza mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri walau tanpa di minta.


Abel bingung mau membalas uluran tangan Reza atau tidak karena dia melihat Reno yang sedang menatapnya dengan sorotan mata tidak suka.


Melihat Abel yang diam saja,Reza segera mengambil tangannya dan bertanya sekali lagi. "Nama kamu siapa? Kenapa malah diam saja." Ucap Reza dengan senyum mengembang di bibirnya yang membuatnya terlihat tampan tak kalah dari kedua temannya.


"A..aku Abel." Jawab Abel dengan terbata.


"Sialan,dokter kampret ini,dia sengaja memancingku." Batin Reno mengepalkan tangannya.


Reno yang sudah di kuasai dengan rasa cemburu sudah tidak perduli dengan keadaan,dia menghampiri dan menarik tangan Abel yang masih di pegang Reza.


"Iya.." Abel menjawab lirih,karena takut melihat wajah Reno yang sedang marah.


"Kalian mau bermain drama sampai kapan?" Seru Nara kesal karena tujuan utamanya untuk segera menemui Mega jadi tertunda.


"Maaf tuan." Sahut Reno segera menyusul Nara yang sudah terlebih dulu berjalan keluar.Tapi sebelumnya dia mendekati Reza.


"Jangan ganggu dia,she is mine!" Seru Reno dan Reza hanya tersenyum kecil sambil mengangkat kedua tangannya.Lalu mereka berdua segera menyusul Nara.


"Aku tidak menyangka dua sahabatku ini takluk pada cewek abg." Gumam Reza pelan.


Drt..drt..


"Jangan genit sama cowok lain lagi!" Seperti itu bunyi pesan yang baru saja Abel terima yang tak lain adalah pesan dari Reno.


"Huh,dasar cowok aneh.Tadi kan dia lihat sendiri,emang di mananya aku terlihat genit." Gumam Abel mendengus kesal.Dia tidak membalas pesan dari Reno karena kesal,Abel memilih bergegas melihat Jia di kamar Nara.


Reno berdecak kesal karena tidak mendapat balasan dari Abel walupun pesannya sudah tebaca,sedangkan Nara juga tampak serius melihat video yang baru saja dia terima dari nomor tidak di kenal.Hanya Reza yang duduk di depan bersama sopir Nara yang tidak


memiliki kesibukan selain memperhatikan kedua sahabatnya di kursi belakang.


"Nara,sebenarnya kita akan menemui siapa?" Reza bertanya untuk memecah keheningan dan mencari perhatian.


"Ren coba kamu lihat video ini." Ucap Nara pada Reno dan tidak menghiraukan pertanyaan Reza.


Reno melihat dengan seksama video di ponsel Nara. "Ini video yang sama yang di kirimkan Beni saat nona Jia di basecampnya bersama Bima,tapi bedanya ini sudah banyak yang di edit tuan." Ucap Reno menjelaskan.


"Kamu benar Ren,rupanya ada yang ingin mengadu domba hubunganku dengan Jia."


"Hah akhirnya..." Seru Reza yang dengan tiba tiba sudah pindah tempat duduk di tengah tengah Nara dan Reno.


"Kamu apa apaan Za!" Seru Nara kesal dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini.


"Habisnya kalian nyuekin aku." Ucap Reza dengan melipat kedua tangannya di dada tanpa rasa bersalah.


Nara menggelengkan kepalanya melihat tingkah Reza yang terkadang membuatnya tidak pantas di sebut sebagai seorang dokter karena tingkah anehnya,sedangkan Reno hanya mengelus dadanya menahan kesal.


Reza menyaut ponsel Nara yang masih di pegang Reno dan melihat apa yang sudah membuat kedua sahabatnya serius.


"Wah apa ini sainganmu?" Ucap Reza melirik Nara.


"Enak saja dia tidak ada apa apanya bila di bandingkan denganku!"


"Hehe iya iya tapi,dia keren juga loh."


"Kalau kamu bicara sekali lagi,akan kulempar kau dari sini!" Sahut Nara lagi lagi kesal dengan Reza.


"Menurutmu apa dia juga yang berada di balik ini semua Ren?" .


"Eh lihat ada video lagi." Sahut Reza,saat Reno ingin menanggapi ucapan Nara.


Mereka bertiga menonton video dengan mata yang tidak berkedip. Nara mengepalkan tangannya emosi.


"Dia tidak berhenti untuk mendekati Jia rupanya." Serunya emosi.


"Tenang tuan,aku rasa ini juga banyak yang di edit,dan kita tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan." Sahut Reno yang masih memperhatikan video itu.


"Dan sepertinya ini bukan ulah Mega tuan.Ini pasti salah satu teman sekelas nona Jia,karena tidak mungkin Mega bisa masuk ke sekolahan nona Jia."


"Kamu benar Ren,berarti ada orang lain yang ingin aku dan Jia berpisah."


"Aku bingung dengan masalah kalian.Kenapa kalian ini menjadi pria pria yang rumit." Ucap Reza melihat kedua temannya secara bergantian.


"Diamlah!" Seru Nara dan Reno bersamaan.


----


"Aku akan mengikuti permainanmu Nara,tapi kali ini aku yang pegang kendali." Batin Mega tersenyum tipis melirik ke arah orang yang sedang mengawasinya dari jauh yang wajahnya masih dia ingat saat kejadian di hotel dulu,orang yang sama di suruh untuk mengawasinya oleh Nara.


Mega sudah tahu kalau dia di ikuti oleh seseorang yang dia yakini orang suruhan Nara,dan memang betul Beni orang kepercayaan Nara yang mengikutinya.


"Aku sudah tidak sabar memberikan kejutan untukmu sayang..." Gumamnya dengan senyum licik mengembang di bibirnya.


.


.


.


.


Bersambung