NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Wanita Bermuka Dua



Reno yang mendengar suara Nara sedang melakukan percakapan di telfon segera menghampiri Nara.


"Tuan mau kemana?" Tanya Abel karena melihat Reno terburu buru.


"Aku mau bicara sama tuan Nara,oh ya aku pinjam kartu nama ini dulu." Jawab Reno bergegas menghampiri Nara tanpa menunggu jawaban dari Abel.


"Kenapa dia terburu buru ya,apa dia kenal sama wanita itu?" Gumam Abel penasaran.


"Ah nanti ajalah nanya sama dia,mending sekarang aku lihat kondisi Jia."


"Permisi tuan." Ucap Reno saat sudah berada di belakang Nara,di lihatnya Nara sedang menggenggam ponselnya erat seakan menahan amarah.


Nara menoleh. "Ren.. kamu kapan datang? Gimana meetingnya tadi?''


"Sudah setengah jam yang lalu tuan,meeting tadi lancar,dan mereka menyetujui kerja sama dengan perusahaan kita tuan."


"Syukurlah,aku kira mereka akan membatalkan kerja samanya karena sikapku tadi.


"Mereka bisa mengerti dengan alasan yang saya berikan tuan.Tuan orang yang menyerempet nona Jia."


"Aku tahu Ren,wanita itu yang telah mencelakai Jia." Ucap Nara memotong ucapan Reno.


"Apa yang harus kita lakukan tuan,dia sudah bertindak nekat ini tidak bisa di biarkan.Keselamatan nona Jia bisa terancam tuan."


"Aku tahu Ren,kamu cari dia dan bawa ke hadapanku.Aku ingin tahu apa maksudnya kenapa dia datang mencariku akhir akhir ini,dan berujung dengan mencelakai Jia,karena kemarin kemarin aku tidak mau menemuinya.Aku tidak akan mengampuninya!"


"Baik tuan."


***


Hahaha


"Sekarang kamu yang akan datang mencariku Nara Araya Wiratama.Kemarin kamu bisa menolak bertemu denganku tapi akan kupastikan tidak lama lagi kamu yang ingin bertemu denganku." Seru Mega dengan menatap foto Nara di ponselnya.


"Kamu harus ingat Nara,yang di jodohkan denganmu itu aku,jadi akulah yang seharusnya jadi tunanganmu bukan gadis kecil itu.Aku akan merebut apa yang seharusnya jadi milikku,kamu tidak akan bisa lari dariku!"


Flashback


Mega adalah salah satu wanita yang pernah di jodohkan oleh mama Ajeng pada Nara.Sebenarnya Nara tidak mau menerima perjodohan itu tapi karena mama Ajeng mencoba bunuh diri jadi terpaksa Nara menerima perjodohannya.


Saat melihat Nara pertama kali Mega sudah jatuh hati,siapa juga yang tidak menyukai Nara seorang ceo muda tampan, sukses,kaya yang hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan sekalipun.


Mega selalu mencari perhatian Nara,tapi Nara tidak pernah memperdulikannya.Dia merasa Mega bukan wanita yang baik,ingin sekali dia menolak perjodohannya tapi karena mama Ajeng selalu mengancam Nara,terpaksa Nara mengiyakan.


Sampai suatu ketika Nara di hubungi oleh Beni orang kepercayaannya setelah Reno yang melaporkan kalau Mega sedang berada di hotel bersama seorang pria dan bodohnya Mega, hotel itu adalah milik Nara jadi mudah untuk Nara mendapatkan akses masuk ke kamar yang di sewa Mega.Dari awal Nara merasa ada yang tidak beres dengan Mega,maka dari itu Nara menyuruh Beni untuk memata matainya.


Nara bergegas ke hotel,dia berharap bisa mendapatkan bukti kalau Mega bukan wanita baik dan menunjukkan pada mamanya.


"Tuhan,tunjukkan kebenaran." Nara berdoa dalam hati,Reno yang melihat raut muka bosnya merasa kasian.


Sampainya di hotel Nara langsung menuju ke kamar yang di sewa Mega,di sana Nara sudah di tunggu oleh Beni.Mereka bertiga masuk ke dalam kamar Mega dengan kunci cadangan,Reno yang di beri tugas untuk merekam sudah standby kamera video di tangannya.


Betapa terkejutnya mereka melihat adegan di depan mereka. Beni sudah bersiap ingin meyergap mereka dan menghajar lelaki yang sedang berhubungan badan dengan wanita calon istri bosnya,tapi langsung di cegah Nara.


"Jangan,ini yang aku mau." Gumam Nara lirih,yang membuat Beni bingung dengan maksud ucapan bosnya,karena yang tahu kalau Nara tidak menyetujui perjodohannya hanya Reno.


Reno tersenyum puas sudah merekam semua adegan dan percakapan Mega bersama seorang pria itu.Nara melihat ke arah Reno memberi isyarat,setelah Reno menganggukan kepala barulah Nara beraksi.


Prok...prok


Suara tepuk tangan Nara membuat Mega dan lelakinya terkejut.Mega langsung menutupi tubuhnya dengan selimut sedangkan si pria buru buru memakai bajunya,dia bingung kenapa ada orang yang bisa masuk padahal tadi sudah dia kunci.


"Siapa kalian,kenapa kalian mengganggu kami dan kenapa kalian bisa masuk!" Ucap pria itu panik tapi tidak dengan Mega,wajahnya terlihat pucat melihat Nara di depannya.Dia tidak bisa berkata apa apa.


"Kenapa? Apa kamu terkejut,dasar wanita murahan." Ucap Nara tersenyum tipis.


"Hey jaga ucapanmu.Siapa kamu berani beraninya kamu menghina kekasihku." Pria itu semakin marah dan langsung mendekati Nara ingin menghajarnya,tapi di halangi oleh Beni yang sudah berada di depan Nara untuk melindunginya.


"Hey minggir kau,atau aku juga akan menghajarmu!"


Bug.


Beni sudah mendaratkan pukulannya di wajah kekasih Mega,yang membuatnya langsung tersungkur ke lantai dan terdengar suara jeritan Mega.


"Stop,cukup Nara hentikan! Apa maumu?" Teriak Mega.


"Apa yang aku mau sudah aku dapatkan,kalian bisa melanjutkannya lagi." Seru Nara berlalu pergi keluar.


Mega panik bingung harus berbuat apa,dia takut kalau Nara akan mengadu pada mamanya.Mega bangun dari ranjang dan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak menggunakan sehelai baju mencoba mengejar Nara,tapi sia sia karena Nara sudah keluar dan tidak mungkin Mega mengejarnya hanya dengan menggunakan selimut.


"Sayang siapa dia,kenapa kamu panik?"


"Dia lelaki yang akan di jodohkan denganku,dia itu Nara yang aku ceritakan tadi." Ucap Mega terburu buru memakai bajunya. Dia ingin segera menyusul Nara dan berharap Nara tidak membatalkan perjodohannya.


Nara pulang ke rumahnya ingin memberitahu pada mamanya.Sampainya di rumah kebetulan kedua orang tua Mega juga sedang ada di sana membahas acara pernikahan.


"Nara kebetulan kamu sudah pulang,sini sayang kita sedang membahas acara pernikahan kamu, sebentar lagi Mega juga akan datang." Ucap mama Ajeng antusias,Nara hanya pasrah menerima ajakan mamanya.Dia duduk di sebelah mamanya,dan sedikit tersenyum pada ke dua orang tua Mega.


''Sabar Nara sebentar lagi semuanya akan berakhir." Bati Nara.


"Sayang menurut kamu bagusan yang ini apa yang ini?" Mama ajeng memperlihatkan contoh undangan pada Nara.


"Terserah mama aja." Saut Reno malas.


"Ah kamu nggak seru sayang." Ujar mama Ajeng kesal tapi tidak mengurangi semangatnya dalam mempersiapkan pernikahan.


"Sudah jeng kita aja yang milih sambil nunggu Mega,anak cowok memang nggak suka dengan hal hal seperti ini." Saut mama Putri mamanya Mega.


"Iya Jeng kamu bener,kita lihat aja dulu sambil nunggu Mega.


"Nak Nara gimana perusahaanmu?" Tanya Seno papa dari Mega basa basi.


"Baik om." Ucap Nara singkat.


Terdengar suara mobil di depan rumah,terlihat Mega dari pintu masuk dengan kepala menunduk.Mega langsung duduk di bawah kaki mama Ajeng sambil menangis.


"Tante maafin Mega! Lelaki tadi cuma teman Mega,tadi hanya salah paham saja.Mega mohon tante jangan batalin perjodohan ini ya!" Ucap Mega dengan sesenggukan.


"Hey sayang kamu kenapa,datang datang kok nangis.Siapa juga yang mau batalin perjodohan kalian ,justru sekarang kita sedang membahas untuk acara pernikahan." Ucap mama Ajeng bingung begitu juga dengan Suseno dan Putri melihat tingkah anaknya.


"Kamu kenapa sayang?" Mama Putri mengusap kepala anaknya.


"Ternyata Nara belum mengadu pada mereka." Batin Mega.Mega berpindah duduk di sebelah mamanya.


"Ehm..anu ma,tadi Mega ketemuan sama teman cowok terus Nara lihat dan marah marah sama Mega ma,jadi Mega pikir Nara ingin membatalkan perjodohan ini."


"Dasar wanita bermuka dua,kita lihat sejauh mana sandiwaramu!" Gumam Nara lirih.


.


.


.


Terimakasih yang sudah mau mampir,jangan lupa like dan votenya ya kakak....