NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Aku Tidak Akan Melepaskanmu



"Sayang bangun..." Nara mencium kening Jia sebelum dia membangunkan istrinya yang masih terlelap.


"Eummmm....Aku masih ngantuk sayang." Jia melenguh dan masih memejamkan matanya saat menjawab bisikan suaminya.


"Kamu bangun ya,itu gurunya sudah datang.Masa kamu mau nyuruh gurunya pulang lagi sih,kan kasian sayang.Lagi pula bentar lagi kamu sudah ujian lo.Nanti kalau sudah selesai belajarnya kamu boleh tidur lagi sayang." Nara mencoba merayu Jia agar mau bangun.


"Iya...iya aku bangun,tapi kamu nggak boleh kemana-kemana,kamu nanti juga harus nemenin aku." Ucap Jia dengan mata masih terpejam sambil menjulurkan jari kelingkingnya.


"Iya janji sayang." Balas Nara mengaitkan jari kelingkingnya di jari Jia lalu mencium kening Jia lembut.


Setelah membuat kesepakatan dengan suaminya,Jia segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Nara menggelengkan kepalanya saat melihat punggung istrinya menghilang di balik pintu kamar mandi,lalu dia mengambil laptop untuk mengecek email yang baru saja di kirimkan Reno padanya.


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Jia hanya dengan menggunakan bathrobe membuat pandangan Nara tertuju padanya tanpa berkedip.Seketika tubuh Nara menjadi panas,dan darahnya mendidih melihat istrinya yang sangat menggoda menggunakan bathrobe seksi apalagi rambutnya yang basah membuatnya semakin membangkitkan gairahnya di pagi hari.


Nara berjalan mendekati istrinya yang berdiri di depan cermin sedang mengeringkan rambutnya.Nara memeluk Jia dari belakang dan menciumi tengkuk lehernya dengan nafas memburu.


"Kamu sengaja menggodaku ya sayang." Bisik Nara masih menciumi leher Jia,hingga membuat Jia melenguh.


"Ahhh...siapa yang menggoda kamu." Tanya Jia membalikkan tubuhnya menghadap Nara.


"Dengan kamu menggunakan bathrobe seksi seperti ini kamu sudah menggodaku sayang." Gumam Nara pelan lalu mengecup bibir Jia.


"Ah itu cuma pikiran kamu saja,udah ah aku mau ganti baju dulu kasian gurunya sudah nunggu lama." Jia berbalik hendak mengambil baju tapi Nara segera menahan tangannya.


"Sudah tanggung sayang biarin gurunya nunggu sebentar lagi,aku menginginkanmu sekarang sayang." Nara memegangi pinggang Jia dan menariknya dalam dekapannya hingga pandangan mereka sekarang beradu,mata Nara tertuju pada bibir mungil Jia yang membuatnya sudah tidak bisa menahan lagi untuk membenamkan bibirnya di dalam bibir istrinya itu.


"Ah tapi Na....." Jia tidak bisa meneruskan kata-katanya karena bibirnya sudah di sambar oleh suaminya dengan rakus.


Nara menggiring tubuh Jia ke ranjang tanpa melepaskan ciumannya dan membaringkannya perlahan.Jia yang sudah terbawa oleh permainan suaminya hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan suaminya,kini hanya terdengar suara desahan dari keduanya.


Dalam sekali tarikan Nara sudah berhasil melepaskan bathrobe dari tubuh Jia,dan dengan secepat kilat Nara juga sudah menanggalkan semua bajunya,dan kini mereka sama-sama tidak menggunakan sehelai benangpun di tubuh mereka,dan sudah bisa di tebak apa yang merekan lakukan.


Nara mencium kening Jia setelah mencapai puncaknya,dan berbaring di samping istrinya yang juga kelelahan.


"Terimakasih sayang untuk sarapannya."Bisik Nara melingkarkan tangan di pinggang Jia dan memeluknya erat.


"Ah...aku lelah Nara,aku nggak mau homeschooling dulu." Ucap Jia dengan mata terpejam.


"Sayang jangan gitu dong,kamu ujiannya tinggal satu minggu lagi lo.Udah banyak pelajaran yang nggak kamu ikuti,nanti kalau kamu nggak bisa ngerjain ujian gimana." Nara mencoba merayu lagi.


"Biarin,suami aku kan kaya,nantinya kamu juga nggak akan nyuruh aku nyari kerja kan sayang." Gumam Jia santai.


"Astaga,kenapa dengan istriku ini? Akhir-akhir ini kok sikapnya nggak seperti Jia yang aku kenal sih." Batin Nara dalam hati menatap istrinya heran.


"Lagian kan ini salah kamu,pagi-pagi udah minta jatah aja." Gumam Jia lagi membuka matanya lalu menatap suaminya.


"Huh....." Nara menghela nafas,dan tidak bisa menjawab ucapan istrinya,karena dia sadar ini salahnya.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau,aku akan suruh gurunya pulang." Nara bangun dari tidurnya dan segera memakai bajunya lalu hendak berjalan keluar tapi panggilan Jia menghentikan langkahnya.


"Nara,gurunya jangan di suruh pulang aku mau deh belajarnya." Ucap Jia yang sudah duduk di tepi ranjang.Nara mengerutkan dahinya mendengar ucapan Jia yang sangat cepat berubah moodnya,tapi dia hanya bisa mengangguk tidak mau bertanya takut akan merubah istrinya lagi.


"Ok sayang kalau begitu aku tunggu di bawah ya."


"Huum..."


------


"Nara,Jia mana?" Sapa Aruna saat melihat Nara keluar dari kamarnya.


"Dia lagi ganti baju Run....Oh ya Arga mana?" Jawab Nara lalu baik bertanya.


"Arga masih di kamar,baru siap-siap.Oh ya Nara hari ini aku sama Arga mau ke Belanda."


"Loh bukannya kalian besok berangkat bulan madu ke Korea,kenapa sekarang mau ke Belanda?"


"Iya sih,tapi karena butikku sedang ada masalah sedikit jadi aku sama Arga memutuskan untuk berangkat ke Belanda hari ini sekalian bulan madu di sana saja." Jawab Aruna,di ikuti anggukan dari Nara.


"Kalau gitu aku temuin Jia dulu ya." Pamit Aruna masuk ke dalam kamar Jia dengan membawa amplop di tangannya.Sedangkan Nara sudah berjalan ke bawah menemui guru Jia yang sudah menunggu lama.


"Sayang...."Sapa Aruna dan membuat Jia yang berdiri di depan cermin menoleh.


"Eh kak Runa,iya kak ada apa?" Balas Jia lalu menghampiri kakak iparnya yang duduk di sofa.


"Ini sayang,kunci dan surat rumah kamu.Kakak sudah melunasinya dengan uang hasil kerjasama kita dengan Justin partner kerja kita." Aruna memberikan amplop yang berisi surat kepemilikan rumah yang selama ini dia inginkan.


"Di situ juga ada foto rumah kamu sayang." Imbuh Aruna lagi.


"Iya sayang,itu rekomendasi dari teman kakak.Tapi di sana tidak boleh memakai mobil atau motor buat transportasi sayang.Di sana hanya menggunakan perahu sebagai alat transportasi dan juga sepeda."


"Iya kak,Jia tahu kok.Kakak tenang saja,sebelum aku bilang ke kak Runa pengen rumah di kota ini aku sudah searching di google tentang kehidupan di kota ini." Jawab Jia semangat.


Jia memang sangat ingin tinggal di salah satu kota di Belanda yang menurutnya sangat unik dan menurutnya kota itu seperti di dalam negeri dongeng dengan rumah-rumah yang cantik dan jembatan-jembatan yang unik.


Dan yang paling unik lagi adalah alat transportasinya yang menggunakan perahu listrik yang tidak menimbulkan polusi baik asap maupun suara.Sudah bisa di bayangkan betapa sejuknya udara di sana,dan tenangnya tinggal di desa itu.Jia tersenyum membayangkan betapa senangnya jika suatu hari bisa tinggal disana.


"Terima kasih ya kak." Jia menghambur memeluk Aruna secara tiba-tiba hingga membuat Aruna kaget.


"Iya sayang,tapi apa kamu masih belum ingin memberi tahu kakakmu dan juga Nara?" Tanya Aruna dan membuat Jia diam sejenak.


"Untuk kali ini,cukup kita dulu saja yang tahu kak." Jia menyengir tersenyum menatap kakak iparnya itu.


"Huft....oklah terserah kamu sayang.Oh ya Jia kakak nanti siang akan kembali ke Belanda,karena ada sedikit masalah di butik dan kakak harus turun secara langsung sekalian kakak dan Arga bulan madu disana saja,tidak jadi ke Korea buat menghemat waktu."


"Ehm.....seandainya ujian Jia sudah selesai pengen deh ikut." Ucap Jia manja.


"Besok setelah ujian kamu selesai,kamu bisa nyusul sama Nara sekalian lihat rumah kamu sayang."


"Oh ya sayang,semalam Justin partner kerja kita datang kesini pengen ketemu kamu juga sebenarnya tapi karena kamu lagi nggak enak badan jadi kakak nggak berani nyuruh Nara bangunin kamu."


"Iya kak,semalam aku nggak enak badan,lain kali mungkin aku bisa ketemu dia kak."


"Iya,ya sudah ayo kita turun."


"Yup..."


------


"Ah ada-ada saja sepupu Justin ini,masa dia nyuruh aku berbohong itu sama saja aku harus melanggar sumpahku sebagai dokter." Gumam Rico kesal mengingat permintaan Kara,ingin rasanya dia memberi tahu pada Justin tentang permintaan sepupunya dan juga kelakuannya yang tidak senonoh tapi Rico mengurungkan niatnya karena tidak ingin masalahnya menjadi rumit.


Rico adalah teman Justin yang juga seorang dokter.Iya tadi setelah Justin memberikan kartu nama temannya,Kara langsung menemui Rico untuk minta bantuannya melancarkan rencananya untuk menjerat Nara.Tapi sayangnya Rico menolak mentah-mentah keinginannya.


-----


"Huh....tahu begini aku tidak akan meminta bantuan dari dokter sombong itu." Batin Kara lirih sambil merapikan bajunya lagi,setelah baru saja dia bercinta dengan dokter yang bersedia membantunya.


Flashback on


"Maaf nona saya tidak bisa membantu anda,ini melanggar sumpah saya sebagai dokter." Ucap Rico masih mencoba sabar menanggapi permintaan Kara.


"Dokter,aku bisa membayar berapapun yang anda mau.Atau kalau dokter menginginkan yang lain saya siap memberikannya dan melayani anda sampai puas." Bisik Kara dengan nada menggoda menghampiri dokter Rico sambil tangannya membuka kancing blousenya.


"Maaf nona,saya tidak bisa dan saya minta anda segera keluar dari ruangan saya dengan baik,kalau tidak saya akan memanggil security." Seru Rico yang sudah kehilangan kesabarannya.


"Dasar laki-laki munafik." Kara menggerutu lalu pergi keluar dari ruangan Rico.


Saat Kara keluar dari ruangan Rico ternyata ada seorang dokter yang menguping semua pembicaraannya dengan Rico.


"Kalau dokter Rico tidak mau membantu anda ,saya bisa membantu anda nona cantik." Ucap dokter itu menawarkan diri dengan mata yang memandangi dada Kara yang belum terkancing dengan tatapan liar.


"Ah benarkah yang anda ucapkan dokter?" Tanya Kara antusias.


"Tentu saja,asal bayarannya sama seperti yang anda tawarkan pada dokter Rico tadi nona." Ucapnya mengedipkan mata nakal."


"Tentu saja dokter." Jawab Kara tersenyum senang.


"Ok kalau begitu aku minta DPnya sekarang." Seru dokter itu menarik tangan Kara untuk masuk ke dalam ruangannya yang ada di sebelah ruangan Rico.


"Setelah mengunci pintu ruangannya,dokter itu mulai menyambar bibir Kara dengan sangat liar sembari tangannya sudah bergerilya ke dalam blouse Kara dan terjadilah permainan singkat di antara mereka.


Flashback off


"Hey sayang,kamu mau kemana percintaan kita belum selesai." Ucap dokter tadi yang bernama Sandy.


"Sisanya nanti setelah kamu mejalankan apa yang aku minta." Bisik Kara nakal di telinga dokter Sandy lalu mencium bibirnya sebelum dia meninggalkan dokter Sandy.


"Ok sayang,setelah aku menjalankan tugasku.Aku tidak akan melepaskanmu semalam suntuk." Batin dokter Sandy menarik ujung bibirnya tersenyum penuh maksud melihat kepergian Kara dari ruangannya.


.


.


.


.


Bersambung.