
"Nara jangan pergi,jangan tinggalin aku! Kamu sudah janji sama aku Nara! Aku mohon jangan pergi!"
"Hey sayang bangun aku disini,aku nggak akan ninggalin kamu,ini aku Nara suamimu sayang." Nara berulang kali menggoncangkan tubuh Jia supaya bangun dari tidurnya dan berhenti mengigau.
Sedangkan Reno yang duduk di depan mengemudikan mobil bersama Abel segera menepikan mobilnya dan berhenti.Mereka berdua menoleh ke belakang khawatir karena Jia tidak berhenti mengigau.
"Sayang ayo bangun,buka matamu sayang." Seru Nara lagi cemas karena sudah berulang kali mencoba membangunkan Jia tapi tidak membuat Jia sadar hingga 10 menit kemudian barulah Jia tersadar.
"Nara...." Jia langsung memeluk erat Nara yang ada di depannya,wajahnya penuh dengan keringat dan badannya juga terasa dingin.
"Iya sayang ini aku,kamu kenapa,apa kamu mimpi buruk,kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Nara sambil memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah dan rambut Jia,wajahnya terlihat lega karena Jia sudah bangun dari tidurnya dan berhenti mengigau.
"Nara jangan tinggalin aku!" Ucap Jia dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Sayang aku nggak akan ninggalin kamu,kamu jangan berpikir macam-macam,kamu harus percaya sama aku ya!" Nara menghapus air mata Jia dengan kedua ibu jarinya dan berusaha membuatnya tenang dengan memeluk tubuh istrinya itu dalam dekapannya erat.
Abel menghela nafas panjang dan segera membenahi duduknya menatap lurus ke depan,Reno melihat Abel seperti sedang menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan kondisi Jia saat ini.
"Ada apa? Sepertinya kamu mengetahui sesuatu Abel?" Tanya Reno memegang bahu Abel dan membuatnya menoleh ke arahnya.Nara yang sudah bisa menenangkan Jia dalam dekapannya langsung menatap Abel saat mendengar pertanyaan dari Reno.
Abel menoleh ke belakang melihat sahabatnya yang sudah tenang dan tertidur lagi,dia menghembuskan nafas panjang sekali lagi sebelum memulai ceritanya.
Flashback
"Jia aku suka sama kamu,kamu mau nggak jadi pacar aku." Ucap Bima sambil berlutut di depan Jia memegang setangkai bunga mawar.
"Apa-apan sih kamu Bim,aku hanya menganggap kamu sebagai teman nggak lebih." Jia menjauh pergi meninggalkan Bima yang masih berlutut.
"Jia aku mohon terimalah cintaku,beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku!" Teriak Bima tidak menyerah dan berusaha mengejar Jia yang sudah berdiri di seberang jalan tapi dia masih bisa mendengar suara teriakan Bima.
Awwww....Braggggg
Suara teriakan Bima sangat keras dan tubuhnya terpental beberapa meter dari mobil yang menabraknya.
"Bimaaaaaa." Seru Jia dan langsung berlari ke arah Bima yang terbaring bebas di aspal.
"Bim.....bangun....!" Jia berulang kali menepuk pipi Bima agar tersadar,tak terasa pipinya sudah basah karena tangisannya.
"Bim,aku mohon bangun! Jangan membuatku takut Bim!" Jia tak henti-hentinya memanggil nama Bima,wajahnya lega saat Bima perlahan membuka mata.
"Bim...." Gumamnya lirih, air matanya masih jatuh dan membasahi wajah Bima yang ada di pangkuannya.
"Aku nggak apa-apa Jia,kamu jangan takut.Aku akan berjuang kalau kamu mau menerima cintaku Jia." Bima masih bisa tersenyum setelah selesai bicara.
"Bim kamu jangan gila,di saat seperti ini bisa-bisanya kamu masih tersenyum." Jia masih panik karena kepala Bima banyak mengeluarkan darah.
"Kamu janji dulu Jia,kamu harus menerima cintaku saat aku sembuh nanti." Gumam Bima lirih,tangannya berusaha menyentuh wajah Jia ingin menghapus air matanya tapi tak lama kemudian matanya terpejam lagi.
"Bim....bangun Bim....! Tolong,tolong bawa Bima ke rumah sakit." Teriak Jia meminta tolong pada teman-temannya dan orang-orang yang mengerumuni mereka.
"Ini salahku....seandainya tadi..."
"Hey...hey...beb ini bukan salahmu.Kamu jangan meyalahkan dirimu sendiri Jia." Abel mengusap bahu Jia berulang kali agar Jia merasa tenang.
"Tapi Bel,kalau tadi aku menerimanya mungkin Bima tidak akan seperti ini." Jia menangis di pelukan Abel dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Jia sudah...,bener kata Abel kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri ini semua kecelakaan,lebih baik kita berdoa semoga luka Bima tidak parah dan cepat sadar." Ujar Nino sahabat dekat Bima.
Dokter terlihat keluar dari ruang perawatan Bima,Jia langsung menghampiri dokter di ikuti Abel dan juga Nino.
"Dok gimana keadaan teman saya?" Tanya Jia tidak sabar.
"Syukurlah dia cepat di bawa kesini,kalau tidak teman anda bisa kehilangan banyak darah dan akan sangat berbahaya untuk keselamatannya mengingat golongan darahnya sangat langka." Ucap dokter memberikan penjelasan.
Jia menghela nafas panjang,wajahnya terlihat sangat lega setelah mendengar penjelasan dari dokter.
"Dok,bolehkah kami menemui teman kami?" Tanya Nino.
"Iya tentu saja,masuklah tapi pesan saya jangan terlalu banyak di ajak bicara dulu.Dia harus banyak istirahat."
"Baik dok,terimakasih." Ucap Nino,dan segera menyusul Jia dan Abel yang sudah masuk duluan.
Air mata Jia menetes kembali saat melihat kondisi Bima,dia terbaring lemah di atas tempat tidur ada perban yang melingkar di kepalanya dan beberapa luka kecil di tangan dan wajahnya.
"Bim...aku minta maaf." Gumamnya lirih.Jia tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain minta maaf,air matanya terus mengalir mewakili hatinya saat ini.
Jia sadar dia sebenarnya juga menaruh hati pada Bima,tapi entah kenapa dia belum bisa menerima pengakuan cinta Bima tadi.Di hatinya masih ada keraguan yang Jia sendiri tidak tahu kenapa.
Jia menjatuhkan kepalanya di dekat tangan Bima yang terpasang infus karena dia tidak bisa menahan air matanya untuk berhenti keluar.
Jia mengangkat kepalanya saat dia merasakan sebuah tangan memberi usapan di rambutnya.
"Bima kamu sudah sadar?" Jia mengusap air matanya lega melihat Bima sudah sadar.
"Gimana kamu mau apa? Mau minum atau apa? Mana yang sakit?" Tanya Jia bertubi-tubi hingga membuat Bima tersenyum.
"Aku nggak mau apa-apa Jia,aku hanya mau kamu!" Bima memegang tangan Jia dan menariknya ke atas dadanya.
Jia hendak menarik tangannya dari genggaman Bima tapi Bima malah semakin mengeratkan genggamannya.
"Jia aku mohon...!" Ucap Bima memelas.
"Kamu harus sembuh dulu Bim..." Balas Jia berhasil menarik tangannya.
"Kalau aku sembuh,kamu mau jadi pacarku?" Tanya Bima lagi tidak menyerrah.
"Sudah Bim,kata dokter kamu nggak boleh banyak bicara dulu,kamu harus istirahat." Jia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ok,pokoknya kalau aku sudah sembuh kamu harus kasih aku jawaban dan jawabannya nggak boleh tidak.Dan satu lagi kamu yang harus merawat aku sampai sembuh." Seru Bima semangat.
"Hey Bim...kamu tuh ya nggak lihat apa kalau disini ada aku sama Abel,masih saja nggak menyerah nembak Jia." Gerutu Nino yang bosan mendengar kata-kata Bima.
"Hah biarin..." Seru Bima.
Sejak saat itu Jia selalu menemani dan merawat Bima hingga dia sembuh.Hingga sampai saat itu tiba.Saat dimana Bima menorehkan luka di hati Jia,yang mana saat itu Jia sudah mulai membuka hatinya untuk Bima.
"Jia kamu tadi di cari Bima,dia sekarang menunggumu di taman." Ucap Faro salah satu temanku memberi tahu Jia.
"Ok,makasih ya Ro." Jia segera bergegas melangkahkan kakinya ke taman untuk menemui Bima.
Tapi di sana Jia harus melihat pemandangan yang menyakitkan.Jia melihat Bima sedang berciuman mesra dengan Mia.Aku yang mengikuti Jia bisa merasakan betapa sakitnya hati Jia saat itu,Jia yang baru saja hendak membuka hatinya untuk Bima harus menerima kenyataan pahit dengan melihat kejadian itu.
"Bima....!" Seru Jia dengan suara meninggi.
"Jia...." Bima segera melepaskan ciumannya dengan Mia dan mencoba mengejar Jia untuk memberi penjelasan.
"Jia aku bisa jelasin,ini bukan seperti yang kamu lihat,ini hanya sebuah taruhan aku dan anak-anak.Aku mohon kamu percaya Jia."
"Kamu bilang sebuah taruhan? Kamu cowok macam apa Bim menjadikan cewek untuk taruhan dalam permainan kalian.Apa jangan-jangan aku juga kamu jadikan taruhan?" Teriak Jia dengan suara masih meninggi merasa kesal karena ucapan Bima.
"Tidak Jia,aku sungguh-sungguh mencintaimu mana mungkin aku menjadikanmu taruhan.Aku minta maaf,aku memang salah Jia." Ucap Bima berharap Jia mau memaafkannya.
"Cukup Bim,mulai sekarang kamu jangan dekati aku lagi.Aku nggak mau kenal sama kamu lagi!" Seru Jia berlari meniggalkan Bima.
"Ah shittt...semua ini gara-gara kamu!" Seru Bima dengan suara meninggi mengacungkan jari telunjuknya pada wajah Mia.
"Sudahlah Bim,nggak usah ngejar-ngejar Jia lagi,kamu tahukan Bim kalau aku menyukaimu.Mending kamu sama aku saja!" Mia mendekati Bima dan menggelayuti lengan Bima.
Bima yang masih emosi dan juga merasa risih dengan Mia segera menghempaskan tangan Mia dengan kasar.Dan meninggalkan Mia.
"Sejak kejadian itu Bima selalu berusaha mendekati Jia agar bisa mendapatkan maafnya ,dan paling penting untuk bisa mendapatkan hati Jia.Dan karena itu juga Mia semakin membenci Jia dan selalu mengganggu Jia.Bahkan Mia juga melabrak Jia." Abel menghela nafas saat sudah mengakhiri ceritanya.
-------
"Aku sebenarnya marah karena kelakuan Bima membuat Jia trauma sampai seperti ini,tapi aku juga senang karena kalau bukan gara-gara kebodohan Bima mungkin aku tidak bisa memilikinya." Ucap Nara sambil menciumi kepala istrinya penuh cinta.
.
.
.
Jangan lupa votenya ya kakak,di like juga.