NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Foto



Di dalam mobil saat perjalanan pulang suasana menjadi hening.Setelah perdebatan antara Jia dan Nara di kantor tadi,Jia tidak mau berbicara pada Nara walaupun Nara mencoba merayunya namun sia-sia karena Jia tetap memilih diam.


Abel dan Reno hanya saling pandang merasa canggung berada dalam satu mobil bersama dua orang yang sedang perang dingin.Sesampainya di rumah Nara,Jia langsung turun duluan menggandeng Abel sedangkan Reno dan Nara masih berada di dalam mobil


"Ada apa tuan,kenapa anda dan nona Jia tidak saling bicara?" Reno memberanikan diri bertanya.


"Jia marah Ren karena aku tidak mengijinkan dia masuk sekolah besok." Jawab Nara pelan menghela nafas berat.Nara benar-benar frustasi kalau Jia sedang marah padanya.


"Seperti katamu Mega masih berusaha mencari informasi tentang Jia,aku tidak mau kalau sampai Jia kenapa napa karena Mega wanita gila dia bisa berbuat nekat untuk bisa mendapatkan yang dia inginkan." Imbuh Nara lagi.


"Iya tuan saya tahu,tapi kita bisa menyuruh Beny untuk menjaga nona Jia tuan,tapi secara terang-terangan tidak seperti kemarin hanya mengikutinya tanpa sepengahuan nona Jia dan mengakibatkan kecelakaan itu." Reno mencoba memberi ide pada Nara dan terlihat dia mencerna perkataan Reno.


"Baiklah Ren,aku setuju dengan idemu.Aku juga kasihan pada Jia pasti dia merasa bosan berada di rumah terus."


"Oh ya tuan,soal anak tuan Arsen saya sudah mendapat informasi kalau dia adalah wanita yang menjadi penghalang antara nona Jia dan Bima,karena dia juga menyukai Bima dan sempat melabrak nona Jia dulu." Ucap Reno memberikan laporan.Nara telihat manggut-manggut mendengar laporan Reno.


"Sayang kamu tadi kemana saja,kenapa pergi nggak bilang sama mama?" Mama Ajeng yang sudah menunggu Jia di depan pintu langsung memeluk Jia yang baru saja masuk ke rumah dan menghujani ciuman di kening dan rambut Jia,hingga membuat Nara menggelengkan kepala tersenyum kecil melihat sikap mamanya yang sangat mengkhawatirkan Jia.


"Maaf ma,tadi Jia keluar sebentar habisnya bosan di rumah terus.Tapi tadikan Jia sudah kirim pesan ke ponsel mama." Imbuh Jia.


"Oh iya sayang mama lupa,ponsel mama lowbat." Seru mama Ajeng sambil menepuk dahinya.


"Ah mama,besok-besok jangan kaya gini lagi bikin semua orang panik saja." Sahut papa Wira dari dalam rumah dan berjalan menghampiri mereka bersama Arga.


"Kakak...." Jia langsung memeluk Arga saat melihat kakaknya keluar bersama papa Wira.


Dan Arga juga membalas pelukan adiknya dengan erat,dia sangat merindukan adik semata wayangnya itu.


"Jia kangen sama kakak." Ujar Jia masih memeluk kakaknya.


"Kakak juga kangen sama kamu sayang,kakak sudah bilang jangan bikin repot tapi malah bikin semua panik, dasar nakal." Gumam Arga sambil mencubit hidung Jia.


"Hehe maaf kak..." Ucap Jia lirih sambil meringis memegang hidungnya.


"Sudah,sudah yang penting Jianya nggak kenapa napa sekarang ayo masuk saja kita ngobrol di dalam." Ajak mama Ajeng menggandeng Jia dan Abel di samping kanan dan kiri badannya.


Mereka duduk di ruang tengah ngobrol sambil menunggu waktu makan malam.Jia dan Abel pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian beserta mama Ajeng.Sedangkan para lelaki masih asyik ngobrol membahas soal bisnis.


Jia sudah selesai mandi,sambil menungu Abel yang gantian mandi Jia merapikan baju baju Nara yang baru di antar oleh pelayan setelah di seterika,Jia memasukkan satu per satu baju Nara dalam lemari,saat hendak menarik salah satu baju Nara yang berantakan tiba-tiba ada dua lembar foto yang jatuh saat Jia menarik baju.


Foto pertama yang Jia lihat adalah foto anak-anak, tiga lelaki dan satu wanita,Jia membalikkan foto melihat ada tulisan nama "Reza,Reno Nara,Kara sahabat selamanya" dan saat Jia melihat foto ke dua hatinya merasa berdetak cepat,dadanya bergemuruh terasa sesak.


"Beb,aku sudah selesai ayo kita turun.Beb...." Jia yang melamun pikirannya sudah kemana mana berpikiran macam macam tentang foto yang baru saja dia lihat tidak mendengar ajakan Abel.


Abel mendekati Jia karena di lihatnya sahabatnya itu diam saja,melihat Jia memegang sebuah foto Abel langsung mengambil foto dari tangan Jia yang sedang dia pandangi.Abel terkejut melihat foto Nara saat masih remaja yang sedang memakaikan cincin di jari seorang wanita,saat Abel membalikkan foto dia membaca tulisan Nara love Kara di belakang foto itu.


"Beb,are you ok?" Tanya Abel pelan.Tidak mendapat jawaban dari Jia yang diam saja,Abel langsung memeluk Jia erat memberikan kekuatan Jia agar bisa tenang.Tapi justru malah membuat Jia tidak bisa menahan tangisnya.


"Jia,kamu jangan berpikir macam-macam dulu lebih baik kamu tanya sama Nara dulu,mungkin dia hanya teman,atau..."


"Mana mungkin teman memakaikan cincin semesra itu Bel,dan tulisan itu...itu sudah cukup menjelaskan Bel." Seru Jia memotong ucapan Abel sambil terisak.


"Tapi sepertinya itu foto saat mereka masih seumuran kita,kamu jangan ambil kesimpulan dulu Jia.Kamu harus minta penjelasan dari Nara dulu agar kamu nggak menyesal seperti kemarin." Abel mencoba menenangkan hati Jia.


"Sayang kalian sudah selesai belum,ayo kita turun." Terdengar suara mama Ajeng mengetuk pintu kamar.Jia dengan cepat menghapus air matanya.


"Iya tante kita sudah selesai,sebentar lagi kita turun." Sahut Abel menjawab panggilan mama Ajeng.


"Ya sudah tante turun duluan ya,kalian cepat nyusul."


"Iya tante."


Jia tampak menengadahkan kepalanya ke atas untuk menahan air matanya agar tidak keluar lagi.


"Jia,ayo kita turun! Kamu sudah tenang kan?" Tanya Abel meyakinkan lagi.Jia menghela nafas berat dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


Mereka berdua turun dan menuju ke ruang makan.Terlihat semua sudah lengkap hanya tinggal menunggu mereka saja.Jia memilih duduk di samping kakaknya dan mengacuhkan Nara yang dari tadi memandangnya,dia tampak kecewa karena Jia tidak mau duduk di sebelahnya.


"Apa dia semarah itu karena aku tidak mengijinkan dia masuk ke sekolah." Batin Nara masih memandang Jia.


"Sayang kenapa kamu mau pulang mendadak?" Tanya mama Ajeng sedih.


"Nggak apa apa ma,Jia kangen sama rumah saja lagian Jia juga sudah sembuh ma." Jawab Jia pelan.


"Ga, boleh aku bicara sama Jia sebentar." Ucap Nara melirik Jia.


"Iya silahkan Nara."


Nara segera menggandeng tangan Jia dan mengajaknya ke ruang tengah,sebenarnya Jia enggan mengikuti Nara,tapi karena tidak mau membuat semua orang kepikiran akhirnya Jia mengikuti Nara.


"Sayang kamu masih marah karena aku tidak mengijinkan kamu masuk sekolah?" Tanya Nara sambil memegang tangan Jia erat.


Jia hanya menggelengkan kepalanya yang masih menunduk untuk menjawab pertanyaan Nara,dan tidak mau melihat wajah Nara.Hati Jia sakit mengingat foto yang dia lihat tadi,dia kecewa karena merasa Nara sudah membohonginya.Walaupun seandainya itu orang di masa lalu Nara,tapi setidaknya dia memberi tahu Jia.Hal itu yang sekarang ada di pikiran Jia.


"Sayang tolong jangan diam seperti ini,besok kamu boleh berangkat ke sekolah sayang.Tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini." Nara berusaha membujuk Jia untuk bicara padanya.


"Aku mau pulang." Kata-kata itu yang keluar dari mulut Jia,dan membuat Nara semakin bingung dengan sikap Jia.Belum sempat Nara bicara lagi,Jia sudah beranjak dari duduknya menuju kamar ingin mengemasi barang-barangnya.


"Nara dimana Jia?" Tanya Arga menghampirinya dan membuat Nara mengurungkan niatnya untuk mengejar Jia.


"Jia ke kamar Ga,tunggulah sebentar." Nara tidak bisa berbicara apa apa karena tidak mau membuat Arga kepikiran.


"Baiklah." Nara dan Arga tampak berbincang bincang menunggu Jia,sebenarnya Nara ingin sekali menyusul Jia tapi dia tidak enak meninggalkan Arga.Sampai beberapa menit kemudian Jia turun bersama Abel dengan membawa kopernya.


Nara terkejut melihat Jia membawa koper,dia tidak menyangka kalau Jia benar-benar mau pulang.


"Sayang kamu beneran mau pulang sekarang?" tanya mama Ajeng lagi.


"Iya ma,makasih ya ma sudah merawat Jia sampai sembuh dan Jia minta maaf sudah ngerepotin mama."


"Siapa bilang kamu ngrepotin sayang,mama justru pengen kamu di sini terus." Ujar mama Ajeng sambil memeluk Jia lagi.


Setelah berpamitan pada semuanya Jia,Arga dan juga Abel pulang.Sebenarnya Nara ingin mengantar,tapi Jia menolaknya.Nara masih bingung dengan sikap Jia,kalau dia marah soal masuk sekolah seharusnya sekarang sudah nggak kan Nara sudah membolehkan dia masuk sekolah.Nara yang pikirannya kacau bergegas ke kamar selepas Jia pergi.


Setelah mengantar Abel,Jia dan Arga menuju ke rumahnya.Arga yang tahu kalau kalau sedang terjadi sesuatu dengan adiknya mencoba bertanya.Sebenarnya dia sudah di beri tahu Nara kenapa Jia mendadak pulang,tapi Arga merasa diamnya Jia sekarang bukan karena di larang masuk sekolah.


"Sayang kamu nggak apa apa kan,kakak perhatikan dari tadi kamu diam saja.Apa kamu ada masalah sama Nara?" Akhirnya Arga tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ehm..nggak kok kak,Jia nggak kenapa napa.Jia hanya kangen rumah saja." Jawab Jia masih memandang ke luar jendela mobil tanpa menghadap kakaknya.


Arga tahu bukan itu penyebab Jia ingin pulang,tapi dia tidak mau bertanya lagi.Arga ingin memberi waktu Jia untuk tenang dulu,dia merasa adiknya sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah pribadinya sendiri.


Nara tertidur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu,dia masih memakai pakaian kerjanya tadi siang.Nara tertidur kelelahan karena menunggu balasan pesan dari Jia,dia sudah mengirim pesan begitu banyak dan berulangkali menghubungi nomor Jia tapi tetap tidak aktif.


Nara berdecak kesal karena bangun kesiangan dan lebih kesal lagi saat mengecek ponselnya tidak ada satu balasan pun pesan dari Jia,dia mencoba menghubungi lagi namun nomor Jia tetap tidak aktif.Nara melempar ponselnya ke sembarang arah di kasurnya lalu bergegas menuju kamar mandi.


Selesai bersiap Nara dengan terburu-buru mengambil tas kerjanya di atas meja,tanpa sengaja dia melihat fotonya bersama Kara di atas meja.


Deg...


Jantung Nara seperti berhenti berdetak melihat foto itu ada di atas meja,karena seingatnya dia menyimpan foto itu di dalam lemari pakaiannya.Pikirannya langsung teringat dengan sikap Jia yang berubah semalam.


"Foto itu...Jia....Arghhh shittt..pasti foto itu yang membuat sikap Jia berubah.Aku harus menemui Jia sekarang." Gumam Nara dengan berlari terburu -buru.


"Kak Jia pergi dulu,nanti Jia pulang terlambat.Kakak nggak usah khawatir Jia baik baik saja."


.


.


.


.


Terimakasih yang sudah setia baca novel ku kakak-kakak,jangan lupa tinggalin like dan kasih vote yang banyak ya.