NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Lamaran



Jia berdiri dan memutar badannya di depan cermin,memastikan tidak ada yang kurang dengan penampilannya.Karena Jia tidak membawa baju dress jadi dia memakai baju mamanya saat masih muda dulu yang masih tersimpan rapi di kamar mamanya.Jia dan Arga memang tidak merubah isi kamar orang tuanya,semuanya masih tertata rapi seperti sewaktu orang tuanya masih ada.


Arga yang melihat adiknya memakai baju sang mama dibuat takjub karena Jia terlihat sangat cantik sama seperti mamanya dulu.


"Kamu sangat cantik sayang." Ucap Arga di depan pintu dan menghampiri Jia.


"Kakak." Seru Jia menoleh ke arah kakaknya.


"Kamu mirip banget sama mama Jia,kakak merasa melihat mama di diri kamu." Ucap Arga lirih.Jia langsung memeluk kakaknya,karena teringat dengan mamanya.


"Jia kangen sama mama sama papa kak,sendainya sekarang mereka disini pasti Jia tambah bahagia kak." Ujar Jia sedih.


" Jangan sedih sayang mereka pasti bahagia disana melihat kamu sudah dewasa dan akan mempunyai kehidupan baru sebentar lagi.Lagian mereka selalu ada disini sayang." Ucap Arga sambil menunjuk didadanya.


"Iya kak."


Tok..tok


"Permisi tuan,tamunya sudah datang tuan mereka sudah ada di ruang tamu." Ucap bi Murni pelan.


"Iya bi,terimakasih sebentar lagi kita keluar." Saut Nara.Lalu mengajak Jia keluar untuk menemui keluarga Nara.


"Kak Jia deg degan,Jia takut kalau nanti mereka tidak suka sama Jia gimana?" Tanya Jia dengan masih memegang dadanya menahan nervous.


"Kamu tenang saja sayang,mereka pasti suka sama kamu kok,sekarang ambil nafas lalu buang pelan pelan ya kakak selalu disampingmu sayang." Ucap Arga memberi semangat dan mencium rambut adiknya.


Jia dan Arga keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.Semua mata tertuju pada mereka,terutama Nara.Dia terpana melihat Jia yang tampil berbeda malam ini dengan memakai atasan kebaya bruklat model kutubaru dengan kemben didada berlengan pendek berwarna peach dan rok panjang belahan samping motif batik membuat Jia tampak cantik dan anggun di tambah dengan model rambut tousled hair Jia semakin terlihat elegan.


"Selamat malam tuan,nyonya maaf menunggu lama." Ucap Arga menghampiri tamunya dan menyalami mereka.


"Tidak apa apa nak Arga,kami baru saja sampai kok." Saut tuan Wiratama papa Nara.Saat di perjalanan Nara sudah menceritakan latar belakang keluarga Jia dan keadaan mereka yang hanya tinggal berdua setelah orangtua mereka meninggal karena kecelakaan.


Sedangkan Nara saking terpananya tidak menyadari kalau Jia sudah berdiri tak jauh darinya.Dia baru tersadar saat mamanya yang tiba tiba menghampiri Jia.


"Kamu pasti Jia ya,kamu cantik banget sayang." Ucap mama Ajeng dengan mencium pipi Jia bergantian dan mengajaknya duduk di sampingnya.


" Ehm ..eh makasih tante." Jawab Jia gugup karena tidak menyangka mendapat pujian dari calon mertuanya.


"Jangan panggil tante sayang,panggil mama ya, kan sebentar lagi kamu jadi anak tante." Seru nyonya Ajeng.


"I..iya tan,,eh ma." Ucap Jia yang masih gugup mengatur nafasnya.


"Pah anak kita pintar cari menantu untuk kita ya,lihat dia cantik sekali.Melihatnya seperti mengingatkanku sama sahabat kita dulu ya." Ujar mama Ajeng teringat akan sahabatnya dulu semasa sekolah.


"Baik nak Arga tanpa basa basi,kedatangan om kesini ingin secara resmi melamar Jia untuk menjadi pendamping Nara.Karena Jia juga masih sekolah maka mereka akan bertunangan dulu dan setelah Jia lulus sekolah baru mereka akan melangsungkan pernikahan.Dan seperti yang sudah Nara sampaikan pertunangan mereka dilangsungkan besok lusa dihotel milik Nara jam 20:00,nak Arga tenang saja semua sudah diatur Reno." Ucap tuan Wira,sambil melirik kearah Reno dan Reno menganggukan kepalanya.


"Iya tuan,terimakasih karena sudah menerima adik saya.Tolong bimbingannya karena Jia masih sering bersikap seperti anak kecil jadi tolong dimaklumi bila nanti Jia membuat kesalahan." Ujar Arga sambil memandang adiknya seakan berat untuk melepasnya walaupun ini baru acara pertunangan.


"Nak Arga tenang saja,kami akan menganggap dia seperti anak kami sendiri,jangan khawatir ya.Oh ya sayang mama membawa beberapa baju untuk pertunanganmu besok kamu pilih ya,karena ini mendadak jadi mama hanya membawa sedikit,tapi sebelumnya kamu sama Nara pilih cincinnya dulu." Mama Ajeng tampak antusias mengurus semuanya.Dia ingin nanti acaranya bisa berjalan dengan lancar walaupun mendadak.


Nara dan Jia sedang memilih cincin ditemani mama Ajeng bersama dua wanita yang datang bersama mama Ajeng.Ya mereka berdua adalah pemilik toko langganan mama Ajeng setiap berbelanja.Yang satu pemilik butik terkenal dan yang satu pemilik toko perhiasan.


"Nona ini cincin keluaran terbaru,silahkan nona pilih dan mencobanya." Jia mencoba satu per satu cincin itu dan pilihannya jatuh pada cincin emas yang berlapis emas putih dan ada satu berlian putih ditengah.Cincin itu nampak indah dijari mungi Jia,sedangkan Nara memilih menyerahkan semua pada Jia.


Saat memilih baju,Nara tidak henti hentinya memandang Jia.Dia sangat terpesona akan kecantikan Jia yang terlihat dewasa dengan memakai kebaya saat ini.Saat mamanya sedang sibuk bicara dengan desainernya dan papanya juga sedang ngobrol soal bisnis bersama Arga dan Reno.Nara menghampiri Jia dan mengajaknya keluar ketaman samping rumah Jia.


"Ikut aku sebentar baby!" Bisik Nara dengan menggandeng tangan Jia keluar.


"Mau kemana?" Tanya Jia yang hanya bisa nurut mengikuti langkah Nara ketaman.Sampainya di taman Nara langsung memeluk Jia.Jia yang terkejut langsung mencoba mendorong tubuh Nara,tapi sia sia karena Nara semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu apa apaan sih,lepasin nggak! Nanti kalau ada yang liat gimana?" Jia menggerutu dan masih mencoba melepaskan pelukan Nara.


"Biarin aja,biar sekalian di nikahin langsung nggak usah tunangan." Jawab Nara datar tanpa rasa bersalah.


"Huh kamu ini memang benar benar gila." Umpat Jia pasrah.


"Memang aku gila baby,dan kamu yang sudah membuat aku gila.Huh kamu benar benar menggodaku hari ini." Bisik Nara ditelinga Jia da membuang nafasnya perlahan seakan menahan sesuatu.


"Kapan aku menggodamu,enak saja menuduh tanpa bukti!" Ucap Jia polos.


Nara melepas pelukannya dan memegang dagu Jia. "Hey sayang asal kamu tahu dengan kamu berpakaian seksi seperti ini dan dandan seperti ini itu membuat aku tergoda." Ucap Nara lirih dan di akhiri dengan kecupan dibibir Jia.


" Huh dasar om om mesum!" Seru Jia yang berhasil lepas dari pelukan Nara.Nara tertawa puas melihat muka Jia yang sudah memerah.


"Huh ini aja baru mau tunangan dia udah suka nyosor gimana kalau besok udah nikah,hiii." Batin Jia dan tiba tiba merinding.


"Kamu kenapa sayang,kok mandangin aku kaya gitu,apa jangan jangan kamu sudah nggak sabar ya buat jadi nyonya Nara." Nara mengerlingkan matanya menggoda Jia yang dari tadi memandanginya tanpa berkedip.


"Huh dasar kepedean kamu,udah ah aku mau masuk lama lama disini nanti ndak di mesumin kamu terus." Jia yang hendak berjalan menuju ruang tamu tiba tiba di tarik Nara,karena terkejut Jia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh tapi dengan cepat Nara berhasil meraih pinggang Jia dan menahannya supaya tidak jatuh.Wajah mereka saling berhadapan membuat jantung Jia lagi lagi berdegup dengan kencang.Walaupun sering di perlakukan Nara dengan romantis tapi Jia selalu merasa gugup bila harus bertatap wajah seperti ini dengan Nara.


"Kamu selalu membuat aku jatuh cinta Jia." Bisik Nara dan membuat muka Jia merona malu,dan melepaskan pegangan Nara.


"Dasar tukang gombal." Gerutu Jia.


To be continued