
Abel segera berlari menyusul Nara yang sudah masuk ke dalam kamar Jia, berharap bisa menutupi luka luka di tubuh Jia dulu sebelum Nara melihatnya.Tapi,terlambat Nara sudah melihat semua luka Jia,dia tampak menahan marah melihat keadaan kesayangannya saat ini.
"Tuan...itu...anu..."
"Tinggalkan kami berdua!" Seru Nara sebelum Abel melanjutkan kalimatnya.
Abel menghela nafas. "Baik tuan." Abel berjalan keluar dengan langkah gontai dan tiba tiba saja dia menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh.
Bruk
"Aww...." Teriak Abel yang terjatuh di lantai.
"Kamu nggak apa apa?" Abel mendongakan kepalanya ke atas di lihatnya Reno mengulurkan tangannya.
"Ah sakit tahu."
"Maaf.." Reno membantu Abel bangun.
"Iya di maafin." Sahut Abel dengan muka masih cemberut.
"Apa tuan Nara ada di dalam?" Tanya Reno sambil melirik ke arah kamar Jia.
"Heem,mendingan jangan masuk dulu kalau nggak mau di amuk." Ucap Jia lalu beranjak turun ke dapur,karena Reno penasaran maksud omongan Abel akhirnya dia mengikuti Abel.
Abel menarik salah satu kursi di meja makan lalu duduk sambil menuang air putih dan meminumnya,Abel tersedak saat Reno tiba tiba duduk di sebelahnya dan memandangnya.
"Uhuk...uhuk..."
"Pelan pelan kalau minum,dasar bocah." Reno menepuk nepuk bahu Abel.
"Ngapain kamu kesini?"
"Kan tadi kamu bilang mending jangan masuk."
"Iya,tapi kan nggak harus ngikuti aku! Terus harus banget ya duduk di sebelah aku?" Seru Abel ketus.
" Terus harus kemana? Masa iya harus ngikutin bi Yanti." Ucap Reno yang melirik bi Yanti yang baru saja meletakkan segelas teh di hadapannya.
"Huh dasar pinter cari alasan." Gumam Abel lirih,tapi masih bisa di dengar oleh Reno.
"Memang habisnya kamu ngegemesin." Bisik Reno di telinga Abel,yang langsung membuat wajah Abel memerah.Dadanya terasa sesak karena jarak wajah Reno yang begitu dekat dengan wajahnya hanya berjarak beberapa cm saja.
"Duh mama,Abel nggak bisa bernafas kalau kaya gini,kenapa dia ganteng banget di lihat dari dekat." Batin Abel tanpa berkedip.
"Ya Tuhan ini bocah manis banget kalau lagi diem." Batin Reno yang langsung menjauhkan wajahnya karena takut kalau dia tidak bisa menahan diri.
Hening
"Ehm...tadi kamu bilang kalau nggak mau di amuk,maksudnya apa?" Tanya Reno menghilangkan kecanggungan.
"Ehm itu..anu,Tuan Nara marah waktu lihat kondisi Jia ."
"Emang non Jia kenapa?"
"Tadi Jia keserempet mobil hingga membuat beberapa luka di tubuhnya,tapi anehnya kok tuan Nara bisa tahu ya?" Abel mengerutkan keningnya mencoba berpikir.
"Hah keserempet mobil,trus keadaan non Jia sekarang gimana?" Reno tak kalah panik mendengarnya.
"Nggak parah kok cuma lecet lecet aja."
"Lecet bagi Nara itu sudah parah,pasti sekarang dia lagi panik.Kenapa non Jia bisa jatuh,bukannya dia jago naik motor waktu balapan kemarin aja dia keren kok,terus memangnya kamu nggak bareng sama non Jia?
"Aku juga nggak tahu, dari basecamp Jia naik motor ngebut sampai aku nggak bisa ngejar,saat aku sudah bisa nyusul tapi Jia sudah berada di pinggir jalan dan motornya sudah tergeletak."
"Kamu tahu siapa yang menyerempet?
"Dia seorang wanita, tadi aku sempat minta ganti rugi.Dia ngasih uang buat periksa dan juga kartu nama."
"Aku boleh lihat kartu namanya?"
"Boleh,aku ambil dulu ada di tasku." Abel beranjak dari duduknya menuju ruang tamu untuk mengambil tasnya.Setelah menemukan apa yang dia cari Abel kembali menemui Reno dan menyerahkan sebuah kartu nama.
" Ini kartu namanya." Abel duduk lagi di sebelah Reno setelah menyerahkan kartu nama itu.
"Ini sebuah kebetulan apa memang dia sengaja?" Batin Reno.
***
Nara duduk di tepi ranjang melihat kondisi Jia sekarang membuatnya sedih. "Aku sudah gagal menjaga kamu." Gumamnya lirih,sambil mengusap kepala Jia,dan membuat Jia menggeliat mengerjapkan matanya.
Jia terkejut karena Nara ada di kamarnya,dia lalu menarik selimut untuk menutupi lukanya.
"Aku sudah tahu nggak usah di tutupi." Ucap Nara dingin hingga membuat Jia takut,dan membuatnya menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
"Jia buka selimutnya."
"Nggak mau,kamu jahat!"
Nara menghela nafas merasa bersalah karena membuat Jia takut dengan sikapnya.
"Ok,aku minta maaf sayang." Mendengar suara Nara melunak Jia membuka selimutnya dan menatap Nara yang terlihat cemas.
"Kamu nggak marah sama aku?"
"Aku nggak marah sama kamu sayang,tapi aku marah sama diriku sendiri karena tidak bisa menjaga kamu,aku tidak bisa menepati janjiku sama Arga untuk jaga kamu.Seandainya tadi aku nganterin kamu,pasti kamu nggak akan kaya gini." Nara mengusap kasar wajahnya menyesal dengan kebodohannya.
Jia terkejut dengan reaksi Nara yang malah menyalahkan dirinya sendiri padahal tadi dia yang nggak mau kalau Nara ikut.
Jia berusaha bangun dari tidurnya,dan menyentuh bahu Nara. "Maaf." Ucapnya lirih yang membuat Nara menoleh dan memandang wajah Jia yang terlihat menyesal.
"Aku minta maaf sudah buat kamu cemas,harusnya tadi aku nurut sama kamu." Ucap Jia lagi.
"No sayang,ini bukan salahmu." Ucap Nara sambil mengusap ke dua ujung mata Jia yang sudah terlihat basah.
"Kamu jangan menangis,aku sudah janji sama Arga nggak akan buat kamu nangis sayang." Ucap Nara lirih sambil meyelipkan rambut Jia ke belakang telinganya.
"Huum.." Jia menganggukkan kepalanya.
"Kita ke dokter sekarang buat periksa luka kamu."
"Nggak usah,tadi udah di obati Abel sama bi Yanti kok lagian ini nggak parah cuma lecet lecet aja." Ujar Jia sambil menunjukkan lukanya pada Nara.
"Jia aku nggak suka di bantah." Nara menatap tajam wajah Jia.
"Tapi aku beneran nggak apa apa." Ucap Jia dengan memasang muka melas berharap Nara luluh dan tidak mengajaknya ke rumah sakit.
"Huuh...kamu memang bandel ya." Ucap Nara sambil mencubit pipi Jia.
Jia tersenyum lega karena Nara tidak lagi memaksanya ke rumah sakit.Melihat wajah Jia yang tersenyum membuat hati Nara agak tenang,tapi di hatinya masih belum bisa menerima dan akan mencari orang yang sudah menyerempet Jia.
Drt...drt..
Terdengar ponsel Nara berbunyi,dia segera mengambil ponselnya yang berada di kantong celananya.
"Kamu sekarang istirahat ya,aku mau keluar sebentar."
"Kamu mau kemana,jangan pergi." Ucap Jia dengan suara merengek manja seperti anak kecil yang membuat Nara gemas.
"Aku nggak akan pergi sayang,aku cuma mau angkat telfon nanti aku balik lagi." Nara mencium kening kesayangannya itu dulu sebelum beranjak pergi keluar dari kamar.
Nara terlihat serius mendengar laporan dari orang suruhannya tadi untuk mencari tahu siapa yang menyerempet Jia,dia ingin tahu motif orang itu.Nara takut kalau ada orang yang sengaja mencelakai Jia karena tahu Jia adalah tunangannya,tidak di pungkiri sebagai seorang pengusaha yang sukses banyak saingan bisnisnya yang ingin mencelakainya.
Mendengar laporan dari orang suruhannya membuat Nara geram saat tahu orang yang sudah menyerempet Jia.
"Kamu menggunakan cara licik dasar wanita murahan,aku nggak akan lepasin kamu!" Seru Nara emosi.
.
.
.
.
Jangan lupa kasih vota ya kakak,biar semangat nulisnya.