
Bima berdiri mematung melihat sikap Nara,ingin rasanya marah tapi dia tahan. Baginya yang terpenting saat ini adalah keselamatan Jia.Bimapun meredam amarahnya.
Nara berlari hendak membawa Jia ke mobil,tapi Abel terlebih dulu menahannya.
"Tuan lebih baik kita bawa Jia ke klinik sekolahan dulu agar mendapatkan pertolongan pertama."
"Iya tuan,sebaiknya kita bawa nona Jia ke klinik dulu." Imbuh Reno.
Sebenarnya Nara ingin langsung membawa Jia ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang terbaik.Tapi ada benarnya juga usul Abel dan Reno,yang terpenting sekarang adalah membuat Jia siuman dulu.
"Dimana kliniknya?" Seru Nara setengah berteriak.
"Lewat sini tuan." Sahut kepala sekolah yang ternyata sudah berada di sana.Tadi saat mendengar suara kegaduhan dari kelas Jia,dia langsung menuju kesana untuk menegur,tapi ternyata yang dia lihat adalah sang pemilik sekolahan sedang membopong tunangannya yang pingsan.
Nara segera mengikuti langkah kaki kepala sekolah menuju ke klinik di ikuti Reno,Abel,Bima dan juga beberapa siswa yang ingin tahu keadaan Jia.Hanya beberapa meter dari kelas Jia mereka sudah sampai.
Sampainya di ruangan Nara segera meletakkan Jia di ranjang perawatan.Perawat yang sudah paham dengan keadaan segera mengambil alih keadaan untuk memeriksa Jia.
"Tuan maaf,sebaiknya anda keluar dulu." Ucap salah satu petugas klinik.
"Kenapa kamu mengusirku,aku ingin memastikan kalau kalian memberikan perawatan yang terbaik untuknya." Seru Nara penuh emosi.Reno yang tahu kalau bosnya saat ini sangat cemas segera mengambil tindakan.
"Lakukan saja tugas kalian,jangan banyak bicara.Pastikan kalian melakukan yang terbaik untuk mengobatinya kalau kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan kalian!" Seru Reno dengan tatapan dingin.
Abel yang fokus melihat keadaan Jia langsung menoleh ke arah Reno saat mendengar suaranya. "Dia terkadang menjadi menakutkan." Batin Abel,kaget sekaligus terpesona dengan sikap Reno yang garang tapi berwibawa.
Sang kepala sekolah mendekati para petugas,dan membisikkan sesuatu pada mereka.
"Biarkan tuan itu di sini,dia adalah pemilik sekolahan ini dan siswi itu adalah tunangannya.Jadi lakukan yang terbaik." Bisik kepala sekolah,yang langsung membuat gemetar petugas klinik.Dia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka melakukan tugasnya dengan hati hati memeriksa suhu badan Jia.sedangkan Reno segera mengajak orang orang untuk keluar,kecuali Nara dan beberapa petugas klinik.
"Kalian hati hati jangan sampai menyakitinya." Seru Nara dengan tatapan dinginnya,dan masih setia memegang jemari Jia.Di ciumnya beberapa kali tangan Jia,sangat terlihat di wajahnya kekhawatiran yang luar biasa.
"Sayang ayo bangun." Gumam Nara mencium kening Jia.Dia tidak menghiraukan para perawat yang sedang memberikan pertolongan pada Jia.Hatinya perih melihat luka di kaki Jia yang sudah membengkak berwarna biru keungunan yang sedang di bersihkan oleh perawat.
"Bodohnya aku, kenapa sampai tidak tahu kalau kamu menahan sakit ini sayang." Batin Nara merutuki kebodohannya dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Tuan apa nona ini sebelumnya pernah mengalami kecelakaan?" Tanya salah satu perawat.
"Iya,kemarin dia mengalami kecelakaan.Memangnya kenapa?" Tanya Nara balik.
"Begini tuan nona ini mengalami infeksi pada luka di kakinya hingga menyebabkan kakinya bengkak dan membuat badannya menjadi demam tinggi,mungkin karena saat membersihkan luka masih ada kotoran yang tertinggal hingga membuat infeksi pada lukanya."
"Lalu sekarang bagaimana keadannya,lakukan yang terbaik untuk menyembuhkannya?" Seru Nara.
"Kami sudah membersihkan lukanya,tapi maaf sepertinya anda harus membawa nona ini ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif agar demamnya cepat turun karena peralatan di sini tidak memadai tuan." Ucap salah satu perawat dengan hati hati menundukkan kepalanya tidak berani melihat Nara.
"Hah percuma kalian di sini kalau tidak bisa mengobati!" Nara berteriak memaki semua perawat, Reno yang mendengar Nara berteriak marah marah segera masuk ke dalam.
"Tuan ada apa?" Tanya Reno saat sudah ada di dalam,Abel dan Bimapun ikut masuk.
"Pecat mereka semua! Mereka tidak berguna!" Nara menendang kursi di depannya untuk melampiaskan amarahnya.
"Tuan,anda tenanglah.Lebih baik kita segera bawa nona Jia ke rumah sakit." Reno mencoba menenangkan Nara yang sudah kesetanan.Abel sangat takut melihat Nara saat sedang marah,dia bersembunyi di balik punggung Reno tidak berani melihat Nara dari dekat.
"Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Jia,terlihat jelas kalau dia sangat mencintai Jia." Batin Bima.
"Jia..." Tiba tiba Abel berteriak saat melihat Jia bergerak dan mengerjapkan matanya.Semua orang langsung melihat Jia terutama Nara,dia langsung menghampiri Jia.
"Sayang kamu sudah sadar?" Ucap Nara lega,begitu juga dengan semua orang yang ada di situ terutama para perawat, mereka menghela nafas sangat bersyukur melihat Jia sadar.
"Nara...." Ucap Jia pelan,dia masih menyesuaikan matanya,karena kepalanya masih terasa pusing.
"Iya sayang ini aku,gimana apa yang kamu rasakan.Mana yang sakit sayang?" Ujar Nara secara beruntun.
"Dingin." Ucap Jia. Mendengar Jia kedinginan Nara langsung menyelimutinya dan mendekapnya erat.
"Ren cepat siapkan mobil,kita ke rumah sakit sekarang!"
"Baik tuan." Reno segera bergegas mengambil mobil sedangkan Abel berlari ke kelas untuk mengambil tasnya dan juga tas Jia.Sedangkan Bima masih di situ.
"Aku minta maaf atas sikapku tadi." Ucap Nara tiba tiba hingga membuat para perawat kaget mendengar permintaaan maaf dari seorang Nara yang notabene terkenal dengan aura dingin dan sifat sombongnya.
"A..anda tidak perlu minta maaf tuan kami yang salah." Ucap mereka terbata bata.
"Terimakasih." Ucap Nara lalu membopong Jia keluar karena Reno sudah datang.
Di luar terlihat beberapa guru dan juga kepala sekolah,tidak ada satu pun dari mereka yang berani melihat Nara terutama pak Hasan guru Bp,dia sangat takut karena tadi tidak menghiraukan permintaan Abel,dia takut kalau sampai di pecat.
Saat Nara sudah membawa Jia ke dalam mobil,pak Hasan menahan Abel terlebih dalu.
"Abel maafkan bapak,tadi bapak tidak tahu kalau Jia beneran sakit.Tolong jangan mengadu ke tuan Nara ya." Ucap Pak Hasan pelan.
"Iya bapak tenang saja,aku nggak akan kasih tahu ke tuan Nara.Tapi lain kali bapak harus hati hati,karena tuan Nara punya mata mata banyak." Sahut Abel bergegas pergi setelah minta ijin pada kepala sekolah.
Terdengar suara dering ponsel Nara,dia mengambil ponsel dari celana panjangnya.Di lihatnya ada panggilan dari mamanya.
"Halo ma." Sapa Nara.
"Kamu ada dimana sekarang? Bagaimana keadaan Jia?" Tanya mama Ajeng beruntun.
"Mama kok bisa tahu kalau Jia lagi sama aku?" Tanya Nara heran.
"Sudah jangan banyak tanya,cepat bawa Jia pulang ke rumah kita,mama sudah memanggil Reza dan sudah menyiapkan semuanya.Mama sendiri yang akan merawat Jia." Seru mama Ajeng di ujung telfon.
Reza adalah dokter pribadi keluarga Nara,dia sekaligus sahabat Nara dan juga Reno.
"Baik ma." Sahut Nara,mengakhiri telfonnya lalu melirik ke arah Reno.
"Good job Ren." Serunya,dan di balas anggukan serta senyum tipis dari Reno.Abel hanya melihat dengan wajah bingung percakapan dua cowok di depannya.Sedangkan Jia kembali terlelap karena masih merasakan pusing di kepalanya.
Abel semakin bingung saat tiba di depan sebuah rumah yang begitu besar dan bangunan yang megah.Dia turun dari mobil mengikuti Reno yang sedang membukakan pintu untuk Nara dan Jia.
"Bukannya kita harus membawa Jia ke rumah sakit? Tapi kenapa malah di bawa kesini,ini bukan seperti rumah sakit." Tanya Jia bingung pada Reno,saat melihat Nara sudah berjalan masuk ke dalam sebuah rumah yang megah itu.
"Ini memang bukan rumah sakit tapi di sini nona Jia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik dari rumah sakit." Sahut Reno dan segera menarik tangan Abel untuk masuk ke dalam.
Di depan pintu terlihat mama Ajeng dan papa Wira menyambut mereka dengan tatapan cemas,ada juga seorang pria berjas putih dan seorang wanita layaknya seorang dokter dan seorang perawat.
Abel baru paham kalau sekarang dia ada di rumah Nara,setelah meilhat mama Ajeng dan juga papa Wira.
" Sayang ayo bawa Jia ke kamar kamu,mama sudah siapkan semua di sana." Seru mama Ajeng cemas.
Nara mengangguk menjawab perintah mamanya dan langsung bergegas menuju kamarnya di lantai dua dengan menggendong Jia ala bridal style sejak tadi,dia tidak menghiraukan otot tangannya yang sudah kelelahan.
Nara membaringkan tubuh Jia secara perlahan di ranjangnya saat sudah berada di kamarnya.Dengan sigap dokter Reza segera memeriksa Jia dan juga luka bengkak di kakinya.
Dia memberi perintah pada asistennya untuk memasang infus agar memberikan tenaga untuk Jia, dan menyuntikan obat pada lengan Jia.Reza sekilas melihat wajah Nara yang sangat cemas.
"Rupanya dia sudah menemukan cintanya." Batin Reza tersenyum tipis,lalu mendekati Nara.
" Jangan terlalu khawatir dia bisa menahan lukanya sejauh ini,dan dia akan cepat sembuh." Ucap Reza menepuk bahu Nara.
"Dia memang harus cepat sembuh,kalau tidak apa gunanya kau jadi dokter." Sahut Nara datar,Reza hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu tanpa merasa tersinggung karena itu sudah biasa terjadi di antara mereka.
"Dasar,aku kira setelah menemukan wanita yang membuatmu jatuh cinta bisa merubah sifat menyebalkanmu itu tapi ternyata tetap sama saja.Nanti kalau dia siuman aku akan tanya kenapa bisa menyukai pria menyebalkan sepertimu." Ujar Reza menggoda Nara yang langsung mendapatkan bogem mentah dari tangan Nara.
"Awas kau ya!" Seru Nara kesal ,tapi tidak bisa marah pada sahabatnya ini.
.
.
.
.
Bersambung.