
"Jia aku tidak suka di bantah!" Seru Nara sedikit kesal dengan Jia, karena Jia memaksa untuk berangkat sendiri naik motor ke acara baksos.
Iya,hari ini acara baksos klub motor Jia di laksanakan.Awalnya memang rencananya Nara ikut dan berangkat bersama Jia pagi ini,tapi tadi tiba-tiba Nara mendapat telfon dari Reno kalau ada pekerjaan mendadak dan tidak bisa di tunda maka dari itu mau tidak mau Nara tidak bisa ikut berangkat pagi ini,dan menyuruh Jia juga menunggunya menyelesaikan pekerjaannya dulu.
"Nara kamu kan tahu aku ketua,mana mungkin aku berangkatnya nanti nunggu kamu pulang,padahal kita saja nggak tahu kamu akan selesai jam berapa." Seru Jia yang sudah mulai kesal.Sedangkan Abel hanya bisa bengong melihat sepasang suami istri itu berdebat di depannya.
"Tuan...." Sapa Reno dari arah pintu membuat Jia,Nara dan juga Abel menoleh ke arahnya.Di tatap semua orang dengan tatapan marah membuat Reno bingung dan bergidik ngeri.
"Wahduh kenapa tatapan mereka menakutkan,jangan-jangan apa yang aku takutkan terjadi kalau sekarang sedang terjadi perang dunia ketiga di antara mereka." Batin Reno dalam hati sembari menelan salivanya susah payah.
Reno menatap Abel dan mengernyitkan dahinya,mencoba bertanya dengan kode,tapi hanya diam mengehela nafas.Dan itu sudah cukup membuat Reno tahu kalau sedang terjadi perdebatan antara bosnya dengan istrinya.
"Ehm....tuan apa anda sudah siap?" Tanya Reno dengan suara pelan karena takut.
Nara tidak langsung menjawab pertanyaan dari Reno,dia terlihat sedang berpikir. "Ok kamu boleh berangkat sekarang tapi dengan syarat,kamu harus di antar sopir tidak boleh naik motor sendiri." Nara mau tidak mau akhirnya mengijinkan Jia untuk berangkat sendiri.
"Nara kenapa harus ada syarat segala,acara ini kan dari klub motor masa iya aku nggak bawa motor sendiri!" Protes Jia tidak terima.
"Terserah kamu, mau berangkat sekarang tapi di antar sopir atau berangkat pakai motor tapi nunggu aku pulang." Ucap Nara memberi pilhan,tapi Jia tidak langsung menjawabnya karena motor adalah jiwanya.Dia sangat kesal dengan sikap Nara yang terlalu posesif padanya.Tidak boleh melakukan ini itu bila tidak dengan persetujuannya.
"Sudahlah Jia,nggak apa-apa kita di antar sopir dari pada kita terlambat." Bisik Abel yang terlihat menghampiri Jia.
Jia nampak berpikir keras untuk mencari ide.Hingga dia tersenyum kecil setelah menemukan ide. "Ok aku turuti dulu kemaunmu." Ucap Jia dalam hati.
"Ok aku pilih opsion yang pertama." Ucap Jia setelah menghela nafas panjang,menerima persyaratan dari Nara.
"Nah gitu dong sayang,kalau dari tadi kan bisa menghemat waktu.Kamu memang senang kalau berdebat dulu ya." Nara mencubit pipi Jia gemas.Tapi Jia hanya diam saja,karena masih kesal.
"OK sekarang kita berangkat,nanti kalau kamu sudah sampai segera hubungi aku ya sayang,kalau nanti aku sudah selesai aku pasti langsung nyusul kamu." Perintah Nara setelah mengecup kening Jia yang masih terlihat manyun dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Kamu hati-hati ya!" Bisik Reno pelan saat Abel melintas di depannya.Abel tersenyum mendengar ucapan Reno dan mengangguk pelan.
Mereka berempat berjalan ke depan,Jia dan Abel terlihat sudah berada di dalam mobil.Setelah mobil yang di tumpangi istrinya itu menghilang barulah Nara mengajak Reno untuk berangkat.
"Tuan apa nggak kasian sama non Jia,kayaknya dia terlihat sedih." Tanya Reno saat sudah berada di dalam mobil.
"Aku sebenarnya juga tidak tega Ren,tapi aku takut kalau dia berangkat sendiri pasti nanti naik motornya kebut-kebutan.Mungkin kalau ada Beny aku akan ngijinin Jia berangkat naik motor,tapi kan kamu tahu Beny sedang aku kasih tugas lain.Kalau tahu begini aku nggak nyuruh Beny yang melaksanakan tugas itu." Nara menghela nafas dalam, sebenarnya dia tidak tega tadi sudah membentak Jia,hatinya juga merasakan sakit saat melihat wajah Jia yang kecewa.Tapi ini semua demi kebaikan Jia juga pikirnya.
Dia tidak mau kejadian Jia kecelakaan naik motor terulang lagi,walaupun orang yang membuatnya jatuh sudah berada di penjara,tapi Nara tidak mau ambil resiko lagi.
"Halo sayang,apa kamu bilang?Kamu berubah pikiran,aku boleh berangkat naik motor sendiri?" Seru Jia dengan suara yang sengaja di buat keras agar sopir suaminya itu mendengar suaranya.
"Ok sayang,terimakasih.I love you..." Ucap Jia mengakhiri telfonnya.
"Jia apa benar suamimu ngasih ijin?" Tanya Abel penasaran dan merasa curiga,karena tadi dia melihat sendiri bagaimana Nara kekeh melarang Jia naik motor,tapi sekarang kenapa baru beberapa menit masa sudah berubah pikiran.
"Pak kita balik ke rumah ya,saya berangkat naik motor sendiri." Ujar Jia tanpa menjawab pertanyaan Abel dulu.
"Tapi non?" Tanya pak Budi sedikit ragu karena bukan sendiri tuan mudanya yang menyuruhnya.
"Pak Budi nggak percaya?Kalau nggak percaya bapak boleh telfon suami saya!" Seru Jia dengan nada agak kesal.
Melihat istri majikannya kesal membuat pak Budi takut dan mengiyakan perintah Jia.
"Maaf nona muda,saya akan putar arah sekarang." Ucap pak Budi lirih.Jia hanya mengangguk saja.
"Jia apa benar tadi yang telfon Nara?" Tanya Abel yang masih penasaran saat mereka sedang siap-siap dan hendak memakai helm.
"Menurutmu?" Tanya balik Jia sembari mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum licik.
"Hah kamu gila ya,nanti kalau ketahuan gimana? Suamimu pasti marah besar." Seru Abel,hingga membuat pak Budi sedikit menoleh ke arah mereka.
"Hus...sudah mending ayo buruan berangkat,sebelum pak Budi beneran telfon Nara." Jia menepuk bahu Abel agar mengecilkan suaranya.Abel hanya bisa menggelengkan kepalanya karena kelakuan sahabatnya ini.
"Terserah kamu deh Jia."
"Sekali ini saja Bel,ini kan acara baksosku yang terakhir." Ucap Jia sebelum melajukan motornya.
"Jia pelan-pelan,jangan ngebut!" Teriak Abel yang dengan susah payah bisa menyusul,dan berada di sebelah Jia sekarang.
"Aku kangen balapan Bel..." Sahut Jia terlihat sangat bahagia bisa naik motor lagi,seakan dia merasakan kebebasannya seperti dulu.
"Iya aku tapi jangan kenceng-kenceng." Belum juga Abel menutup mulutnya setelah berhenti mengingatkan Jia.Tapi Jia sudah menancap gasnya lagi karena merasa tertantang dengan motor yang baru saja menyalipnya.
Itulah Jia yang dulu,dia akan selalu lupa diri kalau sudah berada di jalanan.Dia akan mengejar motor yang sekiranya bisa menjadi lawan yang imbang untuknya menguji kemampuannya seperti sekarang ini.Jia sudah terlihat saling kejar-kejaran dengan motor yang tadi menyalipnya.
Dan bisa di tebak,Jialah yang jadi pemenang.Jia tersenyum puas karena kemampuannya masih seperti dulu walau dia sudah lama tidak berada di jalanan seperti sekarang.
Jia dan Abel berhenti di tempat dimana tempat janjian mereka dengan klub motornya.Disana sudah terlihat Bima dan juga teman-temannya yang lain.Terlihat juga Mia berdiri di samping Bima yang membuat Jia jengah karena teringat kelakuannya beberapa hari yang lalu.
"Gila kamu beb,kenapa kenceng banget sih naik motornya! Aku takut tahu!" Seru Abel meninju lengan Jia.Jia hanya meringis menyeringai menanggapi ucapan sahabatnya yang masih gemetaran itu.
Jia melepas helmnya,terlihat rambutnya yang panjang sedikit curly berwarna hitam pekat itu tergerai bebas setelah Jia berhasil melepaskan helmnya.
"Santai aja Bel..." Gumam Jia tersenyum tipis.
"Apa...jadi dia wanita! Gila aku di kalahkan seorang wanita? Sungguh memalukan Justin,kamu ini." Gumam seorang pria berpawakan sedikit bule dengan mata biru alis tebal,hidung mancung,kulit putih,berambut pirang dan tubuh yang tegap atletis nyaris sempurna.
Justin memandangi Jia tanpa berkedip dari jauh,dia seakan terpesona dengan Jia. "She is a perfect woman." Batin Justin yang memperhatikan Jia dari jauh.
"Hay teman-teman maaf ya kita terlambat." Sapa Jia dan Abel sambil memberi tos pada mereka bergantian.Tapi tidak dengan Mia,Jia dan Abel menghindari bertatapan dengan wanita itu.
"Iya nggak apa-apa bu ketua." Sahut Dea dan juga teman-temannya.
"Ok mending kita berangkat sekarang,tapi sebelumnya kita berdoa dulu." Bima beranjak dari motornya hendak memimpin doa.
"Wanita yang menarik." Gumam Justin lagi,dan menjalankan motornya untuk mengikuti rombongan Jia dari belakang.
"Apa kamu bilang?" Seru Nara setengah berteriak saat menelfon pak Budi dan menjadi marah setelah mendengar penjelasan dari sopirnya itu.
"Pantas saja aku tidak bisa menghubunginya dari tadi." Nara mendengus kesal dan mengusap wajahnya kasar karena mengetahui Jia melanggar perintahnya.
"Ren,cepat selesaikan rapat ini." Seru Nara dengan tatapan emosinya.
Reno yang tahu kalau suasana hati bosnya sedang tidak baik hanya bisa mengangguk pelan.Dan berusaha memberi penjelasan yang rinci pada kliennya agar cepat selesai.
"Jia kamu benar-benar menguji kesabaranku!" Umpat Nara tanpa henti di dalam mobil.Dia sedang dalam perjalanan menyusul Jia ke tempat baksos yang berada tidak jauh dari villa Jia.
"Tuan,sebaiknya anda meredam emosi.Jangan sampai anda bertegkar dengan non Jia.Motor dan non Jia itu satu paket sebelum bertemu dengan anda,mungkin butuh proses untuk non Jia bisa menjauhi hobinya itu.Anda harus memberinya sedikit kebebasan,jangan sampai non Jia merasa di kekang karena menikah dengan anda." Ucap Reno panjang memberi pengertian pada bosnya itu.
Nara mencerna setiap perkataan dari Reno,dia terdiam dan merenungi sikapnya yang menjadi sangat posesif padahal dari awal dia sudah berjanji tidak akan mengekang Jia.
"Huft....terimaksih Ren kamu sudah mengingatkan aku." Ucap Nara menepuk bahu Reno pelan.Reno tersenyum kecil,dia lega karena sudah tidak terlihat lagi aura kemarahan di wajah bosnya.
Jia dan rombongannya sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat.Saat ini dia dan Bima terlihat sedang berbincang dengan kepala desa untuk membahas acara baksos mereka.
Tak jauh dari tempat Jia,Justin tampak memperhatikan Jia yang tampak sedang memberi pengarahan pada teman-temannya.
"Dia benar-benar wanita yang mengagumkan." Gumam Justin tersenyum tipis yang tampak semakin terpesona dengan Jia.
.
.
.
.
Bersambung.
Tetap dukung aku ya kakak pembaca,biar tambah semangat nulisnya.