NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Aku Tidak Akan Membiarkan Itu Terjadi



"Paman tolong siapkan penerbangan satu jam lagi untuk ke Belanda,dan jangan sampai siapapun tahu walaupun itu Kak Arga."


"Baik nona." Jawab paman Leo,yang merupakan pilot pribadi keluarga Jia.Memang selama ini Arga dan Jia jarang menggunakan pesawat pribadi mereka untuk bepergian.Mereka lebih suka menggunakan pesawat komersil karena menurut mereka itu lebih menyenangkan bisa bertemu dengan banyak orang.Tapi kali ini berbeda Jia yang sedang dalam keadaan kacau memilih menggunakan pesawat pribadinya untuk bisa mendapat ketenangan selama di perjalanan.


Citttt


Terdengar suara bunyi motor berhenti mendadak yang hampir menabrak Jia.


"Maaf..." Ucap Jia


"Jia..." Sapa Bima terkejut melihat kondisi Jia yang terlihat tidak baik-baik saja."


"Bima..." Ucap Jia lirih.


"Kamu mau kemana? Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Bima beruntun.


"Bim,tolong antarkan aku pulang." Pinta Jia dengan penuh harap tanpa menjawab pertanyaan Bima,Jia tidak punya pilihan lain selain meminta tolong pada Bima.Jia berpikir kalau di antar Bima bisa menghemat waktu,Jia sudah tidak perduli kalau Nara akan marah mengetahui dia boncengan sama Bima.Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Bima dengan senang hati menerima permintaan Jia.


"Tentu saja Jia,naiklah." Ucap Bima dengan senang hati.Kapan lagi Bima bisa mendapatkan kesempatan langka bisa naik motor lagi dengan wanita yang masih dia cintai sampai saat ini.


Bima menatap wajah Jia dari kaca spion motornya,tergambar jelas di raut wajahnya kesedihan tapi Bima masih enggan untuk bertanya karena dia tidak mau merusak momennya bersama Jia kali ini.Bima merasa seperti mimpi,dia tidak menyangka bisa seperti ini lagi bersama Jia.


"Terimakasih Bim." Ucap Jia setelah turun dari motor dan hendak berjalan masuk ke rumahnya.


"Jia tunggu,kamu bisa menceritakan masalahmu padaku." Langkah Jia terhenti mendengar ucapan Bima.


"Sekali lagi terimakasih Bim,tapi aku tidak apa-apa." Ucap Jia kemudian berlalu meninggalkan Bima yang masih mematung di tempatnya.Bima benar-benar merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Jia.


"Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai kamu menyakiti Jia." Batin Bima mengepalkan jari tangannya yang di tujukan untuk Nara.


Jia dengan cepat memasukkan beberapa baju dan barang-barang pentingnya ke dalam koper tak lupa sebuah surat sertifikat beserta kunci rumahnya yang ada di Belanda.Setelah selesai mengemasi barang-barangnya Jia melangkahkan kakinya ke pintu.


Langkah Jia begitu berat,dia memejamkan matanya sejenak terlintas kenangan indah bersama suaminya di kamar ini.Di pandanginya lagi kamar itu untuk terakhir kali.Jia teringat sesuatu,dia mengambil hasil usg pemeriksaan kandungannya tadi, di taruhnya di atas ranjang lalu dengan langkah terburu-buru Jia segera keluar dari kamarnya.


"Non...non Jia mau kemana?" Tanya salah seorang pelayan yang bingung melihat majikannya membawa koper.Tanpa menjawab pertanyaan dari pelayannya Jia melangkahkan kakinya lebih cepat lagi.Di depan gerbangpun security bertanya tapi Jia tetap memilih diam tanpa ingin menjawab.Jia segera masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan sebelumnya meninggalkan rumah mewah suaminya.


"Tuan...non Jia pergi,tadi saya sudah menghubungi tuan Nara tapi tidak bisa." Salah satu pelayan menghubungi Reno.


"Hah,pergi kemana bi? Kenapa kalian tidak menahannya." Seru Reno dengan suara panik.


"Maaf tuan kami tidak berani,non Jia hanya diam saja dan non Jia pergi membawa koper besar."


"Apa..!!!" Reno terkejut mendengar laporan dari pelayan rumah Nara,dia langsung menutup telfonnya.


----


"Itukan Jia,dia mau kemana lagi." Gumam Bima yang melihat Jia naik taksi saat berhenti di lampu merah.


Tanpa menunggu lama Bima segera membuntuti taksi yang di tumpangi Jia,lima belas menit kemudian taksi Jia sudah berhenti di bandara.Bima bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan Jia,kenapa dia pergi ke bandara tapi tidak bersama dengan suaminya.


"Apa mungkin mereka sedang bertengkar," Gumam Bima.


Bima berlari mengejar Jia yang sudah masuk ke dalam bandara. "Jia..." Teriaknya memanggil Jia hingga membuat orang di sekelilingnya menoleh ke arahnya.


"Bima,kamu ngapain ngikutin aku?" Tanya Jia setelah berbalik dan melihat Bima berdiri di hadapannya.


"Kamu mau kemana Jia,kenapa kamu pergi sendiri.Aku tahu kamu pasti sedang ada masalah dengan suamimu kan?" Ucap Bima penuh selidik.


"Itu bukan urusanmu Bim,jangan ikut campur." Ucap Jia sedikit kesal.


"Aku minta maaf Jia,aku tidak bermaksud ikut campur aku hanya khawatir denganmu.Ok kalau kamu tidak mau berbagi masalahmu denganku setidaknya beri tahu aku kamu mau kemana?"


"Aku tidak punya kewajiban untuk memberi tahumu kemana aku pergi,sekarang aku minta padamu sebagai seorang teman tolong berhenti mengikutiku dan ikut campur urusanku Bim.Melihatmu mengingatkanku pada luka yang kamu beri waktu itu dan yang baru aku rasakan lagi tadi." Ucap Jia yang tanpa sadar air matanya kembali menetes.


Bima tertegun mendengar ucapan Jia,dia semakin yakin kalau Jia sedang bertengkar dengan suaminya.Tanpa Bima sadari Jia sudah beranjak menjauh meninggalkannya.


"Sayang,sepertinya kita akan hidup berdua saja.Kamu yang sehat ya sayang,kamu penyemangat mama." Gumam Jia mengusap perutnya saat sudah berada di dalam pesawat.


-----


Prannnggggg.....


Terdengar suara gelas dan vas bunga yang terjatuh akibat tendangan kaki Nara.Nara tampak murka menghadapi kenyataan tentang kebohongan Kara selama ini.


"Nara aku minta maaf,aku tidak bermaksud membohongimu aku hanya ingin kembali bersamamu." Kara ketakutan melihat Nara mengamuk.


"Kamu pikir aku mau bersamamu lagi,setelah apa yang kamu lakukan apalagi mengetahui perbuatanmu yang menjijikan itu." Nara semakin kalap hampir saja dia mencekik leher Kara kalau saja Reza tidak mencegahnya.


Nara sudah tahu kebenaran tentang bahwa bukan Kara yang mendonorkan ginjalnya untuknya,tadi orang suruhan Reza berhasil membawa dokter yang menangani Nara dulu dan mejelaskan semuanya di depan Nara.Dan lagi soal kerja sama Kara dengan dokter Sandypun Nara juga sudah tahu,karena tadi saat Reza dan Reno berbicara mengenai Kara di depan kamarnya,dokter Rico yang tidak sengaja mendengar mencoba bertanya dan betapa terkejutnya Reza dan Reno dengan apa yang di katakan dokter Rico.


Untuk memastikan siapa yang sudah membantu Kara,mereka bertiga meilhat ke rekaman cctv dan disana terlihat Kara setelah keluar dari ruangan dokter Rico berbincang dengan dokter Sandy lalu tak lama mereka masuk kedalam ruangan.


"Bodohnya aku sudah terjerat dengan omonganmu sampai aku menyakiti hati istriku,aku akan membuatmu menyesal sudah mengganggu hidupku Kara!"


"Tuan,ayo kita pergi dari sini.Nona Jia pergi dari rumah." Ucapan Reno membuat Nara panik.Ada rasa takut yang tiba-tiba menghujam hatinya.Sejenak Nara hilang kesadaran mendengar istrinya pergi dari rumah,dia sangat syok hingga beberapa detik.


Tiba-tiba terlintas kata-katanya tadi yang sudah menyakiti hati Jia,dimana dia membentaknya dan juga mengusirnya.


"Arghhhh shiiit...!!!!" Nara memukul tembok dan mengumpati kebodohannya sebelum dia pergi keluar.


"Za,kamu urus mereka aku akan mencari non Jia bersama tuan Nara.Aku sudah menelfon polisi."


"Ok,kabari aku saat non Jia sudah ketemu."


"Ok."


"Sayang kamu dimana,kenapa nomormu tidak aktif." Nara berulang kali menghubungi nomor istrinya ,dia mengusap wajahnya kasar karena tidak ada jawaban sama sekali.


"Apa kita ke rumah dulu tuan?" Reno menoleh pada bosnya tapi masih tetap fokus pada kemudinya.


"Iya Ren kita ke rumah dulu."


Cittttttt


Reno menginjak rem berhenti mendadak karena tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di depan mobilnya.


"Dasar gila,apa dia mau mati." Umpat Reno melepas sabuk pengamannya hendak turun menghampiri si pengedara motor.Tapi kalah cepat karena orang tadi yang tak lain adalah Bima kini sudah berdiri di samping pintu mengetuk kaca menyuruh Nara keluar.


Bugggg


Bima tiba-tiba memukul wajah Nara saat Nara sudah keluar.


"Hey apa-apaan kamu!" Seru Reno memegang lengan Bima menahannya yang ingin menghajar Nara lagi.


"Lepaskan tanganku!" Seru Bima.


"Kenapa kamu membuat Jia menangis?" Pertanyaan Bima membuat Nara menghampirinya dan meyuruh Reno untuk melepaskan tangan Bima.


"Apa maksudmu? Memangnya kamu tahu apa tentang aku dan Jia?" Seru Nara dengan suara meninggi.


"Aku memang tidak tahu banyak,tapi melihat air mata Jia sudah cukup memberi tahuku kalau Jia tidak bahagia bersamamu! Dan perlu kamu tahu tuan Nara yang terhormat aku akan merebut Jia darimu karena kamu sudah menyia-nyiakannya!"


Bugggg


Mendengar ucapan Bima membuat Nara emosi dan reflek melayangkan tinjunya ke muka Bima.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"