
Jia sudah sampai di vila yang dia beli.Kini dia sedang duduk di kebun belakang vilanya.Sejak vila itu dia beli beberapa hari setelah lomba balap motor melalui orang suruhannya,baru kali ini Jia mengunjungi vilanya yang sangat sejuk dan asri itu karena memang Jia juga sudah mencari orang untuk merawat vilanya.
"Non mau bibi masakin apa? Tanya bi Elis mengagetkan Jia yang sedang merendam kakinya di kolam ikan dan sesekali menggoda ikan-ikan itu.
"Ehm terserah bibi saja." Jawab Jia pelan karena tidak berselera untuk makan apapun.
"Baiklah kalau begitu,bibi tinggal ke pasar dulu ya non" Pamit bi Elis dan segera berangkat ke pasar di temani suaminya.
"Iya bi."
Ting tong...
Suara bel berbunyi beberapa kali hingga memaksa Jia beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
"Siapa sih yang kesini,aku kan belum kenal orang-orang sini."Gumam Jia sambil berjalan ke depan.
Ceklek
"Maaf anda mau bertemu siapa?" Sapa Jia pada dua orang pria yang berdiri membelakanginya.
Ke dua orang tersebut berbalik dan langsung menarik tangan Jia,Jia hendak berontak tapi salah satu dari pria itu berhasil membekap mulut Jia dengan sapu tangan yang sudah ada obat bius dan seketika juga Jia tak sadarkan diri.
Dari kejauhan terlihat bi Elis dan mang Jaka suaminya berlari menuju vila karena melihat Jia hendak di bawa pergi oleh orang yang tak di kenal.Awalnya mereka pulang lagi karena mau mengambil dompet bi Elis yang tertinggal,tapi mereka malah di kejutkan dengan pemandangan penculikan majikannya.
Mang Jaka berlari mendahului bi Elis untuk mengejar orang yang membawa Jia tapi terlambat karena Jia sudah di bawa masuk ke dalam mobil dan mobil itu berlalu meninggalkan vila.
Walaupun mang Jaka sudah berusaha berlari mengejar mobil yang membawa Jia tapi sia-sia karena mobil itu melaju kencang.
"Bah bagaimana ini,mereka siapa,kenapa membawa non Jia seperti itu?" Bi Elis terlihat menangis memberikan pertanyaan beruntun pada suaminya.
"Abah juga tidak tahu buk." Jawab mang Jaka dengan nafas tersengal sengal.
"Kita harus bagaimana bah,kita tidak tahu keluarga non Jia,kita harus memberi tahu siapa? " Gumam bi Elis lagi sambil mengusap air matanya.
Tidak lama mobil Reno dan juga Nara sampai di depan vila Jia.Bi Elis dan mang Jaka yang masih takut dan panik merasa bingung saat ada mobil berhenti di depan mereka.
"Bel kamu yakin ini vila yang ingin di beli Jia?" tanya Nara memastikan.
"Iya tuan saya masih ingat,karena saya pernah masuk ke dalam vila itu." Jawab Abel sambil menunjuk ke arah vila.
"Sepertinya itu motor nona Jia tuan." Sahut Reno yang masih mengamati motor sport yang ada di halaman vila.
Nara langsung menoleh dan benar itu memang motor Jia,senyum lega terpancar dari wajah Nara karena sebentar lagi akan bertemu dengan Jia.
Nara langsung turun di ikuti Reno dan Abel begitu juga Arga dan Aldo.Mereka hendak masuk menuju ke dalam vila tapi terhenti karena mendengar suara orang memanggil.
"Tuan kalian siapa?" Teriak mang Jaka setengah berlari menghampiri mereka di ikuti bi Elis di belakangnya.
"Kami ingin menemui pemilik vila ini paman." Jawab Reno.
"Apa anda mengenal majikan saya nona Jia." Ujar mang Jaka cemas.
"Saya tunangannya paman,dan dia kakaknya Jia." Sahut Nara sambil menunjuk Arga,Arga pun membungkukkan badannya memberi salam.
"Duh Gusti alhamdulillah,den tolong non Jia." Seru bi Elis lirih yang kembali menangis,hingga membuat semua penasaran.
"Tolong kenapa bi,ada apa dengan Jia? Ucap Nara dan Arga serentak.
"Non Jia baru saja di bawa pergi orang yang kami tidak kenal tuan,saya sudah berusaha mengejarnya tapi mobil itu melaju sangat kencang tuan." Ucap mang Jaka panik.
"Apa!!! Jia di culik." Mendengar Jia di culik membuat meraka panik.
"Hah,Jia dimana kamu sekarang." Ucap abel yang sudah menangis mendengar sahabatnya sedang dalam bahaya.
"Kak bagaimana sekarang,dimana Jia kak,bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Jia." Imbuh Abel lagi.
"Tenang dulu Bel jangan panik,kita akan segera menemukan Jia.Jia pasti baik-baik saja." Ucap Aldo mendekap Abel dan mengusap kepalanya,Reno yang melihat pemandangan itu seketika kesal.Tapi dia menahan egonya karena yang terpenting sekarang adalah menemukan Jia dulu.
"Saya akan menelfon Beny tuan,siapa tahu ada petunjuk."
"Ya cepatlah Ren." Seru Nara.
"Tuan, Beny bilang Mega ada di daerah sini juga.Dia sedang mengintai Mega di sebuah rumah,ada kemungkinan Mega di balik kejadian ini tuan."
"Ayo kita segera kesana Ren." Seru Nara tanpa pikir panjang.
"Kak Abel ikut."
"Jangan Bel kamu di sini saja." Ucap Arga menatap Abel hingga membuat Abel tidak bisa membantah.
"Tuan saya ikut ya,siapa tahu saya bisa membantu karena saya lebih kenal daerah sini." Ujar mang Jaka menawarkan diri.
-----
"Kita berjumpa lagi anak kecil." Bisik Mega di telinga Jia,Jia yang sudah sadar dari pengaruh obat bius kaget melihat wanita di depannya saat ini.Karena mulutnya di plester Jia hanya menatap tajam Mega di depannya.
"Rupanya kekasihmu itu sedang lengah ya,hingga membiarkamu pergi sejauh ini tanpa pengawalan." Imbuhnya lagi.
"Kamu pasti kaget ya melihat aku di sini anak kecil.Kamu sudah tahu kan siapa aku, ok aku nggak mau basa basi lagi,aku nggak akan nyakitin kamu kalau kamu mau nyerahin Nara untukku dan menjauhinya." Bisik Mega lagi sambil membuka kasar plaster di mulut Jia.
"Awww..." Rintih Jia karena merasakan sakit di bibirnya.
"Aww sakit ya sayang,maaf ya." Seru mega dengan senyum menyeringai sinis.
"Itu sakitnya belum seberapa,aku bisa lebih menyakitimu dari ini kalau kamu tidak mau menjauhi Nara." Ucap Mega lagi.
"Aku tidak akan menyerahkan Nara untukmu atau untuk siapapun,dia milikku." Seru Jia dengan lantang.
"Jia..." Ucap Nara lirih,yang kini sudah berhasil masuk ke dalam gudang penyekapan Jia.Hatinya terenyuh dan sangat lega mendengar kata-kata dari bibir Jia.Mereka sudah berhasil melumpuhkan anak buah Mega yang berada di luar,dan sekarang mereka sedang menunggu saat yang tepat untuk masuk ke dalam.
"Wanita itu!" Batin Arga saat melihat jelas wanita yang pernah memberinya tumpangan.Arga tidak percaya kalau wanita itu yang sudah menculik adiknya.
"Besar juga nyalimu gadis tengik."Seru Mega yang sudah emosi mendengar ucapan Jia.
"Untuk menghadapi wanita murahan sepertimu,aku tidak pernah takut!"
Plaakkkk
"Jiaaa...." Melihat Jia di tampar amarah Nara mulai memuncak begitu juga dengan Arga.Dia yang selama ini selalu memperlakukan Jia dengan sangat lembut,hatinya terasa sakit melihat adiknya di tampar oleh orang lain.
"Apa sekarang mulutmu masih berani mengataiku." Seru Mega seperti kesetanan.
"Tamparanmu tidak berarti apa-apa untukku,dasar wanita murahan!" Lagi-lagi Jia memancing emosi Mega.
Mega yang sudah sangat marah,mengambil pisau yang ada di saku celananya,dan mengarahkan ke pipi Jia.
"Baiklah,jika tamparanku tidak berarti apa-apa untukmu aku akan memberikan kenangan di wajahmu supaya kau selalu mengingatku!" Mega sudah menempelkan pisaunya di pipi Jia dan terlihat ada darah segar mengalir di pipi Jia.Jia merintih kesakitan merasakan goresan di pipinya.
Brakkk
"Nara,kakak...." Gumam Jia lirih sambil menahan sakitnya.
Nara melempar kursi ke arah Mega dan membuatnya terjatuh,Arga tidak menyia nyiakan kesempatan saat melihat wanita yang menyakiti adiknya tersungkur ke lantai.Arga segera menarik tangan Mega dan memegangnya erat,Sedangkan Reno,Aldo,Beny dan mang Jaka sudah melumpuhkan semua anak buah Mega dan sudah menghubungi polisi.
"Sayang maafkan aku." Ucap Nara segera melepaskan ikatan di tangan dan kaki Jia.Dia memeluk Jia erat dan menciumi pucuk rambut Jia bertubi tubi.Jia hanya bisa menangis di perlakukakn Nara seperti itu,ada perasaan lega,senang,kesal,marah bercampur di hatinya.
Nara segera mengusap darah di pipi Jia dengan sapu tangannya.Melihat luka Jia membuat Nara menoleh pada Mega yang masih di pegang Arga.Nara melepas pelukannya dan hendak berjalan menghampiri Mega,tapi Jia menahan tangannya.
"Jangan takut sayang,aku hanya ingin memberinya pelajaran." Ucap Nara memberi pengertian sambil menyibakkan rambut Jia kebelakang telinganya lalu mencium kening Jia,dan segera menghampiri Mega.
Plakkkk
"Nara..." Seru Arga spontan saat melihatnya menampar wanita yang dia pegangi sampai jatuh tersungkur ke lantai dan merintih kesakitan.Jiapun tidak menyangka Nara akan menampar Mega seperti ini.
"Aku bisa lebih kasar dari ini Ga,kalau menyangkut keselamatan Jia." Seru Nara menatap tajam Mega.
Mendengar ucapan Nara membuat Arga tidak berniat untuk membela Mega,karena memang itu pantas dia terima karena sudah menyakiti adiknya.Arga menghampiri dan memeluk Jia erat.
"Maaf,kakak datang terlambat sayang." Ucapnya lirih masih memeluk Jia.Jia tidak bisa berkata apa-apa lagi,dia hanya bisa diam menangis merasa bersalah karena tadi pergi tidak berpamitan pada kakaknya.
"Aku sudah memberimu kesempatan kemarin,dan memperingatkanmu jangan mengganggu tunanganku tapi sepertinya cara halus tidak mempan untukmu dan membuatku harus menggunakan cara kasar seperti ini." Seru Nara dengan suara meninggi.
"Aku tidak akan berhenti mengganggunya sampai kamu jadi miliiku Nara!" Seru Mega sambil berusaha berdiri.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" Nara yang sudah kehilangan kontrol kesabarannya,menarik tangan Mega lalu mencekiknya.
"Nara jangan,stop! Lepaskan dia!" Seru Jia langsung menghampiri Nara dan memegangi tangannya.
"Nara please jangan kotori tanganmu untuk wanita seperti dia." Ucap Jia lagi dengan wajah mengharap.Emosi Nara mereda saat melihat wajah Jia yang membuat hatinya luluh.Dia segera melepaskan Mega dari cengkramannya,dan menghempaskan tubuhnya hingga membentur tembok.
"Kalau bukan karena Jia,aku tidak akan melepaskanmu!" Seru Nara sambil menunjuk Mega yang masih terbatuk karena cekikkan tangan Nara tadi.
.
.
.
Bersambung...tetep kasih vote ya kakak....