
"Woahhh.." Nara menguap merenggangkan otot-otot tubuhnya yang pegal karena semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena harus tidur di sofa kamar Jia.
Ya semalam Arga mengijinkan dia tidur di kamar Jia tapi dengan syarat harus tidur di sofa.Sebenarnya tanpa di mintapun Nara juga akan tidur di sofa.
"Jia...dimana Jia..." Teriak Nara saat matanya sudah terbuka sempurna dan mendapati Jia tidak ada di tempat tidur.
Nara mencari Jia di kamar mandi,tapi di sana Jia juga tidak ada.Nara setengah berlari keluar menuju kamar Arga.
Tok...Tok
"Ga,bangun...Jia hilang." Seru Nara beberapa kali hingga teriakan ke tiga barulah pintu kamar Arga dan Aldo yang kamarnya berada di sebelah Arga juga ikut terbuka.
"Apa maksudmu Nara!" Seru Arga ikut panik.
"Jia nggak ada di kamar."
"Apa kamu sudah mencarinya?"
"Di kamar ngggak ada Ga,di kamar mandi juga nggak ada." Imbuh Nara.
"Kamu sudah cari di bawah belum?" Sahut Aldo sambil menguap.
"Ah iya belum." Gumam Nara langsung lari turun ke bawah dan tidak menghiraukan Arga dan Aldo.Meraka menggelengkan kepala melihat tingkah Nara.
"Adikmu benar-benar hebat Ga,bisa mengubah seorang ceo yang terkenal angkuh itu menjadi tidak berdaya,dan kalang kabut seperti itu." Gumam Aldo tersenyum.Argapun tersenyum tipis mendengar ucapan Aldo,dan membenarkan perkataannya.
"Eh Al,gimana kalau Jia benar-benar kabur? Semalam kan dia ngambek karena tidak di ijinin masuk sekolah lagi." Seru Arga tiba-tiba
teringat kalau adiknya sedang marah.
Tanpa menunggu tanggapan dari sahabatnya, Arga segera berlari turun ke bawah menyusul Nara,dan Aldopun mau tidak mau juga ikut menyusul.
"Gimana Nara sudah ketemu belum? Sapa Arga panik saat berpapasan dengan Nara.
"Belum Ga,bi Elis dan mang Jaka juga nggak ada." Imbuhnya tambah panik.
"Tapi motor Jia masih ada di garasi,jadi Jia nggak mungkin pergi jauh." Sahut Aldo yang baru saja dari depan mengecek motor Jia.
"Tapi di mana sekarang Jia." Gumam Nara.
Dari arah pintu depan terdengar suara langkah kaki.Tanpa pikir panjang mereka bertiga segera ke depan melihat siapa yang datang.
"Den,ada apa?" Sapa bi Elis bingung karena Nara,Arga dan Aldo keluar bersamaan menghadangnya di depan pintu dengan tatapan cemas.
"Bibi tau dimana Jia sekarang? Seru Nara tidak sabar.
"Oh non Jia ada di kebun tuan bersama Ujang.
"Di kebun,bersama Ujang? Siapa Ujang bi?" Tanya Nara sudah mulai kesal mendengar kesayangannya bersama laki-laki.
"Ujang anak saya den,dia baru berumur 12 tahun." Ucap bi Elis menjelaskan karena tahu Nara bertanya dengan nada cemburu.
Arga dan Aldo terkekeh melihat muka Nara yang memerah menahan malu. "Tuan Nara kalau cemburu lihat - lihat dong,masa sama anak kecil juga cemburu." Bisik Aldo sambil menahan tawanya.
"Aku kan nggak tahu kalau dia masih anak kecil." Sahut Nara kesal.
"Bi dimana kebunnya?" Tanya Arga.
"Ada di belakang vila ini den sekitar 200 meter saja,mari saya antar." Ucap bi Elis menawarkan.
"Tidak usah bi,biar kami kesana sendiri saja.Bibi tolong siapkan saja sarapan untuk kami." Imbuh Arga lagi.
"Baik den."
"Teh Jia orang kota tapi jago juga manjat pohonnya." Ucap Ujang yang baru saja naik ke pohon mangga menyusul Jia yang sudah naik ke atas duluan dan sekarang baru memetik buah mangga.
"Iya Jang,dulu teteh waktu kecil sudah suka manjat pohon." Jawab Jia yang sudah makan buah mangga muda dengan lahap tanpa merasakan asam sedikitpun.
"Oh pantesan saja." Ucap Ujang yang juga baru saja menggigit buah mangga tapi sudah setengah matang tidak seperti Jia yang memilih mangga muda.Mereka berdua makan di atas pohon yang ada semacam rumah pohonnya dengan asyik sampai tidak sadar kalau Nara,Arga dan Aldo sudah ada di bawah pohon yang mereka naiki.
Nara menggelengkan kepalanya saat tahu Jia ada di atas pohon.Dia tidak menyangka kalau wanita kesayangannya ini juga bisa manjat pohon.Sedangkan Arga dan Aldo tampak biasa melihat Jia ada di atas pohon karena mereka memang sudah terbiasa melihat Jia manjat pohon sejak kecil bahkan pohon yang lebih tinggi dari ini sudah sering dia panjat.
"Nggak usah kaget,Jia sudah terbiasa seperti ini." Arga menepuk bahu Nara tersenyum melihat ekspresinya melihat Jia di atas pohon.
"Ga..Ga...,adikmu ini memang luar biasa.Apa ada lagi kebiasaannya yang berbeda dengan wanita lain?" Tanya Nara tersenyum sambil memasukkan satu tangan di saku celananya.
"Ini yang membuat aku semakin jatuh cinta pada adikmu Ga,Dia berbeda dengan wanita-wanita di luar sana yang mengejarku hanya karena hartaku.Tapi tidak dengan adikmu ini." Batin Nara tersenyum tipis.
"Teh pulang yuk,tadi ibu sudah berpesan sama Ujang nggak boleh ngajak teteh lama-lama di luar vila." Ucap Ujang mengajak Jia turun.
"Bentar lagi Jang, teteh masih pengen makan mangga." Jawab Jia menolak ajakan Ujang,dan masih sibuk memakan mangganya yang tinggal separuh.
"Iya sudah sebentar aja ya teh."
"Ok..."
"Teh emang nggak asam ya mangganya,itu kan masih muda?" Tanya Ujang sambil menahan ngilu di mulutnya dari tadi melihat Jia makan mangga yang masih muda.
"Enggak Jang,kamu mau nyoba? Jia menyodorkan mangganya pada Ujang.Ujang mencoba menggigit sedikit tapi langsung dia lepehin lagi.
"Teh ini kan asam banget." Ujar Ujang sambil mengusap-usap mulutnya dengan tangan.
"Hahaha....muka kamu lucu banget Jang,tapi kan ini enak lo Jang seger tahu." Ucap Jia sambil tertawa melihat ekspresi lucu muka Ujang menahan asam sambil menyipitkan matanya.
Di bawah Nara senang bisa melihat Jia tertawa seperti ini,hatinya sangat lega.Berbeda dengan Arga dan Aldo,mereka saling berpandangan dan kemudian melihat ke arah Nara setelah mendengar percakapan Jia dan Ujang karena sepertinya mereka satu pemikiran.
Nara tidak menghiraukan pandangan kedua lelaki di depannya,dia langsung memanjat pohon menyusul Jia.
"Al,apa kamu memikirkan hal yang sama sepertiku?" Tanya Arga melirik Aldo di sampingnya.
"Iya Ga,tapi apa mungkin mereka sudah melakukannya? Tapi kok secepat ini,setahuku itu butuh proses lo Ga,tapi entahlah." Jawab Aldo mengangkat kedua bahunya dan kedua telapak tangannya.
"Sayang..." Sapa Nara yang sudah berada di rumah pohon yang Jia naiki.
Jia memutar kepala ke arah suara yang memanggilnya,dan di lihatnya Nara sudah ada di belakangnya.
"Aden...." Ucap Ujang lirih lalu menundukkan kepalanya takut.Karena dia sudah di beri tahu ibunya kalau den Nara adalah tunangan nona Jia.
"Iya Jang,kamu nggak usah takut sama saya." Ucap Nara yang melihat ekspresi takut dari wajah Ujang.
"Ngapain kamu kesini?" Sahut Jia masih dengan suara kesalnya.
"Nyari kamu sayang,habisnya kamu pergi nggak bilang-bilang aku kan khawatir." Ucap Nara yang sudah duduk di sebelah Jia.Jia yang masih marah sama Nara segera menggeser duduknya ke samping Ujang,Narapun ikut bergeser lagi mendekati Jia.Lagi-lagi Jia menggeser duduknya sampai Ujang sudah mentok di pinggir dan hampir saja jatuh.Ujang yang merasa tidak enak sendiri memilih berpamitan pulang duluan pada Jia.
"Ehm teh,Ujang balik duluan ya kan teteh sudah ada yang menemani."
"Iya Jang,kamu pulang duluan saja biar teh Jia saya yang menemani." Sahut Nara duluan sebelum Jia menjawab.
"Nggak Jang,teteh ikut pulang sama kamu saja." Jia hendak berdiri mengikuti Ujang yang sudah turun tapi tangannya di tahan oleh Nara dan mau nggak mau membuatnya duduk lagi.
"Permisi tuan." Sapa Ujang pada Arga dan Aldo saat sudah sampai di bawah.
"Ga,ayo kita balik saja Jiakan sudah ketemu.Biarin dia sama Nara,aku masih ngantuk ini." Ucap Aldo sambil menguap.
Sebenarnya Arga nggak mau ninggalin adiknya berdua saja dengan Nara,tapi dia juga tidak mau jadi obat nyamuk melihat mereka.Akhirnya dia dan Aldo balik duluan menyusul Ujang yang berada beberapa langkah di depan mereka.
"Sayang kamu masih marah?" Nara memegang wajah Jia untuk di hadapkan ke wajahnya.
Jia tidak menjawab pertanyaan Nara,dia hendak memalingkan wajahnya lagi tapi tangan Nara begitu kuat menahannya hingga dia tidak bisa berkutik dan memilih memejamkan matanya karena Jia masih enggan melihat wajah Nara.
Melihat Jia tidak menjawab pertanyaannya dan malah memejamkan matanya membuat Nara tidak kehabisan akal.Kemudian Nara tersenyum tipis setelah menemukan ide brillian.
"Ok sayang kalau kamu nggak mau ngomong sama aku.Aku dengan senang hati melakukan cara lain untuk membuatmu bicara." Seru Nara tersenyum licik.
Di pegangnya tengkuk leher Jia kuat dan dengan segera dia menyambar bibir Jia yang sejak tadi sudah sangat menggodanya.Dia mencium bibir Jia perlahan,walaupun reflek Jia ingin berontak tapi Nara yang sudah tidak bisa menahan diri tidak memberikan celah untuk Jia bisa lepas dari ciumannya apalagi di tambah suasana sejuk di kota itu membuat Nara semakin tidak ingin melepaskan Jia.
Nara semakin tidak bisa mengontrol diri,dia merebahkan perlahan tubuh Jia di rumah pohon yang memiliki ukuran cukup luas itu dengan masih tetap mencium bibir Jia.Jia yang awalnya berontak,setelah beberapa menit dia hanya pasrah dengan perlakuan Nara,karena percuma saja dia melawan tangan Nara begitu kuat memegangnya hingga Jia memilih untuk diam dan akhirnya dia mau membalas ciuman dari Nara.
Nara membuka matanya sebentar dan melihat wajah Jia yang ada di bawahnya,dia tersenyum karena Jia mulai mengikuti permainan lidahnya yang sudah menjelajahi setiap isi bibir Jia lalu memejamkan matanya kembali dan menikmati momen itu.
Huuuhhhhh
Terdengar suara lenguhan dari bibir Jia dan membuat Nara membuka mata dan melepaskan ciumannya sebentar.Di tatapnya mata Jia yang hanya berjarak beberapa centi dari matanya.
"Naraaaa....aku kan masih marah sama kamu....! Gerutu Jia setengah berteriak dan membuat Nara tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Jia yang menggemaskan itu.
.
.
.
Para readers sayang makasih ya sudah setia nunggu updatenya...jangan lupa like kasih vote ya...