NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Cinta Tidak Harus Memiliki



"Sialan aku kecolongan,kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu.Nara pasti dengan mudah bisa mengetahui kemana perginya Jia." Arga mengumpat kesal karena tahu Nara sudah menyusul Jia ke Belanda dari Aldo yang baru saja menjemputnya di bandara.Mereka kini sedang berbincang di salah satu restoran yang ada di bandara.


"Sudahlah Ga,memangnya kenapa kalau Nara nyusul Jia.Itu kan bagus,Jia bisa segera di temukan lagian Nara kan suaminya." Sahut Aldo heran.


"Justru itu Al,aku nggak mau kalau Nara sampai menemukan Jia."


"Maksud kamu Ga?" Aldo mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Arga.


"Aku akan meminta Jia berpisah dari Nara." Jawab Arga tegas dengan sorot mata tajam.


"Hahhhh,kamu bercanda Ga! Kamu jangan gila!" Seru Aldo setengah berteriak tidak percaya dengan ucapan Arga barusan.


"Apa aku kelihatan bercanda? Ya aku memang gila Al,aku sudah muak dengan janji-janji Nara.Dia tidak bisa membuat Jia bahagia.Ini sudah kesekian kalinya dia membuat adiku bersedih dan aku tidak akan membiarkan ini berlanjut lagi!" Seru Arga bangkit dari duduknya.


"Ayo kita pergi!" Seru Arga lagi.


--------


"Sayang are you ok?" Aruna sudah mulai panik saat melihat Jia yang sedang meringis mengeluh kesakitan pada perutnya.


"Ini sudah sering terjadi nona,sejak pertama kali Jia kesini dia sudah sering merasakan hal seperti ini." Sahut nyonya Mery.


"Aku nggak apa-apa kak,ini sudah biasa nanti juga akan hilang sendiri." Jia sebenarnya sangat merasakan sakit tapi dia mencoba untuk menahannya karena tidak ingin membuat Aruna cemas.


"Tidak sayang,kita harus ke dokter.Ini nggak bisa di biarin,kakak nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan juga bayimu." Aruna yang sudah sangat panik karena melihat keringat dingin yang nampak di dahi dan sekitar wajah Jia,semakin memaksa Jia untuk pergi ke dokter.


"Kakak aku beneran nggak apa-apa,kemarin aku juga baru dari dokter.Aku akan meminum obat saja." Ucap Jia tetep kekeh tidak mau pergi.


Tok...tok...


"Biar saya yang membuka nona..." Ucap nyonya Mery.


"Baik nyonya terimakasih."


Ceklek...


"Tuan Justin...."


"Selamat malam nyonya Mery...apa Jia sudah tidur?" Tanya Justin sedikit cemas.Sebenarnya Justin masih harus berada di rumah sakit,tapi mendadak perasaannya tidak enak,jadi dia memutuskan ke rumah Jia dulu untuk memastikan.


"Kebetulan anda datang tuan,Jia merasakan sakit lagi.Tolong anda memeriksanya." Pinta nyonya Mery,wajahnya sedikit lega melihat kedatangan Justin.


"Baiklah,mari kita masuk nyonya." Sedikit mengerti dengan sakit yang Jia rasakan Justin lalu segera masuk ke dalam,karena dia sudah beberapa kali melihat Jia merasakan sakit yang hampir sama,jadi dia tidak harus meminta penjelasan dari nyonya Mery.


"Jia..."


"Justin,kenapa kamu kesini?" Sahut Jia terbata sedikit merintih menahan sakitnya dan bingung melihat kedatangan Justin.Aruna yang duduk membelakangi pintu tidak bisa langsung melihat kedatangan Justin,tapi dia merasa kenal dengan suara yang baru saja dia dengar.


"Tuan Justin....!"


"Nona Aruna...."


Aruna kaget dan bingung setelah melihat yang datang adalah Justin,tapi dia tidak begitu perduli karena dia berpikir Jia dan Justin sudah saling kenal karena mereka sering mengirim email satu sama lain saat mengirimkan desain-desain baju Jia.


Justin mencoba mengesampingkan semua pikirannya.Saat ini dia ingin memeriksa Jia dulu.


"Maaf nona Aruna bolehkah saya memeriksa Jia dulu?" Justin yang sudah ada di depan Jia meminta ijin terlebih dahulu pada Aruna,karena dia merasa canggung.


"Tentu saja tuan Justin." Jawab Aruna sedikit bergeser tempat memberikan celah untuk Justin agar lebih leluasa memeriksa Jia.


"Aku sudah bilang Jia,kamu tidak boleh berpikir terlalu berat kalau ini berlanjut bisa membahayakan kondisimu dan juga janinmu." Ucap Justin setelah memeriksa dan memberikan obat untuk Jia minum dan tidak lama Jia sudah sedikit baikan.


"Tuan Justin,apa adik saya baik-baik saja?" Aruna bertanya cemas,apalagi setelah mendengar pernyataan Justin barusan.


"Dia akan baik-baik saja kalau pikirannya bisa santai tidak memikirkan hal-hal yang berat dan tentunya dia harus di temani dan di support oleh orang yang seharusnya ada di sampingnya saat ini." Justin melirik ke arah Jia saat pengucapan kalimatnya yang terakhir dan dengan segera Jia memalingkan wajahnya dari Justin.


Aruna menganggukan kepalanya ,karena dia merasa kalau Justin sudah tahu masalah Jia.


"Kalian sudah saling kenal?" Pertanyaan Jia membuat Aruna dan Justin memandangnya.


Aruna heran,merasa kalau Jia belum tahu. "Apa kamu tidak tahu sayang,dia itu yang bekerja sama dengan kita."


"Maksud kakak,dia tuan Smith,Justin Smith?" Jia menutup mulutnya tak percaya.Kenapa dunia ini sempit sekali.Ternyata selama ini dia di tolong oleh seseorang yang sebenarnya sudah dia kenal walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung.


"Arghhhh kenapa dugaanku harus benar!" Batin Justin sambil memejamkan matanya.Sulit untuknya menerima kenyataan kalau Jia adalah partner kerjanya selama ini,dan berarti dia adalah istri dari Nara. " Ah iya tuan Nara,berarti kedatangannya ke sini untuk mencari Jia." Batinnya lagi sambil memandang Jia.


"Iya sayang dia tuan Justin Smith." Balas Aruna sambil tersenyum.


"Jia kamu harus istirhat sekarang! Nona Aruna bisakah kita bicara di luar sebentar?" Justin beralih melihat Aruna.


"Tentu saja tuan.Sayang kamu istirahat ya,kakak tinggal sebentar." Aruna mengecup kening Jia sebelum meninggalkannya sebentar.


"Kalian mau kemana? Bagaimana keadaan Jia tuan Justin?" Tanya nyonya Mery yang datang membawa minuman untuk Justin.


"Kami akan berbicara sebentar,bisakah anda menemani Jia sebentar nyonya?" Ucap Justin serius.Dia tidak ingin ada yang mengganggu.


"Tentu saja tuan."


"Nona Aruna kalau Jia adik anda berarti dia adik tuan Arga,dan berarti juga dia adalah istri tuan Nara?" Justin langsung memberi pertanyaan yang bertubi-tubi pada Aruna saat melihatnya baru saja duduk di sofa tepat di depannya.


"Iya tuan Jia adikku dan Arga dan dia adalah istri Nara,kenapa anda bertanya seperti itu?" Tanya Aruna bingung dengan pertanyaan Justin.


"Huft.....aku melihat tuan Nara kemarin di rumah sakit tempatku magang." Gumam Justin setelah menghela nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa seakan ada sesuatu yang menghujam jantungnya mengetahui kebenaran dengan jelas bahwa wanita yang selama ini dia kagumi dan ingin dia miliki adalah istri orang yang sudah dia kenal.


"Apa...anda melihat Nara?" seru Aruna seakan tidak percaya.


"Iya,aku sempat berbicara dengannya sebentar.Wajahnya tampak sangat pucat sekali nona Aruna,sepertinya dia sangat kelelahan mencari Jia.Apa tidak sebaiknya anda segera menghubunginya?" Justin menatap Aruna yang tampak kebingungan.


Aruna mencoba berpikir sambil memijit pelipisnya. " Apa tidak masalah kalau aku memberi tahu Nara keberadaan Jia,tapi nanti kalau Arga marah bagaimana?" Ucap Aruna dalam hati.


"Bukan hanya Jia saja yang membutuhkan Nara,tapi janin dalam kandungannya Jia juga nona." Imbuh Justin lagi,karena tidak segera mendapatkan respon dari Aruna.


"I...iya tuan Justin nanti aku akan menghubungi Nara." Jawab Aruna tergagap.


Setelah membicarakan semua pada Aruna,entah kenapa hati Justin terasa lega.Walau sebenarnya masih ada sedikit rasa tidak terima,tapi Justin tidak mau egois.Melihat orang yang dia sayang bahagia tanpa harus memilikinya itu sudah cukup untuk Justin.