NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Kejujuran



Tepat jam sembilan malam Nara dan Reno berpamitan untuk pulang.


"Baby sekarang kamu istirahat ya,aku pulang dulu."


" Huum,kamu hati hati ya.Besok jangan lupa jemputnya pagi pagi." Ucap Jia.


"Mendingan besok kamu nggak usah masuk dulu sayang biar aku yang mengurus ijinnya." Nara mencoba membujuk Jia ,dia belum tega membiarkan Jia beraktifitas karena lukanya masih basah.


" Sayang tadi kan kita udah bahas itu,jangan mulai lagi deh! Kamu kan tahu aku udah kelas tiga sekolahnya juga tinggal beberapa bulan lagi.Aku nggak mau ketinggalan pelajaran sedikitpun." Imbuh Jia panjang lebar.


"Ok,ok aku nyerah deh bujuk kamu.Kamu memang keras kepala." Ujar Nara yang akhirnya menyerah dan mengusah kepalanya.


"Biarin..." Sahut Jia sambil menjulurkan lidahnya dan membuat Nara tersenyum gemas.


"Sudah sana buruan pulang,nanti keburu malam."


"Hey kamu ngusir aku ya?" Nara melototkan matanya.


"Hehehe nggak,cuma nyuruh pulang aja."


----


"Aku pulang dulu ya." Reno berpamitan pada Abel.


"Iya,kamu hati hati." Ucap Abel dengan menundukkan kepalanya.


"Hey kalau bicara lihat orangnya dong." Reno mencoba menggoda.


Abel masih menundukkan wajahnya,dia malu mengingat apa yang barusan dia lakukan dengan Reno.Reno yang gemas dengan tingkah Abel meraih wajah Abel agar melihatnya.


"Kamu kenapa nunduk terus,ini nggak kaya kamu yang biasanya,yang kalau ngomong nggak ada berhentinya."


"Gimana mau jadi kaya biasanya,kalau tadi aja habis kamu mesumin,dasar om om nggak peka." Batin Abel yang sedang menatap Reno,wajahnya terlihat kesal.


"Ehm aku boleh nanya nggak?" Seru Abel.


"Iya boleh,mau tanya apa?"


"Emangnya kalau pacaran sama om om itu kaya gini ya,langsung main nyosor aja." Tanya Abel polos yang langsung membuat Reno tertawa mendengar pertanyaan Abel yang to the point.


"Kok malah ketawa sih,aku serius." Abel sudah menampakkan raut muka sebel,yang justru membuat Reno semakin gemas dan ingin menggodanya.


"Ehmm,emangnya kita pacaran?" Tanya Reno pura pura serius.


"Terus menurutmu kalau cowok sama cewek ciuman itu bukan pacaran ya?" Abel dengan polosnya bertanya lagi,dia belum sadar kalau sedang di kerjai Reno.


"Enggak....!


"Ren,ayo kita pulang." Seru Nara yang sudah ada di ruang tamu dengan Jia.


"Enggak tahu,karena aku belum pernah pacaran." Bisik Reno lirih di telinga Abel dan beranjak berdiri karena di panggil oleh bosnya.


Abel masih melongo mendengar jawaban Reno. "Masa dia belum pernah pacaran,berarti ini tadi juga ciuman pertamanya dong." Batin Abel setengah melamun,dan tersadar karena tangannya sudah di tarik Reno untuk berdiri.


Abel pasrah mengikuti Reno dan berjalan di belakangnya, tanpa dia sadari tangannya masih di genggam Reno.Sampai di ruang tamu Jia dan Nara terkejut melihat Reno dan Abel bergandengan.


"Apa mungkin menurutmu mereka jadian?" Bisik Abel di telinga Nara.


"Entahlah." jawab Nara dengan mengangkat bahunya.


"Mari tuan." Ucap Reno yang tanpa sadar masih menggandeng tangan Abel.


"Ehem..apa kamu mau ajak dia pulang ke rumahmu Ren?" Goda Nara melirik tangan mereka berdua.


"Maksudnya tuan?" Reno belum sadar sampai Abel menginjak kakinya dan melototkan matanya pada Reno sambil mengangkat tangan mereka barulah Reno tersadar dan segera melepasnya.


Nara dan Jia tertawa melihat tingkah ke dua sahabatnya itu.


Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu,begitu juga Abel yang juga malu.Mereka seperti seorang pencuri yang sedang ketangkap basah.


"Al mending kamu pulang ke rumahku saja,ini sudah malam lagian besok kita juga harus berangkat pagi pagi agar menghemat waktu." Ucap Arga saat sudah sampai di parkiran bersama Aldo.


"Iya Ga ,tadi aku juga kepikiran begitu.Ya sudah pakai mobilku saja,biar mobilmu di tinggal di sini.


"Ok." Sahut Arga dan berjalan menuju mobil Aldo.


***


Nara dan Reno sudah berada di dalam mobil,Nara menyuruh Reno untuk berhenti di sebuah cafe tidak jauh dari tempat tinggal Jia,setelah dia mengirim pesan singkat pada Arga.


Nara:


Ga kamu pulang jam berapa?


Arga:


Ini sudah perjalanan pulang,ada apa?


Nara:


Bisa ketemu sebentar di cafe dekat rumahmu?


Arga:


Ok sepuluh menit lagi aku sampai.


Nara:


Ok


"Tidak Ren,aku ingin bicara dengan Arga tentang Jia."


"Maksud tuan tentang kecelakan non Jia?" Tanya Reno menebak.


"Iya."


"Bukannya non Jia melarangnya tuan?"


"Iya Ren,tapi aku tidak mau ambil resiko ini menyangkut keamanan Jia.Arga adalah kakaknya dia harus tahu,aku nggak mau dia kecewa dan tidak mempercayai aku lagi kalau sampai tahu dari orang lain."


"Baiklah tuan kalau begitu,mari kita turun."


Lima belas berlalu sudah Nara dan Reno menunggu Arga.Tidak lama kemudian terlihat Arga dan Aldo dari arah pintu,Nara segera melambaikan tangannya memberi kode pada Arga.


"Maaf sudah menunggu lama." Ucap Arga sambil menyalami Nara dan Reno begitu juga dengan Aldo juga ikut menyalami.


"Nggak kok,kita juga baru nyampai.Kalian mau minum apa?" Ujar Nara.


"Sama saja seperti kalian." Sahut Arga.


"Ok." Nara memanggil pelayan dan memesan dua minuman sama seperti milknya untuk Arga dan juga Aldo.


"Ok Ga ,sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah gagal menjaga Jia dengan baik." Ucap Nara memulai bicaranya dan berhenti sejenak mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Maksud kamu?" Arga mengerutkan kening mencoba menebak arah pembicaraan Nara.


"Tadi siang Jia terserempet mobil Ga."


"Hah...apa?" Kenapa kamu baru bilang sekarang,terus gimana keadaannya?" Arga mulai panik.


"Kamu tenang dulu Ga,aku belum selesai.lukanya tidak begitu parah hanya lecet lecet saja di tangan dan kakinya.Tadi aku sudah ingin memberi tahumu tapi di larang oleh Jia,dia nggak mau kamu panik." Nara bicara dengan hati hati agar Arga tidak panik lagi.


" Kalau begitu aku pulang dulu,aku mau lihat keadaan Jia secara langsung." Arga sudah mau berdiri dari kursinya tapi langsung di cegah Nara.


"Tunggu sebentar Ga,aku belum selesai bicara.Justru poin penting aku ngajak ketemu kamu baru mau aku sampaikan." Nara menyentuh pundak Arga dan menyuruhnya duduk.


Karena Arga masih berdiri dan terlihat sangat panik,Aldo pun mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Ga,biar Nara menyelesaikan bicaranya dulu.Ayo kembalilah duduk." Sahut Aldo,dan Argapun menurutinya.Dia meminum kopi pesanannya yang baru saja di antar oleh pelayan.


"Ga,orang yang sudah menyerempet Jia adalah wanita yang dulu pernah di jodohkan denganku,akhir akhir ini dia terus mencoba menemuiku tapi aku selalu menolak,dan sampai akhirnya dia melakukan sesuatu yang buruk terhadap Jia untuk memancingku keluar menemuinya." Nara mengusap kasar wajahnya tampak frustasi saat menceritakan semuanya pada Arga.


Arga melihat dengan jelas rasa bersalah di wajah Nara.Dia tahu kalau Nara sangat mencintai adiknya,dan dia sadar ini bukan kesalahannya.


"Sudahlah Nara kamu tidak perlu merasa bersalah,ini sebuah musibah." Ujar Arga mengusap pundak Nara.


"Kamu tidak marah padaku Ga,kamu masih merestui aku bersama Jia kan?" Nara mendongakan kepalanya ke atas melihat Arga.


"Tentu saja,kenapa aku harus marah ini di luar kendali kita.''


"Terimakasih Ga, aku berjanji akan menjaga Jia dengan baik kali ini." Ucap Nara sungguh sungguh dan tersenyum lega.Reno dan Aldo juga ikut tersenyum melihat ekspresi Nara yang sangat berbeda dengan Nara yang tegas saat sedang bekerja di kantor.


"Kamu hebat Jia,bisa merubah seorang Nara yang dingin dan sombong ini." Batin Aldo tersenyum tipis.


"Oh ya Ga,selama Jia sakit aku yang akan mengantar dan menjemput Jia ke sekolah."


"Apa itu tidak merepotkanmu?" Tanya Arga.


"Tentu saja tidak,aku tidak mau ambil resiko lagi Ga.Aku takut wanita itu akan bertindak nekat lagi."


"Baiklah,terimakasih Nara."


"Iya Ga,kalau begitu mari kita pulang,kalian pasti sangat lelah." Nara mengajak mereka pulang.


Sampainya di rumah Arga langsung menuju kamar Jia, ingin melihat keadaannya. Arga hendak membuka pintu kamar ,tapi pintu itu sudah terbuka duluan.Nampak Abel keluar dari kamar dengan membawa gelas di tangannya hendak mengambil minum ke dapur.


"Abel...kamu tidur sini?" Seru Arga kaget saat pintu terbuka dan langsung melihat wajah Abel.


"Hehe iya kak,Kak Arga sudah pulang?" Tanya Abel saat di lihatnya kakak dari sahabatnya berdiri di depan pintu.


"Iya Bel,baru saja.Apa Jia sudah tidur?" Tanya Arga sambil melirik ke dalam.


"Iya kak sudah dari tadi,Abel ke dapur dulu ya kak ambil minum."


"Iya Bel."


Nara masuk ke dalam kamar Jia,dan duduk di tepi ranjang.Di lihatnya wajah adiknya yang tidur pulas.Arga mengusap rambut Jia dan mencium keningnya.


"Selamat tidur sayang,mimpi indah ya." Ucap Arga setelah mengecek luka di tubuh Jia.Memang tidak begitu parah tapi Arga merasa hatinya sangat sakit dan marah melihat luka luka itu.


Karena memang sejak kecil Arga selalu melindungi dan menjaga Jia.Dia tidak pernah membiarkan tubuh Jia tergores atau terluka sedikitpun,ini adalah pertama kalinya dia merasa gagal melindungi adiknya.


"Maafkan kakak sayang." Gumam Arga lirih sebelum meninggalkan adiknya.


.


.


.


.


makasih udah baca novelku ya kakak, jangan lupa like dan votenya.