NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Terimakasih Sudah Percaya



Tok...tok...


"Permisi tuan." Suara ketukan pintu membuat Jia kaget dan segera duduk di samping Nara,hingga membuat Nara tersenyum melihat tingkah kesayangannya itu.


"Iya masuk Ren!" Reno masuk dan terlihat Abel mengikutinya dari belakang.


"Jia kaki kamu nggak apa apa kan?" Tanya Abel merasa cemas dengan keadaan Jia.


"Udah nggak apa apa kok Bel cuma terkilir aja,ini juga sudah baikan,tadi kamu kemana aja kok nggak ikut sama aku."


"Tadi aku ngikutin tuan Reno habis aku masih kesel sama resepsionist tadi,jadi pengen tahu aja dia di hukum apa,ternyata tuan Reno keren banget beb saat marahin karyawan tadi." Bisik Abel cengar cengir menjawab pertanyaan Jia.


"Gimana Ren sudah kamu urus semuanya?" Nara bertanya dengan suara pelan supaya tidak di dengar oleh Jia,karena pasti dia nggak mau kalau mereka sampai di pecat,tapi karena Nara tidak terima atas perilaku karyawannya yang tidak sopan dengan Jia maka dia memutuskan untuk memecat mereka tanpa sepengetahuan Jia.


"Sudah tuan sesuai perintah anda." Jawab Reno pelan.Jia yang merasa curiga karena Nara dan Reno berbicara pelan langsung bertanya.


"Kamu nggak pecat mereka kan tuan Reno?" Jia bertanya dengan tatapan mengintimidasi.


"Tidak nona saya hanya memberi mereka peringatan."


"Kamu nggak bohong kan?" Jia memandang secara bergantian Nara dan Reno penuh selidik.


"Kalau anda tidak percaya,anda bisa bertanya pada teman anda." Reno melirik Abel.Memang tadi di depan Abel Reno hanya memberi peringatan pada mereka sesuai perintah Nara ,tapi dia menyuruh hrd yang memecat mereka.


"Iya kok beb tadi mereka hanya di beri peringatan,tapi kalau menurut aku sih harusnya mereka di pecat." Seru Abel.


"Ih kamu beb,kasian kalau mereka di pecat.Apalagi kalau mereka sudah punya keluarga terus punya anak,nanti buat bayar sekolah gimana kalau mereka di pecat." Nara terkejut mendengar perkataan Jia,dia nggak nyangka kalau kesayangannya ini bisa berpikir dewasa masih memikirkan nasib orang yang sudah menyakitinya.


"Ah kamu beb,jadi orang jangan terlalu baik,nanti di manfaatin lo sama orang lain."


"Sudah,sudah nggak usah di bahas lagi." Nara menyela perdebatan dua orang sahabat di depannya.


"Tapi kamu beneran nggak mecat mereka kan?" Jia masih kekeh memastikan.


"Iya sayang...."


"Ok,kalau kamu sampai bohong aku marah." Ucap Jia serius hingga membuat Nara menelan salivanya dengan susah payah karena langsung terbayang kalau Jia tahu dia berbohong pasti akan marah besar.


Reno yang tahu bosnya sedang cemas,segera mengalihkan pembicaraan.


"Tuan sudah waktunya makan siang,anda ingin makan di luar apa mau di pesankan sesuatu?" Nara bernafas lega saat Reno bertanya.


"Kita makan di luar saja." Nara melirik Jia meminta persetujuan.


"Aku terserah kamu aja." Seru Jia.


"Ok ,ayo kita turun!" Nara menggandeng tangan Jia dengan erat,dia nggak mau kecolongan seperti kejadian tadi,terjadi hal buruk terhadap Jia.


Sesampainya di restoran,sambil menunggu pesanan datang mereka ngobrol di selingi dengan sedikit tawa.Tiba tiba ponsel Jia bergetar karena ada pesan masuk.


Pesan itu dari salah satu anggota club motornya,yang mengingatkan kalau minggu depan ada acara camping di baksos mereka yang memang sudah rutin setiap bulan,tapi bedanya kali ini ada acara campingnya.


"Oh iya aku sampai lupa beb kalau minggu depan kita ada acara baksos ya." Seru Jia menepuk jidatnya.


"Iya beb,aku tadi mau bilang lupa,tapi aku belum tahu dealnya mau camping di daerah mana karena ada dua tempat piihan dan sampai sekarang Bima juga belum ngabari aku." Nara yang mendengar kata camping dan nama Bima langsung menyudahi pembicaraanya sama Reno.


"Wait....camping?" Seru Nara dengan suara agak meninggi,sampai membuat Jia dan Abel mengarahkan pandangannya pada Nara tak luput Reno juga.


"Iya camping sayang,di club motorku memang ada acara rutin baksos setiap bulannya,cuma bedanya bulan ini ada acara campingnya karena daerahnya lumayan cukup jauh." Jia menjelaskan pada Nara.


"No sayang kamu nggak boleh ikut,lagian kamu sudah hampir ujian nanti bisa ganggu sekolah kamu." Seru Nara mencari alasan untuk menentang acara Jia,karena sebenarnya dia lebih takut kalau di acara itu Jia di goda sama cowok cowok,terutama Bima.


"Aku nggak mungkin nggak ikut,aku kan ketuanya."


"Ya sudah kamu keluar aja!"


"Nggak segampang itu dong,ini tuh sudah jadi tanggung jawabku." Seru Jia kesal.Abel dan Reno bingung mendengar perdebatan dua sejoli di depan mereka sekarang.Mau memisah juga nggak berani karena kan di sini pemeran utamanya mereka,hehe.Sampai seorang pelayan datang membawa makanan yang di pesan tadi yang membuat mereka berhenti berdebat.Alhasil saat makan siang mulai dan sampai selesai terjadi perang dingin di antara mereka.


"Bel kamu duduk di belakang aja sama aku!" Seru Jia dengan suara keras hingga membuat Nara kesal.Abel yang sebenarnya takut sama Nara,terpaksa mengiyakan karena lebih takut dengan tatapan Jia.


Di dalam mobil Jia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela saat matanya beradu pandang dengan Nara,dia masih nggak terima karena larangan Nara.Nara pun masih kekeh dengan keputusannya.


"Nona kami minta maaf,kami mohon jangan pecat kami,kami tidak tahu kalau anda tunangan tuan Nara,nona." Ucap tiga orang di kaki Jia,yang membuatnya terkejut.


"Tolong nona kasihani saya,anak saya sedang sakit kalau saya di pecat saya tidak bisa membayar biaya rumah sakit." Ucap salah satu satpam dengan terisak.Jia yang menatap iba pada mereka,langsung beralih menatap tajam Nara yang ada di sampingnya.Jia sangat marah karena Nara sudah membohonginya.


"Aku sudah bilang,aku nggak mau di bohongi tapi ternyata apa?" Seru Jia menatap Nara penuh amarah.


"Sayang maafin aku,aku nggak bermaksud bohongi kamu.Aku cuma nggak terima kamu di perlakukan buruk oleh siapapun."


"Tapi mereka tidak tahu kalau aku tunanganmu dan mereka juga sudah minta maaf,setidaknya beri mereka kesempatan." Seru Jia.


Nara yang nggak mau berdebat dengan Nara akhirnya memilih mengalah,karena dia juga merasa bersalah sudah membohongi Jia dan takut kalau Jia akan marah lagi.


"Ok aku beri kesempatan pada kalian sekali lagi,kalau sampai aku lihat kalian bersikap buruk lagi aku tidak akan mengampuni kalian!" Seru Nara.


"Terima kasih tuan,kami berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi.Terimakasih nona,terimakasih kasih banyak." Ucap mereka bertiga bersamaan beranjak berdiri dan membungkukkan badan.


"Iya sama sama." Ucap Jia berlalu ingin ke ruangan Nara mengambil jaket dan tasnya,di ikuti Nara,Abel dan Reno.


Setelah mengambil tas dan jaketnya Jia hendak keluar dari ruangan Nara,tapi langkahnya terhenti karena tangannya sudah di tarik Nara.


"Lepasin tanganku!"


"Jia aku minta maaf karena sudah berbohong sama kamu.Aku nggak bermaksud membohongimu sayang,aku mohon kamu jangan marah." Nara memohon dengan muka memelas.


"Aku sudah bilang,aku nggak mau di bohongi tapi apa kenyataannya? Ini masih di awal hubungan kita,gimana nanti.Mending kita pikirkan lagi tentang hubungan kita sebelum semua terlambat." Ucap Jia sambil memejamkan mata menahan air matanya supaya tidak jatuh,entah kenapa kata kata itu terlontar dari mulutnya begitu saja.


Kata kata itu terdengar seperti kilatan petir di telinga Nara,dia terkejut dengan ucapan Jia begitu juga Reno dan Abel.Mereka tidak menyangka Jia akan berkata seperti itu.


"Beb,kamu bercanda kan?" Abel masih tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.Reno yang merasa harus memberi waktu untuk mereka berdua bicara segera mengajak Abel keluar tanpa menunggu jawaban Jia.


"Sayang kamu nggak serius kan?"


"Jia kamu nggak beneran kan dengan ucapanmu tadi" Tanya Nara lagi untuk ke dua kalinya karena tidak mendapatkan respon dari Jia,dia memegang pundak Jia dan menghadapkan ke arahnya.


"Sayang aku kan sudah memperkerjakan mereka lagi,kenapa kamu belum maafin aku? Tolong Jia bicaralah jangan mendiamkanku seperti ini. Jia memejamkan matanya lagi sebelum bicara.


"Aku nggak suka di bohongi Nara,walaupun hal sekecil apapun karena itu sudah menyangkut kepercayaan.Sebuah hubungan kepercayaan itu penting.Ini baru awal hubungan kita tapi kamu sudah bohong sama aku,gimana nanti."


"Aku janji sayang aku nggak akan pernah berbohong lagi,ini adalah pertama dan terakhir aku bohong sama kamu.Aku mohon maafin aku." Ucap Nara sambil mengatupkan kedua tangannya,dan berganti memegang kedua telinganya seperti anak kecil yang hampir membuat Jia tertawa.


"Aku mohon sayang,aku akan lakuin apapun supaya kamu maafin aku." Ucap Nara lagi.Hingga muncul ide di pikiran Jia.


"Ok aku maafin kamu,tapi ijinin aku untuk acara camping di acara baksos!" Seru Jia tegas supaya bisa menahan tawanya.


"Hah...nggak untuk yang satu itu Jia,aku nggak mau kamu dekat dekat sama cowok itu."


"Maksud kamu cowok siapa?,katanya kamu bakal lakuin apapun,aku cuma minta ijin aja kamu nggak mau kasih.Kamu harus ngertiin posisiku,aku tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja setidaknya sampai kita belum menikah,mereka lebih dulu ada di hidupku sebelum kamu datang." Jia berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya,Narapun duduk di samping Jia dan masih mencerna omongan Jia.


"Ok hanya sampai kita menikah,sesudah itu kamu harus keluar dari club motor dan harus janji nggak boleh dekat dekat sama Bima di sana !" Akhirnya nama Bima keluar dari mulut Nara,seorang cowok yang menurutnya akan jadi penghalang untuk hubungannya.


"Huuhhhh...aku itu nggak punya perasaan apa apa sama Bima kenapa kamu mesti takut,aku nggak bisa janji kalau di sana aku nggak dekat dekat sama dia,karena posisiku dan posisi Bima sebagai ketua club jadi bakal banyak kegiatan yang mengharuskan aku berkoordinasi sama dia." Jia mencoba menjelaskan pada Nara yang sudah memasang muka tidak terima.


"Apa nggak bisa di wakilkan?,aku bisa percaya sama kamu,tapi tidak dengan pria itu sayang.'' Batin Nara.


"Kamu percaya sama aku,aku nggak akan macem macem di sana.Ruang di hatiku sudah kamu ambil semua." Seru Jia dengan menunjuk hatinya dan bergantian ke hati Nara.


Nara terseyum lega mendengar ucapan Jia.Dia ingin mengesampingkan egonya,karna dia sadar kalau dia mengekang Jia yang ada Jia akan pergi menjauh darinya.Dia tidak akan membatasi kegiatan Jia sampai saatnya dia benar benar berhak atas Jia seutuhnya.


"Ok sayang aku percaya sama kamu." Akhirnya mereka sudah berbaikan dengan saling mengaitkan jari kelingking tersenyum lega seperti anak kecil.


" Terimakasih sudah percaya sama aku."


.


.


.


.