
"Nara,aku minta maaf." Ucap Arga tiba-tiba yang menyenderkan tubuhnya di dinding luar kamar Jia.Jia meminta Nara dan Arga untuk keluar dari kamar saat dia sedang di periksa,karena dia malu kalau harus di tunggui saat sedang di periksa dokter walaupun itu suaminya sendiri.
"Kamu nggak perlu minta maaf Ga,ini memang salahku." Balas Nara ,yang masih merasa bersalah dengan sakitnya Jia.
"Dari saat dia kecil sampai dia dewasa,aku akan sangat panik dan menyalahkan diriku sendiri bila melihat Jia sampai jatuh sakit. Aku merasa gagal sebagai seorang kakak karena tidak becus menjaganya,dan merasa tidak bisa melaksanakan amanah dari kedua orang tuaku untuk menjaga Jia." Arga nampak membuka matanya dan terlihat ada cairan bening keluar dari kedua ujung matanya.
"Kamu tidak gagal Ga,kamu sudah menjadi kakak yang hebat untuk Jia.Kamu sudah menjaganya dengan baik sampai saat ini.Sekarang akulah yang harus menjaganya dengan baik sebagai seorang suami.Aku berharap kamu masih mau memberi aku kesempatan Ga.Jangan ambil Jia dariku." Nara menghela nafas dalam,seakan ada rasa sesak di dadanya .
"Kamu jangan khawatir Nara,aku tidak akan mengambil Jia darimu.Tadi aku hanya sedang emosi." Ucap Arga tersenyum.
"Terimakasih Ga." Balas Nara yang sudah bisa tersenyum lega mendengar perkataan kakak iparnya itu.
"Tapi ucapanku masih berlaku kalau kamu menyakitinya,Nara." Imbuh Arga lagi dengan suara tegas,hingga membuat senyuman Nara berhenti mengembang.
"Aku akan memegang janjiku Ga." Ujar Nara penuh keyakinan.
------
"Nona,anda harus banyak istirahat dan nanti saya akan kasih vitamin untuk menguatkan kondisi anda." Ucap dokter Vivi setelah memeriksa Jia,dokter Vivi adalah pengganti Reza ,di karenakan Reza sedang ada rapat dengan para dokter di luar kota jadi dokter Vivilah yang di tunjuk olehnya untuk menangani secara langsung istri pemilik dari rumah sakit tempatnya bekerja.
"Ehm...nona kapan waktu anda terakhir datang bulan?" Tanya dokter Vivi tiba-tiba.
"Ehm....lupa dok,seingatku aku sudah lama tidak datang bulan.Memang kenapa?" Tanya Jia penasaran,karena dia baru sadar ternyata beberapa bulan ini dia tidak mendapatkan tamu itu.
"Saya belum bisa memastikannya nona,tapi saran saya, kalau anda sudah merasa enakan nanti anda bisa datang ke rumah sakit untuk mengecek kondisi anda."
"Memang kondisi saya kenapa dok? Apa ada penyakit serius?" Tanya Jia panik.
"Tidak nona,anda tenang saja.Saya hanya ingin memastikan apakah anda hamil atau tidak." Jawab dokter Vivi tersenyum ramah.
"Hah....hamil? Maksud dokter saya hamil?" Mata Jia membulat sempurna karena terkejut,entah apa yang dia rasakan sekarang,haruskah bahagia atau tidak.
"Ini baru perkiraan saya nona,untuk lebih jelasnya sebaiknya anda periksa ke rumah sakit nanti saya akan buatkan jadwal untuk anda periksa."
"Baik dok...Ehm....dok,saya minta jangan beri tahu suami saya dulu ya,bilang saja kalau saya hanya kecapekan.Saya akan memberi tahunya nanti kalau sudah di pastikan saya benar-benar hamil." Jelas Jia,karena melihat dokter Vivi mengernyitkan dahinya terlihat heran lalu tersenyum lagi setelah mendengar penjelasan Jia.
"Baik nona,kalau begitu saya permisi.Resep vitaminnya saya akan berikan pada suami anda." Pamit dokter Vivi lalu berlalu.
"Iya dok,terimakasih."
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membuat Nara dan Arga tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu.
"Dok...gimana keadaan istri saya?"
"Iya dok,bagaimana keadaaan adik saya?" Tanya Arga dan Nara panik.
"Beruntungnya nona Jia di sayangi oleh dua orang lelaki hebat dan tampan." Batin dokter Vivi tersenyum kecil melihat kepanikan dua lelaki di depannya.
"Anda tidak perlu khawatir tuan,nona Jia baik-baik saja,dia hanya kelelahan.Ini saya kasih resep obat dan juga vitamin." Ucap dokter Vivi mengulurkan kertas resep pada Nara.
"Oh ya tuan Nara,tolong jaga istri anda jangan sampai dia kelelahan dan perhatikan pola makannya.Kalau perkiraan saya benar,anda harus siap siaga menghadapi istri anda yang akan banyak maunya nanti." Imbuh dokter Vivi dengan senyuman yang membuat penasaran.
"Nanti anda juga akan tahu tuan,saya permisi dulu." Pamit dokter Vivi meninggalkan dua pria yang sedang kebingungan.
"Nara...." Teriakan Jia membuat Nara kaget dan langsung ingin bergegas menemui istrinya tapi di tahan oleh Arga yang meminta resep obat.
"Biar aku yang menebus obatnya,kamu temani Jia."
"Baiklah Ga,terimakasih."
---
"Iya sayang." Sapa Nara setelah masuk dan duduk di samping istrinya lalu memberinya sebuah kecupan di kening.
"Kamu jangan kemana -mana ya." Pinta Jia yang tiba-tiba ingin manja pada suaminya hingga membuat Nara mengerutkan keningnya heran,apalagi Jia sudah mengubah posisi tidurnya yang kini pangkuan Nara menjadi tumpuan kepalanya dan melingkarkan tangannya erat di pinggang Nara seakan nggak mau kalau Nara pergi.
"Hey sayang,tadi dokter nggak ngapa-ngapain kamu kan?"
"Ya cuma di periksa aja,emang kenapa?"
"Aneh saja,tumben kamu bersikap manja kaya gini,nggak biasa-biasanya."
"Emang nggak boleh manja sama suami sendiri?'' Ujar Jia mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja boleh sayang,kamu minta lebih juga nggak apa-apa,aku pasti akan kasih semuanya." Balas Nara dengan senyuman menggoda.
"Itu maunya kamu...." Ucap Jia sambil mencubit perut suaminya.
"Oh ya sayang,dokter tadi bilang kamu nggak boleh kecapekan.Mulai sekarang kamu nggak boleh beraktifitas berlebihan,kalau bisa kamu nggak usah bikin desain baju lagi.Dan untuk sekolah kamu belajar di rumah saja seperti dulu,nanti kalau pas ujian baru kamu ke sekolah lagi." Nara mengusap lembut kepala istrinya itu dan sesekali memainkan rambutnya.
"Huft....aku sudah tahu pasti dia akan mengatakan hal itu.Ini saja dia belum tahu aku hamil atau tidak,nanti kalau aku benar-benar hamil pasti dia hanya akan menyuruhku berada di ranjang ini dan nggak boleh kemana-kemana." Ucap Jia dalam hati sambil memandangi wajah suaminya yang tampan dari bawah.
"Ok,kalau tentang sekolah aku setuju,tapi kalau soal yang satunya aku nggak bisa.Aku sudah ada kontrak kerja sama sayang,nanti aku bisa di tuntut kalau memutuskan kerja sama secara sepihak." Jia berusaha memberikan pengertian supaya suaminya berubah pikiran,tapi ternyata Jia salah.
"Aku akan membayar dendanya sayang,yang terpenting adalah kesehatanmu." Ujar Nara yang membuat Jia kecewa.Jia lupa kalau suaminya adalah orang kaya yang bisa melakukan apa saja menggunakan uangnya.
"Nara,menggambar desain tidak membuatku lelah tapi justru membuatku senang karena itu caraku mengekspresikan hobiku.Dan kemarin kita sudah membahasnya,aku tidak mau bertengkar lagi Nara..." Ucap Jia memelaskan wajahnya.
"Kalau kamu menyayangiku kamu nggak akan merebut kehidupanku." Gumam Jia memindahkan kepalanya di bantal dan menjauh dari Nara yang tertegun dengan perkataan istrinya.
"Huft...aku salah ngmong lagi." Gumam Nara menepuk dahinya
.
.
.
.
Bersambung.