
Setelah selesai makan malam,Nara dan Reno berpamitan pulang.Nara sebenarnya masih ingin disana tapi berhubung besok Jia sudah masuk sekolah jadi dia ingin memberikan waktu untuk Jia istirahat.
"Aku pulang dulu sayang." Nara mengecup kening Jia dan berpamitan pulang.
"Iya kalian hati hati,nanti kalau sudah sampai kabari ya." Ucap Jia sambil melambaikan tangan.
Selepas kepergian Nara,Jia segera masuk kekamar untuk mempersiapkan keperluan masuk sekolah besok.
"Kak Arga kok nggak kasih kabar ya." Batin Jia cemas setelah selesai mengemas beberapa bukunya untuk besok.Jia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada kakaknya.
Jia:
"Kak Arga kapan pulang".
Kakakku:
"Kakak masih ada pekerjaan sayang,mungkin nanti sampai di rumah akan larut malam.Kamu sudah makan apa belum?
Jia:
Sudah kak tadi di temenin Nara sama Reno,kakak sendiri sudah makan belum?
Kakakku:
Kakak juga sudah sayang,kalau begitu kamu cepetan istirahat besok kan sudah mulai sekolah.
Jia:
Siap kak....I Miss U...
Kakakku:
Miss U To...
Jia meletakkan ponsel di sampingnya menunggu Nara mengabari sambil merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya.
Dia memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. " Aku nggak nyangka akan mendapatkan jodoh secepat ini." Gumamnya sambil memejamkan mata,mengingat saat saat bersama Nara dan awal pertemuan mereka.
Drt...drt...
Crazy people:
Sayang aku sudah sampai,kamu sudah tidur belum?
Kesayanganku:
Ini baru mau tidur,syukur kalau kamu sudah sampai,kamu buruan mandi terus istirahat ya.!
Crazy people:
Ok sayang,have a nice dream....
Kesayangan:
Have a nice dream too....
Nara senyum senyum sendiri membaca pesan dari Jia,hingga tak sadar dengan keberadaan mamanya sejak tadi.Ajeng bahagia melihat anaknya yang sedang jatuh cinta itu,kekhawatirannya selama ini sudah hilang yang menganggap anaknya tidak menyukai wanita.
"Duh senengnya yang lagi jatuh cinta,sampai sampai nggak tahu kalau mamanya udah dari tadi disini." Ujar mama Ajeng menggoda anaknya,dan membuat Nara kaget sampai ponsel yang di pegangnya jatuh di dada bidangnya itu.
"Ah mama ngagetin aja,kok nggak ketuk pintu dulu sih." Nara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gimana mau ketuk pintu,yang punya kamar lagi senyum senyum sendiri takut mama ganggu dong." Goda Ajeng yang gemas melihat anak semata wayangnya itu.
"Hehehe.'' Nara tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar ucapan mamanya.
Ajeng masuk dan duduk disamping anaknya. "Jaga Jia dengan baik ya sayang! Sayangi dia seperti kamu menyayangi mama." Ajeng mengelus lembut kepala Nara yang ada di pangkuannya.Pikirannya menerawang jauh kejadian beberapa tahun yang lalu kenangan bersama sahabatnya.
"Pasti ma,Nara akan menjaga Jia dan menyayanginya seperti Nara menyayangi mama.Nara sangat mencintai Jia ma,kalian berdua adalah wanita yang paling berarti untukku didunia ini." Ucap Nara menggegam tangan mamanya.
" Mama pegang janji kamu sayang,jangan pernah membuatnya menangis."
"Pasti ma..."
Pagi pagi Jia sudah selesai bersiap untuk menyambut hari pertamanya masuk sekolah setelah liburan.Dia keluar dari kamar dan hendak ke dapur untuk sarapan.Dia terkejut melihat pemandangan di depannya.Dua orang pria yang dia sayangi sedang berada di dapur menyiapkan sarapan.
Terlihat Nara yang wajahnya sudah bercampur dengan peluh keringat berperang dengan wajan penggorengan,penampilannya tampak berantakan dengan lengan baju yang di gulung sampai siku,dasi yang sudah di lepas dan kemeja yang terbuka kancingnya dan celemek yang menempel di badannya,karena ini baru pertama kalinya dia berada di dapur untuk memasak,tapi tetap tidak mengurangi ketampanan pria itu.
Berbeda dengan Arga yang memang sudah terbiasa memasak,ini sangatlah mudah baginya.
"Non." Dari belakang bi Yanti menepuk pundak Jia yang sudah duduk di meja makan tanpa sepengetahuan kakaknya dan Nara.
"Sstst..."Jia menempelkan jari telunjuk di bibirnya sambil tersenyum memberi isyarat bi Yanti untuk tidak bersuara.Bi Yanti mengangguk tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan nona mudanya.
"Ga kayaknya kamu sudah terbiasa masak ya?"
"Iya Ra,semenjak orang tuaku meninggal Jia susah makan,aku sudah membujuknya dengan berbagai cara agar dia mau makan tapi tetap sia sia.Sampai suatu hari Jia bilang mau makan nasi goreng tapi harus aku yang masak,aku sangat senang mendengarnya dan aku mencoba memasak untuk pertama kalinya walaupun bingung nggak tahu caranya aku tetap berusaha,Jia makan dengan lahap masakan pertamaku.Aku yang penasaran dengan rasanya mencoba untuk mencicipi."
"Apa kamu tahu rasanya Ra?"
"Apa...? Nara antusias mendengarkan.
"Rasanya sungguh sangat asin,aku langsung memuntahkannya.dan mengambil piring Jia yang masih tesisa makanan.Aku hendak membuangnya tapi langsung di rebut Jia,dia bilang menyukai masakanku bagaimanapun rasanya,karena dia melihat aku membuatnya dengan susah payah dan penuh cinta.Aku terharu dengan ucapannya,dan sejak saat itu aku mulai belajar masak." Arga mengusap ujung matanya yang sudah basah.
Jia yang sudah menangis di tempatnya duduk,langsung berdiri menghampiri kakaknya dan memeluknya dari belakang hingga menganggetkan Nara dan juga Arga.
"Jia sayang kakak." Ucapnya dengan menangis.Arga membalikkan badannya memeluk adiknya dan menghujani ciuman di rambut Jia.
"Kakak juga sayang kamu,sudah jangan nangis lagi udah mau nikah juga masih suka nangis,nggak malu apa sama calon suami.'' Arga menggoda adiknya dan mengusap air mata Jia dengan kedua ibu jarinya.
"Biarin aja." Jia melirik Nara yang tersenyum melihatnya.
"Nggak mau gantian meluk aku nih?" Saut Nara mengedipkan matanya tanpa rasa malu dengan Arga.
"Nggak mau.'' Seru Jia menjulurkan lidahnya meledek Nara.Arga hanya tersenyum melihat Jia dan Nara,lalu mengajak mereka untuk segera sarapan.
"Gimana rasanya?
"EHmm....lumayan." Jawab Jia datar dan masih sibuk mengunyah sambil melirik Nara yang tampak kecewa dengan jawabannya.
"Enak kok sayang." Jia mencubit pipi Nara gemas melihat ekspresinya.
"Ah bohong!"
"Beneran sumpah deh." Jia mengangkat kedua jarinya dengan wajah ngegemesin sampai membuat Nara senam jantung melihat wajah polos kesayangannya itu.
"Huh tuh muka bikin gemes aja,coba kalau nggak ada kakaknya,pengen dimakan ajah." Batin Nara.
Arga hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik dan adik iparnya itu yang kaya anak kecil.Nara yang dia tahu seorang pemimpin yang dingin kini bisa berubah menjadi pria yang manis karena adiknya.
Setelah selesai sarapan Jia bersiap untuk berangkat.
"Kak Jia berangkat ya,kakak hari ini kerja apa libur?"
"Nanti kakak kerja tapi agak siangan sayang,kamu hati hati ya."
"Ok ,kak."
"Loh mobil kamu mana?" Tanya Jia sesampainya di depan rumah karena tidak melihat mobil Nara.
"Aku nggak bawa mobil,hari ini aku mau antar kamu kesekolah naik motor." Ucap Nara memakai jaket levisnya dan helm.
"Hah...kamu nggak bercanda kan?" Tanya Jia terkejut.
"Ya nggaklah tuan putri,ayo buruan naik." Seru Nara yang sudah ada di atas motor.
"Tapi...." Jia tidak melanjutkan kata katanya.
Melihat ekspresi Jia membuat Nara kesal.
"Apa kamu takut kalau ketemu sama cowok incaranmu itu!'' Seru Nara dengan muka merah padam menahan emosi.Jia yang tahu siapa yang Nara maksud,langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku nggak takut,biarin aja mereka tahu." Sautnya lalu segera naik membonceng Nara. Nara tersenyum tipis melihat Jia dari kaca spion.
Jia melingkarkan tangannya erat di pinggang Nara,hingga membuat Nara tersenyum bahagia dan mengusap tangan Jia lembut.
"Nanti apa kamu nggak terlambat pergi kekantor?" Tanya Jia mendekatkan wajahnya di pundak Nara.
"Aku kan bosnya,jadi terserah aku dong." Seru Nara sombong.
"Huh dasar.."
"Pegangan yang erat ya,aku mau ngebut!" Seru Nara menoleh ke belakang.
"Ok boss." Saut Jia mengeratkan pegangannya.
Sampainya di sekolahan mereka membuat geger seisi sekolah,karena Nara menurunkan Jia tepat di depan kelasnya hingga membuat semua teman temannya menatap ke arah mereka,memandang Nara yang masih mengenakan helm dengan takjub.
"Kamu kenapa nurunin aku disini,aku kan malu di lihat teman teman." Ucap Jia panik karena jadi pusat perhatian seluruh sekolah.Tidak ketinggalan kepala sekolahnya yang sudah berjalan menghampiri mereka.
"Jia..." Teriak kepala sekolah yang sudah hampir sampai ke tempatnya.
"Mati aku." Gumam Jia sambil menepuk dahinya,dan hendak berbalik tapi langsung di cegah Nara yang sudah berdiri di depannya.
"Apa apan kamu Jia,kamu mau sekolah apa mau pacaran." Seru kepala sekolahnya yang setengah berteriak.
Nara yang tidak rela mendengar kesayangannya dibentak seperti itu mengepalkan tangannya dan langsung membuka helmnya,hingga membuat kepala sekolah terkejut bukan main dan langsung merasakan lemas diseluruh tubuhnya karena melihat donatur terbesar atau bisa dibilang pemilik dari sekolahannya itu berdiri di depannya dengan muka emosi.Berbeda dengan teman teman wanita Jia yang heboh karena terpesona dengan ketampanan Nara.
"Tuan Nara,maaf tuan saya tidak tahu kalau tadi anda yang mengantar Jia." Ucapnya panik sambil menundukkan kepalanya.
"Memangnya siapa kamu ,berani membentak tunanganku seperti itu!!!" Seru Nara.Jia langsung memegang lengan Nara menenangkannya.
"Sudah,jangan marah marah ini kan salah kamu." Bisik Jia di telinga Nara.Nara yang masih emosi menatap Jia memberi isyarat untuknya agar diam.
Belum hilang rasa kagetnya,Nara membuat kepala sekolah dan beberapa teman Jia terkejut dengan ucapannya kalau Jia adalah tunangannya.Dan membuat muka sang kepala sekolah semakin memucat.Jia yang sudah sangat malu dengan kejadian pagi ini,langsung menarik tangan Nara.
"Jangan buat aku marah!'' Ucapnya dengan tatapan dingin.hingga membuat Nara takut.
"Ok,aku akan memaafkanmu,tapi ingat aku nggak mau kejadian ini terulang lagi!" Seru Nara sebelum kepala sekolah pergi.
"Baik tuan,terimakasih."Sang kepala sekolah langsung buru buru pergi sebelum orang yang menyuruhnya pergi berubah pikiran.
Jia masih dengan muka kesalnya menatap Nara. "Wahduh mati aku,ternyata dia bisa menakutkan seperti ini." Batin Nara yang nyalinya sudah menciut melihat raut wajah Jia yang menakutkan kalau sedang marah.
"Sekarang mending kamu balik." Ucap Jia dingin.
"Baby aku minta maaf,kamu jangan marah kaya gini.Please maafin aku,aku hanya nggak suka lihat kamu dibentak seperti itu." Nara memasang muka memelas.
"Udah jangan bikin aku tambah kesal,sekarang kamu pergi dulu." Ucap Jia dan berlalu meninggalkan Nara sendiri.
Di sudut ruangan terlihat gadis mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Jia...Jia...Kenapa kamu selalu menjadi penghalang,kenapa kamu selalu mendapatkan yang terbaik.Aku tidak perduli dia harus jadi milikku." Gumam Mia penuh emosi.
Di sudut lain ada pria yang sejak tadi melihat kejadian di depan kelasnya.Ada rasa sakit di dalam dadanya melihat wanita yang selama ini ada di hatinya bersama pria lain dan mendengar mereka sudah bertunangan.
"Apa aku sudah benar benar kalah Jia." Batin Bima.
.
.
.
.
Kasih votenya ya kakak....biar semangat nulisnya...