
"Bangun sayang...!" Jia yang sudah siap berangkat ke sekolah mendekati suaminya yang masih tertidur pulas dan berbisik di telinganya pelan.
Karena tidak mendapat respon dari Nara,Jia membungkukkan badannya dan mencoba membangunkan lagi suaminya dengan sedikit goncangan di lengannya.
"Nara ayo bangun ini sudah siang,katanya kamu mau antar aku ke sekolah.Kalau kamu nggak buruan bangun ya sudah aku berangkat sendiri saja naik motor!" Ucap Jia dengan nada mengancam.
"Aww...Nara lepasin!" Teriak Jia yang kini sudah di peluk Nara.Karena tadi saat hendak berbalik tangannya sudah di tarik oleh Nara dan kini terjatuh ke dalam dekapannya.
"Jangan coba-coba mengancamku sayang!" Gumam Nara dengan mata masih terpejam dan memeluk istrinya itu.
"Habisnya kamu nggak bangun-bangun,ini kan sudah siang nanti aku terlambat masuk kelasnya." Gerutu Jia meronta untuk di lepaskan.
"Kamu jadi pergi ke sekolahnya?" Tanya Nara yang sudah membuka matanya dengan sempurna.Dan sedikit menurunkan pandangannya ke bawah untuk melihat wajah istrinya yang sedang dia peluk.
"Ya iya dong...kamu gimana sih." Gumam Jia mulai kesal.
"Ijin satu hari lagi dong sayang!" Pinta Nara dengan muka memelas.
"No Nara,kamu sudah janji dan kita sudah bahas ini." Ujar Jia dengan muka cemberut.
"Ok...ok sayang aku cuma bercanda." Bisik Nara gemas pada istrinya.
"Ya sudah jadi anterin aku nggak,kalau jadi buruan bangun!" Ucap Jia yang sudah duduk di tepi ranjang menunggu Nara dengan muka cemberut.
"Cium dulu." Ucap Nara manja.
"Nggak mau.." Jawab Jia.
"Kalau nggak mau ya sudah aku nggak akan bangun dan kamu nggak boleh masuk sekolah hari ini." Ucap Nara dengan nada di buat serius untuk meyakinkan Jia.
"Ah kenapa kamu banyak maunya sih." Gumam Jia pelan tapi Nara masih bisa mendengarnya.Nara tersenyum kecil mendengar gumaman Jia tapi dia pura -pura tidak mendengar dan masih menunggu Jia untuk menciumnya.
Cup
Jia mencium bibir Nara,niat Jia yang hanya mencium bibir Nara sebentar tapi tiba-tiba Nara menariknya dan menindih tubuh Jia di bawahnya.
"Nara kamu ah empp..." Jia tidak bisa melanjutkan kata- katanya karena bibirnya sudah di cium oleh Nara dengan nafas memburu.
"Nara lepasin...!" Gumam Jia saat mendapat celah untuk bicara.Tangannya menahan tangan Nara yang sudah membuka kancing seragamnya dan sudah menerobos masuk menjelajahi isi di dalamnya.Merasa tangannya di tahan Jia,Nara menghentikan ciumannya dan menatap ke wajah istrinya itu dengan tatapan sedikit kecewa.
"Jangan sekarang." Ucap Jia pelan.
Nara yang sudah kecewa segera mengeluarkan tangannya dan beranjak berdiri lalu melangkahkah kakinya ke dalam kamar mandi tanpa bicara satu patah katapun pada Jia,hingga membuat Jia bingung dan juga takut.
"Apa Nara marah?" Batin Jia yang masih berbaring di ranjang.
"Hah aku harus bagaimana,ya Tuhan aku sudah berdosa karena sudah menolak keinginan suamiku tapi kan aku harus berangkat sekolah.Ahhrgg aku harus bagaimana?" Gumam Jia galau.
Ceklek
Nara keluar dari kamar mandi dan berjalan ke lemari pakaian mengambil bajunya yang sudah ada beberapa di lemari milik Jia tanpa melihat sedikitpun ke arah istrinya yang sedang cemas saat ini.
Jia berjalan menghampiri Nara dan memeluknya dari belakang. " Sayang kamu marah ya? Aku minta maaf." Ucap Jia pelan masih dengan posisi memeluk.
Jia tidak mendapat jawaban dari Nara,akhirnyan dia tidak bisa menahan air matanya dia sudah menangis di punggung Nara,air matanya membasahi baju yang di kenakan Nara.
Nara membalikkan badannya karena menyadari istrinya sedang menangis.
"Hey kenapa kamu menangis? Aku tidak marah sayang." Ucap Nara merasa bersalah dan menghapus air mata istrinya dengan kedua ibu jarinya.
"Kalau kamu nggak marah kenapa kamu diam saja dan tidak mau menjawabku." Balas Jia dengan masih sesenggukkan.
Nara memegang wajah istrinya dan mengangkatnya sedikit ke atas. " Aku tidak marah sayang,aku minta maaf ,sudah jangan menangis."
"Bohong kamu masih maarah." Ucap Jia yang masih bisa merasakan perubahan pada sikap Nara.
"Huh...aku tidak marah sayang tapi memang aku hanya sedikit kecewa." Ucap Nara menghela nafas akhirnya bicara jujur.
"Tuh kan kamu marah."
"Aku nggak bilang marah sayang,tapi sedikit kecewa saja.Itu kan beda." Ucap Nara lagi meyakinkan Jia.
"Kalau kamu mau lagi ayo kita lakukan sekarang!" Ucap Jia pelan sambil memainkan kancing kemeja Nara untuk menahan malunya karena berbicara seperti itu.
Nara tersenyum mendengar perkataan istrinya,dia jadi merasa bersalah karena sudah mengacuhkannya tadi.
"Maafkan aku tadi sayang." Ucap Nara pelan lalu mencium kening Jia.
"Ayo aku antar kamu ke sekolah." Imbuh Nara.
"Tuh kan kamu masih marah."
"Enggak sayang,aku sudah nggak marah."
"Nah itu kamu nggak mau ngelakuin lagi sekarang."
"Ngelakuin apa?" Ucap Nara menggoda istrinya.
"Ya itu...ah bodo kamu nyebelin." Gerutu Jia sambil menahan malu karena sadar Nara menggodanya.
Nara menghampiri istrinya yang lagi ngambek di sofa dan duduk di sampingnya.
"Sayang ayo nanti kamu telat." Nara memegang kepala Jia dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Hey bukannya kamu semangat saat aku ijinin masuk sekolah lagi kemarin,tapi kenapa sekarang malah nggak semangat."
"Atau jangan-jangan kamu nggak mau lama -lama pisah dari aku ya sayang."
"Ahrgg kamu yang buat aku nggak semangat."
Nara merasa bersalah karena sikapnya tadi sudah merusak mood istrinya.Dia mencoba membujuk Jia agar mau berangkat sekolah tapi sia-sia Jia tetap tidak mau.
Sekarang Nara yang menjadi bingung karena hari ini dia harus berangkat ke kantor untuk menemui tuan Arsen yang sudah membuat janji untuk bertemu beberapa hari yang lalu.Tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan Jia dalam keadaan merajuk seperti ini.
"Ehm sayang,kalau kamu tidak mau masuk sekolah gimana kalau kita jalan-jalan...tapi.." Jia yang sudah hampir tersenyum mendengar ajakan Nara menjadi berhenti tersenyum karena Nara mengucapkan kata tapi.
"Tapi apa...?" Tanya Jia mengerutkan keningnya.
"Tapi kita ke kantor dulu,aku harus menemui klien sebentar habis itu kita pergi jalan-jalan." Nara cemas menunggu jawaban dari Jia,karena lama Jia diam berpikir.
"Ok...tapi janji nggak boleh lama!" Jawab Jia akhirnya membuat Nara lega.
"Ok bos." Balas Nara sambil mengaitkan jari kelingkingnya di jari Jia.
------
"Selamat pagi tuan." Sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Nara dan Jia,mereka terlihat membungkukkan badan dan tersenyum ke arah Jia.Jia merasa canggung mendapat perlakuan seperti itu.Narapun menggandeng tangan Jia dan memegangnya erat karena menyadari istrinya masih belum terbiasa.
"Kamu akan terbiasa sayang." Bisik Nara mencium punggung tangan Jia.
Nara dan Jia keluar dari lift yang langsung sampai di depan ruangan Nara.
"Tuan Nara,anda sudah datang?" Sapa Reno, saat melihat Nara dan Jia berjalan melewati ruangannya yang terletak di depan ruangan Nara.
"Selamat pagi nona Jia." Sapanya lagi pada Jia.
"Selamat pagi tuan Reno." Balas Jia menyapa sapaan Reno.
"Ren jam berapa kita bertemu dengan tuan Arsen?" Tanya Nara.
"Setengah jam lagi tuan." Jawab Reno.
"OK,..oh ya Ren setelah pertemuanku dengan tuan Arsen tolong kosongkan semua jadwalku,aku mau pergi dengan istriku." Perintah Nara sambil melirik ke arah Jia.
"Baik tuan."
"Sayang kamu mau minum apa?" Nara mengambil dua buah kaleng minuman dan memperlihatkan pada Jia untuk memilih.
"Nggak mau semuanya,aku nanti minum air putih saja."
"Ya sudah nanti aku akan suruh Ob buat antar minuman dan makanan ringan, sekarang aku tinggal sebentar dulu ya sayang." Ucap Nara sebelum pergi dan meninggalkan ciuman di kening istrinya sebelum pergi.
"Iya ...ingat jangan lama!" Seru Jia mengingatkan lagi.
"Siap sayang."
RUANG MEETING
"Apa kabar tuan Nara." Sapa tuan Arsen mengulurkan tangannya.
"Baik tuan,mari silahkan duduk." Ucap Nara menjabat tangan tuan Arsen.
Mereka terlihat serius membahas soal kerjasama.Tak berapa lama pembicaraan mereka terhenti karena suara dering dari ponsel tuan Arsen.
Tuan Arsen meminta ijin pada Nara untuk mengangkat telfon.
"Maaf tuan sebelumnya,baru saja anak saya menelfon dan ingin bertemu dengan saya apa boleh saya menyuruhnya kesini." Ucap tuan Arsen meminta ijin.
Nara beradu pandang sejenak dengan Reno sebelum menjawab permintaan tuan Arsen.
"Iya tuan silahkan." Jawab Nara akhirnya.
"Terimakasih tuan." Ucap tuan Arsen girang tersenyum licik.
"Nara kok lama banget sih,mana obnya nggak anter-anter minum lagi.Apa aku ambil sendiri saja ya." Gumam Jia.
Jia berjalan ke pantry untuk mengambil minum,sebelum ke pantry Jia menuju ke toilet dulu karena sudah kebelet.Sebenarnya di ruangan Nara juga ada toilet tapi karena Jia nggak mau balik lagi akhirnya dia memilih ke toilet karyawan.
"Kali ini aku akan mendapatkanmu Nara,kamu harus jadi milikku,kamu pasti tidak akan bisa menolak aku.Di banding dengan Jia penampilanku lebih menarik dari dia." Gumam Mia sambil memperhatikan penampilannya yang seksi di depan cermin toilet.
Walaupun Mia masih SMA sama seperti Jia,tapi bodinya bisa di bilang tidak seperti body seusianya karena memang Mia melakukan suntik silikon di payudaranya agar terlihat seksi di depan Nara.
"Bukannya itu Mia? Sedang apa dia disini,kenapa tadi dia bicara seperti itu,apa maksudnya???" Batin Jia bingung.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa kasih vote like dan juga rate bintang5 ya kakak yan baik....