
Pagi pagi sekali Arga sudah sibuk di dapur,dia ingin membuatkan makanan favorit Jia untuk sarapan.
"Tuan ada yang bisa saya bantu?" Sapa bi Yanti dari arah pintu.
"Tidak usah bi,ehm tolong bibi panggilkan Aldo saja kesini untuk sarapan."
"Baik tuan." Bi Yanti bergegas menuju lantai atas untuk memanggil Aldo,sedangkan Arga sudah hampir selesai menyiapkan sarapan.
Setelah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan Aldo di atas meja.Arga mengambil nampan berisi dua piring nasi goreng favorit jia dan juga dua gelas susu untuk Jia dan Abel lalu membawanya ke kamar Jia.
Arga meletakkan nampan di atas meja belajar Jia dengan pelan pelan takut membangunkan Jia,karena hari masih sangat pagi.
"Maaf ya sayang kakak harus berangkat pagi lagi,kamu cepat sembuh ya." Gumam Arga sembari mencium kening adik kesayangannya itu lalu segera pergi keluar dari kamar,karena terpaksa harus berangkat pagi melanjutkan pekerjaannya semalam yang harus selesai hari ini juga,padahal Arga sangat ingin bicara pada Jia walaupun hanya sekedar menyapa saja.
"Apa kamu nggak mau nunggu Jia bangun dulu Ga,memastikan keadaannya secara langsung?" Sapa Aldo yang sudah ada di meja makan.
"Sebenarnya aku malah ingin menemaninya Al,tapi mau gimana lagi proyek ini harus kita handle berdua secara langsung,lagi pula ada Nara jadi aku bisa sedikit tenang." Ucap Arga sebelum memasukkan sendok ke mulutnya.
"Iya Ga,dia bisa di andalkan." Sahut Aldo.Mereka berdua terlihat buru buru menghabiskan makanan karena harus memburu waktu.
"Bi titip Jia ya ,kalau ada apa apa segera hubungi Arga ya bi!" Pesan Arga pada bi Yanti sebelum berangkat ke kantor.
"Baik tuan." Jawab bi Yanti.
"Ehm..." Gumam Jia,hidungnya mencoba mengendus endus aroma khas yang sangat dia hafal baunya,walaupun dalam keadaan masih tidur.
"Baunya kok kaya nasi goreng buatan kak Arga ya." Gumam Jia lagi dengan mata masih terpejam.Jia menggeliat dan mengerjapkan matanya,pandangan pertama yang dia lihat adalah nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas susu.
"Hah aku nggak mimpi,itu pasti kak Arga yang masak.Syukur deh,berarti kak Arga udah pergi ke kantor,jadi kak Arga nggak lihat lukaku." Perut Jia yang sudah keroncongan karena melihat makanan kesukaannya ada di depan mata memaksanya segera bangun dari tidurnya.
"Awww." Jia merintih karena merasakan sakit di pergelangan kakinya.
"Kenapa kakiku sakit untuk berdiri,hah untung kak Arga nggak lihat ." Gumamnya sambil memegangi pergelangan kakinya dan berusaha berjalan sedikit demi sedikit untuk mengambil nasi goreng di meja belajarnya.Di lihatnya secarik kertas di bawah gelas.
" Kakak sudah masakin nasi goreng special buat kamu,makan yang banyak ya sayang,maaf kakak harus berangkat pagi lagi."
Dear brother you are my little angel.
Jia tersenyum setelah membaca tulisan dari kakaknya. "Kakakku memang kakak paling top deh." Batin Jia dan mulai makan nasi goreng di depannya.
Rasa sakitnya seperti hilang saat sudah menyantap nasi goreng buatan kakaknya.
"Nasi goreng buatan kak Arga memang paling the best." Seru Jia sambil mengangkat sendok hingga membuat Abel terganggu.
"Beb jangan teriak teriak,berisik tahu! Aku masih ngantuk nih." Sahut Abel kesal tanpa membuka mata.
"Kamu nggak mau bangun? Ya sudah kalau begitu nasi goreng buatan kak Arga aku habisin semua aja." Seru Jia menggoda Abel,Jia tahu Abel nggak mungkin nolak,karena dia juga sangat suka masakan kak Arga.
"Jangan beb...!" Seru abel langsung membuka mata dan segera menghampiri Jia walaupun hampir terjatuh karena terlilit selimut.Jia tertawa terbahak bahak karena melihat sahabatnya itu hampir terjatuh.
"Jia kamu jahat!" Umpat Abel sembari duduk di tepi ranjang setelah mendapatkan nasi goreng bagiannya.
"Haha iya maaf,udah buruan di makan aku mau mandi dulu." Ucap Jia beranjak berdiri.Dia memegangi kakinya lagi karena masih merasakan sakit kalau di pakai untuk jalan.
Abel menghentikan makannya saat melihat Jia meringis kesakitan. "Kamu kenapa Jia?" Tanya Abel panik dan meletakkan piringnya di meja,dia sudah berdiri di sebelah Jia.
"Nggak apa apa kok beb,cuma agak ngilu aja kalau di pakai jalan." Jawab Jia masih memegangi kakinya setengah jongkok.
"Kita ke dokter aja ya,luka kamu harusnya di tangani dokter biar di periksa beb.Takutnya kenapa kenapa." Ujar Abel memegang pundak Jia membantunya berdiri.
"Nggak usah beb nanti juga hilang sendiri sakitnya,kamu jangan bilang Nara ya! Aku nggak mau dia khawatir." Pinta Jia.
"Ehm...iya deh.Tapi beb,kalau sakitnya nanti masih kerasa pulang sekolah kamu harus mau periksa ke dokter ya!" Bujuk Abel.
"Heem,sekarang tolong bantu aku ke kamar mandi ya!" Abel mengiyakan permintaan Jia walau sebenarnya dia khawatir karena di lihatnya tadi pergelangan kaki Jia agak bengkak.
Abel bergantian mandi setelah Jia selesai mandi dan bersiap siap.Saat hendak memakai sepatu Jia meringis merasakan sakit di kakinya,tapi dia terpaksa menahannya karena tidak mau nanti Nara curiga dan akan menyuruhnya untuk tidak masuk sekolah.
"Kamu beneran nggak apa apa beb?" Abel khawatir saat keluar dari kamar mandi dan melihat Jia masih merintih kesakitan.
"Iya beb,nggak apa apa cuma ngilu aja sedikit." Ucap Jia pura pura.
"Ya sudah aku ke dapur dulu ya,kamu mau di ambilkan apa?" Tanya Abel yang sudah membawa nampan berisi wadah bekas makan mereka tadi.
"Nggak usah beb."
"Ok..bentar ya."
"Yup."
---
Ting tong
Bel berbunyi bi Yanti segera membuka pintu,dan terlihat dua orang pria memakai jas hitam dan terlihat sangat gagah.Siapa lagi kalau bukan Nara dan Reno.
"Selamat pagi tuan,silahkan masuk." Sapa bi Yanti.
"Pagi bi,Jia udah bangun belum bi?" Tanya Nara yang sudah masuk duluan,di ikuti Reno.
"Ow,kalau Arga bi? Ehm berarti Jia belum sarapan bi,kalau begitu tolong siapkan sarapan untuk Jia biar saya bawakan ke kamarnya bi!" Ujar Nara.
"Tuan Arga sudah berangkat pagi pagi sekali bersama tuan Aldo ,dan tadi tuan Arga juga sudah membawa sarapan untuk non Jia tuan." Imbuh bi Yanti.
"Oh ya sudah kalau begitu bi,tolong bilang ke Jia saya sudah datang.
"Baik tuan." Bi yanti hendak berlalu tapi berhenti karena mendengar langkah kaki dari arah tangga,yang tak lain langkah kaki Abel.
"Pagi tuan,anda sudah datang?" Sapa Abel pada Nara tanpa melihat Reno.
"Iya pagi,apa Jia sudah siap?"
"Jia masih di kamar,paling sebentar lagi turun.Saya permisi ke dapur dulu." Abel berlalu lagi lagi tanpa menyapa Reno,hingga membuat Reno cemas. "Kenapa dia tidak menyapa aku,bahkan tidak mau melihatku.Apa mungkin dia marah?" Batin Reno masih memandangi Abel yang hanya terlihat punggungnya saja.
"Bi biar saya saja yang memanggil Jia." Ucap Nara.
"Baik tuan,kalau begitu saya permisi."
Nara segera naik ke lantai dua menuju kamar Jia.
Melihat bosnya sudah naik ke lantai dua,Reno segera menyusul Abel ke dapur.
"Kamu kenapa kok diemin aku." Seru Reno tiba tiba memeluk Abel dari belakang,hingga membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan gelas yang dia pegang.
"Kamu kenapa ngagetin aku,lepasin aku!" Seru Abel masih memegang dadanya deg degan karena kaget.
"Nggak mau,kalau kamu belum bilang kenapa diemin aku."
"Kalau kamu kaya gini,aku nggak bisa jelasin dong." Seru Abel sambil menggigit tangan Reno.
"Awww,kenapa kamu gigit tanganku." Seru Reno mengibas ngibaskan tangannya berulang kali.
"Hahah biarin,habis kamu seenaknya meluk meluk nggak lihat sikon,kalau di lihat bi Yanti kan malu." Sahut Abel nyerocos hingga membuat Reno tersenyum.
"Berarti kalau nggak di lihat bi Yanti boleh dong meluknya." Ujar Reno mencodongkan tubuhnya ke arah Abel hingga Abel terbentur meja.
Jantung Abel berdegup nggak karuan,karena tidak bisa menghindar dari Reno,Abel susah payah menelan salivanya karena di tatap dalam oleh Reno.
Dari arah pintu masuk dapur terdengar suara langkah kaki yang sepertinya bi Yanti yang membuat Reno menoleh.
Abel tidak menyia nyiakan kesempatan untuk kabur,dia berhasil mendorong tubuh Reno dan segera keluar dari dapur.
"Huh awas ya,kali ini kamu bisa kabur.Nanti aku nggak akan melepaskanmu." Batin Reno .
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Jia menoleh dan kaget karena melihat Nara sudah berdiri di depan pintu.
"Pagi sayang." Sapa Nara tersenyum manis.
"Pagi." Jawab Jia dengan senyuman yang di buat semanis mungkin untuk menutupi rasa sakit yang dia rasakan sekarang.
"Kamu sudah siap belum?" Ucap Nara menghampiri Jia.
"Sudah dong." Seru Jia semangat.
"Ok kalau begitu kita berangkat sekarang." Ajak Nara.
Jia hendak berdiri tapi karena kakinya semakin terasa sakit dia duduk lagi.
"Kenapa?" Tanya Nara yang melihat Jia duduk lagi.
Jia mencari alasan yang tepat agar Nara tidak curiga.
"Ehmm...aku kangen di gendong kak Arga." Ucap Jia asal,karena bingung mau cari alasan apa.
"It's ok,aku bisa jadi apapun untuk mu baby." Seru Nara dan berjongkok di depan dan membuatnya tersenyum senang.
Saat hendak naik ke punggung Nara,tiba tiba Abel nyelonong masuk tanpa permisi.
"Ups maaf." Ucap Abel menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Hehe nggak apa apa beb,ayo kita berangkat!" Seru Jia yang sudah naik di punggung Nara dan berjalan keluar.
"Huh pagi pagi sudah di buat kaget dua kali,kalau begini terus aku bisa mati muda." Batin Abel."
.
.
.
.
.
Maaf kakak kakak yang sudah setia baca novelku upnya lama,karena sudah mulai kerja lagi.Tapi tetep di usahakan tiap hari update kok,jangan lupa kasih like dan votenya ya.