
"Jia adalah istriku!!" Seru Nara lagi dengan suara yang lebih meninggi hingga memekikkan telinga semua orang yang ada di situ.
Bima terkejut dengan mulut menganga,bersamaan dengan itu hatinya sangat terluka mendengar kenyataan Jia sudah menikah dengan lelaki di depannya dan itu berarti dia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Jia.
Tak berbeda jauh dengan Bima,Mia juga nampak syok,karena yang dia tahu mereka baru bertunangan.
"Bohong! Kalian cuma baru bertunangan bukan menikah,lagian Jia masih sekolah mana mungkin bisa menikah! Atau jangan Jia hamil duluan?" Tuduh Mia dengan menggebu-nggebu,hingga membuat Nara sangat marah.
"Tutup mulutmu! Dasar wanita tidak tahu malu.Jangan sekali-kali kamu menggunakan mulut sampahmu itu untuk menyebut nama istriku!" Nara mengepalkan tangannya masih menahan amarah di dadanya.
"Sudah Nara jangan hiraukan dia." Jia takut merasakan hawa mencekam yang di keluarkan Nara.
"Tidak sayang,dia sudah sangat keterlaluan,aku tidak akan membiarkan kamu di rendahkan." Ucap Nara menyentuh tangan Jia yang memeluk lengannya.
"Dasar kalian pembohong!" Seru Mia masih tidak terima.
"Sudah stop! Kalau yang ingin anda laporkan adalah tuan Nara dan nona Jia,anda sudah salah nona.Mereka memang sudah menikah,mereka menikah di desa ini beberapa waktu lalu dan saya sendirilah yang menjadi saksi di pernikahan mereka.Jadi nona, anda jangan memfitnah,ini sama saja pencemaran nama baik anda bisa di laporkan pada pihak yang berwajib." Ujar kepala desa penuh penekanan,hingga membuat Mia sedikit takut saat mendengar akan di laporkan pada pihak yang berwajib.
"Terima kasih,tapi anda tidak perlu repot-repot karena saya sendiri yang akan memberi wanita ini pembalasan." Ucap Nara membungkuk pada kepala desa.
"Oh baiklah kalau begitu tuan Nara,saya permisi kalau anda butuh bantuan saya,saya siap untuk membantu." Balas sang kepala desa kemudian beranjak pergi.
"Tuan ,maaf apa yang sedang terjadi." Sela Reno terengah-engah setengah berlari bersama Abel,saat mendengar keributan di tenda bosnya.
"Kamu urus wanita itu,pastikan mulai besok dia bukan lagi siswi di sekolahanku!" Seru Nara menunjuk Mia dengan telunjuknya."
"Hah..apa tuan? Ehm...baik tuan." Jawab Reno gugup,karena belum tahu duduk permasalahannya,tapi karena melihat kemarahan bosnya Reno bisa memastikan kalau wanita itutelah membuat kesalahan yang fatal.
"Nara...jangan...." Gumam Jia pelan penuh harap.Nara memandang Jia dalam, memberi isyarat kalau keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.Jia hanya bisa menghela nafas panjang,tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Anda tidak bisa melakukan ini tuan!" Seru Mia.
"Aku bisa melakukan lebih dari ini,kalau aku mau!!!" Seru Nara lagi melirik tajam ke wajah Mia.
"Ayo kembali ke vila sayang." Ajak Nara mendekap Jia dalam pelukannya,meninggalkan teman-teman Jia yang masih belum percaya kalau Jia sudah menikah.
"Jia tunggu! Bima menahan tangan Jia,dan langsung di hempaskan kasar oleh Nara.
"Jangan sentuh istriku!" Nara mengacungkan telunjuknya ke depan muka Bima dengan mata melotot menandakan kemarahannya yang sangat besar.
"Maaf,tapi Jia adalah ketua club dia harus tetap di sini sampai acara selesai." Ucap Bima mencoba tenang,karena dia sadar wanita yang dia cintai sudah menjadi milik orang lain seutuhnya.Dan dulu dia pernah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan mengejar Jia lagi kalau dia sudah menikah.
"Dengar baik-baik,mulai sekarang Jia keluar dari club motor."
"Nara..." Gumam Jia lirih mengangkat wajah menatap suaminya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Anda tidak bisa seenaknya mengambil keputusan,biarkan Jia sendiri yang menjawab." Ucap Bima tidak menyerah.
"Dia istriku,apa yang aku putuskan itu yang terbaik untuknya karena aku mempunyai hak atas dirinya.Apapun yang ingin dia lakukan harus mendapatkan persetujuan dariku karena dia tanggung jawabku." Nara berkata dengan tegas ,dan segera berlalu meninggalkan Bima yang terlihat sangat kecewa.
"Sudahlah kawan,kamu jangan mencampuri urusan Jia lagi." Nino menepuk bahu BIma memberikan semangat.
"Ini semua gara-gara kamu!" Seru Bima menatap Mia tajam lalu segera meninggalkannya pergi.
----
"Hah....kamu serius beb?" Tanya Abel seakan tidak percaya mendengar cerita Jia tentang kejadian tadi di tenda.
"Iya beb,aku sendiri juga tidak percaya Mia akan senekat itu ingin menjatuhkan aku.Dan asal kamu tahu beb,aku pernah mendengar sendiri kalau Mia ingin merebut Nara dariku." Jia menatap pandangannya kosong lurus ke depan di akhir ceritanya.Pikirannya berputar pada kejadian di masa lalu saat Mia merebut Bima darinya.
"Itu tidak akan terjadi sayang,aku tidak akan membiarkan seorangpun mengambilku darimu." Sahut Nara dari balik pintu.
"Tuan Nara." Gumam Abel lirih menoleh,dan Jia juga langsung tersadar dari lamunannya mendengar suara suaminya.
"Nara...." Gumam Jia lirih menatap suaminya yang sudah duduk di sampingnya.
"Kamu jangan terlalu memikirkan masalah tadi.Cepat atau lambat mereka juga akan tahu kalau kamu adalah istri dari Nara Araya Wiratama sayang." Ucap Nara lalu mengecup kening Jia lembut.
"Tapi Nara, jangan keluarkan Mia dari sekolahan!" Pinta Jia memelas.
"Sayang dia sudah banyak melakukan kesalahan yang menyakitimu.Dia tidak pantas menerima kebaikanmu."
"Tapi Nara,sekolah hanya tinggal beberapa bulan lagi,kasian dia."
"Sudahlah sayang,ayo tidur kamu perlu istirahat."
"Aku nggak mau....sebelum kamu mengiyakan permintaanku." Ucap Jia pura-pura ngambek.
"Ok,kalau begitu.Ternyata kamu milih cara lain untuk tidur sayang." Nara tersenyum penuh kelicikan dan langsung menyambar bibir Jia yang sedang menggerutu.
"Na....ra...lepa...sin...!" Jia tersengal-sengal mencoba mencari celah untuk bernafas di sela ciuman liar suaminya.
Nara tidak berhenti,mendengar Jia berontak semakin membuatnya bergairah untuk melanjutkan kegiatannya tadi yang belum cukup untuk memuaskan hasratnya.
"Arghhhh...Nara...no...tadi kan sudah." Ronta Jia di sela desahannya.
"Tadi terlalu singkat sayang,ribuan kali nggak akan bisa membuatku bosan sayang karena kamu itu canduku." Bisik Nara dan menggigit telinga Jia hingga menimbulkan desahan-desahan lagi dari bibir Jia,sedangkan tangan Nara sudah berhasil melepaskan kancing kemeja Jia dan melemparnya sembarang arah.
Entah berapa kali mereka melakukannya,Jia benar-benar kewalahan menghadapi gairah Nara yang sangat besar.
"Morning baby...." Bisik Nara mengecup kening Jia.
Jia menggeliat manja mengerjapkan matanya berulang kali.Setelah matanya terbuka,di lihatnya Nara sudah berpakaian rapi.
"Kamu mau kemana" Kok sudah ganteng sih?" Tanya Jia memejamkan matanya lagi membuat Nara menggelengkan kepala karena gemas melihat tingkah istrinya.
"Kamu lupa ya sayang kalau suamimu ini sudah ganteng sejak lahir." Goda Nara mencubit pipi Jia.
"Ah...Nara sakit." Gumam Jia reflek memegang pipinya dan terbangun dari tidurnya.
"Hehe maaf sayang...ayo bangun kamu sarapan.Ini aku sudah bawain nasi goreng kesukaan kamu."
"Tapi aku masih ngantuk,aku lelah." Jia kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuknya.Dia benar-benar kelelahan karena semalaman penuh Nara tidak melepaskannya.
Jia benar-benar sudah kapok untuk membohongi Nara.Karena itu hanya akan di jadikan Nara sebagai alasan untuk menghukumnya,yang artinya Nara akan meminta jatah lebih dari satu kali dan tidak akan melepaskan Jia sebelum Jia benar-benar kehabisan tenaga.
"Sayang,kok malah tidur lagi?"
"Ok kalau kamu nggak bangun,aku tinggal ya."
Melihat istrinya tidak juga bergerak dari posisinya,membuat Nara memutar otak mencari ide.
"Apa kamu nggak mau mengantarkan Arga?"
"Kemana? Kak Arga mau kemana?"
.
.
.
Bersambung.