
Pagi itu terlihat rombongan keluarga Nara,Jia dan Abel sudah berada di bandara untuk balik ke kota mereka,Arga dan Aldo tidak ikut pulang bersama mereka karena masih ada kepentingan dikota ini.Mereka pulang menggunakan jet pribadi milik keluarga Wiratama.
"Sayang kemarikan kopermu biar aku yang bawa." Nara mengambil koper yang dibawa oleh Jia.
"Wah tunanganmu memang cowok yang peka beb.'' Seru Abel sambil melirik ke arah Reno.Jia yang tahu sahabatnya sedang menyindir Reno hanya bisa menggelengkan kepalanya tersenyum kecil.
Reno melirik ke arah Abel dan langsung menyaut koper miliknya.
"Hey mau kau apakan koperku tuan.?" Tanya Abel setengah berteriak.
"Mau aku buang." Jawab Reno sambil berjalan meninggalkan Abel.
"Hahaha,,ternyata dia peka juga." Batin Abel.
Tiba tiba ponsel Reno bergetar hingga menghentikan langkahnya.Setelah dia mengangkat telfonnya Reno berjalan menghampiri Nara yang sedang duduk diruang tunggu menunggu kedua orang tuanya.Karena memang tadi mereka tidak berangkat bersama dari hotel.
"Tuan, tuan besar menelfon katanya masih ada urusan disini dan menyuruh kita untuk pulang duluan." Ucap Reno.
"Ok kalau begitu Ren kita langsung take off sekarang."Baik Tuan.
Mereka berempat sudah berada di dalam jet pribadi dan sudah take off sepuluh menit yang lalu.
"Sayang aku masih nggak menyangka kalau kita sebenarnya sudah di jodohkan dari dulu,padahal aku sangat membenci dengan namanya perjodohan." Ucap Nara sambil memainkan rambut Jia.
"Berarti kalau kemarin kita di jodohkan kamu bakal nolak dong." Seru Jia melirik Nara tajam.
"No baby,aku nggak akan nolak kalau itu kamu." Saut Nara sambil mencium tangan Jia yang sudah terlihat ngambek karena wajahnya sudah muncul aura menyeramkan.Baru kali ini Nara benar benar takluk dengan seorang wanita ,bahkan ini seorang gadis kecil.
"Halah bohong." Jia mengerucutkan bibirnya.Nara yang gemas langsung mencubit hidung Jia dan mencium pipinya.
"Argh...kamu mulai deh mesumnya." Seru Jia sambil mengelus pipinya yang sakit.
"Habis kamu ngegemesin baby." Tutur Nara tanpa rasa bersalah.Abel dan Reno menghela nafas melihat pemandangan di depan mereka yang membuat iri para kaum jomblo.Abel memilih ke bar mini yang ada dijet pribadi milik Nara.
"Beb,aku pergi ambil minum dulu ya." Abel bangkit dari duduknya.
"iya beb,mau aku temenin nggak?" Tanya Jia,yang di jawab gelengan kepala Abel.Reno yang nggak ingin melihat dua makhluk Tuhan di depannya ini bermesraan memilih menyusul Abel.
"Kamu ngapain ngikutin aku tuan?" Tanya Abel melirik Reno yang duduk di sampingnya.
"Siapa juga yang ngikutin kamu." Seru Reno menatap Abel,dan membuatnya salah tingkah.
"La ini buktinya tiba tiba sudah duduk di sampingku." Protes Abel.
"Kamu kenapa pindah duduk kesini."Tanya Reno balik .
"Huh,di tanya malah balik nanya! Aku kesini habisnya di sana kaya obat nyamuk lihatin orang lagi jatuh cinta bermesraan."
" Nah itu sama." Saut Reno.
Kurang dari dua jam mereka sudah sampai dikota tercinta,karena menggunakan jet pribadi jadi membuat perjalanan jadi lebih cepat.Dan mereka sudah sampai di depan rumah Jia,yang sebelumnya mengantarkan Abel terlebih dulu.
"Sayang aku nggak bisa mampir ya,karena aku harus langsung ke kantor mengurus beberapa pekerjaan." Ucap Nara berpamitan pada Jia.
"Apa kamu nggak capek,masa udah langsung mau kerja." Tanya Jia dengan wajah memelas belum mau berpisah dengan tunangannya itu.
"Capek sih tapi ini demi masa depan kita sayang,nanti pulang aku mampir kesini,ok! Sekarang kamu masuk terus istirahat!'' Nara mengecup kening Jia dan masuk kedalam mobil.Jia melambaikan tangannya menunggu mobil Nara pergi.
Sudah pukul empat sore tapi Nara masih berada di kantornya,karna banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan setelah dia tinggal beberapa hari kemarin.
"Oh iya Ren aku sampai lupa,rasanya aku sudah kangen dengan kesayanganku itu." Nara tersenyum karena baru tadi pagi ketemu tapi sekarang sudah kangen.Reno yang melihat bosnya senyum senyum sendiri hanya menggelengkan kepalanya,dia sudah mulai terbiasa dengan pemandangan seperti ini dari bosnya.
Nara sudah sampai dirumah Jia,dia disambut oleh bi Yanti,karena sudah diberi tahu Arga kalau Jia bertunangan dengan Nara jadi bi Yanti langsung mempersilahkan masuk.
"Silahkan masuk tuan Nara." Tutur bi Yanti sopan.
"Terimakasih bi,apa Jia ada bi." Tanya Nara setelah duduk di ruang tamu di ikuti Reno.
"Non Jia masih tidur di kamarnya tuan,biar saya bangunkan dulu." Imbuhnya.
"Nggak usah bi,biar saya saja."Saut Nara.
"Baiklah mari saya antar ke kamar non Jia tuan." Nara mengikuti bi Yanti dari belakang naik ke lantai dua.Reno yang di tinggal di ruang tamu sudah tertidur dengan posisi sembarangan karena kelelahan.
"Ini tuan kamar non Jia,saya permisi ke dapur dulu." Ujar bi Yanti meninggalkan tunangan majikannya itu.
"Iya bi,terimaksih.
Tok...Tok..
"Sayang...aku boleh masuk ya." Seru Nara,meminta ijin Jia untuk masuk.Tapi karena tidak ada sahutan,Nara membuka pintu yang tidak di kunci dan masuk ke dalam.
Nara melihat ke sekeliling mencari kesayangannya,di tempat tidur tidak terlihat Jia,dan matanya terhenti di sofa di depan tv yang menyala menayangkan film kartun spongebob. "Dasar anak kecil kesayanganku." Batin Nara tersenyum kecil melihat kesayangannya menonton film kartun sejuta umat itu.Dia menghampiri dan di lihatnya Jia tertidur di bawah karpet dengan beberapa kertas berserakan di sekitarnya.Nara mengambil satu kertas itu dan ternyata itu adalah sketsa sebuah gaun,Nara mengumpulkan semua kertas kertas itu dan melihatnya satu per satu.
"Kamu memang unik sayang,selain hobimu yang ekstrem seperti cowok,tapi kamu punya hobi lain dari sisi wanita juga." Gumam Nara tersenyum tipis.Karena tidak tega membangunkan Jia yang tidur sangat pulas,Nara menunggu Jia hingga tertidur di sebelah Jia dengan posisi duduk menyender di sofa.
Jia mengerjapkan matanya,terbangun karena merasa ada yang menyentuh tangannya.Dia kaget karena ada sebuah tangan kekar yang menggenggam tangannya,spontan Jia menoleh keatas,dia tersenyum lega karena di lihatnya Nara yang memegang tangannya.Dia memperhatikan wajah Nara yang sedang tidur.
"Terimaksih Tuhan sudah mengirimkan dia untukku." Batin Jia dengan senyum termanisnya.Jia hendak beranjak pergi untuk mandi tapi karena dia merasa kasian dengan posisi tidur Nara,lalu dengan susah payah dia menggeser tubuh Nara dan mengangkatnya pelan pelan keatas sofa dan menyelimutinya.
Selesai mandi Jia pergi ke dapur untuk membantu bi Yanti menyiapkan makan malam,saat melewati ruang tamu Jia tersenyum tipis karena di lihatnya Reno juga tengah tertidur. "Kasian mereka capek capek tapi di bela belain kesini."
"Non Jia sudah bangun?" Sapa bi Yanti yang melihat Jia hendak masuk ke dapur.
"Iya bi.Bi hari ini Jia mau masak buat Nara,ada bahan apa aja bi di kulkas?" Tanya Jia hendak berjalan membuka kulkas.
"Maaf non,tapi bibi sudah masak banyak untuk nona tuan Nara dan juga temannya." Ucap bi Yanti.
"Oh ya sudah bi terimakasih, kalau begitu Jia mau bangunin Nara dulu.Jia berlalu ke kamarnya.
Dikamar Nara masih terlihat tidur dengan pulas.Sebenarnya Jia tidak tega untuk membangunkan Nara,tapi karena sudah waktunya makan malam akhirnya Jia membangunkan Nara.Jia menyentuh pundak Nara dan menggoyang goyangkannya supaya bangun,tapi tidak berhasil.Jia menghela nafas.
"Huh....Sayang bangun ayo makan dulu,masa kamu nggak kasian sama aku sih,aku udah laper nih ntar kalau aku pingsan kamu harus tanggung jawab loh." Rengek Jia karena sudah terlalu lama Jia mencoba membangunkan Nara tapi tidak membuahkan hasil.Nara yang sebenarnya sudah bangun dari tadi berusaha menahan tawanya,mendengar rengekan Jia.Karena tidak tega mendengar Jia merengek kelaparan Nara membuka matanya,dan langsung mengecup bibir Jia.
Cup...
"Aku siap tanggung jawab sayang,apapun itu....."Ujar Nara tersenyum puas menggoda kesayangannya itu.
"Naraaaaaa..." Teriak Jia menahan malu.
.
.
.
Bersambung.