
Akhirnya waktu yang di nantikan akan segera tiba.Jia masih di depan meja rias memandangi wajahnya yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.Jia tampak elegan dan feminin dengan model kebaya di buat kerah bulat yang membuat lehernya tampak lebih jenjang,kebayanya menampilkan bagian bordir yang di aplikasikan di atas material tulle transparan.Sedangkan bagian belakang dibuat dengan model backless yang berkesan modern.Bawahannya memakai rok lilit berwarna senada dengan atasannya kuning keemasan menambah kesan mewah.
"Beb kamu cantik banget." Abel terkagum kagum dengan riasan Jia sekarang yang membuat pangling siapa saja yang melihatnya.
"Ini beneran aku nggak sih beb." Tanya Jia yang juga masih nggak percaya dengan riasannya.
"iya beneran kamu dong beb,wah nanti pasti Nara bakalan pangling deh sama kamu." Goda Abel.
Tok ...tok..
"Sayang,boleh kakak masuk?" Arga berdiri di depan kamar Jia.
"Masuk aja kak." Jia menoleh dan hendak berdiri menghampiri kakaknya tapi Arga menyuruhnya untuk tetap duduk .
"Stop sayang,biar kakak yang kesitu." Arga berdiri di belakang Jia yang masih menghadap di depan cermin.Memandang wajah adiknya yang sangat cantik malam ini.
"Kamu cantik sayang,kamu terlihat dewasa.Pa Ma,kalian lihat kan gadis kecilku sudah dewasa sekarang." Gumam Arga menunduk ditelinga Jia.Hingga membuat Jia terharu dan hampir menangis karena kakaknya menyebut papa dan mamanya.
"Papa sama mama nggak akan marah kan kak karena Jia melangkahi kakak." Tanya Jia yang sudah menangis menatap kakaknya dicermin.
"Nggak akan sayang,mereka pasti juga ikut bahagia karena Jia mendapatkan lelaki yang baik yang sayang sama Jia." Jawab Arga menenagkan adiknya.Tanpa mereka sadari mama Ajeng mendengar semua percakapan mereka.
"Cantiknya calon menantu mama ini." Seru Ajeng mencairkan suasana.
"Mama..." Seru Jia,Arga dan Abelpun menoleh kearah mama Ajeng yang sudah berada di samping mereka.
"Sayang mama pangling sama kamu,kalau Nara lihat pasti dia nggak mau tunangan deh tapi pasti langsung minta dinikahin aja." Gurau mama Ajeng,dan di sambut tawa Arga dan Abel tapi tidak dengan Jia.
"Mama sama anak kok sama aja sih sukanya bikin syok terapy." Batin Jia sambil memegang dadanya.
Mama Ajeng sudah duduk di samping Jia dan Arga juga sudah duduk di hadapan mama Ajeng sesuai permintaannya.Sedangkan Abel memilih duduk di sofa sambil masih sibuk dengan makanannya.
"Nak Arga,Jia boleh tanya sesuatu sama kalian." Ucap mama Ajeng serius hingga membuat Arga dan Jia tegang.
"Iya ma mau tanya apa?" Jawab Jia.
"Sebenarnya mama sudah lama ingin menanyakan ini tapi mama masih menunggu waktu yang tepat,dan mama pikir sekarang waktu yang tepat apalagi mama sudah sangat penasaran." Ajeng berhenti sejenak dan menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.Arga dan Jia hanya bisa menerka nerka apa yang mau mama Ajeng tanyakan.
" Apa nama orang tua kalian Galih dan Kinanti?" Mama Ajeng tampak berat mengucapkan nama kedua sahabatnya itu,di hati kecilnya dia berharap kalau nama itu bukan nama orang tua Arga dan Jia.Karena kalau iya berarti dia harus bersiap menerima kenyataan kalau kedua sahabatnya itu sudah tiada.
Arga dan Jia saling pandang sebelum akhirnya mereka menjawab.
"Iya ma itu nama kedua orang tua Jia dan kak Arga." Jawab Jia belum paham maksud mama Ajeng.
"Oh Tuhan....kenapa harus mereka." Seketika itu juga mama Ajeng memeluk Jia dan Arga dengan air mata yang sudah mengalir deras tak bisa di tahan lagi.Jia dan Arga hanya diam saja dipeluk mama Ajeng karena mereka tidak tahu mengapa mama Ajeng menangis.
"Kenapa mama menangis?" Arga memberanikan diri untuk bertanya,mama Ajeng melepas pelukannya dan menghapus air matanya.Dia mulai menceritakan kisah awal persahabatannya dengan orang tua mereka yang sesuai dengan dugaannya kalau Arga dan Jia anak dari Kinanti dan Galih sahabatnya, sampai rencana menjodohkan anak kalau nanti mereka sudah menikah dan mempunyai anak.
"Dunia ini memang sempit,mama sedih nak mengetahui kenyataan kalian anak dari Kinan dan Galih,karena itu berarti mama tidak mungkin bisa bertemu dengan mereka.Tapi disisi lain mama bahagia akhirnya perjodohan itu benar benar bisa terjadi,dan mama bisa tetap melihat mereka di diri kalian." Ucap mama Ajeng sambil menyeka air matanya yang jatuh,dan kembali merengkuh kedua anak dari sahabatnya itu kedalam pelukannya.
Abel yang duduk disofa ikut terharu mendengar percakapan mereka. "Oh Tuhan ini seperti sinetron." Batin Abel.
"Permisi nyonya,acaranya akan segera di mulai anda dan nona Jia di mohon untuk turun kebawah." Suara salah satu bodyguard memecah keheningan diruangan tersebut.
"Iya tunggu sebentar kami akan segera turun." Saut mama Ajeng sembari mencium kening Arga dan Jia dan melepas pelukannya.
"Sayang mama turun dulu ,nanti sepuluh menit lagi kalian nyusul ya."
"Iya ma." Jawab Arga dan Jia serentak.Mama Ajeng tersenyum lalu meninggalkan mereka keluar.
"Kak,kenapa bisa kebetulan begini ya." Gumam Jia lirih sambil mengusap air matanya.
"Ini sudah takdir sayang,kakak semakin tenang melepasmu untuk Nara apalagi orang tua mereka sahabat dari mama dan papa." Ujar Arga dengan tersenyum.
"Ok sayang ayo kita turun,Bel ayo." Seru Nara berdiri menuntun Jia.
"Iya kak." Saut Abel bergegas dan berdiri di samping kiri Jia dan menggandengnya,dan di sebelah kanan Arga sudah menggandeng tangan Jia.
"Ma,Jia mana kok nggak turun sama mama." Tanya Nara yang melihat mamanya datang sendiri.
"Jia sama Arga dan Abel sayang,kamu yang sabar kenapa.Tenang aja Jia nggak akan kabur,dia itu memang jodoh kamu sayang." Ucap mama Ajeng dengan tersenyum tapi ada sedih yang tersembunyi dari ucapannya.Papa Wira menatap mata istrinya meminta penjelasan dengan isyarat matanya,seolah tahu mama Ajeng menganggukan kepalanya dan memejamkan mata menutupi kesedihannya.
Papa Wira menggenggam tangan istrinya memberi kekuatan.
"Kita akan menjaga mereka mah." Bisik papa Wira sambil mengusap punggung istrinya.Nara yang merasa ada yang sesuatu yang membuat mamanya sedih hendak bertanya,tapi di urungkannya karena mendengar suara gaduh dan bisikan bisikan dari para tamu.
Sampai di depan pintu masuk semua mata tertuju pada Jia yang tampak begitu cantik dan Anggun,mereka saling berbisik memuji kecantikan Jia.Nara yang mencari sumber kegaduhan langsung terkesiap melihat calon tunangannya yang begitu cantik.
"Kak Jia gugup,kenapa semua nglihatin Jia.Apa dandanan Jia kaya badut ?" Bisik Jia salah tingkah karena semua mata tertuju padanya.
"Tenang sayang kakak akan selalu disampingmu." Ucap Arga dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Bukan kaya badut beb,mereka semua takjub dengan kecantikanmu." Imbuh Abel menenangkan sahabatnya saat merasakan tangan Jia menjadi dingin karena nervous.
Akhirnya sampailah Jia dihadapan Nara yang tak berhenti memandang wajah Jia.Tak lama kemudian pembawa acara menyuruh mereka untuk saling menyematkan cincin.
Prok...prok...
Terdengar riuh tepuk tangan saat Nara dan Jia sudah saling bertukar cincin.
"I Love You baby." Seru Nara. membuat muka Jia memerah.
------------