NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Kecewa



"Sudah dong sayang jangan ngambek lagi!" Nara menyandarkan dagunya di bahu Jia yang sedang berdiri di depan cermin meminta untuk di maafkan karena sudah membohongi Jia perihal kakaknya.


"Sayang please dong ngambeknya jangan lama-lama,aku bisa gila kalau kamu diemin kaya gini,mending aku di marahi habis-habisan dari pada harus di diemin kamu." Imbuh Nara lagi memelas mengedip-ngedipkan mata di depan Jia memohon.


Jia tertawa lepas saat sudah tidak bisa menahan tawanya dari tadi.Melihat wajah Nara yang lucu seperti anak kecil membuat Jia tidak tega mendiamkannya lebih lama lagi.


"Hahaha...muka kamu lucu banget,kaya bencong tahu." Seru Jia masih tertawa lebar.


"Apa kamu bilang sayang,kamu ngatain aku ya?Ok ini terima pembalasanku." Ucap Nara ikut tertawa dan kini sudah menggelitik Jia tanpa ampun hingga tanpa sadar mereka sudah ambruk di ranjang.


"Ampun Nara....ampun." Teriak Jia menahan geli di tubuhnya.


"No,sayang ini baru permulaan." Nara menyeringai penuh maksud hingga membuat Jia merinding melihatnya.


"Jangan macem-macem Nara!" Jia melototkan matanya saat merasakan Nara menggigit pelan salah satu benda sensitif di dadanya hingga membuat Jia menjerit meronta untuk di lepaskan.


"Nara stop,geli..." Ronta Jia berulang.


"Geli tapi enak kan sayang." Nara tersenyum puas sudah bisa menggoda istrinya.


"Kamu nakal Nara,nyebelin tahu.Lihat pembalasanku ini." Gerutu Jia menggigit balik dada Nara.


"Awww...sayang ahhhh terus..." Gumam Nara yang membuat Jia sebal karena bukannya kesakitan tapi malah membuat Nara keenakkan karena gigitannya.


"Loh kok berhenti sayang?" Goda Nara terkekeh melihat raut wajah Jia yang manyun kesal.


Nara tiba-tiba mendekap tubuh Jia dari belakang. " Di gigit seratus kali sama kamu tidak akan membuat aku sakit sayang,karena setiap sentuhanmu sudah menjadi candu buatku." Bisik Nara pelan di telinga Jia hingga membuat Jia merinding karena hembusan lembut nafas Nara menerpa kulit lehernya.


"Dasar tukang gombal." Gerutu Jia untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah karena mendengar kata-kata suaminya.


-----


"Selamat pagi Justin,Bagaimana hari pertamamu di Indonesia lagi setelah sekian lama kamu tidak pulang?" Sapa Aruna dan berdiri menyambut keadatangan Justin.


"Pagi nona Aruna...sangat menyenangkan." Balas Justin tersenyum menyalami Aruna.


"Wow...Really? Tanya Aruna sambil mempersilahkan Justin duduk.


"Yes....karena aku bertemu wanita yang mengagumkan dan membuatku penasaran." Gumam Justin ada seulas senyuman di bibirnya.


"Wah siapa wanita itu?" Aruna jadi penasaran.


"Entah..." Jawab Justin menaikkan pundaknya.Dan membuat Aruna mengernyitkan dahinya heran pada pria bule di depannya ini.


Aruna ingin bertanya lebih jauh lagi tapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada pria yang sudah tersenyum padanya dari arah pintu,siapa lagi kalau bukan Arga calon suaminya.


"Sayang,maaf ya nunggu lama." Sapa Arga mencium kening Aruna.


"Nggak kok sayang,ini juga baru sampai.Oh ya kenalin ini Justin yang ingin meminta desain-desain baju dari Jia. Dan Justin kenalin ini Arga calon suamiku" Ujar Aruna memperkenalkan Arga dengan Justin.


"Arga..."


"Justin."


"Oh jadi anda yang ingin bekerja sama dengan adik saya? Ucap Arga tersenyum ramah.


"Oh betapa beruntungnya saya bisa bertemu kakak desainer yang berbakat seperti adik anda." Justin membalas senyuman dari Arga.


"Kenapa aku seperti pernah melihat wajahnya." Batin Justin mencoba mengingat.


"Oh ya maaf Justin,aku nggak bisa lama-lama jadi kamu nggak keberatan kan kalau kita membahas kerjasama sekarang?"


"Tentu nona Aruna,kebetulan saya juga ada urusan setelah ini.Kalau kita bisa membahas secepatnya itu lebih bagus."


Setelah cukup lama,akhirnya sudah ada kesepakatan diantara mereka.Jia sudah memberikan kepercayaan penuh pada calon kakak iparnya itu untuk mengurus semua yang berurusan dengan kerjasama,karena Jia tipikal orang yang nggak mau ribet,dia lebih suka hanya menggambar desain dari pada harus mengurusi hal-hal seperti itu.


"Terimakasih Justin,senang bisa bekerja sama denganmu." Balas Aruna.


"Sayang sepertinya kamu cukup akrab dengan dia." Tanya Arga tiba-tiba saat di dalam mobil tapi masih tetap fokus menyetir mobil.


"Iya sayang,aku sudah cukup lama mengenalnya.Dia sebenarnya juga orang Indonesia tapi dia bersekolah di Belanda dan mengambil jurusan kedokteran di Belanda dan sekarang juga dia sedang magang di salah satu rumah sakit terbesar disana.Dia juga punya usaha di bidang fashion sama seperti aku dan Jia,dan satu lagi yang terpenting dia juga salah satu pelanggan tetapku karena sangat menyukai karya dari Jia." Aruna menjelaskan panjang lebar tentang Justin.


"Lalu apa dia punya keluarga di sini?" Tanya Arga lagi.


"Ehm...mungkin tapi itu aku nggak begitu tahu sayang,yang aku tahu dia kesini ingin mengisi liburannya."


"Oh...begitu."


--------


"Sayang bukannya ini jalan ke acara baksos ya? Tanya Jia melihat ke arah suaminya yang sedang fokus bermain game di ponselnya.


"Iya ya beb...." Timpal Abel,melirik Reno yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya meminta jawaban,tanpa berniat ingin menjawab Reno hanya tersenyum kecil membalas lirikan Abel hingga membuat Abel sedikit kesal.


Sedangkan Jia masih menunggu jawaban dari suaminya.Merasa di acuhkan Jia lantas merebut ponsel Nara secara paksa.


"Sayang kok di ambil sih,balikin sini bentar lagi sudah mau menang!" Rengek Nara seperti anak kecil meminta mainan pada ibunya.


"Nggak, jawab dulu pertanyaanku tadi." Jia menatap kesal suami di depannya itu.


"Huft...ini surprise buat kamu sayang." Jawab Nara akhirnya menghela nafas panjang.


"Surprise? Surprise apa? Tanya Jia penasaran.


"Sayang yang namanya surprise itu rahasia,kalau aku kasih tahu sekarang namanya bukan surprise dong." Nara mencubit hidung Jia gemas.


"Jia lihat....!" Ucap Abel melongo,karena melihat pemandangan di depannya.


Mendengar suara Abel membuat Jia menoleh ke arah depan seperti seruan Abel.Jia nggak kalah terkejut sudah berada di area baksos apalagi melihat satu mobil box berukuran besar penuh dengan barang-barang untuk di sumbangkan di acara baksos itu.Jia berganti menatap suami di sampingnya meminta penjelasan.


"Iya sayang....semalam aku berpikir lagi.Rasanya nggak adil kalau memaksamu keluar dari klub motor tanpa meninggalkan kenangan untuk teman-temanmu." Ucap Nara menjawab sorot mata Jia yang penuh tanya.


"Terimakasih sayang." Jia reflek memeluk Nara karena terlalu senang hingga tidak menyadari kalau dia sedang semobil dengan Abel dan Reno.


"Kasih hadiah dong!" Pinta Nara menunjuk bibirnya memasang wajah yang di buat seimut mungkin.Dan tanpa pikir panjang Jia menuruti permintaan suaminya yang terkesan alay itu masih belum sadar kalau dua orang di depan mereka merasa gerah melihat keromantisan mereka.


Abel dan Reno hanya bisa saling pandang melihat kemesraan Jia dan Nara,walaupun sudah sering melihatnya tapi tetap saja kali ini Abel kegerahan di dalam mobil yang ber ac.Reno pun jadi salah tingkah saat pandangannya bertemu dengan mata Abel.


"Ehm...kita mau turun sekarang apa nanti tuan." Ucap Reno memecah keheningan dan masih menatap wajah Abel yang memerah.


"Kita turun sekarang Ren." Jawab Nara tanpa bersalah seolah tidak terjadi apa-apa.Padahal karena kelakuan alaynya tadi sudah membuat Reno dan Abel merasa kepanasan.


Begitu juga dengan Jia,seakan sudah ketularan dengan kemesuman Nara,dia juga bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.Mereka tidak sadar kalau kedua orang itu belum menikah dan mejadi kegerahan karena melihat kemesaraan mereka,


----


"Dimana dia,kenapa dari tadi aku tidak melihatnya." Tanya Justin dalam hati sambil mencari-cari seseorang yang sudah membuatnya tidak tidur semalaman.


Senyumnya mengembang saat melihat sosok orang yang dia cari dan segera melangkahkan kakinya ingin menghampiri,tapi seketika juga senyumnya juga memudar dan langkahnya terhenti karena melihat seorang pria memeluk erat pinggang wanita yang dia tunggu dari tadi.Dan terlihat kekecewaan terpancar dari raut wajahnya.


"Huft....."' Justin menghela nafas kecewa.


.


.


.


Bersambung.