NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Senyuman Ancaman



"Huaammmm...." Jia menggeliat dan membuka matanya perlahan,tapi dia merasakan menahan sesuatu yang berat di pinggangnya. Jia berteriak saat tahu ada tangan yang memeluknya dari belakang seketika juga dia menyingkirkan tangan itu dengan kasar.


"Aaaaaa....,siapa ka..."


"Sayang ini aku,suamimu!" Gumam Nara kembali memeluk Jia tanpa membuka matanya.


"Suami...Oh iya astaga aku lupa aku kan tadi malam sudah nikah sama Nara." Gumam Jia menepuk dahinya baru teringat kalau dia sudah menikah.


Semalam saat semua kesalah pahaman sudah terungkap,Jia meminta untuk pulang karena tidak ingin terlalu lama bolos sekolah.Walau awalnya harus berdebat dulu dengan Nara,karena Nara tidak ingin pulang dia ingin menikmati malam pertamanya bersama Jia di sana tapi Jia tidak mau dan terus memaksa untuk pulang.


Akhirnya Nara menuruti permintaan Jia untuk pulang malam itu juga karena dia tidak mau berdebat terus dengan Jia,dan lebih takut kalau istrinya itu ngambek.


Jia membalikkan badannya dan memandangi wajah suaminya yang masih menutup mata tertidur pulas.Jia usil menyentuh hidung Nara dan mencubitnya.


"Ah kenapa dia tiba-tiba ngegemesin kaya gini." Batin Jia dan tersenyum kecil.


"Sayang jangan menggoda aku pagi-pagi begini." Gumam Nara tanpa membuka matanya.


"Siapa juga yang menggoda kamu." Balas Jia yang malah mencubit kedua pipi Nara sangking gemasnya.


"Hah,kamu benar-benar menggodaku sayang." Bisik Nara yang kini sudah berpindah posisi menindih Jia dan menatap kedua mata Jia tanpa berkedip,nafasnya sudah tidak beraturan.


Nara yang sebenarnya dari tadi sudah bangun memang sengaja membiarkan Jia bangun terlebih dahulu,dia takut tidak bisa mengontrol diri untuk melakukan malam pertamanya yang tertunda semalam .Karena tadi malam saat sampai di rumah Jia tidur sangat lelap jadi dia tidak tega membangunkan istrinya itu.


"Apa kamu mau mengganti malam pertama kita pagi ini sayang?" Bisik Nara lagi yang benar-benar sudah tidak bisa menahan diri.Sepertinya dia akan mengingkari janjinya untuk mengijinkan Jia masuk ke sekolah hari ini karena Nara sudah tidak bisa menahan keinginannya.


"Ah Nara kamu kan sudah jan...Emhmmp...Na...ra stop! Ucap Jia terbata,karena bibirnya sudah di cium oleh Nara dengan hangat yang penuh gelora.


"Aku menginginkannya sekarang sayang...!" Bisik Nara dengan nafas terengah-engah,nafasnya terasa panas menyentuh kulit leher Jia hingga membuatnya menggelinjang merinding merasakan hembusan nafas Nara.


"Tapi kamu sudah janji,kalau aku boleh masuk sekolah hari ini." Ucap Jia parau yang sudah mulai terbawa suasana yang di ciptakan Nara.


"Please sayang....!" Bisik Nara menatap mata Jia dengan tatapan memohon.


Jia yang juga sudah merasakan gairah dan merasa tidak tega melihat Nara memohon akhirnya dia menganggukkan kepalanya memberi ijin pada Nara untuk melakukannya.


Nara tidak menyia-nyiakan waktu lagi setelah mendapatkan ijin dari Jia.Dia langsung mencium bibir Jia dengan cepat tapi tetap penuh kehangatan,lama dia menciumi bibir Jia hinga membuatnya kesulitan bernafas.


Melihat nafas Jia tersengal sengal Nara segera melepaskan ciuman di bibir Jia dan berganti turun menyusuri setiap jengkal leher jenjang Jia,di kecupnya leher Jia hingga meninggalkan sedikit bekas kissmark di sana,Tangan Nara juga sudah bergerilya berada di dada Jia yang entah sejak kapan kancing kemejanya sudah terbuka.


Jia mendesah saat Nara sudah menyentuh dua benda sensitifnya,menciuminya bergantian dan meninggalkan beberapa bekas kissmark di sana,tubuhnya terasa panas menerima setiap sentuhan dan kecupan dari Nara,sesekali Jia mendesah dan menggelinjang kegelian karena tingkah nakal Nara.


Mendengar suara desahan dari bibir Jia membuat Nara semakin bergairah.Dalam hitungan detik Nara sudah melucuti baju yang di kenakan Jia satu per satu dan juga bajunya sendiri hingga kini mereka tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya.


Sejenak Nara menatap tubuh Jia dan membuatnya menelan salivanya saat melihat setiap lekuk tubuh istrinya yang menggoda itu.Jia hendak mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya karena malu di pandangi Nara,tapi dengan cepat Nara menarik selimut itu lagi.


"Sayang kamu sudah jadi milikku jadi nggak ada alasan kamu untuk malu." Ucap Nara yang sudah menindih tubuh Jia.


"Nara aku takut.." Gumam Jia sambil menggigit bibir bawahnya.


"Aku akan melakukannya dengan pelan sayang..." Bisik Nara kembali mencium bibir Jia.


"Ahhhh,Nara.....sakit." Jia mendesis merasakan sakit saat Nara sudah berhasil menyatukan tubuh mereka.


"Naraaa...." Jia mendesis kesakitan lagi ada cairan bening yang keluar dari ke dua sudut matanya,ia mendorong tubuh Nara seraya memejamkan matanya.Ke dua tangan Jia meremas kuat kain sprei untuk menahan rasa sakitnya.


"Tahan ya sayang." Bisik Nara memberikan ciuman di bibir Jia untuk menahan rasa sakitnya.


Cup.


"Terima kasih sayang." Bisik Nara setelah mencium kenig Jia.


Jia tidak merespon ucapan Nara,karena dia benar-benar kelelahan dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya.Tidak butuh waktu lama untuk Jia terlelap tidur.Nara tersenyum memandangi wajah Jia yang penuh dengan peluh keringat.Nara memeluk Jia dan tidur di sampingnya.


---


"Bi,tolong nanti antarkan makanan ke kamar saja untuk Jia dan Nara." Ucap Arga setelah sarapan sendirian.


"Baik tuan." Jawab bi Yanti.


"Oh ya nanti kalau mereka sudah bangun tolong bilang kalau saya sudah berangkat ke kantor dan akan ke luar kota selama 2 hari,ya bi."


"baik tuan." Ucap Bi yanti lagi dan segera merapikan meja makan.


"Awwwww...Jia mendesis kesakitan saat hendak bangun dari tempat tidur.Nara segera terbangun saat mendengar suara istrinya merintih kesakitan.


"Sayang kamu kenapa?"


"Ini gara-gara kamu." Gerutu Jia sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Maaf sayang,habisnya kamu sangat menggoda." Ucap Nara dan langsung mengecup bibir Jia lagi yang masih menggerutu.


Melihat Jia seperti itu membuat Nara kembali ingin melakukannya lagi.Di raihnya dagu Jia dengan tangannya dan tanpa menunggu persetujuan dari Jia,Nara segera mencium bibirnya dengan rakus,seakan sudah mendapat tenaga lagi setelah tidur tadi Nara segera menarik tubuh Jia dan membaringkannya di tempat tidur.


"Nara,aku lelah.." Rengek Jia,memohon pada Nara supaya di lepaskan.Tapi Nara yang sudah di kuasai hasratnya lagi tidak menghiraukan rengekan Jia.


Dia memeluk tubuh Jia saat sudah mencapai puncak untuk yang kedua kali.Jia benar-benar kelelahan menghadapi keinginan Nara hingga dia kembali tertidur dalam pelukan suaminya.


Nara terbangun saat matahari sudah berada di tengah-tengah,dia membuka matanya dan tersenyum saat melihat wajah istrinya yang terlihat semakin cantik saat tidur,di kecupnya lagi kening istrinya sebelum dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi,Nara keluar dari kamar hendak menuju dapur mengambil makanan, perutnya sudah sangat lapar setelah tenaganya terkuras karena aktifitasnya tadi.Tapi di depan kamar sudah terlihat bi Yanti yang hendak mengetuk pintu kamar dengan membawa nampan berisi dua piring makanan dan dua gelas susu.


"Eh tuan selamat siang.Saya mau mengantarkan makanan." Ucap bi Yanti.


"Oh ya bi terimakasih." Balas Nara dan mengambil alih nampan dari tangan bi Yanti.


"Oh ya bi apa Arga sudah berangkat ke kantor." Tanya Nara sebelum masuk ke kamar.


"Iya tuan,tuan muda Arga sudah berangkat tadi pagi,dan berpesan kalau dia akan keluar kota selama dua hari." Jawab bi Yanti lalu pamit permisi.


Nara tersenyum mendengar pesan dari bi Yanti. "Kamu memang kakak ipar yang pengertian Ga,aku akan segera memberimu ponakan kalau begitu." Batin Nara dengan tersenyum licik penuh kemenangan dan tentunya ancaman untuk Jia.


.


.


.


Bersambung.


jangan lupa dukungannya ya kak,kasih vote rate dan juga likenya ya.