NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Tunggu Aku Sayang



"Pa udah ah geli tahu....lihat nih sayang papa kamu selalu gangguin mama...."


"Ya nggak apa-apa kan sayang kalau papa gangguin mama ketimbang papa gangguin wanita lain...iya nggak sayang?" Nara menciumi perut Jia mengadu pada anaknya yang ada di kandungan Jia.


"Huh awas saja kalau berani! Ah kamu nyebelin,ngerusak mood aku aja,kalau gitu aku mau pergi saja.Kita pergi aja yuk sayang,papa kamu sudah nggak sayang sama kita!" Jia mengusap anak dalam perutnya lalu beranjak bangun dari ranjang.


"Sayang kamu mau kemana? Maafin aku,aku kan cuma bercanda tadi." Nara memegangi tangan Jia,tapi dengan cepat Jia menepis kasar tangannya dan tetap melangkah pergi meninggalkan Nara.


"Aku nggak mau maafin kamu,aku tetap mau pergi." Setelah Jia mengucapkan kata-kata itu dia sudah tak terlihat lagi.


"Sayang tunggu kamu jangan pergi,aku mohon maafin aku....!"


"Jia....jangan pergi....!!!!"


"Tuan...bangun.....sadar tuan!" Reno mengguncang bahu Nara agar terbangun dari tidurnya.


Nara membuka matanya melihat ke sekeliling kamarnya.Ada Reno,Abel dan juga Reza di hadapannya,tapi Nara tidak menemukan sosok wanita yang dia cari.Nara bangun dari tidurnya lalu duduk dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Anda mimpi buruk tuan?" Reno memberikan segelas air putih untuk menenangkan bosnya.


"Iya Ren,Jia pergi ninggalin aku.Dia pergi..." Jawab Nara dengan suara parau membuat semua yang melihatnya merasa iba.Tak terkecuali Abel.


"Jia kamu gimana? Aku tahu kamu terluka,tapi lihatlah suamimu sekarang dia begitu hancur tanpa kamu di sisinya." Ucap Abel dalam hati.Dia seakan tahu bagaimana rasanya di posisi Nara kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya.


"Apa kamu pusing Nara?" Tanya Reza hendak memberikan obat penenang pada Nara.


"Aku tidak butuh ini Za,yang aku butuhin adalah Jia." Ucap Nara menghentikan niat Reza.


"Apa kamu sudah mendapat kabar tentang Jia Ren?"


"Maaf tuan saya belum mendapat kabar dari nona Jia,tapi sepertinya nona Jia pergi ke luar negeri karena dari laporan orang suruhan kita nona Jia tidak berada di vilanya yang ada di Bali dan juga Bandung."


"Tapi kamu bilang tidak ada nama Jia di daftar penumpang kemarin?" Pertanyaan Nara membuat Reno mengerutkan kening mencoba berpikir keras.


"Dia mungkin naik pesawat pribadi." Celetuk Reza membuat Nara dan Reno menoleh padanya.Nara langsung menoleh ke arah Reno karena menurutnya ada benarnya juga ucapan Reza.


"Ren kamu hubungi segera!" Tanpa menunggu lama Reno segera menghubungi pilot pribadi keluarga Nara.


"Tuan,mereka tidak mengantarkan nona Jia." Ucap Reno setelah selesai dengan telfonnya.


"Mana mungkin nona Jia menggunakan pesawat pribadi keluargamu Nara,itu konyol dia kan ingin pergi darimu dengan naik pesawat pribadimu itu tentu saja akan membuatmu dengan cepat mengetahui kepergiannya.Dan istrimu bukan wanita yang bodoh Nara."


------


"Nona anda mau kemana? Ini masih pagi." Justin menegur Jia yang sudah keluar dari kamarnya dengan membawa koper.


"Aku mau pulang tuan,terimakasih sudah merawat saya." Sahut Jia menyeret kopernya menghampiri Justin.


Justin menghela nafas,seakan berat kalau harus berpisah dengan wanita yang masih menempati ruang tertinggi di hatinya itu.Ingin rasanya dia mencegahnya tapi itu tidak mungkin,itu hanya akan membuatnya tidak nyaman.Justin ingin menjadi temannya dulu,mendekatinya dengan pelan-pelan.Justin seakan menutup mata dengan status Jia yang sudah bersuami dan bahkan dia seakan melupakan kalau Jia sedang hamil.


"Ehm...baiklah nona,tapi anda harus sarapan dulu dan setelah itu ijinkan saya untuk mengantar anda.Kalau anda tidak mau saya tetap akan memaksa." Ucap Justin akhirnya setelah lama berpikir.


Tanpa berpikir lama,Jia segera duduk di samping Justin dan membiarkan dia yang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.Jia tahu kalau dia menolak pasti akan semakin lama untuknya bisa pergi dari rumah Justin.Jia memakan sandwich buatan Justin dengan cepat hingga membuatnya tersedak.


"Uhuk...uhuk.." Justin panik melihat Jia tersedak,dia segera mengambil air putih dan memberikan pada Jia.


"Pelan-pelan aku tidak minta." Ucap Justin mengusap pelan punggung Jia,dan membuat Jia merasa risih karena di sentuh oleh lelaki selain suaminya.


"Maaf tuan...." Jia mencoba menepis tangan Justin dan sedikit menjauhkan tubuh darinya.


"Maaf nona,aku tidak bermaksud." Justin segera menjauhkan tangannya.Dia tahu kalau Jia tidak nyaman dengan perlakuannya.


"Ehm...iya." Sahut Jia masih menundukkan kepalanya yang membuat Justin merasa bersalah.


Justin mengambil alih koper yang di bawa Jia,dan membawanya duluan ke luar di ikuti Jia dari belakang.


"Nara,aku rindu...." Batin Jia memejamkan matanya.Ada rasa sesak di dadanya dan juga penyesalan di hatinya karena sudah pergi meninggalkan suaminya.


"Tidak Jia,kamu harus kuat.Kamu pasti bisa tanpa dia.Kita pasti bisa sayang." Gumamnya pelan mencoba menyemangati dirinya sendiri dan mengusap pelan perutnya mencari kekuatan dengan meminta dukungan dari janin di perutnya.


"Bisa anda berikan alamatnya nona?" Tanya Justin saat sudah di dalam mobil membuyarkan lamunan Jia.


"Ehm...i...iya tuan ini." Jia memberikan alamat rumahnya pada Justin.Sebenarnya Jia cukup lega karena di antar oleh Justin jadi dia tidak perlu susah-susah untuk mencari alamat rumahnya yang pasti akan membutuhkan waktu lama dan mungkin bisa membuatnya tersesat karena belum hafal dengan jalan di negara ini.


Justin mengernyitkan dahinya memandang Jia setelah melihat alamat rumah yang Jia berikan.Tapi tidak mau membuat Jia merasa tidak nyaman lagi Justin segera menghidupkan mobilnya.


"Kenapa alamat rumahnya sama seperti alamat rumah yang aku rekomendasikan pada nona Aruna." Batin Justin bertanya-tanya pada hatinya.


Drt...drt...


Suara dering telfon dari ponselnya membuyarkan pikiran Justin,di ambilnya ponselnya yang berada di saku celana.


"Umur panjang." Gumam Justin tersenyum melihat nama Aruna di panggilan telfonnya,dia segera memasang headset untuk menjawab telfon Aruna.


"Halo nona Aruna,apa kabar?"


Deg....


Jia menoleh pada Justin saat mendengar dia mengucapkan nama Aruna yang langsung membuatnya teringat pada kakak iparnya.


"Halo tuan Justin,saya dengar anda sudah kembali dari Indonesia." Sahut Aruna di ujung telfon.


"Iya nona baru kemarin saya tiba." Sahut Justin dan melirik ke arah Jia bertanya-tanya karena melihat perubahan di wajahnya.Lebih tepatnya melihat kesedihan.


"Sepertinya dia menyimpan banyak masalah."


Batin Justin membuat asumsi sendiri.


"Tuan apa kita bisa bertemu? Maaf saya tahu anda masih lelah,tapi karena saya beberapa hari lagi kan balik ke Indonesia jadi dengan terpaksa saya harus mengganggu waktu istirahat anda."


"Oh iya nona,tidak apa-apa anda tidak perlu sungkan dua jam lagi kita bertemu di tempat biasa,ajaklah suami anda juga.Saya tidak enak kalau harus bertemu hanya berdua dengan wanita yang sudah bersuami,apalagi pengantin baru." Ucap Justin tertawa menggoda Aruna,tanpa sepengetahuannya perkataannya membuat Jia mengerucutkan bibir kesal.


"Huh dasar lelaki aneh,lalu menurutnya apa yang dia lakukan padaku ini.Sudah tahu kalau aku sudah punya suami dan aku juga sedang hamil,tapi tetap saja memaksakan kehendaknya." Gerutu Jia pelan.


-----


"Keluarga Jia juga punya pesawat pribadi." Sahut Abel membuat ketiga pria itu menatapnya seakan meminta jawaban yang lebih.


"Maksud kamu bel?" Tanya Nara antusias seakan mendapatkan angin segar dan sedikit petunjuk.


"Iya tuan setahuku Jia juga punya pesawat pribadi,ya memang Jia dan juga kak Arga jarang menggunakannya." Imbuh Abel lagi dan ucapannya itu membuat Nara benar-benar bisa lega.


"Tunggu aku sayang,aku akan segera menjemputmu."


.


.


.


Maaf ya kakak upnya lambat karena akhir-akhir pekerjaan banyak banget,takutnya ceritnya jadi nggak nyambung kalau di paksain.Tapi tetep bantu like rate sama vote ya.