
Nara meletakkan dengan pelan-pelan nampan yang berisi makanan di atas meja.
Cup
"Sayang,bangun...." Bisik Nara mesra di telinga istrinya setelah mencium keningnya terlebih dahulu dan mengusap pipinya lembut.
"Arghhhh...aku ngantuk Nara,aku capek." Gumam Jia dengan mata masih terpejam dan menaikkan selimut menutupi kepalanya sampai hanya terlihat ujung rambutnya saja.
Nara hanya tersenyum melihat tingkah Jia.Dia menarik perlahan selimut Jia,lalu mencium pipi Jia berulang kali.
"Apa kamu mau aku bangunin dengan cara lain sayang?" Bisik Nara dengan tangannya yang sudah bergerilya bebas di dada Jia yang masih belum menggunakan apa-apa.Sentuhan tangan Nara reflek membuat Jia terbangun dan menepis tangannya lalu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Nara jangan mulai deh!" Ucap Jia melototkan matanya,hingga membuat Nara terkekeh gemas melihatnya.
"Habisnya kamu susah di banguninnya." Sahut Nara memegang kedua pipi Jia gemas.
"Aku kan capek.Kamu liar banget tahu." Gerutu Jia.
"Hahaha....kamu bilang apa sayang? Liar? Kamu yang sudah bikin aku liar sayang." Ucap Nara mengedipkan matanya menggoda Jia.
"Ahhh sudah aku mau mandi dulu." Jia hendak beranjak dari tempat tidur dan masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai sehelai bajupun itu.Tapi saat sudah berdiri dan hendak berjalan Jia merintih kesakitan karena merasakan perih di daerah sensitifnya.
"Kenapa sayang? Nara panik melihat Jia merintih kesakitan dan segera memegang tubuhnya.
"Sakit Nara." Ucap Jia membungkukkan badannya.
Nara dengan sigap membopong tubuh Jia dan dia bawa ke kamar mandi,dia menyiapkan air hangat untuk Jia berendam.Nara meletakkan Jia dengan perlahan di dalam bathup saat di rasa air hangatnya sudah pas.
"Ini akan mengurangi rasa perihnya sayang.Kamu mau aku bantu mandinya?" Seru Nara yang punya niat terselubung.
"Ah nggak kamu keluar sana Nara,aku malu." Seru Jia yang tahu kalau Nara membantunya pasti ujung-ujungnya akan sama seperti tadi.
"Kenapa mesti malu sayang,aku kan sudah tahu semua luar dalamnya kamu." Bisik Nara yang sudah masuk ke dalam bathup berada di belakang Jia.Nara memluk Jia dari belakang dan tangannya sudah merajalela kemana-mana.
"Ahhhhh Nara...kamu ja...." Jia mendesah tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Nara sudah menarik wajahnya ke dekapannya dan mencium mesra bibirnya.
Hampir satu jam Nara dan Jia berada di kamar mandi.Nara benar-benar tidak melepaskan Jia,melihat tubuh Jia saat berendam membuat Nara menginginkannya lagi.
Nara menggendong Jia yang hanya menggunakan handuk kimono ala bridal style saat keluar dari kamar mandi dan membaringkannya perlahan di tempat tidur.
"Kamu benar-benar jahat Nara,nggak kasian sama aku!" Seru Jia memukul dada bidang Nara.
"Maaf sayang,aku benar-benar tidak bisa menahan melihatmu yang begitu menggoda,kamu membuatku gila Jia." Bisik Nara menggoda Jia yang sudah memerah pipinya mendengar perkataan suaminya itu.
"Dasar mesum,dasar gombal!" Seru Jia untuk menahan rasa malunya dan memalingkan wajahnya dari Nara.
"Heheh biarin,mesum sama istri sendiri mah bebas.Sudah marah-marahnya nanti lagi sekarang kita makan dulu ya,kamu pasti lapar kan?" Nara mengambil nampan yang berisi makanan yang di letakkan di atas meja tadi dan menaruhnya di kasur.
"Haa..buka mulutmu sayang aku suapin!"
"Nggak ah aku mau makan sendiri saja." Pinta Jia hendak menyaut sendok yang di pegang Nara tapi Nara dengan cepat menjauhkan tangannya.
"Biar aku yang menyuapi kamu sayang,dan jangan menolak!" Ujar Nara,akhirnya Jia menurut karena memang dia sudah tidak punya tenaga dan segera ingin tidur setelah makan.Tidak butuh waktu lama makanan mereka sudah habis,Jia menyenderkan tubuhnya di tempat tidur lalu mengambil ponselnya yang berada di meja mengecek beberapa pesan masuk.
"Kak Arga keluar kota." Gumam Jia lirih tapi masih bisa di dengar oleh Nara.
"Iya sayang ,tadi Arga titip pesan sama bi Yanti." Sahut Nara sambil meletakkan nampan bekas makanan mereka ke atas meja.
"Kok nggak kasih tahu aku." Gumam Jia lagi.
"Kakakmu itu pengertian sayang,dia nggak mau ganggu kita." Ujar Nara tersenyum senang.
Drt...drt
Suara dari ponsel Nara menghentikan senyumannya.
"Halo...iya Ren ada apa?" Nara menjawab telfonnya yang ternyata dari Reno.
"Ah Ren,apa aku harus yang turun tangan,baiklah aku akan ke sana sekarang." Imbuh Nara dengan suara tegang dan sedikt kesal.
"Ada apa?" Tanya Jia saat Nara sudah mengakhiri telfonnya.
"Ada masalah di kantor dan aku sendiri yang harus menanganinya." Jawab Nara dengan suara malas.Dia sebenarnya tidak mau meninggalkan Jia sendirian.
"Ya sudah kamu siap-siap."
"Kamu nggak apa-apa aku tinggal?"
"Iya nggak apa-apa,lagian aku mau tidur aku lelah." Ucap Jia sambil mengangkat tangannya ke depan untuk meregangkan otot-ototnya.
"Baiklah,aku nggak akan lama.Kalau sudah selesai aku langsung pulang." Ujar Nara sambil mengusap rambut Jia.Jia membalasnya dengan anggukan kepala.
Tidak butuh waktu lama Nara sudah selesai bersiap.Nara mendekakti Jia yang dari tadi memperhatikannya bersiap.Ada rasa tak tega meninggalkan istrinya itu,Nara masih ingin menghabiskan waktu bersamanya tapi Nara tidak punya pilihan lain.
"Aku berangkat dulu ya sayang,kamu baik-baik di rumah jangan kemana-mana." Nara mncium kening Jia,dan meninggalkan begitu banyak pesan untuk kesayangannya itu.
"Iya sayang...." Ucap Jia manja.
------
"Bel,apa Jia belum sembuh kenapa dia belum masuk sekolah." Tanya Dea teman sekelas Jia dan Abel yang juga satu club motor dengan mereka.
"Ehm...iya belum De,paling besok atau lusa baru masuk." Jawab Abel berbohong,karena nggak mungkin dia bilang kalau Jia baru saja nikah dan pastinya sekarang lagi mesra-mesraan sama suaminya.
"Wah terus gimana kelanjutan acara baksos besok dong." Sahut Dea dan juga beberapa teman seclub mereka yang kebetulan banyak anggotanya dari teman sekelas Jia.
"Ehm nanti aku bilang sama Jia dulu ya gimana kelanjutannya besok." Imbuh Abel lagi,mencoba memberi pengertian pada teman-temannya.
"Kita ke rumah Jia saja nanti pulang sekolah sekalian kita menjenguk Jia." Sahut Bima tiba-tiba yang entah sejak dari kapan mendengarkan percakapan mereka.
"Iya ide bagus tuh Bim,kita ke rumah Jia saja nanti pulang sekolah." Sahut Dea menyetujui usulan Bima.
"Eh,jangan...!" Seru Abel spontan.
"Ehm ya nggak apa-apa,kasian Jia dia kan butuh istirahat."Jawab Abel gugup.
"Kamu nggak sedang menyembunyikan sesutau kan Bel?" Tanya Bima dengan nada penuh selidik dan mengernyitkan dahinya.Dia seakan tahu kalau Abel menyembunyikan sesuatu tentang Jia.
"E...enggak kok Bim,aku nggak menyembunyikan apa-apa." Jawab Abel salah tingkah karena terus di pandangi Bima.
"Ok,kalau nggak apa-apa nanti kita sepulang sekolah ke rumah Jia sama-sama." Seru Bima dan berlalu menuju ke mejanya.
"Huh...bagaimana ini kalau mereka sampai tahu Nara ada di sana,apalagi kalau tahu Jia sudah menikah." Batin Abel cemas.Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Jia,tapi sudah berulang kali Abel menghubungi namun Jia tidak mengangkatnya.
"Huh Jia ngapain sih kenapa nggak di angkat-angkat.Kalau begitu mending aku kirim pesan saja." Gumam Abel lalu mengetikkan pesan pada Jia.
---
"Ren...Ren masalah seperti ini saja kamu nyuruh aku datang ke kantor.Kamu ganggu saja." Seru Nara saat sudah selesai menemui kliennya.
"Maafkan saya tuan,habisnya ini klien penting kita dan mereka tidak mau menandatangani kontrak kerja sama kalau tidak bertemu dengan anda sendiri." Ucap Reno pelan.
"Ya sudah aku mau pulang,dan ingat aku nggak mau di ganggu untuk beberpa hari ke depan." Seru Nara sambil berlalu keluar dari ruangannya.
"Baik Tuan."
"Huh dasar pengantin baru." Batin Reno menggelengkan kepalanya.
---
Kringgggg
Bunyi bel tanda sekolah usai.Seperti yang sudah di rencanakan tadi Abel,Bima,Dea dan beberapa temannya sudah siap di motor mereka masing-masing hendak berangkat menuju ke rumah Jia.
"Duh kenapa Jia belum juga balas pesanku sih." Gumam Abel cemas mengecek ponselnya berulang kali.
"Ayo semua sudah siap kan,Bel ayo." Seru Bima.
"I...Iya ayo." Jawab Abel terbata.
"Ah bodolah,yang penting aku sudah kasih kabar gimana nantinya lihat nanti." Ucap Abel dalam hati lalu menghidupkan motornya menyusul teman-temannya yang sudah jalan duluan.
Tok..tok
"Eh non Abel." Sapa bi Yanti saat membuka pintu dan melihat Abel juga teman-temannya berdiri di depan pintu.
"Iya bi,Jianya ada?" Tanya Abel.
"Ada non.Non Jia ada di kamarnya,mari silahkan masuk!" Bi Yanti berjalan masuk mendahului mereka.Bi Yanti hendak berjalan ke dapur membuatkan minuman setelah mempersilahkan teman-teman majikannya untuk duduk.
"Bi,apa tuan Nara ada di kamar bersama Jia?" Tanya Abel yang menyusul bi Yanti ke dapur.
"Tuan Nara tadi pergi non." Jawab bi Yanti sambil mengaduk minuman.
"Oh ok kalau begitu bi Abel ke kamar Jia dulu ya."
"Iya non."
Abel segera bergegas menuju kamar Jia,dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu dulu.Ini memang sudah kebiasaanya tidak pernah mengetuk pintu kamar Jia dulu kalau hendak masuk.
"Beb...bangun!" Seru Abel sambil menggoncang tubuh Jia berulang kali.
"Ah Nara aku masih capek,kamu jangan mulai deh." Gumam Jia tanpa membuka matanya terlebih dulu dan melihat siapa yang membangunkannya.
"Hey beb ini aku,Abel." Seru Abel lagi.
Jia mengerjapkan matanya berulang kali,saat matanya terbuka sempurna dia menutup mulutnya karena menyadari perkataanya tadi yang dia tujukan untuk Nara.
"Hayo...memangnya berapa ronde beb,kok udah capek aja?" Tanya Abel menggoda sahabatnya yang kini menutup wajahnya menahan malu.
"Ah apaan sih Bel."
"Ayo dong beb,cerita sama aku,gimana rasanya?" Abel penasaran dengan cerita malam pertama Jia dan terus memaksa Jia.
"Ah apaan sih,kalau pengen tahu buruan kamu suruh Reno nikahin kamu." Seru Jia.
"Ah kamu nggak seru beb." Ucap Abel kecewa.
"Biarin...ngomong-ngmong kamu ngapain kesini?"
"Ah mentang-mentang sudah punya suami aku jadi harus ada alasan gitu kalau mau kesini?" Gerutu Abel sedikit kesal,tapi nggak beneran sih cuma menggoda Jia aja.
"Hehe ya nggak gitu beb,udah dong nggak usah ngambek."
"Heheh bercanda kali...oh iya beb di bawah ada teman-teman mau bahas acara baksos besok ada Bima juga."
"Hah...Bima juga?"
"Iya...tadi aku sudah nglarang tapi dia maksa beb.Ya sudah aku nggak punya pilihan lain,lagian aku sudah kirim pesan tapi kamu nggak baca."
"Huh,aku kan tidur beb tadi.Ya sudah ayo kita temui mereka tapi aku ganti baju dulu ya."
"OK."
---
"Nggak boleh....aku nggak kasih ijin....!!!"
.
.
.
Bersambung.Jangan lupa votenya ya kakak.like juga rate bintang 5nya makasih