NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Ancaman Baru



"Sayang aku berangkat dulu ya,kamu nggak apa-apa kan hari ini aku tinggal nanti biar Beny yang mengantarmu ke kantor kalau kamu mau kesana." Nara mengecup kening istrinya berpamitan.


"Hu'um,kamu jangan nakal ya." Ucap Jia mencubit kedua pipi suaminya manja.


"Iya pasti sayang,kamu tenang saja." Nara beranjak pergi meninggalkan Jia yang masih berbaring di tempat tidur.


Beberapa hari ini memang Jia terlihat selalu ikut Nara pergi ke kantor,entah kenapa Jia juga tidak tahu rasanya dia nggak mau berjauhan dengan suaminya itu.Tak jarang Nara harus terlambat datang ke kantor karena menunggu mood Jia yang selalu berubah.Tetapi pagi ini karena Nara ada rapat penting dia harus berangkat terlebih dahulu untung saja Jia pagi ini moodnya sedang baik tidak minta neko-neko dulu pada Nara.


Jia masih enggan bangun dari tidurnya,dia masih bermalas-malasan di tempat tidurnya hingga terdengar suara dering ponselnya memaksa dia bangun untuk mengambil ponselnya.


Kring....kring...


Terpampang nama Aruna yang memanggli di layar ponselnya,membuat Jia tidak jadi kesal karena dia sangat merindukan wanita yang sudah jadi kakak iparnya itu.


"Halo kak Runa,kenapa baru kasih kabar? Mentang-mentang pengantin baru jadi nggak mau di ganggu ya." Cerocos Jia tanpa jeda.


"Hey sayang ini kakak..." Sahut orang di ujung telfon yang ternyata adalah Arga.


"Loh kak Arga,kirain kak Runa.Ya maaf habisnya kakak pakai ponsel kak Runa sih."


"Iya..iya sayang nggak apa-apa.Kamu lagi apa,gimana kabar kamu dan Nara sekarang?"


"Kabar Jia sama Nara baik kak,sekarang Jia lagi tiduran kak,malas mau ngapa-ngapain." Jawab Jia manja,seperti yang sering dia lakukan bila sedang telfonan dengan kakaknya dulu.


"Loh kok masih tiduran,emang kamu nggak nyiapain kebutuhan suami kamu sayang,jangan malas-malas dong Jia,kamu harus tahu tanggung jawab kamu sebagai istri." Ujar Arga menasehati adiknya semata wayangnya yang manja itu.


"Nara sudah berangkat kakak,lagian Nara nggak ngebolehin aku ngapa-ngapain." Ucap Jia membela diri dari amukan kakaknya.


"Ya tetap saja kamu harusnya bangun lebih awal dari suamimu sayang."


"Iya-iya deh kakak besok Jia bangun awal deh,sudah dong kakak ini pagi-pagi telfon cuma mau marahin Jia ya?" Tanya Jia sedikit kesal dengan nada merajuk.


"Iya-iya maaf sayang,bukannya begitu.Kakak telfon karena kakak kangen sama adik kakak satu-satunya ini dan juga mau mastiin,kata Runa kamu mau nyusul kesini ya?"


"Rencananya gitu kak,tapi nunggu Nara nggak sibuk dulu."


Tok....tok...


"Nona maaf,di bawah ada tamu seorang wanita mau bertemu dengan anda." Terdengar suara ketukan pintu dan suara salah satu pelayan di rumah Jia hingga membuat Jia harus mengakhiri percakapannya dengan kakaknya.


"Kak sudah dulu ya,di bawah ada tamu Jia mau temuin dulu." Ucap Jia sebelum memutus telfonnya.


"Iya sayang."


"Iya bi,suruh tunggu sebentar aku mau mandi dulu." Seru Jia dari dalam kamarnya.


------


"Oh betapa beruntungnya wanita yang menjadi istri Nara." Batin Kara melihat sekeliling rumah megah Nara dan Jia.


Ya tamu tak di undang itu adalah Kara,dia ingin melihat wanita yang menjadi istri dari mantan kekasihnya dulu dan lebih tepatnya ingin memberi peringatan.


Flashback on


"Kamu yang memaksa aku untuk melakukan ini Nara." Batin Kara saat melihat mobil Nara keluar dari gerbang rumah megahnya.


Beberapa hari ini Kara selalu berusaha menemui Nara dengan datang ke kantornya tapi selalu gagal karena Nara tidak mau bertemu dengannya dan juga penjagaan di sana sangat ketat membuat Kara tidak bisa masuk dan akhirnya dia memutuskan untuk menemui Jia di rumahnya.


"Ayo kita lihat bagaimana reaksi orang tersayangmu Nara melihat orang di masa lalu suaminya datang." Batin Karang dengan tersenyum sinis.


Flashback off


"Ini nona silahkan di minum,nona Jia sedang bersiap-siap." Ucap bibi pelayan setelah meletakkan segelas teh di atas meja.


-------


"Ren,apa kamu sudah menghubungi Abel untuk datang ke rumah supaya menemani Jia." Tanya Nara pada Reno yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Sudah tuan,mungkin sekarang masih dalam perjalanan." Jawab Reno melihat bosnya sekilas tapi masih fokus pada kemudinya.


"Ok terimakasih Ren,aku hanya butuh Abel menemani Jia sampai nanti siang biar dia ada temannya agar rapat kita lancar."


"Iya tuan,anda tenang saja saya sudah menjelaskan pada Abel." Imbuh Reno yang paham dengan kekhawatiran bosnya dan dia sudah mengantisipasi kalau-kalau mood dari istri bosnya berubah.Contohnya kemarin Nara di buat panik saat tiba-tiba Jia menangis cuma karena Nara tidak mau membelikannya ice cream dan membuat Nara harus membatalkan rapat dengan klien pentingnya dan segera pergi membelikan sendiri istrinya ice cream karena Jia tidak mau kalau orang lain yang membelikannya.


------


"Ehm...maaf anda siapa? Ada perlu apa mencari saya?" Sapa Jia saat sudah turun dari kamarnya dan melihat tamunya sedang berdiri memandangi foto pernikahannya bersama Nara yang di pajang di dinding.


Deg


Jantung Jia tiba-tiba berdetak sangat cepat.Sejenak Jia mencoba mencerna pikirannya kenapa hatinya tiba-tiba sakit saat melihat wanita di depannya ini.


"Aku seperti pernah melihat wanita ini,tapi dimana?" Tanya Jia dalam hatinya sendiri.


"Hay aku Kara." Sapa wanita di depannya sambil mengulurkan tangannya.


"Oh iya dia wanita di foto itu." Batin Jia saat sudah bisa mengingat siapa wanita yang kini berada di hadapannya.


Jia tidak langsung menerima uluran tangannya karena dia syok saat mendengar wanita itu memperkenalkan namanya.Seketika Jia teringat tentang hubungan wanita itu dengan suaminya di masa lalu.Entah kenapa hati Jia terasa sakit,dan dia tidak menyukai kedatangan wanita itu,entah itu firasat atau apa Jia tidak tahu yang dia rasakan kalau wanita itu datang hanya akan membawa masalah di rumah tangganya bersama Nara.


Suara panggilan dari Kara yang kesekian kali membuyarkan lamunan Jia dan membuatnya terpaksa menjabat uluran tangan Kara walaupun sebenarnya dia enggan melakukannya.


"Jia..." Balas Jia dengan sedikit senyum yang di paksakan lalu mempersilahkan dia duduk.


"Kamu tentunya sudah tahu kan tentang siapa aku.Aku yakin Nara pasti sudah memberi tahumu tentang aku." Ucap Kara dengan penuh keyakinan saat sudah duduk berhadapan dengan Jia.


"Ya tentu saja,suamiku sudah menceritakan semua tentang masa lalunya padaku." Balas Jia penuh penekanan saat mengucapkan kata suami dan terlihat ada sedikit kekesalan pada raut wajah Kara saat mendengar ucapan Jia.


"Oh baguslah kalau begitu,jadi aku tidak harus bersusah payah untuk menjelaskan padamu." Sahut Kara sinis,dia merasa sudah tidak harus berbasa basi lagi.


"Jelaskan apa maksud kedatanganmu!" Seru Jia sambil melipat kedua tangan di atas perutnya.


"Ok,aku juga tidak akan lama-lama disini.Aku hanya mau bilang, dari awal Nara adalah milikku dan dia akan tetap jadi milikku! Jadi kamu siap-siap saja aku akan segera berada di posisimu menjadi nyonya di rumah ini!"


"Jaga ucapanmu,harus kamu ingat aku tidak akan membiarkan orang sepertimu merusak rumah tanggaku!" Balas Jia dengan mengarahkan jari telunjuknya di wajah Kara.Emosi Jia seakan meluap mendengar ucapan-ucapan Kara.


Jia berteriak memanggil security untuk mengusir Kara. "Pak tolong bawa wanita ini keluar dan jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi." Perintah Jia saat security sudah berdiri di depannya.


"Kamu tidak perlu repot-repot,aku bisa keluar sendiri.Oh ya kamu sebaiknya siap-siap dari sekarang,karena aku akan segera menggantikanmu." Kelakar Kara sebelum dia keluar meninggalkan Jia yang masih berdiri mematung mencoba menata hatinya.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Batin Jia menatap kepergian Kara.


"Tuhan jaga aku dan Nara....." Gumam Jia memejamkan matanya sejenak sebelum menghela nafasnya.


"Bi,aku ingin istirahat dan aku nggak mau di ganggu oleh siapapun." Ucap Jia sebelum naik ke atas menuju kamarnya.


"Baik non..."


..


..


.


Bersambung.