NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Sungguh Menggemaskan



"Aku hancur tanpa kalian."


Nara memegang foto hasil usg Jia,di pandanginya foto janin buah cintanya bersama istrinya itu di ciumnya berulang kali sebelum dia dekapkan ke dalam dadanya.


"Maafkan papa sayang,papa akan segera menjemput kalian.Tunggu papa sayang." Gumam Nara semangat,dia seakan mendapat tenaga lagi saat melihat foto usg anaknya yang hanya tampak gumpalan darah yang belum begitu berbentuk sempurna.


"Anda mau kemana tuan?" Reno menegur Nara yang baru saja turun dari kamarnya dan sudah berganti pakaian.


"Aku mau mencari Jia dan anaku Ren."


"Tapi tuan ini sudah malam,kita tunggu kabar sampai besok dulu tuan.Orang-orang kita masih mencari nona Jia."


"Aku tidak bisa menunggu Ren,mereka membutuhkan aku." Sahut Nara masih kekeh ingin mencari Jia.


Nara menggembungkan mulutnya menahan rasa mual di perutnya. "Hoeekkkkk....hueeekkkk..." Akhirnya Nara berlari ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur karena sudah tidak tahan dengan rasa mualnya.


"Tuan...anda tidak apa-apa kan?" Terdengar suara Reno dari luar yang sudah cemas dengan keadaan bosnya.


"Tuan...." Panggilnya lagi,karena tidak mendapat jawaban dari dalam.


"Aku baik-baik saja Ren,aku hanya sedikit mual dan pusing." Jawab Nara yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Apa anda yakin tuan,anda terlihat sangat pucat.Lebih baik kita ke rumah sakit saja."


"Tidak perlu Ren,biar aku yang memeriksa teman kita yang ceroboh ini." Ucap seseorang yang baru saja datang,dia adalah Reza yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nara.Walaupun sedang sakit tapi tatapannya masih bisa membuat orang bergidik ngeri melihatnya.


"Aku hanya bercanda Nara,jangan melihatku seperti itu." Reza mengangkat kedua tangannya tanda menyerah seakan memohon ampun.


"Ternyata kamu Za,kebetulan kamu kesini.Tolong kamu periksa tuan Nara." Pinta Reno sedikit lega.


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa." Seru Nara berjalan ke meja makan mengambil minuman.


"Tuan bila anda sakit ,itu akan berpengaruh pada calon anak anda walaupun anda sedang tidak bersamanya tapi ikatan batin anda dengan nona Jia bisa mempengaruhi janin yang ada di perut nona Jia.Jadi anda harus menjaga kesehatan juga." Terdengar suara seorang wanita yang tak lain dokter Vivi berjalan menghampiri Nara dengan Abel di sampingnya.


"Apa maksudmu dokter?" Tanya Nara bingung belum bisa mencerna perkataan dokter Vivi.


"Ahhhh,intinya kamu juga harus menjaga kesehatan selama tidak bersama istri dan calon anakmu.Dan tentu saja agar kamu bisa mencari mereka,kamu juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu.Aku tahu kamu ingin segera menemukan mereka ." Sahut dokter Reza.


"Betul tuan apa kata dokter Reza.Dan yang perlu anda tahu,kondisi anak anda sangat baik dan sangat sehat.Jadi anda jangan terlalu khawatir." Imbuh dokter Vivi lagi.


"Terus aku harus bagaimana? Apa aku akan diam saja sedangkan mereka membutuhkan aku di luar sana?"


"Bukan seperti itu,setidaknya beri waktu tubuhmu untuk istirahat dan besok kita akan cari lagi istrimu.Bila sudah fresh besok kamu akan bisa berpikir secara jernih dan pasti bisa menemukan nona Jia dengan cepat.


Akhirnya Nara menuruti nasehat dari sahabatnya dan kembali ke kamar setelah meminum vitamin yang di berikan dokter Vivi.


-----


"Hah.....siapa kamu?" Seru Jia panik karena saat membuka mata ada seorang lelaki yang menunggunya di tepi ranjang.


"Tenang nona,aku bukan orang jahat.


"Kamu siapa,dan kenapa aku ada di sini?" Tanya Jia lagi.


"Namaku Justin,ini di rumahku.Tadi di bandara anda tiba-tiba pingsan karena aku tidak tahu alamat anda jadi aku membawa anda pulang ke rumahku.


"Oh iya terima kasih sudah menolong saya dan maaf saya sudah merepotkan anda." Ucap Jia seraya bangun dari tidurnya.


"Anda mau kemana? Anda belum fit benar kembailah berbaring lagi."Pinta Justin saat melihat Jia hendak turun dari ranjang.


"Terimaksih tuan tapi saya ingin pulang ke rumah saya sendiri." Jia tetap beranjak turun dari ranjang dan tidak menghiraukan ucapan Justin,Jia hanya tidak terbiasa berada di ruangan bersama lelaki lain apalagi statusnya yang sudah bersuami.Jia merasa risih.Tapi baru beberapa langkah Jia berjalan tubuhnya terasa lemas dan hampir saja terjatuh kalau saja Justin tidak segera menangkapnya.


"Maaf nona,tapi anda belum sehat dan saya meminta maaf lagi karena sepertinya saya harus memaksa anda untuk tetap berada di sini.Anda juga harus memikirkan janin yang ada di perut anda."


Flashback


"Hah....apa ini benar,apa dia hamil? Gumam Justin saat memeriksa Jia.Justin memandangi wajah Jia yang masih belum sadar.


Ada perasaan senang saat dia menatap wajah wanita yang sudah mengusik hidupnya akhir-akhir tapi sorotan matanya berubah saat kembali ingat kalau dia sedang hamil.


"Apa dia sudah menikah? Tapi kemarin saat di acara baksos itu,itu adalah acara anak sekolahan.Apa mungkin dia hamil di luar nikah dan sekarang dia kabur dari rumah karena takut denganorang tuanya." Gumam Justin yang sibuk dengan pikirannya menerka-nerka.


"Aku akan mau tanggung jawab kalau saja....Ah ngomong apa aku ini,kenapa aku jadi ngelantur." Justin menepuk dahinya dan mengacak-acak rambut pirangnya.


Flashback off


Deg.....


Kalimat terakhir yang di ucapkan lelaki di depan Jia membuat Jia terkejut dia tidak menyangka lelaki yang baru saja dia lihat ini mengetahui kalu dia sedang hamil.Justin yang tahu denganisi pikiran Jia segera menuntun Jia untuk kembali berjalan ke ranjang dan kali ini tidak ada penolakan darinya.


"Kamu...."


"Saya seorang dokter jadi saya tahu kondisi anda.Istirahatlah,biar kondisi anda dan janin anda bisa menyesuaikan dengan cuaca di negara ini.Disini berbeda dengan Indonesia nona." Ucap Justin sambil memberikan secangkir teh pada Jia.


"Kenapa dia tahu kalau aku dari Indonesia." Tanya Jia dalam hati.


"Justin....saya juga dari Indonesia." Justin mengulurkan tangannya memperkenalkan diri,tidak sekaku tadi Jia membalas jabatan tangan lelaki yang sudah menolongnya dan sedikit tersenyum.


"Terima kasih sekali lagi,tapi tolong ijinkan saya pulang." Pinta Jia dengan wajah memelas.


"Maaf nona,aku tidak bisa mengijinkanmu pergi sekarang.Bukanya aku mau menahanmu di sini tapi sebagai dokter dan orang yang sudah menolongmu tadi,aku tidak bisa mengijinkanmu pergi dalam keadaan seperti ini,aku harus memastikan keadaan anda baik-baik saja.


"Maaf nona aku menahanmu di sini,aku hanya masih ingin melihatmu,Aku sudah kecanduan dengan wajahmu." Batin Justin dalam hati.


"Tapi....aku tidak bisa."


"Maaf nona saya tidak suka di bantah."


Deg....Jia kembali teringat suaminya saat mendengar kata-kata yang sering di ucapkan suaminya yang tidak suka di bantah.


"Menolong kok maksa." Gerutu Jia mendengus kesal.


"Sungguh menggemaskan." Batin Justin senang melihat Jia ngambek.


.


.