NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Mimpi Buruk



"Wahduh apa jangan-jangan tuan Nara mendengar semua ya." Gumam Abel pelan,menatap Jia yang terlihat cemas.Abel mencoba menoleh ke arah Nara,mukanyapun menjadi tidak jauh berbeda dengan Jia.


"Ya Tuhan Jia,aku takut nih." Gumam Abel lirih.


"Kalian kenapa jadi diam,aku kan hanya bercanda sayang kenapa mukamu jadi ketakutan seperti itu." Ucap Nara tersenyum karena berhasil ngerjain istrinya.


Mendengar ucapan Nara,Jia bisa bernafas lagi dengan lega begitu juga Abel dia memegangi dadanya yang tadi seperti berhenti berdetak.


"Atau jangan-jangan kalian mneyembunyikan sesuatu ya?" Tanya Nara penuh selidik.


"Eh..enggak kok,siapa juga yang menyembunyikan sesuatu kita kan hanya ngobrol,iya nggak Bel..?" Jia mengerutkan keningnya memberi kode pada Abel yang masih diam saja tidak menyaut.


"Ehm..i..iya kita cuma ngobrol saja kok."


"Ah kalian bikin aku curiga saja." Nara masih belum puas dengan jawaban Jia dan Abel.


"Ya sudah kalau nggak percaya." Ucap Jia dengan menyilangkan kedua tangannya di atas perut dan membuang muka dari Nara pura-pura ngambek.


"Haduh,kambuh deh ngambeknya." Gumam Nara merangkak naik ke atas tempat tidur.


"Ehm...Jia aku kebawah dulu ya mau ambil minum." Pamit Abel berbohong yang sebenarnya nggak mau jadi obat nyamuk.


"Iya Bel,makasih ya.Kamu tahu saja aku mau menghukum kesayanganku ini." Ujar Nara melirik Jia dengan seringai di bibirnya."


"Menghukum?" Gumam Jia mengerutkan keningnya setelah Abel keluar dari kamarnya.


"Iya,tadi kan kamu sudah meledek aku di depan Arga sekarang aku akan menghukummu."


Nara sudah mengunci tangan Jia dan mulai mencium bibir Jia yang berusaha berontak.


"Nara aku capek." Gumam Jia lirih setelah berhasil lepas dari ciuman liar suaminya itu.Nara yang awalnya ingin menyalurkan hasratnya segera membatalkan niatnya karena melihat wajah istrinya yang pucat.


"Sayang kamu sakit?" Nara mulai panik saat baru sadar melihat wajah istrinya tampak pucat.


"Nggak,aku cuma lelah saja pengen tidur sebentar." Jawab Jia pelan.


"Ok,kalau begitu kamu tidur ya sayang aku nggak akan ganggu kamu." Nara mengecup kening istrinya dan hendak bangun dari tidurnya tapi Jia segera menahannya.


"Kenapa sayang?"


"Pengen di peluk kamu bobonya." Pinta Jia manja hingga membuat Nara menaikkan kedua alisnya heran.


"Ok sayang..." Nara merengkuh tubuh mungil istrinya dan mendekap dalam dada bidangnya sesekali juga menciumi pucuk rambut istrinya.


"Kamu tuh selalu bikin aku bingung tapi juga semakin cinta,sayang dengan sikapmu yang sering berubah-ubah akhir-akhir ini sayang." Batin Nara sebelum juga ikut terlelap tidur.


-----


"Hay nona Aruna,tuan Arga selamat ya atas pernikahan kalian." Justin mengulurkan tangannya menyalami Aruna dan juga Arga.


"Hey Justin terimakasih ya.Aku kira kamu nggak datang." Balas Aruna dan Arga.


"Kok kamu datang sendirian,mana pacar kamu?" Tanya Arga.


"Ehm saya belum punya pacar tuan." Justin tersenyum tipis menjawab pertanyaan Arga.


"Oh maaf,aku nggak tahu.Tapi masa cowok sekeren kamu belum punya pacar sih?" Imbuh Arga lagi.


"Huft....sepertinya aku telat,dia sudah punya cowok." Jawab Justin menghela nafas kecewa.Tapi jujur sampai detik ini Justin masih terbayang wajah wanita yang dia jumpai kemarin,padahal sudah jelas dia melihat dari belakang wanita itu di gandeng seorang pria dengan mesra.


"Ga,kamu lihat Reno?" Sapa Nara tiba-tiba.


"Dia tadi sama Abel,tapi nggak tahu kemana." Jawab Arga.


"O ya sudah aku permisi dulu mau cari Reno." Nara hendak melangkahkan kakinya tapi terhenti karena panggilan Aruna.


"Ehm Nara,Jia mana?"


"Jia ada di kamar Run,dia kecapekan sekarang sedang tidur.Memang ada apa?"


"Yach sayang,aku mau kenalin sama orang yang kerja sama dengan Jia. Ini Justin Nara,dia pelanggan tetap yang menyukai semua karya istrimu." Ucap Aruna memperkenalkan Justin.


"Oh iya,saya Nara suami dari Jia senang bisa berkenalan dengan anda.Tapi maaf saya tidak bisa membangunkan istri saya karena dia sedikit kurang enak badan." Nara mengulurkan tangannya terlebih dahulu menyalami Justin dan Justin membalas jabatan tangan Nara.


"Oh iya tuan Nara,tidak apa-apa next time mungkin bisa bertemu secara langsung dengan istri anda yang sangat jago membuat desain baju.Karyanya sungguh luar biasa tuan tidak kalah dengan para desainer terkenal di luar sana." Justin tersenyum memuji Jia,dan di balas dengan senyuman juga oleh Nara sebelum dia permisi pergi untuk mencari Reno.


Setelah cukup lama berbincang dengan Aruna dan juga Arga,Justin meminta ijin untuk pulang karena harus menemui sepupunya yang kebetulan juga sedang berada di Indonesia.


____


Waktu menunjukkan pukul 23:30 WIB,para tamu juga sudah banyak yang pulang hanya tinggal beberapa teman dekat dan saudara saja,kini mereka sedang berkumpul duduk santai di ruang tengah.


"Ga,kamu habis dari kamar Jia ya,apa dia masih tidur?" Tanya Nara saat melihat Arga baru turun dari lantai atas.


"Iya,Jia masih tidur.Sebaiknya kamu temani...."


"Naraaaaaa." Terdengar suara teriakan dari kamar Jia,memotong ucapan Arga dan membuat semua orang yang ada di situ kaget terutama Nara,dia langsung berlari ke kamar karena takut terjadi sesuatu pada istrinya di ikuti oleh semua orang yang ada di situ yang juga menjadi panik.


"Sayang kamu kenapa?" Nara langsung memeluk tubuh Jia saat sudah sampai di kamar dan melihat wajah Jia sangat pucat di tambah lagi keringat dingin yang membasahi wajahnya.


"Nara jangan tinggalin aku." Pinta Jia terbata masih terlihat ketakutan.


"Iya sayang aku nggak ninggalin kamu,kamu tenang saja ya." Nara memperat pelukannya dan mengusap lembut rambut istrinya yang setengah basah karena terkena keringat.


"Sayang minum dulu." Arga yang sudah panik langsung mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas dan memberikan pada adiknya supaya bisa lebih tenang.


Arga mengajak semuanya untuk keluar agar memberikan ruang pada Jia supaya bebas bernafas dan bisa menenangkan diri.


"Sayang apa kamu mimpi buruk?" Nara bertanya karena melihat Jia sudah sedikit baikan.


"Aku takut Nara,aku takut kamu ninggalin aku." Jawab Jia dengan suara masih sedikit bergetar.


"Sayang itu hanya mimpi,kamu nggak usah takut.Aku nggak akan ninggalin kamu sayang.Sekarang kamu tidur lagi ya,aku akan menemani kamu di sini." Nara berbaring dan mendekap tubuh Jia dalam pelukannya mencium kening dan pucuk rambut Jia untuk memberikan ketenangan.


"Ya Tuhan tolong jaga istriku." Ucap Nara dalam hati sambil memejamkan matanya.Sedangkan Jia masih belum bisa memejamkan matanya.Dia masih meras ketakutan karena mimpinya.


.


.


.


Bersambung.