NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Manusia Dingin



"Nah gini dong anak pintar makannya di habisin." Seru Nara mengusap rambut Jia yang baru saja selesai menghabiskan sepiring penuh makanannya.Jia mengerucutkan bibirnya kesal karena di paksa Nara makan banyak sampai kekenyangan.


"Ahhh perutku kenyang.Kamu sukanya maksa maksa,nanti kalau aku gendut gimana?" Protes Jia pada Nara sambil memegangi perutnya.


"Ya bagus dong kalau kamu gendut,kan biar tambah lucu kaya panda." Ucap Nara terkekeh membayangkan Jia gendut kaya panda.


"Kok malah bilang bagus sih,kalau aku gendut nanti nggak cantik lagi dong,atau kamu memang sengaja ya mau bikin aku gendut biar jelek,jadi kamu punya alasan buat cari cewek lain yang seksi!" Jia berkacak pinggang melototkan matanya pada Nara,bukannya membuat Nara takut tapi malah membuat dia gemas.


"Ehmm...Cup.Dasar kalau kebanyakan nonton sinetron ya kaya gini deh.Denger ya kesayangannya aku,aku nggak akan cari wanita lain walaupun kamu nanti jadi gendut.Kamu tenang saja nggak usah khawatir,kamu harus tahu Jia buat bertemu kamu aja aku harus nunggu bertahun tahun,sekarang kamu sudah jadi milikku nggak akan mungkin aku lepas sayang." Ungkap Nara sambil memegang kedua pipi Jia lalu mencium kening Jia.


"Tuh kan belum juga di tinggal tapi adik gue udah di mesumin,gimana nanti kalau nginep di sini lama." Gumam Arga yang sedang berdiri di depan pintu sebenarnya hendak masuk untuk pamitan tapi karena melihat Jia dan Nara sedang bermesraan Arga mengurungkan dulu niatnya untuk masuk dan memilih mendengarkan percakapan mereka.


"Dasar tukang gombal." Gerutu Jia pelan,tapi Nara bisa mendengarnya.


"Kamu bilang apa sayang barusan?"


"Bilang apa? Aku nggak ngomong apa apaan kok,kamu aja yang salah denger." Ucap Jia mencoba mengelak,sambil memalingkan wajahnya dari Nara.


Nara yang selalu di buat gemas dengan semua tigkah Jia udah nggak bisa nahan gairahnya yang sudah dari tadi dia tahan.Dengan cepat dia memegang wajah Jia untuk menghadap ke arahnya dan tangannya beralih memegang dagu runcing Jia memajukan wajahnya.Jia hanya pasrah dan memejamkan matanya,merasa mendapat lampu hijau Nara segera memajukan wajahnya untuk mencium bibir Jia.


"Tuh kan...tuh kan....mulai lagi mesumnya,kalau kaya gini aku nggak bisa tenang ninggalin Jia di sini." Gumam Arga.


Ehemm


Mendengar suara orang batuk,seketika juga Jia membuka matanya.Dan betapa kagetnya dia melihat kakaknya sudah berdiri di depan pintu.


"Kakak..." Gumam Jia lirih reflek mendorong tubuh Nara,dia jadi salah tingkah karena menahan malu kepergok kakaknya,begitu juga dengan Nara juga jadi salah tingkah.


"Arga...ehmm ada apa Ga?" Ucap Nara terbata bata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Arga masuk mendekati Jia dan Nara."Aku mau pamitan mau balik ke kantor Ra,kasian kalau Aldo harus handle semua kerjaan sendiri."


"Sudah kamu di sini aja Ga,nanti biar Reno yang bantu Aldo." Usul Nara.


"Iya kak,masa kakak mau ninggalin Jia.Kalau kakak mau balik sekarang,antar Jia pulang dulu kak."


"Untuk sementara waktu kamu di sini dulu sayang,tadi mama Ajeng minta sama kakak supaya mengijinkan kamu tinggal di sini biar ada yang ngrawat kamu kalau kakak kerja."'


"Betul itu Ga,aku setuju." Sahut Nara kegirangan.


"Itu maunya kamu Ra." Batin Arga sambil tersenyum tipis ke arah Nara.


"Kalau Jia tinggal disini kakak gimana?"


"Kakak beberapa hari ini banyak kerjaan sayang jadi mungkin akan pulang malam terus,nanti biar Aldo juga ikut pulang ke rumah.Yang penting kamu cepat sembuh ya."


"Iya deh Jia terserah kakak aja,tapi baju baju Jia gimana kak?"


"Kamu tenang aja,tadi kakak sudah nyuruh Abel ambil di antar sama Reno barusan aja berangkat."


"O ya udah deh kak."


"Permisi boleh aku masuk...Nona Jia aku mau ganti perban kakimu dulu." Sahut Reza dari luar kamar.


" Iya dok silahkan masuk." Jawab Jia dan Arga hampir serentak,tapi tidak dengan Nara.Dia merasa kesal karena perawat yang di bawa Reza tidak menjaga Jia tapi malah pergi.


"Kamu bilang tadi perawatmu ada disini buat nunggu Jia,tapi kenyataannya malah pergi." Ucap Nara sambil meninju lengan Reza.


"Iya maaf Ra,tadi dia ada urusan mendadak jadi terpaksa pergi."


"Nara,jangan main pecat aja dong kasian.Siapa tahu dia memang ada urusan penting.Lagi pula aku kan baik baik saja." Jia memprotes sikap Nara yang keterlaluan,dan menampakkan wajah kesal hingga langsung membuat Nara diam.


"Tuh kan tunanganmu aja nggak apa apa." Sahut Reza senang merasa di bela Jia,baru kali ini dia melihat Nara di marahi.


"Hahha aman,untung sekarang sudah ada pawangnya jadi sekarang terbebas dari dengerin dia marah marah." Batin Reza tersenyum puas.


"Awas kamu Za!" Gerutu Nara.


"Kalau begitu kakak balik dulu ya sayang,kamu jangan ngrepotin mama Ajeng ya.Nara aku titip Jia." Arga mencium kening Jia sebelum berpesan.


"Iya kak,kakak hati hati ya."


"Iya sayang."


"Dokter Reza tolong adik saya ya,supaya cepat sembuh."


"Siap tuan,anda tenang saja saya pasti akan merawat adik anda agar cepat sembuh,karena kalau tidak saya yang pasti sudah di bunuh oleh adik ipar anda ini." Seru Reza sambil melirik Nara,yang langsung mendapat balasan tatapan tajam mata Nara.


"Ayo Ga,aku antar sampai depan." Nara tidak menghiraukan ucapan Reza yang sering membuatnya kesal itu.


Nara dan Arga berjalan keluar beriringan dan saling diam, hingga sampai di depan rumah saat Arga hendak masuk ke dalam mobilnya dia membalikkan badannya lagi.


"Nara tolong jaga Jia,jaga dia sampai kalian sah beberapa bulan lagi.Aku harap kamu bisa menahannya!" Nara tersentak mendengar permintaan Arga,dia jadi teringat kejadian tadi saat dia tertangkap basah hendak mencium Jia.


"Ehmm....Iya Ga,maaf untuk kejadian tadi." Ujar Nara tersenyum menahan malu sambil memegangi tengkuk lehernya.


"Iya,jangan sampai kebablasan,tahan sifat mesummu itu sampa beberapa bulan ke depan." Seru Arga tertawa karena bisa meledek Nara.


"Sialan kamu Ga." Seru Nara yang sadar kalau Arga meledeknya.


---


"Nona Jia boleh aku bertanya?"


"Iya dok,silahkan mau tanya apa?"


"Dengan cara apa kamu bisa meluluhkan hati si manusia dingin Nara itu sih?"


"Manusia dingin? Maksudnya gimana?" Tanya Jia belum paham dengan maksud ucapan Reza.


Reza yang sedang mengganti perban di kaki Jia,tiba tiba menghela nafas panjang. "Aku ,Nara dan Reno tumbuh besar bersama dan selama itu aku tidak pernah melihat Nara jatuh cinta,jangankan melihatnya jatuh cinta,dekat dengan seorang wanita saja aku belum pernah melihat."


"Masa sih dok?''


"Iya beneran,kamu wanita pertama yang membuat Nara jatuh cinta.Aku berterima kasih nona karena sudah hadir di hidup Nara,tolong cintai dia juga dengan tulus seperti Nara mencintaimu." Ucap Reza yang sudah selesai mengganti perban Jia.


Jia terbengong mendengar permintaan dokter Reza,dia tidak menyangka walaupun mereka sering bertengkar tapi ternyata ikatan rasa sayang mereka begitu kuat.


.


.


.


.


Bersambung.