
Jia masih berada di toilet,sebenarnya dia ingin keluar dan menghampiri Mia.Tapi dia mengurungkan niatnya karena tidak mau membuat keributan di kantor Nara.
Jia keluar dari toilet dan hendak membuntuti Mia yang sudah keluar duluan.
"Ah kemana Mia,kenapa dia cepat sekali menghilang." Gumam Jia dalam hati.
"Tadi dia menyebut nama Nara apa mungkin sekarang dia menemui Nara,tapi kan Nara sedang meeting.Apa jangan-jangan Nara bohong sama aku." Jia merasakan pusing di kepalanya karena begitu banyak pertanyaan di kepalanya sekarang.
Ruang Meeting
Tok..tok..
Ceklek
"Silahkan masuk!" Ucap Reno saat sudah membuka pintu.
"Terimakasih." Balas Mia dan berjalan masuk ke dalam.
"Pa...." Sapa Mia pada tuan Arsen.
"Tuan Nara.." Sapa Mia sengaja membungkukkan badannya di depan Nara dengan tujuan agar Nara bisa melihat dadanya yang sangat jelas telihat belahan dadanya karena Mia memakai blouse sabrina dan rok mini hingga menampilkan dengan bebas pundak dan sekitar dada atasnya berharap Nara akan tergoda dengannya.
Nara yang tidak sengaja melihat dada Mia segera mengalihkan pandangannya. "Maksud sikapnya ini apa,kalau niatmu ingin menggodaku kamu salah besar kalau berharap aku akan tergoda denganmu.Justru aku merasa jijik." Batin Nara dengan muka kesal.
"Kenapa kamu harus nyusul ke kantor sayang,kenapa tidak menunggu di rumah saja." Tanya tuan Arsen pura-pura padahal mereka sudah merencanakan semua ini.
"Nggak apa-apa pa,Miakan juga mau belajar jadi pengusaha.Lagian tuan Nara tidak keberatan kan kalau saya kesini.iya kan tuan Nara?" Seru Mia melihat ke arah Nara.
"Iya." Jawab Nara acuh tanpa melihat sedikitpun ke arah Mia.
---
"Nona Jia anda kenapa?" Tanya Lusi sekretaris Nara cemas karena melihat Jia bersender di tembok dengan memegang kepalanya.
"Ehmm nggak apa-apa kok mbak." Jawab Jia dengan sedikit tersenyum yang dia paksakan untuk menutupi keadaannya.
"oh ya sudah nona,apa mau saya antar ke ruangan tuan Nara?" Ucap Lusi menawarkan bantuan.
"Tidak usah mbak,ehm...tapi bisa nggak mbak tunjukkan ruang meeting dimana,saya ingin bertemu dengan Nara."
"Tentu saja nona,mari saya antarkan." Ucap Lusi ramah dan berjalan mendahului Jia.
-----
"Maaf tuan apa saya boleh minta minuman itu?" Tanya Mia sambil menunjuk minuman dingin yang ada di belakang Nara.
"Iya ambillah." Jawab Nara masih tetap pada posisinya dan tidak mengalihkan pandangannya pada layar ponsel untuk mengirim pesan pada istrinya.
Reno yang dari tadi melihat kalau bosnya merasa tidak nyaman,sedang memutar otak mencari ide agar bosnya bisa segera keluar dari ruang meeting.
"Ehm maaf tuan,ini tuan Wira mengirim pesan kalau anda di minta untuk segera pulang sekarang juga." Ucap Reno tiba-tiba yang langsung membuat wajah Nara berubah lega.
"Baik Ren,tolong kamu urus masalah di kantor ya." Ucap Nara dengan tersenyum senang.
"Baik tuan." Jawab Reno mengangguk.
"Maaf tuan Arsen,anda tidak keberatan kan kalau saya tinggal,karena saya harus segera menemui papa saya.Nanti semua yang menyangkut dengan kerja sama kita anda bisa bahas dengan Reno." Ucap Nara pada tuan Arsen.
"Baik tuan Nara."Jawab tuan Arsen dengan wajah yang berubah kecewa,begitu juga dengan Mia yang masih berdiri di belakang Nara memegang minuman.
Mia segera memutar otak agar bisa menggoda Nara.Senyuman mengembang di bibir Mia karena sudah mendapatkan ide.Dia berjalan mendekat ke arah Nara yang sudah berdiri dan hendak berjalan menuju ke pintu.Dengan segera Mia berjalan menghampiri Nara.
"Awww...maaf tuan." Ucap Mia dengan masih memegang leher Nara untuk berpegangan berpura -pura akan terjatuh.Mia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini.
Ceklek...Semua mata langsung tertuju pada pintu yang baru saja terbuka.Betapa terkejutnya Nara saat melihat siapa yang datang.
"Nara...." Seru Jia menutup mulut dengan kedua tangannya yang sudah berdiri di depan pintu dan tepat melihat Nara memegang pundak Mia yang hampir terjatuh.
Dada Jia terasa sesak melihat pemandangan di depannya,ingatannya langsung berputar pada kejadian beberapa bulan yang lalu,saat dia melihat Mia melakukan hal yang sama pada Bima di depannya.
"Sayang,ini tidak seperti yang kamu lihat." Ucap Nara panik dan langsung melepaskan tubuh Mia.Mia tersenyum licik melihat wajah Jia yang sudah hampir menangis.
"Ah kebetulan sekali Jia datang pada saat yang tepat,aku tidak perlu repot-repot menunjukkan padanya seperti dulu tapi dia sudah datang sendiri." Batin Mia senang tersenyum licik penuh kemenangan.
"Jia maaf,aku tidak bermaksud..."
Jia tidak menggubris ucapan Mia,dia berjalan masuk dan langsung menarik tangan Nara menggandengnya keluar.Lusi dan Renopun hanya bisa diam melihat kejadian yang baru saja terjadi.
"Maaf tuan sepertinya kita tidak bisa membahas kerja sama kita sekarang,saya permisi dulu nanti sekretaris saya akan menghubungi anda lagi." Ucap Reno sebelum keluar dari ruangan meninggalkan Mia dan tuan Arsen bersama Lusi untuk membahas ulang jadwal pertemuan.
"Kamu memang pintar sayang." Puji tuan Arsen pada anaknya saat mereka sudah keluar dari gedung kantor Nara.
"Tentu dong pa,aku akan pastikan kalau Nara pasti jadi milik Mia pa!" Jawab Mia tersenyum puas.
"Haha pasti sekarang mereka lagi bertengkar hebat." Ucap Mia dalam hati.
"Apa kamu di kantor ada baju ganti?" Tanya Jia dengan suara tak ramah saat sudah berada di dalam ruangan Nara.
"Ambil dan ganti bajumu sekarang,aku tidak mau melihatmu memakai baju itu lagi.Aku tidak mau melihat baju yang sudah di sentuh wanita itu!!'' Seru Jia dengan suara meninggi,terlihat sangat jelas kalau Jia sedang marah.
Nara tertegun melihat Jia marah,baru kali ini dia melihat Jia sangat marah.
"Kenapa kamu masih diam saja,apa jangan-jangan tadi kamu juga menikmatinya." Imbuh Jia lagi dengan nada suara masih sama hingga membuyarkan Nara yang masih terkejut melihat sisi Jia kalau lagi marah.
"E...enggak sayang,ok aku akan ganti baju.Please sayang kamu jangan marah." Nara memohon dengan wajah memelas sebelum masuk ke dalam toilet,namun sedikitpun Jia tidak menoleh padanya.
Jia menghempaskan tubuhnya di sofa memejamkan mata,hatinya benar-benar terasa sakit mengingat kejadian tadi.
"Kamu harus kuat Jia,dia tidak boleh mengambil apa yang sudah jadi milikmu lagi.Kamu harus tunjukkan pada dia kalau kamu nggak selemah dulu." Gumam Jia menghembuskan nafasnya saat sudah membuka mata,di hapusnya air mata yang sempat membasahi pipinya.
"Sayang..." Sapa Nara tiba-tiba yang tanpa Jia sadari kini sudah duduk di sampingnya.
Jia menoleh ke arah Nara,di pandangnya wajah suaminya dalam. "Nara tidak mungkin mengkhianati aku seperti Bima." Batin Jia.
"Sayang....,aku bisa jelasin semuanya.Kejadian tadi tidak seperti yang kamu lihat aku tidak sengaja, aku hanya membantunya agar tidak terjatuh karena dia tiba-tiba sudah berdiri di depanku tadi." Ucap Nara memegang bahu Jia dan mencoba memberikan penjelasan padanya.
"Jia kamu percaya kan sama aku? Aku tidak mungkin mengkhianati kamu sayang." Imbuh Nara lagi,karena Jia hanya diam saja.
"Jia jangan diam saja,tolong katakan sesuatu aku mohon sayang.Kamu percaya kan sama aku?" Tanyanya lagi,dan hatinya begitu lega saat Jia menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
Nara langsung memeluk tubuh Jia,di ciuminya kepala Jia dengan bertubi.Hatinya sudah terasa lega sekarang.
Jia mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya dan membenamkan kepalanya di dada Nara,entah kenapa Jia merasa nyaman dalam pelukan suaminya itu.
"aku nggak mau kehilangan kamu Nara." Batinnya lagi.
Ceklek..
"Ma...maaf tuan." Ucap Reno yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu dulu hingga membuat Jia melepaskan pelukannya dari tubuh Nara.
"Ah..kamu mengganggu saja Ren." Seru Nara kesal.
"Maaf tuan." Ucap Reno lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa?" Tanya Nara masih dengan memegang tangan Jia di ciumnya berulang kali tanpa malu walaupun Reno melihatnya.Jia sebenarnya risih dan mencoba melepaskan tangannya tapi Nara tidak membiarkan tangan istrinya itu lepas dari genggamannya.
"Lusi sudah mengurus ulang jadwal pertemuan kita dengan tuan Arsen tuan,kita akan ber.."
"Batalkan kerja sama dengan tuan Arsen,aku tidak mau bekerja sama dengan dia." Tukas Nara memotong perkataan Reno.
"Tapi tuan,tuan Arsen adalah calon investor kita yang paling besar?"
"Aku tidak peduli,aku tidak suka di bantah Ren." Sahut Nara lagi.Nara sudah memutuskan saat melihat Jia marah tadi,dia tidak mau mengambil resiko sekecil apapun yang bisa menghancurkan hubungannya dengan Jia.Baginya sebanyak apapun harta tidaklah penting di bandingkan dengan ketenangan rumah tangganya bersama Jia.
"Baik tuan."
Jia terkejut mendengar ucapan Nara,dia tidak menyangka Nara akan mengorbankan kerja samanya demi dirinya.
Seakan tahu apa yang Jia pikirkan,Nara mengusap lembut wajah Jia. " Kamu yang terpenting dalam hidupku sayang." Bisik Nara lalu mencium kening Jia.
Jia sangat lega mendengar ucapan Nara,dia yakin Nara tidak akan seperti Bima yang tergoda dengan Mia dan meninggalkan dia dulu saat awal kedekatan mereka.
"Ren,ayo kita pergi jalan-jalan kamu ajak Abel sekalian.Kita akan pergi bersama." Ujar Nara yang langsung membuat Reno sumringah saat mendengar Nara menyuruhnya mengajak Abel.
"Wah kebetulan aku sudah kangen sama dia." Batin Reno tersenyum kecil.
"Sama Abel juga?" Tanya Jia senang.
"Iya sayang."
"Kamu buang baju itu Ren!" Perintah Nara menunjuk baju yang dia pakai tadi saat melihat Reno berdiri hendak keluar.
"Bukannya itu baju tuan Nara tadi." Batin Reno sambil mengernyitkan dahinya,di pandangnya Nara sekali lagi untuk memastikan dan saat melihat Nara menganggukan kepala Renopun keluar membawa baju Nara.
Sedangkan Jia tersenyum melihat Nara menyuruh Reno membuang bajunya.
"Kita mau kemana?" Tanya Jia masih dengan senyumannya saat Reno sudah keluar,sejenak dia bisa melupakan kesedihannya.
"Kemanapun kamu mau sayang..." Jawab Nara tersenyum lega karena sudah melihat Jia tersenyum lagi.
.
.
.
.
.
Bersambung.