
Pagi itu suasana di rumah Arga terlihat sangat sibuk.Iya hari ini Arga akan melangsungkan pernikahannya dengan Aruna.
"Kakak...." Gumam Jia lirih menatap kakaknya yang sangat tampan menggunakan setelan tuxedo berwarna putih.Tampak di kedua mata Jia berkaca-kaca karena terharu melihat kakaknya hari ini akan menikah.
"Sayang,kenapa kamu menangis? Kamu nggak bahagia kakak menikah?" Arga menghapus air mata Jia yang sudah jatuh di pipinya.
"Nggak kak,Jia bahagia banget akhirnya kakak menikah dengan Kak Runa.Kakak akan tetap sayang sama Jia kan?" Jia memeluk erat kakaknya dan tambah menangis sejadinya,entah kenapa walaupun dia tahu kakaknya akan menikah dengan wanita yang baik tapi jauh di hati kecilnya,ada rasa takut kalau nanti perhatian dan sayang kakaknya akan berubah untuknya.Memang terlihat agak egois tapi itulah yang Jia rasakan sekarang,karena memang dari kecil Argalah yang selalu ada untuknya.
"Hey sayang,kamu harus ingat ini di sepanjang hidupmu.Kakak nggak akan berubah,kakak akan tetap selalu menyayangimu,perhatian kakak mungkin akan sedikit berkurang tapi kamu akan tetap ada di hati kakak,kamu tetap menjadi putri kecil kesayangan kakak." Arga memeluk erat adiknya menciumi pucuk rambutnya berulang,tak terasa kedua ujung matanyapun terlihat basah.
"Sudah ya,jangan nangis lagi.Kalau kamu seperti ini kakak nggak jadi nikah aja deh." Goda Arga sambil menghapus air mata adiknya lagi dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan....kakak jangan macam-macam." Sahut Jia mencubit lengan kakaknya,membuat Arga merintih kesakitan.
"Dasar....nakal." Arga mencubit gemas hidung adiknya,mereka tersenyum sambil saling memeluk erat.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka sejak tadi dari balik pintu dan mendengar semua pembicaraan mereka.
"Aku harap bisa sepertimu Ga,yang selalu ada untuk Jia dan selalu membuat Jia bahagia,aku akan selalu berusaha membahagiakanya." Ucap Nara dalam hati terharu.Ya dari tadi Nara mendengar semua pembicaraan Arga dan Jia.
Tok...tok....
"Maaf mengganggu,boleh aku masuk." Sapa Nara membuat kedua kakak beradik itu menoleh ke arahnya.
"Masuk aja Nara..." Sahut Arga.
"Kamu sudah siap belum Ga,kita akan segera berangkat ke rumah Aruna."
"Iya Nara aku sudah siap."
"Sayang kamu nggak mau lepasin kakak,nanti Nara cemburu lihat kamu peluk kakak lama-lama." Arga menggoda adiknya yang masih memeluknya erat.
"Biarin saja,itu memang kerjaan Nara kak." Jia melirik Nara tersenyum meledek.
"Huh awas ya nanti kamu di rumah sayang." Batin Nara merencanakan sesuatu di kepalanya.
"Huh dasar kamu ini,itu tandanya suami kamu sayang banget sama kamu." Arga mengusap rambut adiknya tersenyum.
"Bener banget Ga,adikmu ini sudah mencuri hati dan jiwaku." Sahut Nara mengedipkan sebelah matanya pada Jia.
"Dasar tukang gombal." Gerutu Jia membuat Nara terkekeh.
"Sudah ayo kita berangkat."
-----
"Sah..."
"Sah..."
Terdengar penghulu membaca doa setelah acara ijab qobul Arga dan Aruna selesai.Arga terlihat begitu lega dan semua yang ada di situ.Terutama Jia,lagi-lagi dia meneteskan air mata melihat kakaknya sekarang sudah resmi menjadi seorang suami.
"Sayang..." Bisik Nara lalu merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya.Nara bisa merasakan suasana hati Jia sekarang.Di peluknya erat untuk memberi dukungan pada Jia,dan supaya Jia bisa mendapat ketenangan.
"Kakak sudah nikah Nara..." Ucap Jia mendongakkan kepalanya menghadap suaminya menangis bahagia.
"Iya sayang,kamu bahagiakan." Tanya Nara,dan Jia tersenyum menganggukkan kepalanya.
Usai ijab qobul acara di lanjutkan dengan acara syukuran kecil di rumah Arga.Dia memang sengaja hanya mengadakan syukuran kecil,bukannya tidak mampu untuk membuat pesta mewah tapi memang Arga tidak suka dengan acara yang berlebihan.Dia hanya mengundang beberapa teman dekat dan kerabat saja.
"Arga selamat ya sayang kamu sekarang sudah menikah." Mama Ajeng mencium kening Arga dan memeluknya seperti anaknya sendiri.
"Iya ma,terimakasih." Arga terharu dan hampir menangis karena pelukan mama Ajeng mengingatkannya pada mamanya.
"Selamat ya nak,kamu sekarang sudah menjadi seorang suami dan mempunyai tanggung jawab besar atas istrimu." Papa Wira juga memeluk Arga dan menepuk bahunya.
"Iya pa,terimakasih."
"Pa,ma,setelah ini mungkin waktu Arga akan berkurang untuk Jia.Arga titip Jia ya ma,pa tolong jaga Jia." Ucap Arga yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu tenang saja sayang kamu dan Jia sudah kami anggap seperti anak sendiri jadi kamu jangan khawatir ya,Jia akan baik-baik saja."
"Terimakasih ma,pa."
"Hey bro selamat ya,akhirnya kamu menikah." Aldo datang bersama Reno dan Abel memberikan selamat.
"Iya thank's bro,buruan kamu nyusul jangan jadi jomblo terus.Masa kalah sama Reno." Ucap Arga melirik Reno dan Abel yang jadi salah tingkah.
"Wahduh sayang,memang bener ya kamu mau nyusul kakak dan Jia.Wah nanti kita bisa honeymoon bareng-bareng dong.Calon kamu boleh juga sayang." Bisik Runa di telinga Abel dan membuat pipinya langsung memerah.Berharap Runa membelanya tapi ternyata malah sama saja.
"Ah kak Runa sama saja." Gerutu Abel membuat semuanya tertawa.
"Wah seru nih...." Seru Nara tiba-tiba menepuk bahu Reno dari belakang."
"Iya nih Nara,habis godain Reno dan Abel." Sahut Aldo.
"Emangnya kenapa dengan mereka?" Nara mengerutkan keningnya penasaran.
"Bentar lagi mereka mau nyusul kamu dan Arga." Imbuh Aldo.
"Beneran Ren? Wah bagus dong kalau gitu." Reno hanya bisa senyum-senyum menahan malu.
"Tuan Nara Jia dimana?" Tanya Abel menghentikan tawa Nara.
"Dia ada di kamarnya katanya sedikit capek." Jawab Nara.
"Ya sudah deh aku mau temui Jia dulu ya kak." Pamit Abel mencoba menghindar supaya tidak di goda terus meninggalkan Reno yang terus menatapnya.
Tok...tok...
"Jia apa boleh aku masuk?"
"Masuk saja Bel..." Sahut Jia yang sudah hafal dengan suara sahabatnya.
"Jia kamu kok kelihatan pucat sih." Tanya Abel setelah duduk di samping Jia yang sedang berbaring.
"Aku nggak apa-apa kok beb,cuma agak capek aja."
"Nggak beb,ini mah pucat banget mending ke dokter ya atau aku panggilin Nara."
"Jangan beb,nanti Nara jadi cemas belum lagi kak Arga nanti pasti nyalahin Nara lagi."
"Beneran kamu nggak apa-apa? Tapi sebaiknya kamu segera periksa ke dokter Jia,kamu nggak boleh sakit sebentar lagi kita ujian kelulusan lo."
"Iya-iya nanti habis acara kak Arga aku periksa.Eh beb,ngomong-ngomong soal periksa aku jadi ke ingat omongan dokter Vivi."
"Omongan apa?"
"Kamu masih ingat kan sebulanan yang lalu waktu aku ijin pulang cepat dari sekolah.Saat selesai periksa dokter Vivi memintaku cek ke dokter untuk memastikan sesuatu."
"Sesuatu apa?" Tanya Abel penasaran.
"Katanya aku hamil."
"Hah...hamil...kamu hamil beb?" Seru Abel terkejut.
"Hush...pelan-pelan beb nanti kedengeran.Aku belum bilang ke siapa-siapa." Jia memukul tangan Abel agar tidak berteriak.
"Iya-iya maaf beb,tapi kok kamu nggak bilang aja sih sama suamimu terus kalian kan bisa periksa ke dokter berdua ini kan kabar bahagia."
"Tapi kan ini masih perkiraan saja,takutnya nanti kalau nggak hamil akan bikin semua kecewa.Aku nanti akan periksa sendiri saja ke dokter setelah ujian kita."
"Beb,mending kamu buruan periksa aja nggak usah nunggu ujian selesai.Takutnya kalau kenapa-kenapa gimana?"
"Kamu tenang saja,ada atau nggak adanya baby di perutku aku akan hati-hati sampai ujian selesai.Lagian kamu tahu sendiri kan gimana over protektifnya suamiku,nanti aku nggak boleh ngapa-ngapain kalau dia tahu aku beneran hamil."
"Iya sih beb,tapi kan itu demi kebaikan kamu."
"Iya aku tahu,sudah deh kamu percaya sama aku dan jangan bilang sama siapa-siapa dulu,ok." Jia mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Abel untuk membuat janji.
"Ok janji...." Balas Abel.
"Eheemmm....." Sapa Nara dari arah pintu mengagetkan Jia dan Abel.Sorot mata Nara tajam ke arah Jia hingga membuat Jia merinding takut.
"Apa jangan-jangan dia mendengar semuanya." Batin Jia dalam hati dan berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
.
.
.
Bersambung.