
"Bi...bibi...." Teriak Arga memanggil bi Murni yang sedang ada di dapur.Dan terlihat bi Murni berlari karena mendengar panggilan tuan mudanya yang terlihat cemas.Karena Arga memangil cukup keras hingga membuat Nara dan Reno juga penasaran apa yang sedang terjadi.Dan segera menghampiri Arga.
"Ada apa tuan." Tanya bi Murni setengah berlari menghampiri tuan mudanya.
"Tolong ambilkan air hangat untuk Jia bi! Jia sakit saya mau panggil dokter dulu.''
"Non Jia sakit tuan? i..iya tuan saya akan ambilkan." Tutur bi Murni yang juga langsung cemas dan segera pergi ke dapur.
"Ada apa tuan,kenapa anda berteriak?" Tanya Nara yang melihat Arga cemas.
" Jia sakit,saya harus memanggil dokter,maukah anda menjaga Jia sebentar tuan?"
"Hah...Jia sakit!,sa..sakit apa tuan?" Tanya Nara tak kalah cemas.Belum juga mendapat jawaban dari Arga,Nara langsung menyuruh Reno untuk menemani Arga memanggil dokter,karena dia takut kalau Jia kenapa napa.
"Ren kamu temani tuan Arga !" Perintah Nara dengan muka cemas.
"Baik tuan,Mari tuan Arga." Saut Reno mengajak Arga untuk berangkat.
Selepas Arga dan Reno pergi,Nara segera menuju ke kamar Jia.Karena pintunya tidak tertutup Nara langsung masuk dan duduk di tepi ranjang.Jia yang masih pura pura tidur,tiba tiba merasaka ada seseorang yang duduk di tepi ranjangnya.Dan jantungnya berdegup kencang saat orang itu menyentuh dahinya.
"Hey baby kamu kenapa,kamu jangan bikin aku cemas seperti ini." Ucapnya lembut sambil memegang tangan Jia,dan meletakkan di pipinya.
"Permisi tuan,ini saya membawa air hangat untuk non Jia." Ucap bi Murni mengagetkan Nara yang sedang mencium tangan Jia.
"Iya bi taruh dimeja saja nanti saya yang akan membangunkan Jia." Saut Nara dengan tersenyum.
"Baik tuan,kalau begitu saya permisi kalau butuh apa apa bisa panggil saya." Ucap bi Murni dan berlalu keluar.
"Iya bi terimakasih."
Nara membangunkan Jia dengan mengguncang pundaknya pelan.Tapi tidak ada respon dari Jia,lalu dia menyentuh pipi Jia dengan lembut.Jia yang merasakan sentuhan tangan Nara yang lembut membuat detak jantungnya tak terkontrol,tapi ada rasa nyaman dihatinya mendapat perlakuan dari Nara seperti itu.
Karena merasa kasian sama Nara yang terus mencoba membangunkannya berulang kali akhirnya Jia membuka matanya pelan dan pura pura mengerjapkan matanya sampai terbuka dengan sempurna.
"Kamu...?" Ucapnya lirih,dengan muka yang dibuat pucat seperti sakit beneran.
"Iya sayang ini aku,kamu sakit apa,sebelah mana yang sakit? Nara bertanya cemas dengan menatap semua bagian tubuh Jia untuk memastikan bagian mana yang sakit.
Jia tersenyum melihat wajah Nara yang terlihat begitu cemas,hatinya merasa senang di perhatikan Nara seperti ini,Jia jadi merasa bersalah karena telah membohongi semua orang dan membuat mereka cemas.
"Aku nggak apa apa kok,cuma nggak enak badan saja,buat tidur nanti juga udah enakan." Jawab Jia masih dengan tersenyum.
"No baby,kita tunggu dokter periksa biar tahu kamu kenapa.Sekarang kamu minum air hangat ini dulu." Ucap Nara sambil membantu Jia minum.
"Terimakasih." Ucap Jia pelan.
"Terimakasihnya nanti sayang ini tidak gratis." Bisik Nara di telinga Jia yang sedang ia bantu untuk berbaring lagi.Dengan spontan Jia memukul dada Nara,mukanya memerah karena tahu arah ucapan Nara.
"Dasar mesum,aku lagi sakit aja bisa bisanya kamu tuh ya!" Sautnya ketus.
Nara tersenyum melihat Jia ngambek,karena gemas dia mencium bibir Jia yang lagi menggerutu.
"Haaa..kamu tuh ya...beneran nyebelin!" Seru Jia sambil menutup mulutnya,takut di serang lagi.Nara tersenyum penuh kemenangan karena sudah bisa mengerjai pujaan hatinya.
Nara sebenarnya sudah tahu kalau Jia pura pura sakit,tadi dia sempat mendengar percakapan Jia dan juga Abel dari luar jendela kamar Jia,saat Nara sedang melihat lihat taman yang letaknya di samping kamar Jia.
"Aku akan ikuti permainanmu dulu sayang,tapi kamu harus membayar mahal untuk itu." Batin Nara tersenyum tipis melihat Jia masih cemberut.
Dari luar terdengar suara mobil,dan tak lama terlihat Arga, Reno dan juga seorang dokter.Dokter langsung memeriksa Jia,dia mengernyitkan dahinya karena merasa Jia tidak apa apa tapi,semua orang terlihat cemas dengan keadaannya.Jia yang tahu reaksi sang dokter hanya bisa memasang wajah memelas agar tidak mengatakan yang sebenarnya dan dokter yang tahu isyarat muka Jia hanya tersenyum kecil dan menghela nafas .
"Ok tuan Arga adik anda hanya butuh istirahat, dia hanya kecapekan.Saya akan memberi vitamin saja agar tubuhnya bisa kuat lagi." Ucap sang dokter sambil melihat Jia yang tersenyum lega.
" Iya dok terimakasih,tapi beneran cuma kecapekan kan dok,tidak ada penyakit yang serius kan?" Tanya Arga yang masih khawatir.
"Iya tuan,anda tidak usah khawatir nona Jia hanya butuh banyak istirahat saja dan minum vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhnya,dan ini saya berikan resep vitaminnya nanti anda bisa beli di apotek tuan." Imbuh sang dokter memberikan penjelasan.
Arga yang mendengar penjelasan dari dokter bisa bernafas lega karena tidak terjadi apa apa dengan adiknya.
"Terimakasih dokter,mari saya antar kedepan." Ucap Nara sambil menerima resep.Dan Arga meminta Nara untuk menjaga Jia sebentar karena dia akan menebus obat dulu.
Setelah memastikan Arga dan Reno pergi,Nara duduk ditepi ranjang Jia.
"Dasar nakal!" Ucapnya sambil mencubit hidung Jia.
" Uh apa apaan sih,sakit tahu!" Saut Jia ketus.
" Udah sayang nggak usah pura pura lagi,kamu nggak kasian apa sama kakakmu jadi cemas seperti tadi." Seru Nara dengan muka mengintimidasi.
Deg...
"Maksud kamu apa." Jia kaget mendengar ucapan Nara.
"Aku tahu sayang kamu itu hanya pura pura,kamu bisa bohongi kakakmu tapi tidak dengan aku."Saut Nara sambil mengerlingkan matanya dan mendekati wajah Jia yang sudah pucat beneran karena ketahuan berbohong sama Nara.
"Sekarang aku minta jawaban kamu sayang." Seru Nara yang terus mendekatkan wajahnya ke wajah Jia.Jia yang belum tahu, mau kasih jawaban apa langsung menarik selimutnya ke atas hingga menutupi kepalanya dan memegang erat selimutnya.
"Kasih aku waktu lagi,aku belum tahu harus jawab apa." Ucap Jia dibalik selimut dengan suara memelas.
"No baby,aku sudah bilang kan waktumu hanya sampai pagi ini,atau kamu mau aku yang bilang langsung kekakakmu." Saut Nara menahan kesal.
Jia menggelengkan kepalanya yang masih tertutup selimut dengan cepat. "Jangan!,biar aku saja yang ngomong sama kak Arga." Jawab Jia panik.
"Asal kamu tahu Jia,aku belum pernah seperti ini,selama aku hidup aku belum pernah merasakan perasaan seperti persaanku sekarang terhadapmu,perasaan yang menyiksa bila aku jauh darimu,banyak wanita yang mendekatiku bahkan kedua orang tuaku sering menjodohkan aku dengan wanita wanita pilihan mereka,tapi aku selalu menolaknya karena di pikiranku aku hanya ingin bekerja agar bisa sukses dan sangat benci bila harus berurusan dengan wanita.Tapi semenjak bertemu denganmu ada hal yang aneh terjadi pada diriku,aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya Jia,aku mohon pahami perasaanku." Nara menumpahkan seluruh isi hatinya hingga membuat hati Jia tersentuh.
Saat Jia membuka selimutnya perlahan dia melihat Nara mengusap ujung matanya yang basah dan hendak berdiri pergi.
"Jangan pergi!" Jia memegang tangan Nara dan memintanya duduk lagi.Nara mengurungkan niatnya untuk pergi dia menatap wajah Jia terlihat sedih dan sudah menangis.
" No sayang,jangan menangis! aku tidak bisa melihatmu menangis." Ujar Nara sambil mengusap air mata Jia yang menetes di pipinya.
"Maafkan aku." Ucap Jia sesenggukan dan bangun dari tidurnya.
"Kamu nggak salah sayang,aku yang salah karena memaksamu." Saut Nara dengan memalingkan wajahnya dari Jia.
Tiba tiba Jia memeluk Nara yang duduk di depannya,hingga membuat Nara terkejut dan menatap wajah Jia yang sudah ada didada bidangnya dengan tangan melingkar di pinggangnya.
"Aku mau." Jawab Jia lirih.Nara yang sebenarnya mendengarnya sangat kaget Jia memberikan jawabannya.
" Mau apa?" Tanyanya usil.
"Ih ...ya mau nikah sama kamu!''
Jia memperjelas ucapannya sambil mencubit pinggang Nara karena tahu Nara sedang menggodanya.
"Are you serious?" Tanya Nara sambil melepas pelukan Jia dan menatap wajah Jia yang memerah menahan malu.
"Yes I'm seriuos,but we are engaged first." jawab Jia dengan menundukkan kepalanya.
"As you wish dear." Seru Nara dan memeluk Jia lagi.hatinya sungguh lega mendengar jawaban dari Jia.Jiapun merasa lega dengan jawabannya dan merasa nyaman dipeluk oleh Nara seperti ini.
Tanpa sepengetahuan mereka ternyata Arga dan Reno mendengar semua percakapan mereka dari tadi.Saat Reno mau memanggil bosnya Arga menahannya,dia ingin tahu kenapa alasan Jia pura pura sakit.Arga tahu dari dokter kalau Jia tidak sakit,tadi Arga bertanya terus menerus keadaan Jia karena seingatnya tadi pagi Jia terlihat sakit.dan akhirnya dokter menjelaskan kalau Jia baik baik saja.Dan sekarang Arga sudah tahu jawabannya,kenapa adikny itu harus berbohong.
"Wah bisa runyam nih masalahnya." Batin Reno yang melihat tatapan Arga menuju kearah Jia dan Nara.
"Jadi kapan kalian mau melangsungkan pertunangannya!" Seru Arga tiba tiba dari depan pintu.Reno yang berada di dekatnya seakan tidak percaya dengan ucapan Arga,dia kira Arga akan marah tapi kenyataannya malah sebaliknya.
Nara dan Jia langsung melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke sumber suara yang sudah mengagetkan mereka.
"Kakak...Tuan Arga.!" Seru Nara dan Jia serentak.
Bersambung.....