NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Bukan Sepenuhnya Salahmu



Nara sudah sampai di kantornya,dia berjalan penuh dengan aura dingin.Para karyawan yang melihatnya tidak berani menyapa sang direktur karena terlihat jelas kemarahan di wajahnya saat ini.


Ceklek....


Nara masuk ke ruangannya dan langsung melempar jaket yang dia kenakan tadi ke sembarang tempat ,hingga membuat Reno yang duduk di sofa kaget dengan kedatangan bosnya yang tanpa permisi itu.Memang enaknya jadi bos ya seperti itu,suka suka dia hehehe.


Nara terlihat mengecek ponselnya berulang ulang dan terlihat berulang kali mengirim pesan juga menelfon tapi tidak ada sahutan dari orang yang dia telfon,yang membuatnya melemparkan ponsel ke meja kesal.


Reno yang paham suasana hati bosnya sedang buruk memilih diam dari pada jadi pelampiasan amarahnya.


"Kenapa lagi nih si bos,padahal tadi pagi kan dari rumah nona Jia,apa mereka sedang bertengkar?Wah alamat marah marah seharian nih." Batin Reno sambil melirik Nara.


Tok...tok..


"Permisi tuan,saya mau memberitahukan kalau rapat bulanan sudah siap." Ucap Lusi sekretaris Nara.


"Kita undur dulu rapatnya." Seru Reno,karena melihat Nara yang tidak mungkin bisa berpikir dengan jernih saat ini.


"Ba..."Belum sempat meneruskan kata, Nara sudah memotong ucapannya.


"Kita rapat sekarang!" Seru Nara sambil berdiri dari duduknya menuju ke tempat rapat,di ikuti Reno yang mengekor di belakang bosnya.


"Baik Tuan." Lusi merinding merasakan hawa dingin melihat bosnya,dia juga merasakan kalau suasana hati bosnya sedang tidak baik.


"Huh semoga rapat ini berjalan lancar." Batin Reno dan Lusi bersamaan.


"Wah Beb Nara romantis banget deh nganter kamu sampai depan kelas kaya tadi,apalagi waktu dia marahin sibotak killer itu.Wah super duper keren." Celoteh Abel saat mereka sudah berada di kelas.


"Huh...keren apanya,yang ada dia tuh malu maluin tahu.Kan seluruh sekolah jadi tahu kalau aku sudah tunangan." Sungut Jia.


"Loh emang kenapa kalau mereka tahu beb,bukannya nggak apa apa,emang kamu mau nutupin status kamu.Apa Jangan jangan kamu masih ada rasa sama Bima dan takut kalau dia tahu."


"Pletak....Enak aja kamu ngomong,aku tuh udah nggak punya perasaan apa apa sama Bima sejak saat itu tahu!.Aku cuma belum siap aja kalau orang orang tahu aku sudah tunangan,bukannya apa apa beb aku males kalau mendengar gosip murahan setelah berita ini menyebar." Seru Jia sambil memukul kepala sahabatnya itu.


"Hehehe....Iya sih beb,tapi kan kamu juga harus mengerti perasaan Nara,mungkin dia hanya mau tidak ada yang mengganggu kamu apalagi dia tahu kalau kamu pernah suka sama Bima yang notabene juga satu sekolahan sama kamu.Dia cuma pengen semua orang tahu kalau kamu miliknya,itu kan so sweet beb." Perkataan Abel membuat Jia terdiam.


"Benar juga kata Abel,aku kok nggak mikirin perasaan Nara ya.Huh bodohnya aku,pasti dia marah karena ucapanku tadi." Batin Jia menyesal.


"Bel temenin aku ke kantor Nara yuk.!"


"Hah,sekarang?''


"iya."


"Ini kan belum waktunya pulang Jia." Seru Abel gemas memegang kedua pipi Jia.


"Udah bolos aja yuk beb,inikan baru hari pertama paling nggak ada pelajaran penting." Jia merengek,dan akhirnya Abel menuruti permintaan sahabatnya itu.


Jia dan Abel sudah sampai di depan kantor Buana Group yang berdiri megah sampai lantai tiga puluh.


"Beb,calon suamimu tajirnya nggak ketulungan." Ujar Abel mengaggumi kantor Nara.


"Ah udah deh nggak usah norak beb,ayo buruan." Jia dan Abel sudah sampai didepan recepsionist.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sapa si recepsionist.


"Ehm...mbak saya mau bertemu dengan Nara." Ucap Jia datar,yang membuat si recepsionist mengernyitkan dahinya dan memandang Jia dari bawah sampai atas dengan tatapan tidak ramah karena ada gadis sma yang memanggil bosnya hanya dengan sebutan nama.


"Maaf nona apa anda sudah membuat janji?'


"Belum,tolong bilang saja Jia mau bertemu gitu mbak."


"Maaf nona anda tidak bisa bertemu dengan tuan Nara kalau belum membuat janji!" Ucapnya dengan nada mulai ketus.


"Masa mau ketemu calon suami harus ada janji dulu." Seru Abel,dan langsung membuat Jia memukul lengannya.


"Haha anda jangan bicara sembarangan nona,mana mungkin selera tuan Nara gadis cabe cabean seperti ini." Ucap si recepsionist sudah tidak sopan.


"Hey jaga bicaramu ya,ingat aku akan melaporkan kelakuanmu ini sama tuan Nara." Seru Abel emosi.


"Udah beb,jangan emosi." Jia menenangkan Abel.


"Sudah sekarang kalian pergi atau aku panggil satpam untuk mengusir kalian,dasar tidak tahu diri." Ucapnya sambil memanggil satpam untuk mengusir Jia dan Abel.


Satpam sudah memegang tangan Jia dan Abel dan mendorong mereka untuk keluar.Jia yang di dorong dengan kasar hampir saja terjatuh kalau tidak ada tangan seseorang yang memegangnya,tapi dia merasakan sakit di pergelangan kakinya karena di dorong terlalu keras hingga membuat kakinya terkilir.


"Awww..." Ucap Jia lirih menahan sakit.


Deg...


"Nara..." Gumamnya lirih terkesiap.


"Tu..tuan Nara." Gumam lirih satpam yang sudah mendorong Jia,wajahnya pucat pasi karena di tatap sang bos dengan penuh amarah.


Ya tadi Abellah yang memberi tahu Reno,dia yang sudah sadar dengan perlakuan buruk recepsionist langsung merekamnya lalu mengirimkan ke nomor Reno.Reno yang awalnya ingin turun sendiri tapi karena kaget melihat perlakuan karyawannya pada Jia ponselnya terjatuh di samping Nara,dan betapa marahnya Nara saat melihat video kesayangannya di perlakukan dengan buruk oleh karyawannya,tanpa pikir panjang dia langsung keluar untuk turun ke lantai satu.


"Kalian akan membayar mahal untuk ini!! Ren." Seru Nara.


"Baik tuan." Tahu maksud bosnya,Reno segera bertindak mengurus para karyawannya yang sudah membuat kesalahan fatal.


"Maafin aku baby nggak bisa jaga kamu dengan baik." Ucap Nara lirih menatap wajah Jia yang ada di dekapannya,dia menggendong Jia ala bridal style menuju ke ruangannya.Dia tidak perduli dengan para karyawannya yang melihat.


"Nara turunkan aku,aku bisa jalan sendiri." Bisik Jia pelan.


"No...aku tidak ingin kamu terluka lagi."


"Tapi aku nggak apa apa,aku malu di lihat semua orang."


Nara menatap tajam wajah Jia,hingga membuat Jia takut dan memilih diam dan tak membantah lagi ucapan Nara.


"Good girls." Bisik Nara,Jia hanya bisa mengerucutkan bibirnya menahan kesal dan membuat Nara gemas.


Sampai di ruangannya Nara mendudukan Jia di sofa dengan hati hati,dia melepaskan sepatu Jia dan melihat kaki Jia,darahnya seakan mendidih karena melihat pergelangan kaki Jia yang tampak memar. " Aku tidak akan mengampuni mereka!" Ucapnya penuh emosi.


Jia yang bisa menduga apa yang akan dlakukan Nara langsung memegang tangan Nara yang hendak berdiri.


"Jangan pergi,jangan hukum mereka.Mereka nggak tahu kalau aku tunanganmu." Ucap Jia pelan penuh harap,berharap bisa menenangkan tunangannya itu.


"Mereka sudah sangat keterlaluan sayang,aku nggak akan tinggal diam melihatmu di perlakukan seperti ini." Nara masih bersikeras ingin memberi pelajaran pada karyawannya dengan tangannya sendiri.


"Kalau kamu pergi aku marah!" Seru Jia cemberut dengan tangan bersedekap membuang muka dari Nara.


Nara menghela nafas panjang,akhirnya dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping Jia karena nggak mau kesayangannya marah lagi seperti tadi.Tadi saja dia benar benar galau karena kemarahan Jia,dia tidak mau berbuat kesalahan untuk kedua kalinya lagi.


"Ok baby aku tetap disini,udah dong jangan ngambek lagi." Pinta Nara memelas,karena Jia masih membuang muka.


"Sayang." Nara mencoba merayu Jia.Jia yang sudah tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Nara yang konyol yang sangat berbeda dengan Nara yang tadi marah marah.


"Hwahaha....muka kamu lucu banget." Seru Jia sambil memegang perutnya yang sakit karena menahan tawa.


"Ow,jadi kamu ngerjain aku ya,ok lihat pembalasanku sekarang." Ucap Nara sambil menggelitik Jia.


"Ampun..udah Nara ampun..peace sayang." Ucap Jia terengah engah mengatur nafasnya.Nara yang nggak tega akhirnya melepaskan Jia.


"Ok aku lepasin tapi aku ganti hukuman yang lain." Ucapnya dengan tersenyum licik.


Jia yang tahu maksud hukuman dari Nara,buru buru mencoba bangun dari sofa tapi tangan Nara yang sudah menahannya dengan erat membuat Jia tidak bisa berdiri.Nara semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jia,Jia yang tidak bisa berbuat apa apa akhirnya pasrah dan memilih memejamkan matanya.Nara tersenyum kecil melihat Jia memejamkan mata yang tandanya dia memberikan lampu hijau.Nara tidak mau menyia nyiakan kesempatan mulai memegang tengkuk leher Jia lalu mencium lembut bibirnya,Jia yang sudah beberapa kali berciuman dengan Nara mulai bisa mengimbangi setiap ******* bibir Nara,walaupun terkadang masih kesulitan untuk mengambil nafas.Nara yang sudah tidak bisa menahan diri mulai menciumi leher Jia dan tangannya turun kedada Jia yang masih mengenakan seragam,dia membuka dua kancing kemeja Jia dan tangannya merayap masuk merasakan dua benda kenyal itu.


"Argghhh..." Terdengar desahan halus dari bibir Jia,Jia merasakan sensasi luar biasa di setiap sentuhan Nara,karena memang ini pertama kalinya bagian sensitif tubuhnya di sentuh oleh laki laki.Mendengar desahan dari bibir mungil Jia membuat Nara tersadar dan menghentikan aktivitasnya.


"Maafkan aku sayang,aku tidak bermaksud berbuat kurang ajar padamu." Nara berucap lirih penuh penyesalan dan mengancingkan kembali kemeja Jia yang sudah berantakan karena kelakuannya.Jia yang melihat Nara merasa bersalah segera mendekatinya dan mencium bibirnya.


Cup...


"Ini bukan sepenuhnya salahmu sayang." Saut Jia mengalungkan tangannya di leher Nara,dan sudah duduk di pangkuan Nara.Hingga membuat Nara tergoda dan mencium bibir kesayangannya itu lagi.


"Menikahlah denganku secepatnya sayang,aku takut aku tidak bisa menahan diri." Ucapnya lirih di sela ciumannya.


"Tunggu beberapa bulan lagi sayang." Entah kenapa Jia berubah jadi sedikit agresif sekarang,mungkin karena sudah tertular dengan kemesuman Nara ya,hehe.


.


.


.


.


.


Kasih vote ya kakak......