
"Ren,kita ke vila Jia saja." Ucap Nara tiba-tiba membuat Reno mendadak menginjak pedal remnya karena sudah hampir sampai di tempat acara baksos.
"Kenapa tuan?" Tanya Reno mengernyitkan dahinya heran kenapa bosnya mengubah rencana.
"Tidak apa-apa,aku hanya ingin memberi sedikit kejutan untuk Jia." Jawab Nara tersenyum tipis.
"Oh iya kamu matikan ponsel juga,jangan di aktifkan sebelum aku suruh." Imbuh Nara sembari mematikan ponselnya.
Reno hanya bisa menuruti perintah bosnya,walaupun sebenarnya dia tidak ingin mematikan ponselnya.Karena dia sudah sangat rindu dengan Abel,tapi dia tidak mungkin membantah.
"Nasib pacaran sama sahabat istri bos,kalau ada masalah pasti ikutan kena." Batin Reno menghela nafas panjang.Reno segera melajukan mobilnya lagi menuju ke vila.
"Selamat siang tuan." Sapa bi Elis saat membuka pintu dan melihat suami dari majikannya.
"Siang bi..." balas Nara dan Reno.
"Loh nona Jianya tidak ikut tuan?" Tanya bi Elis sambil menengok ke belakang Nara mencari-cari Jia.
"Jia ada acara baksos bi di dekat kampung ini juga,mungkin besok dia akan mampir kesini." Jawab Nara berjalan masuk dan berhenti di sofa.Dia menghempaskan tubuhnya dengan mata terpejam.Di ikuti Reno duduk di depannya.
"Saya permisi ke belakang dulu tuan." Pamit bi Elis,dan Reno menganggukan kepalanya.
Jia tampak sedang mengecek ponselnya berulang kali,di lihatnya menu panggilan tidak terdapat satupun panggilan,dan di whatsApp pun Jia juga tidak menemukan satu pesan dari suaminya.
"Kamu kenapa sih beb,dari tadi mainin hp mulu." Tanya Abel penasaran.
"Kenapa Nara nggak kasih kabar sama aku ya,ini kan sudah siang." Gumam Jia menjawab pertanyaan Abel.
"Kamu coba saja telfon duluan,beb." Ucap Abel memberi ide,Jia pun mengiyakan usul sahabatnya dan langsung mencari nama suaminya di kontak hpnya.
Tut....tut....
"Nggak aktif..." Ujar Jia panik.
"Bentar,aku coba telfon Reno,mungkin Nara masih sibuk." Abel segera menghubungi nomor Reno,tapi ternyata sama saja.Abel menggelengkan kepala menatap Jia ikut cemas.
"Jia....apa jangan-jangan mereka sudah tahu,terus sekarang mereka marah!" Seru Abel melotokan matanya takut.
Jia menggigit kukunya cemas,dia sedang berfikir kemungkinan terburuk saat Nara tahu kelakuannya hari ini yang melanggar perintahnya.
"Bel aku juga jadi takut nih..." Gumam Jia memandang melas ke arah Abel.
"Ah Jia kamu saja takut,gimana aku."
"Jia,ayo kita kumpul.Kata Bima mau briefing dulu." Tedengar suara Dea berteriak.
"Ayo Bel,nanti kita pikirin lagi."
"Ok teman-teman itu susunan acara kita selama berada disini ya,kita akan memulai acara pembagian bantuannya besok,untuk sekarang kita istirahat dulu dan malamnya akan ada acara api unggun ya."
Horeeee
Terdengar sorak senang para anggota mendengar pengarahan Bima,tapi tidak untuk Jia.Dia masih kepikiran dengan suaminya,sudah beberapa kali dia mengecek ponselnya tapi tidak satupun pesannya di balas,bahkan belum di baca.
Bima yang sedari tadi memperhatikan Jia yang terlihat cemas,segera menghampiri Jia saat di rasa teman-temannya sudah pergi.
"Jia kamu kenapa? Sepertinya dari tadi kamu tidak fokus dan terlihat cemas? Apa kamu sakit?" Tanya Bima sedikit khawatir.
"Ha...Eh..Nggak kok Bim,aku baik-baik saja." Jawab Jia terbata karena gugup.
"Aku ke tenda dulu ya Bim." Pamit Jia buru-buru dan menarik Abel.
"Jia....aku masih sayang kamu." Gumam Bima lirih,memandangi Jia yang sudah berada di tendanya.
"Sudahlah kawan,lupakan Jia.Kamu harus terima kenyataan dia sudah jadi milik orang lain." Nino tiba-tiba menepuk bahu Bima dan merangkulnya.
"Dia kan belum menikah,jadi aku masih punya kesempatan." Ujar Bima sambil berlalu hendak meninggalkan Nino.
Hey Bim,jangan nekat kamu!" Seru Nino berusaha mengejar sahabatnya itu yang sudah sampai ke tendanya.
"Tuan apa tidak sebaiknya kita mendatangi nona Jia,dia pasti cemas karena kita belum memberi kabar.Minimal kita mengaktifkan ponsel." Ujar Reno memberi saran,walaupun alasan utamanya adalah karena dia sudah tidak tahan untuk menemui Abel.
"Tahan sebentar lagi Ren,atau kamu mau aku pecat!" Seru Nara tanpa melihat Reno dan masih sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.
Mendengar ucapan Nara membuat Reno menelan salivanya susah payah karena takut.Terlihat di wajah bosnya ,kalau dia tidak main-main dengan ucapannya.Reno memilih diam dan meneguk teh yang di sajikan bi Elis dan menyantap makanan di depannya dengan lahap.
"Kamu pikir aku tidak khawatir dengan istriku,aku juga sudah sangat merindukannya tapi aku ingin memberi sedikit pelajaran pada istri nakalku itu,karena sudah berani berbohong." Batin Nara dalam hati setelah melirik Reno.
-----
"Besok setelah aku bertemu dengan nona Aruna aku akan datang menemui dia lagi." Gumam Justin memandangi foto Jia yang sempat dia ambil tadi dengan ponselnya.
Sampai di rumah Justin masih kepikiran dan terbayang-bayang wajah Jia.Rupanya Jia telah mengambil hati Justin saat pertama kali dia melihat Jia.
------
"Bel ini sudah malam tapi kenapa Nara belum menghubungi aku.Ponselnya juga belum aktif." Gerutu Jia frustasi,dia tidak menyangka perasaannya akan seperti ini saat jauh dari suaminya dan apalagi tanpa ada kabar sedikitpun.
"Sama beb,ponsel Reno juga belum aktif." Abel juga ketularan Jia frustasi.Mereka menjadi tidak bersemangat untuk makan,dan hanya memainkan makanan yang ada di depan mereka.
"Jia,Abel ayo kita kumpul ke tengah-tengah tenda,acara api unggunya mau di mulai." Sapa Nino yang mengagetkan Jia dan Abel.
"Ehm...iya No,sebentar lagi kita kesana." Ucap Jia lirih.
Tedengar sorak-sorak nyanyian dan petikan gitar yang Bima mainkan di depan api unggun,posisi duduk yang melingkar membuat Bima leluasa memandangi Jia di depannya yang hanya terhalang dengan kobaran api unggun.
Jia sekilas menatap Bima yang memperhatikannya,lalu segera memalingkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu.Bima memang sengaja memainkan lagu yang biasa dia nyanyikan bersama Jia dulu,dia berharap Jia akan teringat kenangan saat mereka bersama dulu.
"Kenapa semua orang menyukai perempuan sok cantik itu sih." Gerutu Mia kesal,yang sedari tadi memperhatikan Bima mengawasi Jia.
"Bel aku ke tenda dulu ya." Ucap Jia yang tiba-tiba bangkit dari duduknya dan bergegas ke tenda.Bima menatap Jia kecewa,karena sepertinya dia gagal menarik perhatian Jia.
"Iya Ren,aku tahu.Aku masuk ke tenda kamu jaga di sini ya." Ucap Nara setengah berbisik,dan di angguki oleh Reno.Entah apa yang di rencanakan Nara sampai dia harus diam-diam untuk menemui istrinya.
Grep...
Nara tiba-tiba memeluk Jia dari belakang saat sudah berhasil masuk ke dalam tenda.Merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya membuat Jia reflek hendak berteriak kalau saja Nara tidak segera menutup mulut Jia dengan tangannya.
"Hey sayang ini aku....Nara,suamimu." Bisik Nara di telinga Jia.Jia melemaskan otot-ototnya yang menegang beberapa detik yang lalu karena mengira ada lelaki yang hendak melecehkannya.
Nara membalikkan tubuh istrinya.Saat sudah berhadapan tiba-tiba Jia menangis dan memukul dada Nara berulang kali,dia menumpahkan rasa sesak di dadanya yang dia tahan dari tadi.
"Hey sayang,stop kenapa kamu mukulin aku,dan berhenti menangis." Ucap Nara memegang tangan Jia dan megusap air mata Jia yang deras mengalir di pipinya dengan tangan satunya.
"Kamu jahat Nara....kamu jahat!" Ucap Jia masih dengan menangis.
"Aku jahat kenapa?" Tanya Nara pura-pura tidak tahu.
"Kenapa kamu nggak ngabarin aku,padahal aku dari tadi cemas nungguin kabar kamu."
"Siapa yang jahat? Aku atau kamu?" Tanya Nara lagi.
"Maksud kamu apa?" Tanya Jia balik sambil mengusap air matanya.
"Huh...siapa yang tadi sudah berbohong dan melanggar perintah dari suaminya." Tanya Nara sambil menaikkan alisnya.
Menyadari kesalahannya membuat Jia hanya bisa berdiam dan tidak berani menjawab pertanyaan apalagi memandang wajah suaminya.
Jia memainkan jarinya di kancing kemeja Nara,lalu menusuk-nusuk pelan dada suaminya itu berulang kali.
"Maaf..." Gumam Jia lirih meneteskan air matanya lagi.Nara tidak tega melihat istrinya sedih seperti itu .
"Dasar istri nakal...Jangan di ulangi lagi ya,aku juga minta maaf karena lagi-lagi aku tidak mengerti perasaanmu sayang." Ucap Nara tersenyum lirih.
"Tapi kamu tetap harus di hukum karena sudah membohongi suamimu yang tampan ini." Bisik Nara penuh arti,yang langsung membuat Jia paham maksud dari perkataan suaminya itu.
"No Nara,tidak di sini...Emphmmm."
Nara tidak mengindahkan ucapan Jia,dia sudah tidak bisa menahan hasratnya sejak Jia memainkan dadanya tadi.
"Jia ngapain ya? Gumam Abel cemas,dan akhirnya dia memilih untuk kembali ke tenda.
"Kalau itu Abel,terus yang di dalam itu siapa?" Gumam Mia yang ternyata dari tadi mengawasi tenda Jia bersama kedua temannya.
"Awww...Jerit Abel karena ada seseorang yang menarik tangannya.
"Suttt,ini aku." Bisik Reno membekap mulut Abel.
"Reno kamu ngapain disini?" Tanya Abel saat berhasil melepas tangan Reno yang membekap mulutnya.
"Kangen sama kamu..." Jawab Reno santai.
Bug...
"Aww....Kenapa kamu mukul aku sayang?" Tanya Reno meringis memegangi dadanya yang sebenarnya tidak begitu sakit.Entah kenapa Reno jadi terlihat lebay kalau sedang berada di dekat Abel,padahal ini bukanlah sifatnya.
"Kamu tuh nyebelin dari tadi nggak kasih kabar,ponsel nggak aktif sekarang tiba-tiba dateng diam-diam." Abel mendengus kesal.
"Ya maaf,itu kan perintah bos ya aku nggak berani nglawan."
"Maksud kamu tuan Nara? terus dia dimana sekarang? Dari tadi Jia udah cemas tahu." Ucap Abel panjang lebar.
"Iya tenang saja mereka paling sudah baikan sekarang." Ujar Reno menatap ke arah tenda yang sedikit bergerak-gerak dari tadi dan sudah bisa di pastikan apa yang sedang di lakukan mereka di dalam.Membuat Abel melihat ke arah tenda dan tersenyum.
"Bagaimana kalian sudah memberi tahu kepala desa?" Tanya Mia memastikan pada temannya.
"Iya sudah Mia."
"Hahaha...tamat riwayatmu Jia." batin Mia tersenyum licik.
-----
"Hey Jia keluar kamu....dasar perempuan sok suci!" Teriak Mia lantang.
"Mia jaga bicaramu!" Seru Bima tidak terima,yang baru saja datang .
"Kamu sekarang boleh membela wanita sok suci itu,tapi sebentar lagi kamu akan tahu sifat aslinya yang diam-diam mengajak seorang pria masuk ke dalam tendanya.
Mia sudah bisa memastikan kalau Jia bersama seorang pria di dalam,karena dia bisa melihat aktifitas mereka dari bayangan di tenda dan mendengar sedikit desahan dari Jia tadi.
"Nara bagaimana ini kalau mereka sampai tahu kita berdua di sini." Bisik Jia takut.
"Kenapa kamu takut sayang,biarin saja mereka tahu toh kita ini kan sudah sah menjadi suami istri." Jawab Nara santai sambil mengancingkan kemejanya.
"Tapi...."
"Sudah percaya saja sama aku sayang." Bisik Nara dan mencium kening Jia perlahan.
"Jia cepat kamu keluar! Kamu jangan berbuat mesum,tujuan kita disini untuk acara sosial tapi kamu malah berhubungan di tempat seperti ini!" Seru Mia antusias,karena merasa mendapatkan senjata untuk menjatuhkan Jia.
"Memang kenapa kalau berhubungan di sini?" Seru Nara lantang,saat keluar dari tenda dan menggenggam erat tangan Jia.
"Dia istriku!" Ucap Nara tegas membuat semua orang di situ terkejut,tapi tidak untuk kepala desa.
.
.
.
. Bersambung