
"Huh...akhirnya selesai juga ujiannya." Gumam Jia saat keluar dari ruang ujian di susul Abel di belakangnya.
"Iya beb,lega deh akhirnya selesai.Sekarang sudah bebas tinggal nunggu pengumuman aja." Imbuh Abel.
Ya hari ini hari terakhir Jia dan Abel melaksanakan ujian nasional.Setelah selesai mereka tidak langsung tapi mereka hendak menuju ke kantin dulu.
"Beny....aku mau ke kantin dulu apa kamu keberatan menunggu sebentar?" Jia menghampiri Beny dan meminta ijin dulu,karena itu memang sudah perintah Nara kalau Jia harus pulang tepat waktu dan harus ijin kalau mau kemana-mana.
"Oh baiklah nona,mari saya antar." Jia hanya bisa memutar bola matanya kesal menanggapi ucapan Beny karena dia tahu Beny tidak akan mengijinkan dia pergi sendiri.
"Sudahlah beb,biarin saja dia ikut itukan yang nyuruh suami kamu." Sahut Abel.
"Huh...mau gimana lagi." Jia mendengus kesal dan beranjak berjalan mendahului Beny.
-----
"Tuan maaf,ada yang ingin saya sampaikan,ini tentang Kara." Reno ingin menyampaikan kabar kalau Kara sekarang berada di Indonesia.
Nara yang sedang sibuk dengan laptopnya seketika berhenti mendengar ucapan Reno dan menatapnya tajam menyimpan marah.
"Aku sudah bilang sama kamu Ren,aku tidak mau mendengar namanya lagi apalagi mengetahuinya tentang dia." Ucap Nara masih dengan tatapan tajamnya,yang membuat Reno takut.
"Iya maaf tuan saya tahu,tapi sudah beberapa hari ini dia selalu mencari cara untuk menemui anda dengan datang ke kantor." Ucapan Reno kali ini membuat Nara semakin kesal hingga dia menutup laptopnya.
"Aku tidak ingin bertemu apalagi berurusan dengannya lagi Ren,kamu harus mencegah dia untuk datang kesini aku tidak mau kalau sampai Jia bertemu dengan dia.Perketat keamanan disini." Nara berdiri di depan kaca ruangannya yang menghadap ke luar yang di penuhi dengan pemandangan gedung-gedung,entah apa yang dia pikirkan sekarang.Rasanya hatinya kembali sakit mendengar nama Kara,karena dia harus teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu yang membuat luka di hatinya,walaupun dulu Nara tidak mencintai Kara dari dalam hatinya tapi tetap saja hatinya merasa sakit karena pengkhianatan Kara.
"Baik tuan,saya akan melaksanakan perintah anda."
"Hubungi Beny,tanya apakah Jia sudah selesai aku ingin menjemputnya." Perintah Nara tanpa menyauti ucapan Reno tadi.Dan Renopun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Beny.
"Nona Jia sudah selesai tuan,sekarang sedang bersama Abel di kantin,dan saya sudah bilang anda akan kesana."
Tanpa menunggu lama Nara langsung mengajak Reno menjemput istrinya,entah kenapa tiba-tiba Nara ingin menemui istrinya padahal pekerjaannya masih sangat banyak.
Di sekolah....
"Surprise....." Seru Nara yang sudah memeluk Jia dari belakang hingga membuat Jia terkejut dan malu karena semua orang melihatnya.
"Nara kamu apa-apaan sih...aku kan malu." Gerutu Jia dengan muka cemberut.
"Kenapa mesti malu sih sayang,seharusnya kamu senang dong ketemu sama suamimu yang keren ini." Gumam Nara yang malah mencium pipi Jia dan membuat pipi Jia menjadi merah menahan malu.Jia hanya bisa menghela nafas menerima perlakuan lebay suaminya yang tiba-tiba itu.
"iya -iya aku nggak malu...tapi tumben kamu jemput,memang nggak ada pekerjaan?" Tanya Jia sambil menarik tangan Nara untuk duduk di sampingnya,sedangkan Reno tanpa di suruh dia sudah duduk di sebelah Abel dan meminum minuman Abel tanpa menghiraukan protes dari kekasihnya itu yang sudah ngomel-ngomel.
"Kamu lupa ya sayang,suamimu ini kan bos jadi terserah dong kalau mau ngapain saja." Ujar Nara sambil mencubit pipi istrinya gemas.Suasana hati Nara langsung berubah saat sudah bersama Jia seperti sekarang,dan melupakan masalah Kara sejenak.
"Kamu tadi bilang apa sayang? Apa itu bener,kalau kita akan punya baby?" Nara bertanya antusias,sedangkan Jia menjadi gelagapan harus menjawab apa karena ucapannya tadi.Bukannya Jia tidak mau jujur pada suaminya tapi dia sendiri saat ini juga belum yakin apakah hamil atau tidak.
"Ehm...bukan seperti itu maksudku sayang,aku kan bilangnya kalau nanti bukan sekarang." Jia mencubit hidung suaminya dan membuat Nara sedikit kecewa karena tadi dia sudah berharap kalau yang di ucapkan istrinya itu benar.
"Maaf sayang,bukannya aku mau membuat kamu kecewa tapi aku ingin memastikannya dulu sebelum aku memberi tahu kamu." Batin Jia dalam hati sedih melihat raut wajah suaminya yang menandakan kecewa.
"Sudah dong mukanya jangan kaya gitu,jelek tahu..." Jia mencubit kedua pipi Nara lalu memberikan ciuman di bibir suaminya supaya mengurangi sedikit rasa kecewanya.Dan terbukti suasana hati Nara bisa kembali baik setelah mendapat ciuman dari Jia.
"Huh....nasib jadi obat nyamuk." Batin Abel dan Reno yang salah tingkah melihat kemesraan dua orang di depan mereka yang tidak melihat tempat itu.
"Kalau gitu mending kita nyusul Arga sama Runa saja sayang kita bulan madu kan ujian kamu sudah selesai." Usul Nara tiba-tiba.
Mendengar ucapan suaminya Jia sangat senang,karena memang dia sangat ingin pergi ke Belanda.Dia sudah tidak sabar melihat rumah barunya dan menikmati suasana di kota impiannya itu.
"Mau...mau...aku mau banget sayang aku pengen kesana." Ucap Jia semangat di barengi anggukan kepalanya berulang membuat Nara tersenyum gemas.
"Ok sayang,aku usahakan kita akan menyusul Arga dalam waktu dekat ini,Ren kamu urus semuanya."
"Baik tuan."
"Beb kalau kamu pergi bulan madu,terus aku gimana? Aku nanti kangen dong sama kamu." Ucap Abel sedih.
"kamu ikut saja beb,nanti kamu nemenin tuan Reno biar nggak kesepian." Jia melirik Reno dan menggodanya hingga membuat Reno salah tingkah.
"Sayang aku nggak suka kamu melirik pria lain walapupun itu sekretarisku sendiri." Gumam Nara memegang dagu Jia dan di hadapkan ke wajahnya.
"Huh...iya suami posesifku...." Balas Jia kesal.
"Duh bos,,,masa iya cemburu sama aku." Batin Reno meggelengkan kepalanya melihat keposesifan bosnya.
"Duh tuan Nara tenang saja,Jia itu cintanya cuma sama anda.Jadi anda tidak perlu khawatir." Sahut Abel yang juga jadi gemas dengan sikap Nara.
-------
"Kamu terlihat sangat bahagia Jia,tapi aku belum bisa menghilangkan rasa cintaku padamu Jia,begitu sulit melupakanmu.Seandainya waktu bisa diputar kembali aku tidak akan berbuat bodoh Jia ,aku pasti akan menjagamu." Gumam Bima dari sudut ruangan melihat Jia dari jauh.
..
..
.
Bersambung.