NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Anakmu Bisa Marah



"Nona Aruna,tuan Justin...tolong cepat kemari!"


Justin dan Aruna saling pandang saat mendengar suara teriakan dari nyonya Mery.Tanpa menunggu lama mereka berdua segera bergegas menuju ke kamar Jia.


"Ada apa nyonya?" Tanya Aruna panik.


"Badan Jia panas nona,dia menggigil dan mengeluarkan keringat dingin." Jawab nyonya Mery juga panik.


Tanpa di minta Justin segera memeriksa Jia, "Kita harus segera membawa Jia ke rumah sakit nona Aruna." Ucap justin setelah memeriksa Jia.


"Jia kenapa tuan Justin,dia baik-baik saja kan? Kandungannya baik-baik saja kan?" Aruna panik dan sangat takut melihat kondisi adik iparnya saat ini.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit dan mengecek kondisi Jia sepenuhnya untuk mengetahui semua dengan jelas."


"Baik tuan." Runa hanya bisa menurut dengan ucapan Justin,karena dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang yang terpenting sekarang adalah keselamatan Jia dan juga bayi yang dia kandung.


----


"Tuan anda harus makan sesuatu,jangan seperti ini nanti anda bisa sakit.Bagaimana kita bisa mencari nona Jia kalau anda sampai sakit,tolong tuan sedikit saja." Reno berusaha membujuk Nara agar supaya mau makan sesuatu,karena setelah kejadian di rumah sakit tempo hari Nara tidak sedikitpun makan sesuatu.


Abel merasa iba melihat kondisi Nara saat ini,dia terlihat sangat kacau dan juga pucat. "Jia kamu dimana?" Batin Abel.


----


"Suster tolong..." Pinta Justin saat turun dari mobil dengan membopong Jia pada salah satu perawat yang tadi dia hubungi untuk menunggu di depan rumah sakit.


"Iya,baik dokter." Ucap seorang perawat dan membantu Justin meletakkan Jia di bed emergency dan mendorongnya menuju ruang pemeriksaan.


"Ya Tuhan tolong lindungi adik dan calon keponakanku." Gumam Runa dalam doanya. "Aku harus menghubungi Arga." Gumam Runa lagi dan segera mengeluarkan ponselnya.


"Sepertinya aku harus menghubungi tuan Nara,Jia sangat membutuhkan dia." Batin Justin menatap Jia yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit.


"Halo...tuan Nara,bisakah anda datang ke rumah sakit tempat saya magang?" Sapa Justin.


"Ada apa tuan Justin?" Sahut Nara dengan suara yang lemah.


"Saya mohon anda cepat datang,ini soal istri anda."


"Maksud anda apa tuan? Apa Jia ada disana?" Seru Nara antusias.


"Cepatlah datang tuan,dia membutuhkan anda!" Ucap Justin tanpa menjawab pertanyaan Nara dan langsung memutus sambungan telfonnya.


"Ada apa tuan?" Tanya Reno.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang Ren!" Seru Nara semangat.


Melihat wajah Nara yang berubah menjadi semangat,Reno segera mengikuti langkah Nara tanpa banyak bertanya karena dia yakin ada kabar baik yang baru saja bosnya dengar,begitu juga Abel yang hanya bisa menatap Reno penuh tanya.


****


"Sayang gimana apa yang kamu rasakan?" Tanya Aruna yang baru saja masuk dalam ruangan Jia.Dia sangat khawatir melihat kondisi adik iparnya dengan wajah yang sangat pucat.


"Aku nggak apa-apa kak...." Jawab Jia dengan suara lemah.


"Nggak apa-apa gimana sayang,wajah kamu pucat kayagini kok..."


Brak.....


"Jia......." Jia dan Aruna terkaget mendengar suara pintu yang terbuka karena dorongan keras,dan lebih kaget lagi melihat siapa yang berada di hadapan mereka saat ini.


"Sayang...." Gumam Nara dengan suara parau,seakan tidak percaya kalau saat ini dia sudah menemukan istrinya yang sangat dia rindukan.Tampak air mata sudah memenuhi di kedua matanya.


Nara berjalan menghampiri Jia,mengabaikan Aruna dan langsung menggenggam tangan Jia menciumnya hangat penuh cinta.


"Nara kenapa kamu bisa kesini?" Ucap Jia sambil menarik tangannya dari genggaman Nara hingga membuat Nara tampak kecewa dengan sikap Jia.


"Aku yang memberi tahunya Jia..." sahut Justin dari arah pintu di ikuti Reno dan juga Abel.


"Tuan Reno,Abel...." Gumam Jia pelan,Abel tampak sangat senang akhirnya bisa menemukan sahabatnya.Ingin sekali rasanya dia berlari dan memeluk Jia,tapi dia cukup tahu situasi yang tak memungkinkan jadi dia menahan keinginannya.


"Justin kenapa kamu...."


"Jia kamu harus membuang rasa gengsimu,kamu membutuhkan suamimu."


"Aku tidak membutuhkan dia,aku tidak membutuhkan suami yang tidak bisa mempercayai istrinya sendiri." Ucap Jia penuh penekanan dan memalingkan wajahnya ke samping,karena dia tidak mau Nara melihatnya yang hampir menangis.Jia teringat lagi kejadian beberapa waktu lalu,hatinya kembali merasakan sakit.


"Sayang aku minta maaf,aku memang salah karena tidak mempercayaimu saat itu.Kamu boleh membenciku,tapi tolong maafin aku sayang dan beri aku kesempatan sekali lagi." Nara memohon penuh harap bisa mendapatkan maaf dari Jia.


"Aku benar-benar minta maaf Jia,aku hancur tanpamu..." Gumam Nara lirih yang kini sudah berlutut di samping ranjang Jia menundukkan kepalanya dan menggenggam erat kembali tangan Jia membuat semua yang berada di ruangan itu menatapnya iba.


Jia tidak tega melihat suaminya melakukan hal itu.Dia mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. "Bangunlah,anakmu akan kembali marah padaku kalau melihatmu lebih lama lagi seperti itu.Dia sudah sering memarahiku karena menjauhkannya darimu." Ucap Jia yang sudah tidak bisa membendung air matanya untuk keluar.Tidak bisa di pungkiri kalau dia juga sangat merindukan suaminya.


"Sayang....kamu maafin aku?" Tanya Nara seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dan masih belum beranjak dari posisinya.


"Iya cepetan berdiri,perutku sudah mulai sakit lagi.Anakmu sudah mulai marah...." Ucap Jia mengerucutkan bibirnya kesal karena Nara tidak kunjung menuruti ucapannya.


Nara tersenyum lega melihat tingkah manja Jia lagi saat mengerucutkan bibirnya,itu salah satu kebiasaan Jia yang sangat dia rindukan.


"Terimakasih sayang sudah memaafkan aku." Bisik Nara setelah mencium kening Jia.


"Terpaksa..." Gumam Jia pelan tapi masih bisa di dengar Nara.


"Maksud kamu sayang?"


"Iya terpaksa,kalau nggak anakmu akan marah-marah terus dan membuat perutku sakit terus." Ucap Jia sambil mencebikkan bibirnya.Membuat Nara tersenyum lagi.


"Nggak apa-apalah terpaksa yang penting kamu maafin aku."


"Sayang kamu jangan marah-marah lagi ya,mulai sekarang papa janji akan selalu menjagamu dan juga mama.Papa nggak akan biarin kalian jauh dari papa lagi." Ucap Nara sambil mengusap perut Jia lembut dan menciumnya.


Melihat Jia sudah memaafkan Nara,Justin mengajak semuanya untuk keluar.Dia ingin memberi waktu untuk mereka mengobati rasa rindu mereka.


"Ga maaf,tapi kesehatan Jia dan calon keponakan kita lebih penting." Batin Aruna sesaat sebelum meninggalkan ruangan Jia.


"Kamu layak bahagia dengan tuan Nara yang begitu mencintaimu Jia." Ucap Justin dalam hati dan tersenyum tipis.


Reno dan Abel saling pandang,tampak kelegaan di hati mereka.


.


.


.


Halo kakak-kakak Nara's Love for Jia dateng lagi ya,maaf udah lama banget nggak up.Minta dukungannya lagi ya kak,kasih like vote dan juga komennya ya...Terimakasih.....