NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Aku Nggak Akan Macam-Macam



"Loh sayang kenapa kamu turun? Kamu harus banyak istirahat dulu." Seru Arga saat melihat Jia dan Nara dari arah tangga.


"Jia udah nggak apa-apa kak,lagian Jia bosan di kamar terus." Jawab Jia sambil menjatuhkan tubuhnya duduk di samping kakaknya,sedangkan Nara duduk di depannya bersama Aldo.


"Beneran kamu sudah enakan?" Tanya Arga sambil mengusap kepala adiknya itu.


"Iya kakak,aku nggak apa-apa." Jia nampak menggelayuti lengan Arga manja dan menyenderkan kepalanya di bahu Arga.Nara tersenyum kecil melihat tingkah Jia yang manja saat bersama Arga.


"Oh ya kak,kita pulang besok ya.Jia sudah banyak bolos sekolah,aku kangen sama sekolahan kak." Imbuh Jia memainkan tangan kakaknya.


Sejenak Nara dan Arga beradu pandang mendengar permintaan Jia.Karena sebenarnya mereka sudah sepakat untuk memberikan program homeschooling pada Jia.Awalnya Arga menolak usul Nara agar Jia sekolah di rumah,tapi setelah Nara memberikan penjelasan alasannya dan demi keselamatan Jia akhirnya Arga menyetujui usulnya.


Jia melihat kakaknya dan Nara sedang saling pandang memberi isyarat hingga membuatnya penasaran.


"Kakak kenapa lihat-lihatan sama Nara kaya gitu?"


"Jangan-jangan Nara pindah hati jadi menyukai kakakmu yang ganteng ini,Jia!" sahut Aldo tertawa,dan langsung mendapat lemparan bantal dari Arga.Narapun tak mau kalah,dia menepuk tangan Aldo yang ada di sampingnya.


"Sembarangan kamu Al!!" Seru Nara dengan tatapan tajam matanya,walaupun dia tahu Aldo bercanda.


"Hehe calm down bro...just kidding." Seru Aldo cengar cengir lalu mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya pertanda damai.


Jia tertawa melihat tingkah sahabat kakaknya itu. "Habisnya kamu sama kakak juga mencurigakan sih.." Sahut Jia di sela tawanya.


"Ih kamu ini sayang,jangan ketularan ngaco kaya Aldo deh." Ucap Arga mencubit hidung Jia.


"Gini Jia,aku sama Arga sudah sepakat kalau kamu akan belajar di rumah saja nggak perlu ke sekolah lagi." Nara memberi penjelasan tapi Jia hanya bengong karena belum tahu arah pembicaraan Nara.


"Maksudnya apa,aku nggak ngerti?" Ucap Jia memandang kakaknya dan Nara bergantian penasaran.


"Kamu homeschooling sayang." Imbuh Arga.


"Apa homeschooling? Jia nggak mau kakak,sekolah Jiakan cuma tinggal beberapa bulan lagi." Seru Jia protes menolak.


"Sayang ini semua demi keselamatan kamu,kakak nggak mau kejadian kemarin terulang lagi,kakak takut terjadi apa-apa sama kamu." Ucap Arga pelan memandang Jia dengan tatapan khawatir seorang kakak pada adiknya.


"Tapi kak,Jia bosan kalau harus belajar di rumah sendirian.Hanya beberapa bulan lagi kak,ijinin Jia belajar di sekolah saja Jia janji nggak akan kemana-mana setelah pulang sekolah Jia pasti langsung pulang.Jia bakal nurutin apapun perintah kakak tapi tolong ijinin Jia ke sekolah lagi kak." Jia merengek seperti anak kecil pada Arga sampai sudut matanya terlihat basah.


Nara sebenarnya tidak tega melihat Jia merengek sedih seperti itu,tapi dia tidak mau ambil resiko lagi.Dia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.


"Nara tolong bilang sama kakak,aku nggak mau belajar sendirian di rumah.Kamu kasih bodyguard aja buat ngawal aku kalau perlu dua atau tiga aku nggak apa-apa Nara." Imbuh Jia lagi menyentuh tangan Nara berharap Nara mau membantunya.


Nara menggenggam tangan Jia erat. " Sayang,tolong kali ini kamu nurut ya ini semua demi kebaikan kamu.Kita semua sayang sama kamu,kita nggak mau sampai terjadi hal yang buruk sama kamu sayang." Ujar Nara pelan memberi pengertian pada Jia.


"Kalian sama saja." Seru Jia dengan mata tampak kecewa,lalu beranjak berdiri menuju ke kamarnya.


"Jia..." Gumam Nara juga beranjak berdiri hendak menyusul Jia.Tapi langsung di cegah Arga.


"Biarkan dia sendiri dulu Nara,aku tahu adikku.Kalau sedang marah mustahil untuk membujuknya.berikan dia waktu dulu." Ucap Arga menghentikan niat Nara menyusul Jia.


"Baiklah."


-----


"Kenapa dari tadi kamu diam saja?" Reno mengemudikan mobil sambil memperhatikan Abel yang sedari tadi diam dan memandang keluar jendela tanpa mau melihatnya.


"Nggak apa-apa." Jawab Abel singkat,tanpa menoleh ke arah Reno.


"Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kamu menghindar dariku.Apa aku membuat salah padamu?" Reno masih mencoba bicara baik-baik dan menahan rasa kesalnya.


"Itu cuma perasaan kamu saja." Abel masih enggan untuk menatap Reno.Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia jadi menjaga jarak dengan Reno,yang Abel tahu sekarang dia hanya menuruti kata hatinya,dengan menghindar dari Reno berharap dia peka dan mengakui kalau dia mencintainya dan tidak bermaksud mempermainkan hatinya.


Ciittttt


"Cukup Abel!!! Aku sudah cukup bersabar menghadapi sikapmu,apa maumu sebenarnya?" Seru Reno dengan suara meninggi dan menghentikan mobilnya secara mendadak.


Seketika Abel terkejut dengan teriakan Reno,dia tidak menyangka kalau Reno akan membentaknya.Air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi untuk keluar dari matanya.


Melihat Abel menangis membuat Reno sadar kalau kata-katanya sudah menyakiti hati wanita yang dia sukai.


"Abel maaf aku tidak bermaksud untuk membentakmu." Reno mengusap air mata Abel yang mengalir deras di pipi Abel,tapi Abel langsung menepis kasar tangan Reno.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu,sebenarnya apa maumu! Kamu tiba tiba mendekatiku memperlakukan aku seperti milikmu,memberi perhatian padaku,melarangku dekat dengan lelaki lain tapi kamu tidak memberikan aku kepastian,tentang siapa aku buatmu!" Abel meluapkan emosinya,dia mengungkapkan semua isi hatinya yang dia pendam beberapa hari ini.


Reno terkejut mendengar pengakuan Abel,dia tidak menyangka kalau selama ini Abel tidak tahu arti dari perhatian dan sikapnya padanya.


"Apa kamu tidak bisa merasakan kalau aku mencintaimu?" Tanya Reno dengan suara yang melunak.


"Apa maksudmu?" Abel berganti bertanya.


"Oh ya Tuhan,ciumanku,perhatianku,laranganku selama ini.Apa kamu tidak bisa menyimpulkan kalau aku mencintaimu bocah kecil?" Tanyanya lagi.


"Bagaimana aku tahu kalau kamu nggak bilang." Ucap Abel polos.


"Aku lupa kalau aku menyukai gadis kecil yang masih polos." Batin Reno tersenyum memandang wajah Abel yang masih terlihat sisa-sisa air mata.


Reno mengusap sisa air mata di wajah Abel lalu menggenggam kedua tangannya. "Aku minta maaf karena membuatmu kesal ,tapi yang harus kamu tahu apa yang aku lakukan selama ini padamu itu semata-mata karena aku mencintaimu Abel." Ucap Reno menggenggam tangan Abel erat.


Abel diam terpaku mendengar pengakuan Reno,lidahnya terasa kelu tidak bisa mengucapkan kata-kata.Hatinya terlalu bahagia karena sudah mendengar apa yang ingin dia dengar selama ini,ya pengakuan cinta dari Reno.


"Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Reno menatap mata Abel dalam.


"Abel...maukah kamu me...?"


"Mau...aku mau meni...hah apa menikah? Nggak,nggak mau aku belum mau menikah." Ucap Abel panik setelah menyadari ucapan Reno.


"Maksudnya aku tidak mau menikah sekarang,aku kan masih sekolah."Imbuhnya lagi meralat ucapannya.


Reno menarik ujung bibirnya tersenyum melihat tingkah Abel.


"Oh Tuhan,ambil nyawaku.Hatiku sakit sekali di tolak wanita yang aku cintai." Gumam Reno melepaskan genggaman tangannya dan menghempaskan tubuhnya di jok mobil pura-pura ingin menangis untuk menggoda Abel.


"Hey siapa bilang aku nolak kamu,aku kan cuma bilang belum mau menikah sekarang." Ujar Abel panik sambil menarik-narik lengan Reno.


"Hahaha...kena deh di kerjain..." Reno tertawa melihat wajah Abel yang panik.


"Kamu ngerjain aku ya,dasar nyebelin." Seru Abel sambil mencubiti lengan dan tangan Reno kesal.


"Ampun...ampun sayang.." Seru Reno menyerah karena tidak tahan Abel menggelitik dan mencubitnya.


"Biarin,siapa suruh iseng!" Abel tidak mau mengakhiri cubitannya sampai tangan Reno menangkap tangannya dan pandangan mereka bertemu membuat mereka sejenak terdiam.


"Abel kamu mau kan jadi pacarku?" Ucap Reno pelan.Abel spontan menganggukan kepalanya menerima permintaan Reno.


"I love you..." Bisik Reno yang entah sejak kapan wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Abel,di pegangnya dagu runcing Abel dan dengan lembut bibirnya mengecup bibir Abel,merasa tidak ada penolakan darinya Reno semakin dalam mencium bibir Abel hingga beberapa menit sampai ada suara klakson mobil mengagetkan mereka dan terpaksa menghentikan ciuman mereka.


"Menyebalkan,mengganggu saja..." Gerutu Reno lalu menjalankan lagi mobilnya.Abel tersenyum melihat Reno yang sedang kesal.


Selama di perjalanan tangan Reno tidak sedetikpun melepaskan tangan Abel.


----


"Kenapa mereka berdua jadi menyebalkan." Gerutu Jia yang berbaring di tempat tidurnya menggerutu tidak jelas masih kesal dengan Nara dan kakaknya.


Drt...drt...


Ponsel Jia berbunyi terlihat ada satu pesan masuk.Jia mengambil ponselnya yang berada di atas meja.Terlihat ada satu pesan dari Bima.


"Ngapain Bima kirim pesan." Batin Jia.


Bima:


Jia gimana keadaan kamu? Kamu sudah sembuh apa belum,kenapa kamu belum masuk sekolah.


Jia hanya membaca pesan dari Bima tanpa ingin membalasnya,hatinya menjadi kesal lagi mengingat permintaan kakaknya dan juga Nara.


Bima:


Jia acara baksos tinggal beberapa hari lagi,kita harus mengadakan rapat untuk memastikan acara besok lancar.


Lagi-lagi Jia hanya membaca pesan dari Bima dan tidak mau membalasnya.


"Ah iya acara baksos tinggal beberapa hari lagi,untuk ke sekolah saja mereka nggak kasih ijin apalagi acara di luar sekolah mana mungkin di ijinin..arghh sebel." Desis Jia kesal.


Lelah dengan pikirannya sendiri akhirnya membuat Jia tertidur pulas,hingga tidak menyadari saat kakaknya masuk ke dalam kamarnya.


"Maafkan kakak sayang,ini demi kebaikanmu." Gumam Arga mengusap rambut adiknya yang sudah terlelap dan memberikan kecupan selamat malam di kening adik kesayangannya itu.


"Ga bolehkah aku tidur di sini untuk menjaga Jia." Suara Nara mengagetkan Arga yang baru saja mencium kening Jia,lalu menoleh ke sumber suara.


Arga mengerutkan dahinya mencerna kata-kata Nara barusan.


Tahu Arga sedang berpikir macam-macam karena ucapannya,Nara segera memberi penjelasan.


"Aku nggak akan macam-macam Ga.aku janji."


.


.


.


Kasih like,rate,sama votenya ya kakak.....