
"Dokter Justin....Anda sebaiknya mengambil cuti untuk sementara waktu." Ucap dokter Jessi yang sudah duduk di mejanya berhadapan dengan Justin meninggalkan Jia dan nyonya Mery yang masih berada di ranjang.
"Maksudmu dok? Untuk apa aku cuti?" Tanya Justin bingung.
"Ya untuk menemani istri anda yang sedang hamil,dia butuh perhatian lebih apalagi janinnya.Walaupun janinnya sangat kuat tapi dia dan ibunya membutuhkan perhatian lebih dari orang terdekatnya.Dan anda kan suaminya sudah sepantasnya andalah yang menemani." Ujar dokter Jessi sambil menuliskan resep obat.
Mendengar ucapan temannya itu membuat Justin diam termangu. " Andai dia istriku tanpa kau minta aku akan cuti atau bahkan keluar dari pekerjaanku dan menemaninya setiap waktu." Batin Justin melirik ke arah Jia yang berjalan ke arahnya di bantu nyonya Mery.
"Dia bukan istriku dok,dia istri temanku dan aku hanya mengantarnya sebelum suaminya datang dari Indonesia." Seru Justin sengaja sedikit mengeraskan suaranya agar Jia mendengar.Seperti dengan keinginannya Jia menatap Justin dengan mengernyitkan dahinya.
"Oh maaf,aku kira dia istrimu.Ok kalau begitu ini anda harus menebus obatnya." Dokter Jessi memberikan secarik kertas resep pada Justin.
"Nyonya Mery saya titip Jia sebentar,saya akan menebus obat dulu." Justin melangkahkan kaki keluar tanpa melihat Jia yang menatapnya.
"Oh ya nona Jia,anda beruntung mempunyai teman seperti dokter Justin asal nona tahu dia itu sangat sulit sekali di dekati,selain tampan dan baik dia itu satu-satunya dokter disini yang belum mempunyai pasangan loh...Entah wanita seperti apa yang menjadi kriterianya.Sudah banyak dokter wanita dan perawat disini menyatakan cinta padanya tapi selalu saja di tolak.Dan saya terkejut saat melihat kedatangan anda bersamanya tadi saya kira anda adalah istrinya." Ucap dokter Jessi tersenyum mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya tadi.
"Oh benarkah itu dokter,berarti saya termasuk wanita yang beruntung karena bisa menjadi temannya.Kalau begitu anda harus berguru pada saya karena sepertinya anda adalah salah satu wanita yang anda katakan tadi." Ucap Jia menggoda dokter Jessi yang langsung membuat wajahnya memerah karena Jia mengetahui kalau dia juga menyukai dokter Justin.
"Ah anda bisa saja nona..." Balasnya tersipu malu.
--------
"Tuan Nara...." Sapa Justin setelah mengamati dan yakin bahwa yang di lihatnya adalah Nara adik ipar Arga.Justin menghampiri Nara yang masih tampak diam mengernyitkan dahi memandang Justin.
"Saya Justin tuan,teman bisnis nona Aruna dan istri anda.Kita pernah bertemu di pernikahan nona Aruna dan tuan Arga." Justin yang paham kalau Nara pangling padanya mencoba mengingatkan dengan menceritakan kembali pertemuannya dengan Nara.
"Oh iya saya ingat...anda tuan Justin." Seru Nara kemudian setelah teringat siapa Justin."
"Sedang apa anda disini tuan? Bukannya kemarin tuan Arga dan nona Aruna balik ke Indonesia yang sepertinya ada masalah penting karena mereka terlihat cemas dan terburu-buru."
Deg...
Mendengar ucapan Justin hati Nara tersentak. " Apa mungkin Arga sudah tahu tentang Jia!" Batin Nara.
"Tuan anda tidak apa-apa kan?" Justin menegur Nara yang tiba-tiba saja melamun.
"Hah...ehm..iya saya baik-baik saja.Apa yang anda lakukan disini tuan Justin?" Tanya Nara basa-basi.
"Saya magang disini tuan,tapi sekarang saya sedang mengantar teman saya memeriksakan kandungannya." Jawab Justin tersenyum.
"Teman anda yang hamil? Anda ini terlalu baik tuan,sampai mau mengantarkan teman anda memang suaminya kemana?" Tanya Nara lagi lirih,karena harus menahan rasa sakitnya.
"Ehm....suaminya..."
"Tuan....mari sudah giliran anda untuk periksa." Ucap Reno memotong ucapan Justin.
"Pantas saja,wajahnya pucat sekali.Rupanya tuan Nara sedang sakit." Batin Justin.
"Tuan bisakah kita bertukar nomor telfon,nanti anda harus mampir ke rumah saya." Entah kenapa tiba-tiba saja Justin merasa harus melakukan itu.Dia sendiri juga tidak tahu kenapa,dia hanya menuruti kata hatinya.
"Terimakasih tuan." Ujar Justin setelah berhasil bertukar nomor telfon dengan Nara.
"Justin......" Justin menoleh ke arah suara yang memanggilnya yang tak lain adalah Jia.
"Apa belum selesai,kenapa kamu lama sekali?" Tanya Jia lagi menghampiri Justin di dampingi nyonya Mery.
"Ehm...maaf Jia,tadi aku bertemu dengan temanku yang kebetulan dari Indonesia jadi aku menyapanya sebentar.Aku sudah selesai ayo kita pulang." Justin tanpa sadar memegang tangan Jia dan dengan cepat Jia menepisnya.
"Maaf Jia,aku nggak bermaksud." Ucap Justin menyesal,merutuki kebodohannya yang sudah membuat Jia tidak nyaman dengannya.
------
"Wah beruntung sekali wanita tadi,dia hanya teman dokter Justin tapi aku melihat bagaimana dokter Justin memberikan perhatian yang lebih padanya.Padahal wanita itu sedang hamil,entah kemana suaminya kenapa harus merepotkan dokter Justin." Gerutu salah seorang perawat yang sempat menyita perhatian Nara saat melintas di depannya.
"Jia....dimana kamu sayang?" Gumam Nara dengan suara parau.
"Tuan mari kita pulang,dimana Abel tuan?" Reno baru saja kembali dan pertanyaannya membuyarkan lamunan Nara.
"Tuan....tuan...." Teriak Abel dengan nafas tersengal-sengal.
"Ada apa Bel?" Tanya Nara dan Reno bersamaan.
"Ini tuan...." Abel mengulurkan syal yang ada di tangannya di depan Nara.
"Untuk apa....?" Tanya Nara mengerutkan keningnya,belum paham dengan maksud Abel.
"Abel katakan ada apa,jangan membuat kami penasaran." Seru Reno yang mulai tak sabar.
"Ini syal Jia tuan,saya menemukannya jatuh di lantai di depan ruang obat.
"Apa maksudmu,apa kamu yakin?" Seru Reno lagi.
"Sangat yakin,ini syal yang aku berikan untuk Jia saat ulang tahunnya karena disini ada namaku dan juga Jia." Abel memperlihatkan tulisan namanya dan juga Jia pada Reno,yang langsung di rampas oleh Nara.
"Berarti Jia ada di sini." Gumam Nara langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke tempat Abel menemukan syal tadi.
"Jia....Jia...dimana kamu sayang....?" Nara berteriak-teriak memanggil Jia saat tak menemukan Jia di tempat yang di tunjuk Abel.
"Tuan...anda jangan berteriak nanti kita akan di usir dari sini." Reno mencoba menenangkan Nara yang sudah lepas kontrol.
Dan sekarang mereka sedang menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas.
"Aku tidak perduli Ren...."
------
"Sayang kamu istirahat dulu,mommy akan membuatkanmu sup agar tubuhmu hangat." Nyonya Mery hendak beranjak berdiri,tapi tangannya di tahan oleh Jia.
"Mom....maaf.Baru beberapa hari Jia sudah merepotkan mommy." Ucap Jia lirih dengan tatapan sendu.
"Hey sayang,tidak ada kata merepotkan antara ibu dan anak.Kamu jangan berpikiran macam-macam.Sekarang kamu istirahat sambil menunggu mommy membuatkanmu sup." Jia menganggukkan kepala patuh layaknya anak kecil menurut pada ibunya.
Justin tersenyum samar melihat kedekatan antara Jia dan nyonya Mery.Dia sedikit lega karena disini Jia aman dengan nyonya Mery di sampingnya yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Sedangkan Nara masih berada di rumah sakit untuk mencari keberadaan Jia.Renopun berusaha mencari tahu data atas nama Jia di tempat pendaftaran,tapi sia-sia karena pihak rumah sakit tidak mau memberikan data pasien karena itu sudah menjadi kebijakan pihak rumah sakit.Seandainya di Indonesia pasti Nara sudah menutup rumah sakit ini,sayangnya ini di Belanda.Ini di luar kuasanya.Dan ini membuat Nara semakin terpuruk,karena belum bisa menemukan Jia padahal tadi petunjuknya sudah sangat dekat.
.
.
.