NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Restu Kakak



Nara dan Jia saling pandang dan langsung duduk menjauh.Nara hendak berdiri tapi Arga sudah berjalan ke arahnya dan menyuruhnya untuk tetap ada di tempatnya.Arga mengambil kursi rias Jia,Reno mengikutinya masuk dan duduk di sofa kamar Jia.


Nara menelan salivanya dengan susah payah,dia seperti kepergok sedang mencuri.Belum pernah dia segugup ini menghadapi seseorang padahal dia sering melakukan meeting bersama orang orang penting tapi tidak segugup sekarang..dia menghela nafas panjang lalu menatap Jia sebentar sambil menganggukan kepalanya memberi isyarat pada Jia kalau dia yang akan menjelaskan semua.


"Tuan Arga saya minta maaf atas kejadian barusan." Nara mulai menjelaskan,dia akan meneruskan kata katanya tapi dipotong oleh Arga.


"Panggil Arga saja,inikan tidak di lingkungan kerja lagian kita sepantaran apalagi sebentar lagi kamu akan jadi adikku." Ucap arga santai,yang justru membuat seluruh isi ruangan kaget dan menjadi hening.Nara dan Jia saling pandang lagi,mereka mencoba mencerna ucapan dari Arga.


"Maksud kakak apa?" Tanya Jia yang masih bingung.


"Huh...kenapa kalian nggak paham paham sih,kakak sudah mendengar semua pembicaraan kalian sayang,kalau kamu sudah yakin dengan pilihanmu kakak nggak akan menentangnya,asalkan kamu bahagia kakak juga bahagia sayang." Ujar Arga sambil menatap adiknya yang sudah hampir menangis.


Jia beranjak dari tempat tidurnya dan langsung memeluk kakaknya hingga hampir terjatuh.


"Jia sayang kakak." Ucapnya dengan air mata yang mengalir deras karena bahagia.


"Kakak juga sayang kamu,sudah jangan menangis lagi.Kenapa sekarang kamu jadi cengeng seperti ini." Nara melepas pelukannya dan menghapus air mata Jia yang sudah duduk di pangkuannya.


"Ini terakhir kalinya kakak menghapus air matamu sayang,mungkin nanti kalau kamu menangis bukan kakak lagi yang akan meghapusnya." Imbuh Arga dan mencium kening Jia,membuat Jia memeluknya lagi.


" Aku tidak akan membuat Jia menangis tuan!" Saut Nara.


"Just Arga!" Seru Arga.


" I..Iya tu..eh Arga." Jawab Nara dengan gugup.Reno dan Jia tertawa melihat Nara gugup.


Arga mengajak Jia dan Nara duduk di sofa bersama Reno.Dan membahas acara pertunangan mereka.


"Ok,kapan kalian ingin bertunangan?" Tanya Arga memulai pembicaraan.


"Kalau tidak keberatan besok lusa." Seru Nara yang langsung membuat Jia kaget,tapi tidak dengan Arga.Dia tahu orang seperti Nara tidak akan mau menunda nunda pekerjaan apalagi ini menyangkut masalah hati.


" Kamu gi.."Jia belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi sudah disela kakaknya.


"Ok aku setuju." Saut Arga ,yang langsung menuai protes dari Jia.


"Kakak kenapa setuju sih sama ide gilanya dia." Ucap Jia sambil melirik Nara yang sudah tersenyum penuh kemenangan.


"Terus kakak harus bilang apa sayang,bukannya kamu juga nggak bisa jauh dari Nara lagi,lagian kakak nggak mau kamu jadi pembohong lagi." Seru Arga menggoda adiknya.


"Hah..maksud kakak?Apa jangan jangan kakak juga tahu aku tadi." Arga mengangguk pelan karena tahu maksud ucapan Jia.Jia menutup wajahnya karena malu kakaknya juga tahu kalau dia tadi berbohong.


Jia mengambil bantal sofa dan memukul pelan Nara yang duduk di sampingnya. "Ini semua gara gara kamu." Ucapnya lalu beranjak duduk di samping kakaknya dan memeluknya dengan mengerucutkan bibirnya ke arah Nara.


"Kok jadi aku yang di salahin sih,kan kamu yang berbohong."Nara mencoba membela dirinya sendiri sambil menahan tawa melihat tingkah Jia yang seperti anak kecil.


"Pokoknya salah kamu." Balas Jia tetap nggak mau ngalah dengan masih cemberut.


" Ok..ok aku yang salah." Akhirnya Nara mengalah tak berdaya melihat kesayangannya ngambek.Arga dan Reno tertawa melihat tingkah kedua orang di hadapan mereka.


"Besok besok jangan ngambekan lagi ya sayang,kamu harus bisa berpikir dewasa jangan kaya anak kecil terus." Ucap Arga sambil mengacak acak rambut adiknya.Jia hanya nyengir menanggapi ucapan kakaknya.


"Nggak apa apa Ga,justru sifat kekanakannya itu yang membuat aku suka." Saut Nara.


Krucuk...krucuk


Tiba tiba ada suara yang mengalihkan perhatian mereka.Jia hanya menyengir kuda setelah semua orang menatapnya,karena suara tadi berasal dari perut Jia.


"Ya sudah kamu mandi dulu habis itu kita sarapan dan membahas semua persiapan untuk nanti."


"Ok kak."


Sambil menunggu Jia mandi,Arga Nara dan Reno menunggu di ruang tamu dan membahas persiapan besok tanpa Jia.


" Ok aku setuju,semua aku serahkan sama kalian karena aku dan Jia juga sudah tidak punya keluarga lagi jadi, aku tidak harus menghubungi siapa siapa." Ucap Arga setuju dengan rencana Nara.


"Ren kamu atur semuanya ya,dan jangan sampai ada yang terlewat." seru Nara memberi perintah pada Reno.


"Baik tuan."


Setelah selesai sarapan Nara dan Reno pamit pulang untuk mengatur semuanya.Di dalam perjalanan kehotel Nara tampak menghubungi mamanya.Nara menghela nafas saat sudah mengakhiri telfonnya dan melirik ke arah reno yang sedang menyetir mobil.


"Kapan kamu memberitahunya Ren?" Tanya Nara, yang sebenarnya tadi ingin memberi tahu mamanya tapi mamanya sudah tahu dan sekarang sudah dalam perjalanan menuju ke Bali.


"Heheh maaf tuan,tadi nyonya menelfon saya terus menerus menanyakan anda karena ponsel anda tidak bisa di hubungi,dan saya keceplosan bilang kalau anda sedang berjuang menaklukkan hati calon menantunya." Jawab Reno terkekeh,karena melihat Nara menggeleng gelengkan kepalanya mendengar jawaban Reno.


"Good job." Ujar Nara mengacungkan jempolnya.Reno lega karena bosnya tidak marah.Nara mengajak Reno kehotel dulu sebelum kebandara menjemput orangtuanya.Sampainya dihotel Nara langsung menuju kekamarnya tapi tidak dengan Reno,dia berjalan keruangan manager dan memberi tahu kalau besok lusa pemilik hotel yang tak lain adalah Nara akan melangsungkan acara pertunangannya dihotel ini.Reno memerintahkan manager hotel untuk mengatur semuanya.


"Kakak apa ini tidak terburu buru,kalau pertunanganku diadakan dua hari lagi." Ucap Jia saat dia berada di taman di samping rumah mereka.


"Menurut kakak Nara pria yang baik,kakak merasa dia sangat mencintaimu.Lagipula dia pria mapan jadi kakak tenang karena kamu nggak akan kekurangan apapun kalau menikah dengannya." Jawab Arga menggoda adiknya.


"Ah kakak,Jia kan bukan cewek matre." Saut Jia dengan melipat tangannya didada cemberut.


"Hahaha..iya sayang kakak tahu." Arga mencubit pipi adiknya yang sedang cemberut.


"Terimakasih kak,terimakasih untuk semuanya.Jia sayang kakak." Jia memberi pelukan untuk kakaknya sebelum berlari kekamarnya.Arga tersenyum melihat tingkah adiknya itu.


" Ma,pa Arga nggak salah kan kalau mengijinkan Jia menikah muda." Gumam Arga sambil memejamkan matanya.


Nara dan Reno sudah berada di bandara untuk menjemput kedua orang tua Nara.Terlihat dari pintu keluar wanita setengah baya melambaikan tangan ke arah Nara.


"Hey sayang.'' Teriak wanita itu yang tak lain adalah mama Ajeng dari Nara.Nara dan Reno segera menghampirinya,terlihat juga papa Wira dan beberapa bodyguard dan ada dua orang wanita lagi yang Nara tidak kenal.


"Halo mamaku sayang,gimana perjalanannya ma?" Tanya Nara memberikan pelukan hangat untuk ibunya,dan bergantian memeluk ayahnya.


"Dasar anak nakal,bisa bisanya memberikan kabar mendadak seperti ini.Untung ini kabar baik." Jawab mamanya.


" Haha,iya maaf ma habis calon menantumu ini spesial jadi kalau nggak buru buru Nara ikat nanti dia kabur." Saut Nara dengan tawanya.


"Huh dasar kamu,sekalinya mau menuruti kemauan papa sama mama tapi semuanya serba mendadak.Lalu sekarang dimana calon menantuku.Aku sudah tidak sabar melihat wanita yang bisa membuat anakku ini ingin segera menikah." Saut papa Wira yang melihat kesekitar mencari wanita yang di cintai anaknya itu.


"Dia tidak ikut yah,dia saja tidak tahu kalau papa sama mama ada disini sekarang." Ucap Nara.


"Kalau begitu kita sekarang kerumahnya,aku juga sudah tidak sabar melihatnya,pasti dia sangat cantik." Saut mama Ajeng.


Mereka dalam perjalanan menuju ke rumah Jia.Nara sudah memberi tahu Jia kalau orangtuanya datang dan sekarang sedang menuju ke rumahnya,dan itu membuat Jia kesal karena memberi tahu mendadak padahal dia belum ada persiapan sama sekali untuk bertemu calon mertuanya.


"Huh kenapa anak sama orang tua sama aja sih,sama sama suka datang mendadak,dan maksain kehendak,aku kan nggak tahu nanti mesti ngomong apa." Gumam Jia panik.


To be continued...