NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Aku Tidak Suka Kalimat Terakhirmu



Abel duduk di tepi ranjang sebelah Jia sedang memainkan ponselnya untuk menunggu Jia bangun.


Tidak beberapa lama terlihat tangan Jia sedikit bergerak.


"Beb....kamu sudah sadar?" Gumam Abel saat melihat tangan Jia bergerak.


"Aww..."Jia meringis kesakitan saat tangannya tidak sengaja menyentuh luka di pipinya.


"Jia...mana yang sakit?" Ucap Abel menyentuh bahu Jia pelan.Jia mengerjapkan matanya perlahan mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi dan dimana dia sekarang.


"Abel...." Gumam Jia lirih saat matanya melihat Abel sahabatnya di depannya.


"Iya Jia,kamu beneran udah sadar,gimana apa ada yang sakit,kamu mau minum atau mau apa?" Cerocos Abel karena sangking senangnya melihat Jia sadar.


Jia melihat ke sekeliling tempat dia berada dan masih mencoba mengingat ingat kejadian sebelum dia berada di kamarnya.


"Aku nggak mau apa-apa Bel." Jawab Jia sambil tersenyum saat sudah mengingat apa yang sudah terjadi tadi.Jia melihat ke sekitar lagi mencari-cari Nara,karena seingatnya tadi dia sedang berada di satu mobil bersama Nara saat pergi dari tempat penculikan.


"Kamu cari Nara ya?" Tanya Abel seakan tahu apa yang sedang di pikirkan sahabatnya ini.


"Emmmm...enggak Bel." Sahut Jia mencoba menyangkal,padahal memang dia sedang mencari Nara.


"Udah nggak usah ngelak sayang,kita tuh sudah sahabatan lama jadi aku tahu kalau kamu lagi berbohong.Aku akan panggilkan tuan Nara,kamu tunggu sebentar ya." Ucap Abel seraya beranjak berdiri hendak memanggil Nara dan memberi tahu kalau Jia sudah sadar.Tapi,Jia malah menahan tangan Abel.


"Nggak usah beb." Ujar Jia melarang Abel memanggiI Nara.Abel menyentuh tangan Jia dan duduk lagi.


"Beb,dari tadi tuan Nara sangat mencemaskanmu dia sangat khawatir.Lagian,banyak yang harus kamu bicarakan dengannya dan menyelesaikan kesalah pahaman ini Jia.Aku sudah tahu semua dari Reno,aku bisa saja menberi tahu kamu tapi lebih baiknya kalau kamu mendengar langsung dari tuan Nara." Ucap Abel panjang memberi pengertian pada Jia dan akhirnya membuat Jia membiarkan sahabatnya itu pergi untuk memanggil Nara.


Mendengar suara langkah dari arah tangga membuat para lelaki yang ada di ruang tengah segera menoleh.


"Bel,kenapa kamu turun? Apa Jia sudah sadar?" Tanya Arga saat tahu yang turun adalah Abel.


"Sudah kak baru saja." Jawab Abel dan mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Arga.


"Lalu kenapa kamu tinggal dia?" Sahut Nara.


"Jia nunggu anda tuan." Ucap Abel pada Nara.Tanpa berpikir panjang Nara segera beranjak ke kamar Jia setelah meminta ijin pada Arga.


Ceklek


Nara membuka pintu perlahan agar tidak mengganggu Jia,saat pintu sudah terbuka di lihatnya Jia sudah sadar dan sedang duduk menyenderkan tubuhnya pada bantal di ujung tempat tidurnya.


Nara beradu pandang dengan Jia dan masih berdiri di depan pintu.


"Sayang apa aku boleh masuk?'' Tanya Nara belum beranjak dari tempatnya berdiri.


Jia tidak mengucapkan satu katapun tapi dia menjawab permintaan Nara dengan tersenyum dan anggukan kecil.Senyuman yang membuat hati Nara teduh dan lega.


Nara berjalan masuk dan menggeser kursi di sebelah ranjang untuk dia duduk.


"Apa masih sakit?" Nara mengusap pipi Jia yang terbalut plaster dan sedikit perban.Jia menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Nara.


Nara menggenggam tangan Jia lalu menempelkan di dadanya. "Maafkan aku sayang." Gumamnya perlahan dengan tatapan sayu di matanya penuh dengan rasa bersalah.


"Maafkan aku selalu membuatmu terluka,menyakiti hatimu,maafkan aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik,maafkan a..." Nara tidak melanjutkan kata-katanya karena jari telunjuk Jia sudah ada di bibir Nara memintanya untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Jangan teruskan.Ini bukan cuma salahmu,tapi ini salahku juga.Aku yang masih seperti anak kecil,apa-apa langsung pergi tanpa mau bertanya dulu." Ucap Jia menatap sendu wajah Nara.


"Aku yang salah sayang,aku tidak jujur padamu tentang masa laluku.Seharusnya dari awal aku menceritakan semua tentangku padamu.Aku minta maaf,aku tidak bermaksud untuk menutupinya apalagi membohongimu sayang." Nara mulai menceritakan kisahnya dengan Kara tanpa menutup-nutupi apapun.Terlihat sudut matanya sudah basah karena air matanya.


Jia mengusap lembut ujung mata Nara,walaupun dia sendiri juga tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar dari matanya yang sudah terlihat lelah.


"Sudah sayang,aku percaya.Tapi kamu janji ya nggak akan ninggalin aku kalau dia kembali!"


"Pasti sayang,aku kan sudah bilang dari awal aku hanya menganggapnya sahabat.Aku merasakan jatuh cinta hanya padamu Jia,aku sangat mencintaimu sayang." Ucap Nara masih menggenggam tangan Jia dan terus menciumnya.


Nara beranjak dari duduknya lalu mencium kening Jia lama,sampai tidak sadar dengan kedatangan bi Elis.


Tok...tok...


"Permisi den,saya mau mengantarkan makanan." Ucap bi Elis merasa tidak enak karena sudah mengganggu majikannya.


"Masuk saja bi." Sahut Jia.


"Iya non,maaf bibi sudah mengganggu." Ucap bi Elis menundukkan kepalanya setelah meletakkan nampan berisi makanan di atas meja,dia takut majikannya marah.


"Nggak apa-apa bi,oh ya bibi sudah tahu belum kalau dia tunangannya saya?" Ucap Jia sambil melirik Nara di depannya.


"Iya non,bibi sudah tahu."


"Iya non,bibi permisi."


Nara memandang wajah Jia lagi mengingat saat di tempat penculikan tadi.Nara masih terbayang saat Jia mengatakan tidak akan melepasnya untuk wanita lain,kata-kata itu membuat Nara sangat senang dan merasakan cinta Jia begitu besar untukknya.


"Kenapa kamu lihatin aku kaya gitu?" Pertanyaan Jia membuyarkan lamunan Nara.


"EHmm...sayang apa benar yang kamu katakan pada Mega tadi?"


"Katakan...apa?" Jia mencoba mengingat apa yang di tanyakan Nara.


"Yang tadi,pas kamu bilang nggak akan nyerahin aku buat Mega ataupun buat wanita lain." Nara mengingatkan Jia dengan ucapannya tadi hingga membuat wajah Jia memerah karena malu.


"Ah masa sih aku bilang kaya gitu,kamu salah dengar paling." Jia mencoba mengelak dan memalingkan wajahnya dari Nara untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang malu.


"Nggak deh,aku dengar jelas banget kok kamu kan bilangnya sambil teriak kelihatan banget kalau kamu nggak mau kehilangan aku dan nggak rela kalau aku di rebut Mega." Ucap Nara menggoda Jia karena dia tahu Jia mencoba mengelak.


"Pasti kamu nggak mau kan kehilangan pria tampan seperti aku ini,iya kan sayang? Jujur saja!" Nara memegang dagu Jia yang berpaling darinya untuk menghadapnya lagi.


"Iya..iya...aku memang ngomong seperti itu dan aku nggak mau kehilangan kamu,apalagi nyerahin kamu sama wanita lain.Aku nggak akan biarkan itu terjadi,tapi aku akan melepaskanmu kalau kamu yang minta sendiri." Seru Jia panjang lebar.


Cup


Nara mencium bibir Jia,bibir yang sangat dia rindukan. Menciumnya dengan lembut menghentikan ucapan Jia yang panjang.Lama Nara mencium bibir Jia untuk melampiaskan rasa rindunya.


"Aku tidak suka dengan kalimat terakhirmu sayang,itu tidak akan terjadi!" Ujar Nara setelah mengakhiri ciumannya.


-------


"Bel sebaiknya kamu pulang duluan saja,besok kan kamu mesti sekolah.Lagian kamu belum pamit kan sama mama kamu!" Ucap Arga sambil mengusap kepala Abel.


"EHm Abel masih pengen di sini kak nemenin Jia,tadi aku sudah kasih tahu mama kok kalau aku di sini."


"Besok kan kamu mesti sekolah nggak baik kamu bolos terus,kamu pulang bareng kak Aldo." Imbuh Arga lagi.


EHemmm


Mendengar Arga menyuruh Abel pulang bareng Aldo membuat Reno pura-pura batuk,hingga membuat Arga dan Abel menoleh ke arahnya.


"Biar di anter Reno aja Ga,aku masih pengen di sini sekalian liburan dulu.Jarang-jarang kan kita bisa menikmati suasana sejuk seperti ini." Sahut Aldo merentangkan tangannya sambil menghirup udara dalam-dalam.


Arga melirik ke arah Reno. " Kamu nggak keberatan Ren,kalau antar Abel pulang dulu?"


"Dengan senang hati tuan...ehm,maksud saya iya tuan sekalian saya juga ada kerjaan yang harus di selesaikan di rumah." Jawab Reno gugup karena sudah keceplosan.


Aldo,Arga dan juga Beny tertawa melihat tingkah Reno yang jelas kelihatan ingin mengantar pulang Abel.Hanya Abel yang sedang panik karena mendengar Arga menyuruh Reno mengantarnya pulang.


"Kak,Aku bolos sehari saja nggak apa-apa kok.Aku juga masih pengen di sini kak,boleh ya kak!" Abel mencoba merayu Arga agar di bolehin tetap tinggal,bukannya apa-apa tapi dia cuma nggak mau pulang sama Reno apalagi semobil cuma berdua sama Reno.


"Nggak boleh Abel,jangan suka bolos kalau nggak ada hal penting." Arga mencubit pelan pipi Abel,dan membuat Abel mendengus sambil mengerucutkan bibirnya kecewa Arga tidak menurutinya.


Reno tersenyum senang,karena bisa pulang berdua sama Abel.Dia memandang Abel penuh arti dan tersenyum tipis,hingga membuat Abel merinding karena tatapan Reno.


"Permisi den,makanannya sudah siap apa aden mau makan sekarang?" Sapa bi Elis tiba-tiba.


"Oh iya bi,kami akan makan sekarang.Tolong makanan untuk Jia dan Nara di antarkan ke kamar ya bi!" Ucap Arga pada bi Elis.


"Iya den,tadi bibi sudah mengantarkan makanan ke kamar non Jia." Ucap bi Elis sambil berlalu pamit kembali ke belakang.Sedangkan Arga mengajak semuanya ke ruang makan untuk makan bersama.


"Kak,aku ke atas pamit sama Jia dulu ya." Ucap Abel yang sudah menghabiskan makanannya.


"Iya Bel."


"Ren,aku titip Abel ya antar dia sampai rumah.Jangan kamu apa-apain dia,aku tahu kamu menyukainya tapi jagalah dia untukku dia juga sudah seperti adikku sendiri." Ucap Arga tiba-tiba hingga membuat Reno kaget dan tersedak.


"Ba..baik tuan." Jawab Reno gugup sambil menundukkan wajahnya malu karena perkataan Arga yang to the point.


"Duh Ga,kamu itu terlalu terus terang.Kamu nggak kasian sama Reno dia kan jadi malu.Lagian macam-macam sedikit juga nggak apa-apa,ya nggak Ren?" Sahut Aldo mengedipkan matanya ke arah Reno dan malah membuat Reno menjadi semakin malu.


Reno hanya bisa tersenyum kecil untuk menahan malunya. "Hah kalian belum tahu saja rasanya jatuh cinta." Batin Reno.


.


.


.


kakak tetep kasih like vote sama ratenya ya...makasih.