NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Senjata Pamungkas



"Hay teman-teman." Sapa Jia saat sudah turun dari tangga dan menghampiri teman-temannya di ruang tamu.


"Hay Jia,gimana keadaan kamu? Sudah sembuh kan?" Tanya Dea langsung berdiri dan memberikan ciuman di pipi kanan dan pipi kiri Jia di susul beberapa teman wanita sekelasnya yang juga melakukan hal yang sama seperti Dea.


"Aku sudah enakan kok teman-teman cuma masih butuh istirahat sedikit,besok juga sudah masuk sekolah." Jawab Jia hendak duduk tapi dia mengurungkan keinginannya karena Bima sudah berdiri dan menghampirinya.


"Jia,gimana kabarmu?" Ucap Bima mengulurkan tangannya.


"Ehm...Iya baik Bim." Jawab Jia gugup antara mau membalas jabatan tangan Bima atau tidak.Karena merasa tak enak akhirnya Jia membalas jabat tangan dari Bima dan segera melepaskannya.


"Ayo Bim,duduk!" Ajak Jia yang sudah duduk di samping Abel.


"Iya Jia,oh ya Jia kedatangan kita kemari selain ingin menjenguk kamu kita juga mau membahas tentang acara baksos kita.


"Oh iya maaf ya teman-teman gara- gara aku rencana baksos kita jadi nggak ke urus." Ucap Jia merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Jia ini kan di luar kendali kita yang penting kamu sudah baikan sekarang." Sahut Dea sambil meminum jus yang sudah di sajikan bi Yanti.


"Iya Jia,kamu nggak usah merasa bersalah." sahut teman-temannya yang lain.Jia tersenyum lega karena mendapat pengertian dari teman-temannya.


"Makasih ya teman-teman." Jawab Jia terharu.


"Kalau begitu bagaimana kelanjutan acara kita besok." Sahut Nino sahabat dari Bima.


"Karena Jia baru saja sembuh,tidak mungkin kita melangsungkan acaranya weekend besok,bagaimana kalau kita tunda minggu depan lagian minggu depan ada tanggal merah jadi libur kita panjang." Bima mengutarakan pendapatnya dan semua teman-temannya juga setuju,begitu juga dengan Jia.


"Iya aku setuju Bim." Sahut Jia.


"Ok,jadi semua setuju ya kalau acara baksosnya minggu depan." Seru Bima.


"Iya kita semua setuju." Jawab semua yang ada di ruang tamu serentak.


"Nggak boleh....aku nggak ijinin....!!!" Seru seseorang tiba-tiba dari arah pintu.


Semua pandangan tertuju pada pintu arah sumber suara berasal.Betapa terkejutnya mereka karena suara tadi adalah suara dari Nara,terutama Bima.Dia sangat kaget karena Nara tiba di rumah Jia.Nara tidak menghiraukan tatapan dari teman-teman Jia,matanya hanya tertuju pada istrinya.


"Teman-teman maaf ya,aku tinggal dulu sebentar kalian lanjutin makan saja ya." UJar Jia yang sudah berdiri menghampiri Nara.


"Ayo ikut aku sebentar." Ucap Jia dengan melototkan matanya pada Nara.Nara hanya diam ketika tangannya di tarik Jia berjalan ke ruang tengah .


"Huh menyebalkan melihat mereka seperti itu." Batin Bima dan langsung mengalihkan pandangannya.


"Sabar bro." Ucap Nino menepuk bahu sahabatnya agar tetap tenang.


"Ah tuan Nara keren banget." Gumam Dea dan teman-teman wanitanya.Abel hanya tersenyum tipis mendengarnya.


" Kenapa kamu bilang seperti itu tadi? Bukannya kita sudah sepakat,dan kamu sudah kasih ijin kalau aku boleh ikut acara baksos ini untuk terakhir kalinya.Tapi kenapa sekarang kamu bilang tidak kasih ijin." Seru Jia menarik tangan Nara untuk duduk di sofa tapi masih dengan suara pelan,karena dia tidak mau suaranya terdengar oleh teman-temannya.


"Itu kan dulu waktu kita belum menikah,sekarang status kita sudah berbeda kamu sudah jadi istriku Jia,aku nggak mau kamu pergi lama-lama apalagi satu acara sama dia." Seru Nara yang tidak ingin Jia berada satu acara sama Bima.


Jia menghela nafas sebelum kembali memberi penjelasan pada suaminya itu. "Nara,memang kenapa kalau ada Bima? Kamu itu sudah menang dari siapapun,karena aku sudah menjadi istrimu dan aku nggak akan macem-macem di sana sayang." Ucap Jia memberi pengertian pada suaminya.


"Kamu nggak percaya sama aku?" Imbuh Jia lagi karena tidak mendapat respon dari Nara.


"Bukannya begitu sayang,aku percaya sama kamu tapi aku tidak percaya sama dia." Ucap Nara lagi masih belum rela.Karena dia yakin kalau Bima masih mengharapkan Jia.


"Look at me!....kamu tahu kan aku cuma cinta dan sayang sama kamu,aku nggak mungkin tergoda sama lelaki lain entah itu Bima atau siapapun." Ucap Jia dengan memegang kedua bahu Nara.


Nara memandang ke dua mata istrinya,terlihat tidak ada keraguan di sana.Tapi entah mengapa hatinya masih enggan untuk berkata iya.


Nara menjatuhkan tuuhnya di sofa dan memejamkan matanya.Ada banyak hal yang membuat Nara sulit memberikan ijin untuk Jia pergi.Karena dia sudah berencana mengajak Jia weekend besok untuk pergi honeymoon ke luar negeri,dan alasan utamanya memang Nara tidak mau berada jauh-jauh dari istrinya itu.


"Nara....kok kamu malah tidur sih." Jia terlihat kesal dan menggoyang-goyangkan pundak Nara yang masih memejamkan matanya.


"Ok kalau kamu nggak kasih ijin,mulai nanti malam nggak usah tidur sama aku!" Seru Jia ngambek dan bersedekap tangan.


Mendengar ucapan Jia membuat Nara langsung membuka matanya panik.Jia yang sudah tidak tahu dengan apa untuk membujuk Nara akhirnya menggunakan senjata pamungkasnya.Karena dia yakin kalau menyangkut urusan itu Nara pasti akan menuruti permintaannya.


"Sayang kamu bercanda kan? Kamu nggak serius kan?" Tanya Nara panik dan memegang bahu Jia menggerakkan berulang kali.


"Aku serius!" Seru Jia dengan muka kesal.


"Huh....ok deh aku kasih ijin kamu ikut acara baksos." Ucap Nara pelan mengalah dengan istrinya ketimbang harus tidur sendirian,kan nggak lucu masa pengantin baru tidur sendiri-sendiri pikirnya.Dan pastinya Nara mana mungkin bisa tidur tanpa Jia sekarang.


Nara tersenyum gemas melihat tingkah istrinya.Di pegangnya dagu istrinya dan langsung mencium bibirnya yang dari tadi sudah ingin Nara kecup.


Nara mencium bibir Jia lembut dan memegang tengkuk lehernya kuat.


"Stop Nara!" Ucap Jia pelan saat tangan Nara sudah bergerilya kemana mana.


"Kenapa?" Gumam Nara pelan karena masih di kuasai oleh nafsunya.


"Teman-temanku masih di sini sayang." Jawab Jia tersenyum.


"Ok kamu suruh mereka pulang,I want you baby..." Bisik Nara di telinga Jia.


"Naraaa... kan baru tadi kamu sudah minta masa sekarang lagi?" Ucap Jia dengan bibir menggerutu.


"Aku selalu menginginkamu sayang.Apa kamu mau aku cabut ijinnya?" Bisik Nara lagi dengan tersenyum mengancam.


"Jangannnn...Ok aku ke depan dulu bilang sama mereka." Seru Jia masih menggerutu dan berjalan ke ruang tengah meghampiri teman-temannya.


"Hahah kamu semakin menggemaskan sayang kalau sedang kesal seperti itu." Gumam Nara tersenyum puas.


"Maaf ya teman-teman kalian menunggu lama." Ucap Jia saat sudah duduk bersama mereka.


"Iya nggak apa-apa beb,lalu gimana keputusannya? Tanya Abel.


"Tenang saja Bel,keputusannya tetap sama kaya tadi ya acara baksos kita laksanakan minggu depan besok."


"Ah syukurlah." Gumam Abel pelan.Karena tadi dia sudah mengira kalau Nara tidak akan mengijinkan Jia pergi.


"Ok kalau begitu Beb kita pulang dulu ya." Seru Abel pura-pura karena sudah mendapat isyarat dari Jia untuk mengajak teman-temannya pulang.


"Ehm kenapa buru-buru Bel." Jawab Jia pura-pura juga.


" Iya beb aku masih ada urusan soalnya,iya kan teman-teman." Ucap Abel dengan menatap teman-temannya dan di ikuti anggukan setuju dari mereka.


Jia berjalan masuk setelah mengantar teman-temannya ke depan.Dia berjalan ke ruang tengah mencari Nara tapi dia tidak menemukan suaminya itu.


"Ah mungkin dia sudah ada di kamar,lebih baik aku bikinin dia kopi dulu." Gumam Jia lalu berjalan ke dapur.


Ceklek...


Jia membuka pintu kamarnya,dia tidak melihat suaminya di dalam.Dia berjalan ke meja untuk meletakkan kopi yang dia bawa tapi tiba -tiba dia di kagetkan karena pelukan seseorang dari belakang di pinggangnya.


"Nara....kamu ngagetin ak..." Jia tidak melanjutka kata-katanya karena terkejut melihat penampilan Nara yang hanya menggunakan handuk di pinggangnya tanpa menggunakan baju.


Jia menelan salivanya,tubuhnya terasa panas saat melihat tubuh suaminya.Walaupun dia sudah melihat semua bagian tubuh suaminya,tapi dia masih merasa malu kalau harus melihat suaminya tidak berpakaian seperti ini.


"Sayang kamu kenapa?" Ucap Nara yang mencoba mengalihkan tangan istrinya dari wajahnya sendiri.


"Kenapa kamu belum pakai baju sih." Pertanyaan Jia membuat Nara tersenyum.


"Sayang kenapa kamu mesti malu sih,buka matamu sayang aku menginginkannya lagi baby." Bisik Nara di telinga Jia.Bulu kuduk Jia seketika langsung berdiri karena bisikan dan hembusan nafas Nara yang mengenai kulit lehernya.


"Ahh Nara..." Gumam Jia pelan di iringi dengan desahan kecil dari bibir mungilnya itu.


Melihat Jia sudah dalam pengaruhnya Nara segera menuntun Jia ke ranjang dan membaringkannya perlahan.Nara tidak mau menyia-nyiakan waktu segera dia menciumi bibir Jia lama,di jelajahnya seisi bibir Jia.Lama mereka berpagutan hingga entah berapa lama mereka menikmati permainannya sampai akhirnya tubuh mereka tergeletak berdampingan karena kelelahan.


"I Love you sayang." Bisik Nara mencium kening istrinya mesra yang sudah terlelap karena kelelahan.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa kasih vote like dan rate bintang 5 ya kakak-kakak yang baik.