NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Itu Maunya Kamu....



"Jawab saja pertanyaanku!" Seru Jia lagi.


Bersamaan dengan itu air mata Jia sudah jatuh di pipinya padahal Nara belum mengucapkan sepatah katapun.Ingatan Jia kembali pada kejadian tadi pagi,ancaman dan ucapan Kara terngiang-ngiang di telinganya membuat dadanya terasa sesak.


"Sayang lihat mataku." Nara meraih tangan Jia, di genggamnya erat walaupun ada penolakan di awalnya tapi Nara tetap menahannya hingga membuat Jia pasrah.Nara mengusap air mata Jia dengan ibu jarinya.


Jia menatap mata suaminya,terlihat di sana ada luka tergambar.


"Kamu harus ingat sayang,aku hanya mencintai kamu,kamu hidupku,kamu nafasku,aku nggak sanggup hidup tanpamu sayang.Kamu jangan meragukan cintaku dengan pertanyaan itu.Iya memang benar beberapa hari ini Kara berusaha menemuiku,dia datang ke kantor tapi aku tidak menemuinya.Aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu,dan aku tahu bila aku menemuinya itu membuatmu terluka." Nara menatap wajah istrinya sendu berharap sebuah kepercayaan darinya.


"Dia datang menemuiku." Ucap Jia lirih,membuat Nara terkejut.


"Apa dia menyakitimu sayang?" Tanya Nara panik memegang bahu Jia memeriksa seluruh tubuhnya.


"Dia nggak menyentuhku Nara,tapi dia bilang...." Jia tidak melanjutkan ucapannya,hanya menatap suaminya sedih hingga membuat Nara penasaran dan khawatir.


"Dia bilang apa?"


Jia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. " Dia ingin mengambilmu dariku." Ucap Jia dengan berlinang air mata.


Grepppp


"Itu tak akan terjadi sayang,aku nggak akan membiarkan dia melakukan itu ,aku tidak akan membiarkan dia menemuimu lagi." Nara memeluk Jia erat.


------


"Ren,menurutmu kalau tadi benar yang datang adalah Kara,dia tadi bilang apa ya sama Jia sampai membuat Jia seperti itu?"


"Entahlah." Jawab Reno.


"Ehm.....apakah Kara dulu yang benar-benar sudah mendonorkan ginjalnya untuk tuan Nara?" Ucap Abel tiba-tiba hingga membuat Reno mengerutkan keningnya.


"Maksudmu?"


"Entahlah aku tiba-tiba ingin saja bertanya seperti itu." Jawab Abel mengangkat kedua bahunya.


Mendengar pertanyaan Abel membuat Reno mengingat kejadian beberapa tahun lalu dimana Nara sakit dan membutuhkan donor ginjal,dia tidak tahu pasti pas saat operasi berlangsung karena dia sedang ada di luar negeri.Dan dulu yang menemani Nara adalah Reza selaku dokter pribadi keluarga Wiratama.


"Ya aku akan bertanya pada Reza." Gumam Reno manggut-manggut membuat Abel heran.Entah kenapa Reno juga ketularan Abel,penasaran apakah Kara yang benar-benar mendonorkan ginjalnya untuk Nara.Karena kemungkinan bisa tidak di lihat dari riwayat catatan kesehatan Kara selama ini.


Tanpa sepengetahuan Kara,memang Nara menyuruh orang untuk selalu memantau kesehatan Kara,walaupun Nara kesal karena pengkhianatan Kara tapi Nara tidak mau lepas tanggung jawab untuk kesehatan orang yang sudah mendonorkan ginjal untuknya.Dan Renolah yang selalu mendapatkan laporan kesehatan Kara dari orang suruhan bosnya itu.


Selama bertahun-tahun setelah pendonoran ginjal itu,tidak ada laporan yang menunjukkan Kara datang ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan yang berhubungan dengan ginjalnya.Sebenarnya Reno juga penasaran tapi dia tidak mau memikirkan itu,karena menurutnya selama dia baik-baik saja dan tidak mengganggu bosnya itu sudah lebih dari cukup,tapi tadi mendengar pertanyaan Abel membuatnya ingin menyelidikinya.


Reno mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi Reza ingin mengajaknya bertemu.


"Ayo ikut aku!" Reno berdiri dan mengulurkan tangannya pada Abel.


"Kemana?" Tanya Abel bingung.


"Mencari jawaban dari pertanyaanmu." Ucap Reno menarik tangan Abel.


Abel yang masih bingung dengan ucapan Reno hanya bisa menurut mengikuti langkah kakinya.


"Apa kita tidak pamitan sama Jia dan tuan Nara?"


"Tidak usah,nanti aku akan mengirim pesan." Ucap Reno sambil memasang sabuk pengaman saat sudah di dalam mobil.


-----


"Kamu percaya kan sama aku sayang?" Nara memegang dagu Jia menunggu jawaban dari bibir istrinya.


"Hu'um..." Jawab Jia lirih sambil menganggukan kepalanya.


mendengar jawaban Jia membuat Nara langsung menyambar bibir istrinya yang sudah dari tadi menggodanya untuk di kecup.Jia menggunakan tangannya untuk menahan dada Nara tapi tetap saja tidak bisa menahan tubuh suaminya yang besar apalagi yang sudah di kuasai hasrat itu.


Jia hanya bisa pasrah dengan apa yang Nara lakukan padanya karena lama-lama Jia juga merasakan suhu panas di sekujur tubuhnya karena sentuhan tangan suaminya yang sudah bergerak liar.


"Hay Ren,tumben kamu pengen ketemu mana ngajak-ngajak pacar lagi bikin yang jomblo iri saja." Sapa Reza menjabat tangan Reno lalu berganti menjabat tangan Abel dan di sengaja di lama-lamain untuk menggoda Reno.


"Ehem....udah lepasin jangan lama-lama." Gumam Reno menarik tangan Abel dari genggaman Reza hingga membuat Abel salah tingkah tapi tidak untuk Reza,dia tertawa puas bisa menggoda sahabatnya itu.


"Iya-iya Ren,pelit banget sih kamu." Balas Reza.


"Oh ya,ada apa kamu mengajakku ketemu dan dimana Nara? Inikan jam kerja biasanya kamu nggak bisa lepas sama dia." Ucap Reza tersenyum meledek,Reno hanya bisa menatap kesal Reza yang memang sangat sulit di ajak serius.


"Ok langsung saja,aku ingin bertanya tentang operasi tuan Nara beberapa tahun yang lalu.Dulu kan kamu yang mendampinginya." Pertanyaan Reno membuat Reza mengerutkan keningnya heran.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Reza masih mengerutkan keningnya.


"Aku hanya ingin tahu saja,karena dulu aku kan tidak ada di sini.Tapi,sebenarnya bukan itu saja alasannya,Kara sudah kembali lagi ke Indonesia." Ucap Reno.


"Ya nggak apa-apa dong,dia kan punya rumah di sini." Sahut Reza.


"Beberapa hari ini dia selalu datang ke kantor mencoba menemui tuan Nara,tapi tuan Nara tidak mau menemuinya dan tadi pagi ada wanita yang menemui nona Jia di rumah dan aku menduga itu adalah Kara.Entah kenapa aku seperti merasakan kedatangannya ini bukan dengan niat baik." Ucap Reno menatap Reza serius.


Reza terlihat diam mencerna perkataan Reno. "Jadi apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Reza yang sudah paham arah ucapan Reno,sedangkan Abel hanya bisa diam mendengarkan.


"Aku ingin kamu menyelidiki apa benar bahwa Kara yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk tuan Nara.Kamu masih ingat kan tentang laporan yang aku terima dari orang suruhan tuan Nara tentang riwayat kesehatan Kara selama ini?"


"Ok,aku akan mencari tahu." Reza menganggukkan kepalanya sambil memegangi dagunya berpikir.


Abel yang sudah paham dengan pembicaraan kedua pria di depannya itu,tersenyum kecil.Dia tidak menyangka kalau pertanyaan yang dia ucap asal tadi benar-benar di tanggapi oleh Reno sampai sejauh ini.


"Ehm...kira-kira kapan kamu mau nyusul Nara Ren?" Ujar Reza tiba-tiba mencairkan suasana.


"Maksudmu?" Tanya Reno mengernyitkan dahinya.


"Itu halalin gadis abg ini." Ucap Reza melirik Abel,hingga membuat wajah Abel memerah malu.


"Oh....maunya secepatnya,tapi aku belum mendapat restu dari orang tuanya." Jawab Reno melirik Abel lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Huh....dasar om-om genit." Batin Abel menahan malu.


-----


"Hoeekkk....hooeeeekkk...hooeeekkkk!!!" Suara Nara muntah-muntah di kamar mandi,rasa mual di perutnya memaksa tubuhnya yang kelelahan untuk bangkit dari ranjang setelah bercinta dengan istrinya.


Jia mendekati suaminya khawatir. "Sayang kamu kenapa?" Jia memegang pipi dan leher Nara bergantian dengan tangan yang satu memegang selimut yang melilit di tubuhnya karena rasa khawatirnya membuatnya terburu-buru bangun tanpa memakai bajunya terlebih dulu.


"Entahlah sayang tiba-tiba perutku mual ingin muntah." Jawab Nara setelah membasuh mulutnya di wastafel.


"Kita pergi ke dokter ya,atau panggil dokter Reza kesini." Ucap Jia semakin khawatir karena melihat wajah suaminya yang pucat.


"Aku nggak apa-apa sayang." Ujar Nara tersenyum kecil karena merasakan perhatian dari istri tercintanya.


"Nggak apa-apa gimana,wajah kamu pucat gitu."


"Mungkin aku cuma kelelahan sayang,tapi kalau kamu ngasih jatah lagi mungkin aku bisa langsung sembuh." Ucap Nara menggoda Jia.


"Huh...dasar mesum.Itu maunya kamu." Jia memukul dada Nara yang tersenyum menyeringai menampakkan deretan gigi putihnya.


"Kalau sama kamu bawaannya pengen mesum mulu sayang." Ucap Nara sambil mengecup bibir Jia.


.


.


.


Kasih like vote juga ratenya ya kakak.....