NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Untuk Menghemat Waktu



Jia terbangun dari tidurnya saat mobil yang dia tumpangi bersama suami dan temannya berhenti.Jia menggeliat dan merentangkan kedua tangannya.


"Nyenyak banget ya sayang?" Tanya Nara tersenyum melihat tingkah istrinya dan memberi ciuman hangat di keningnya.


"Hu'um..." Jia tersenyum kecil menganggukan kepalanya.


"Hah Jia kamu ngajak jalan-jalan tapi malah aku di tinggal tidur." Sahut Abel berpura-pura ngambek dan memanyunkan bibirnya hingga membuat gemas Reno yang ada di sampingnya.


"Huh,dasar bocah! Coba kalau cuma berdua pasti sudah aku samber tuh bibir." Batin Reno tersenyum tipis.


"Hehehe iya maaf beb,habisnya aku capek banget.Lagian kan ada tuan Reno pasti kamu kan nggak bosan tadi." Balas Jia tersenyum sambil melirik ke arah Reno.Wajah Abel langsung memerah mendengar godaan dari Jia,sedangkan Nara dan Reno cuma tersenyum melihat kedua sahabat di depan mereka berdebat.


Hati Nara lega saat melihat senyuman terukir lagi di bibir istrinya itu.


"Sudah-sudah sayang ayo kita turun,kita makan dulu,aku sudah lapar nih." Ucap Nara menengahi perdebatan kecil Jia dan Abel.


Mereka berempat turun dan berjalan beriringan masuk ke dalam restoran dan segera memesan makanan yang mereka inginkan.


"Sayang kamu mau jalan-jalan kemana setelah ini?" Tanya Nara saat sudah menyelesaikan makannya.


"Ehm....kemana ya?" Jia memutar ke dua bola matanya dan mengerutkan dahinya berpikir.


"Kita ke taman hiburan aja yuk!" Seru Jia mengacungkan jari telunjuknya semangat,dan di sambut senyuman semangat juga dari Abel.Sedangkan Nara dan Reno hanya saling berpandangan mendengar permintaan Jia.


"Ok ayo...!" Ucap Nara akhirnya pasrah menuruti permintaan istrinya,karena dia sudah janji akan menuruti keinginan Jia untuk pergi kemanapun dia mau.


------


Sampailah mereka di sebuah taman hiburan,dari luar sudah terlihat begitu banyak wahana permainan yang membuat Jia dan Abel tidak sabar untuk masuk.


"Nara ayo....!" Jia menarik tangan Nara untuk segera masuk karena sudah tidak sabar.Nara hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil,tapi memang Jia kan masih kecil.


Nara teringat terakhir kalinya dia ke taman hiburan adalah waktu kelas lima SD bersama ke dua orang tuanya.


"Hah aku tidak sabar kesini bersama anakku nanti." Ucap Nara dalam hati yang membayangkan dia akan menggandeng anaknya kesini bersama Jia nanti.


"Mana tanganmu? Pegang tanganku dan jangan jauh-jauh dariku kalau tidak mau hilang." Ucap Reno dan di ikuti sentuhan tangan Abel.Mereka lalu berjalan menyusul Jia dan Nara yang sudah berada di depan wahana Rollercoaster.


"Aku mau naik itu." Rengek Jia menarik lengan Nara dan tangan satunya menunjuk ke wahana rollercoater di depannya seperti anak kecil merengek pada ayahnya.


"Sayang kamu sama Abel saja ya yang naik,aku sama Reno tunggu disini." Ucap Nara karena kepalanya sudah pusing melihat permainan di depannya itu,Reno langsung menganggukan kepalanya cepat mendengar usul Nara karena dia juga tidak suka dengan permainan itu.


"Nggak mau,kamu juga harus naik!" Seru Jia melepas tangannya lalu bersedekap mengisyaratkan kalau dia sedang ngambek.


"Huft...sayang....jangan ngambek dong! Aku sudah lama tidak naik permainan seperti ini." Bisik Nara mencoba merayu istrinya.


Jia tiba-tiba tersenyum karena mendapatkan ide supaya Nara mau naik wahana permainan bersamanya. " Ok,kalau kamu nggak mau naik nemenin aku nggak apa-apa,tapi jangan harap nanti kalau kamu minta aku kasih! " Imbuh Jia menyeringai tersenyum tipis.


Nara bernafas lega karena mendengar ucapan Jia tapi senyumannya seketika berubah mendengar kalimat terakhir Jia.


"Ah sayang jangan dong! Ok,ok aku mau." Gumam Nara akhirnya pasrah,ketimbang nanti nggak di kasih jatah mendingan menahan sebentar rasa pusingnya,pikir Nara.


"Hah tuan?" Sahut Reno kaget plus manyun mendengar bosnya mengiyakan permintaan Jia.


"Sudah ayo Ren,aku nggak mau Jia marah.Kamu masih enak kalaupun Abel marah nggak apa-apa,nah kalau Jia yang marah gimana aku nanti malam,bisa-bisa aku tidur di luar," Bisik Nara pelan di samping Reno.


"Huft,baik bos." Gumam Reno pasrah.


Jia dan Abel sangat bahagia setiap menaiki wahana di taman hiburan itu,mereka mencoba semua permainan dengan tertawa dan terkadang dengan sesekali teriakan.


Tapi tidak untuk dua pria di samping mereka,muka mereka sudah terlihat pucat karena menahan mual dan pusing.


"Awas,tunggu pembalasanku nanti malam sayang.Aku tidak akan melepaskanmu!" Ucap Nara dalam hati melihat istrinya yang sedang menikmati minumannya.


"Dasar bocah,kamu akan membayar mahal untuk ini." Batin Reno juga dalam hatinya melirik Abel yang sedang bergurau dengan Jia.


----


"Dah beb,aku pulang dulu ya sampai ketemu besok." Abel melambaikan tangannya berpamitan pada Jia dari dalam mobil.


"Dah,beb ati-ati ya." Balas Jia sebelum masuk ke dalam rumahnya.


"Sayang kamu senang nggak hari ini?" Tanya Nara menggandeng tangan istrinya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Iya aku senang banget,makasih ya sayang." Jia mengeratkan pelukannya di lengan suaminya itu.


"Apapun itu sayang.....tapi kamu ha...."


"Kakak...." Seru Jia memotong ucapan Nara yang belum selesai karena melihat kakaknya sudah di rumah dan menunggunya.


"Hey sayang dari mana saja kalian?" Tanya Arga sambil memeluk adik semata wayangnya.


"Tadi dari jalan-jalan ke taman hiburan." Jawab Jia masih memeluk kakaknya untuk menghilangkan rasa rindunya.


"Ah kamu kan sudah menikah sayang,kenapa masih seperti anak kecil pergi ke taman hiburan" Ujar Arga mencubit hidung Jia.


"Ya nggak apa-apa,Nara juga nggak keberatan kok tadi nganterin aku,iya kan?" Ucap Jia melirik suaminya dan mengedipkan matanya.


"Halo Jia...." Sapa seorang wanita dari balik punggung Arga.


"Kak Runa?" Seru Jia,langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya.


"Kapan kakak datang? Jia kangen sama kakak." Tanya Jia setelah melepaskan pelukannya.


"Tadi pagi sayang.Kamu tambah cantik saja." Ucap Aruna mencubit kedua pipi Jia pelan.Aruna adalah kekasih Arga yang tinggal di Belanda,dia juga seorang desainer dan itu juga salah satu hal yang membuat Jia sangat menyukai Aruna karena memiliki hobi yang sama,bahkan banyak desain Jia yang di beli Aruna untuk menambah koleksi di butiknya dan banyak pelanggan Aruna yang menyukai desain Jia,maka dari itu Jia selalu rutin memberikan desainnya setiap minggunya pada Aruna,tapi tidak untuk akhir akhir ini karena Jia sibuk dengan pernikahannya dan juga status barunya sebagai istri.


"Heheh,kakak juga tambah cantik." Balas Jia.


"Ehm ngomong-ngomong siapa dia?" Gumam Aruna melirik Nara yang ada di samping Arga.Sebenarnya Aruna sudah tahu kalau dia adalah suami Jia,tapi dia ingin Jia memperkenalkan padanya secara langsung.


"Oh...dia suamiku kak, Nara namanya." Jia menghampiri suaminya lalu mengajaknya berkenalan pada Aruna.


"Nara..." Ucap Nara tersenyum mengulurkan tangannya.


"Aruna....Oh jadi ini ya yang membuat kamu beberapa minggu ini tidak mengirimkan desain ke kakak." Bisik Aruna pada Jia setelah melepasakan jabatan tangannya dari Nara.


"Ah kakak....apaan sih." Jawab Jia malu,karena Aruna menggodanya.


"Sudah Runa jangan menggoda Jia,biarkan dia bersih-bersih dulu." Sahut Arga.


"Iya....iya Ga."


"Sayang kamu buruan mandi,lalu kita makan bersama ya kakak sudah masak banyak." Ucap Aruna.


"Ok kakak." Jawab Jia lalu mengajak Nara ke kamar untuk mandi.


-----


Greppppp


"Ah Nara,lepasin nggak! Aku gerah mau mandi." Jia meronta karena pelukan Nara yang tiba-tiba dari belakang saat baru masuk ke dalam kamar.


"Nggak mau... Kamu harus tanggung jawab sayang,karena kamu sudah bikin aku pusing tadi." Bisik Nara meminta upah yang kini meletakkan kepalanya di bahu Jia karena sudah naik semua permainan tadi.


"Ah berarti kamu nggak ikhlas tadi?' tanya Jia menoleh ke arah suaminya hingga bibirnya menyentuh rambut suaminya yang masih bersender di bahunya.


"Hehe ikhlas sayang,tapi aku minta bayaran untuk itu..." Nara tersenyum penuh arti.


"Ah itu namanya tidak ikh.....empphh..Nara....."


Nara mencium bibir Jia dan membuat dia berhenti menggerutu.Ciumannya semakin panas hingga tubuh Jia terasa lemas untuk berdiri.Nara yang paham dengan kondisi istrinya segera memapah tubuhnya ke ranjang dan merebahkannya perlahan.


Jia tidak bisa menolak permintaan Nara,dia juga sudah di kuasai gairah saat Nara menciumi lehernya yang merupakan titik kelemahannya itu.Nara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu,dia segera melepaskan semua baju Jia hingga tak tersisa sehelai benangpun,begitu juga dengan dirinya.


"Ahhhmmmm Nara...." Desis Jia saat sudah mencapai puncak bebarengan dengan Nara.Nara berbaring di samping Jia saat sudah mengakhiri percintaan mereka.


Tok...tok...


"Sayang kamu sudah selesai belum,ayo buruan turun." Seru Arga mengetuk kamar Jia.


Jia kaget mendengar suara kakaknya mengetuk pintu." Ah iya kakak kan ada di rumah.Ah Nara,gara- gara kamu nih." Gerutu Jia memukul lengan Nara.


"Loh kok aku sih sayang,kamu kan juga mau..." Balas Nara tersenyum jahil dan langsung di balas Jia dengan cubitan di tangannya.


"Iya kak sebentar,ini masih nunggu Nara mandi."Jawab Jia berbohong.


"Ya sudah buruan kakak tunggu ya."


"Udah ah aku mau mandi dulu." Jia berdiri dengan selimut masih melilit di tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi.Walaupun Jia sudah melakukan hubungan suami istri beberapa kali bersama Nara tapi dia tetap malu kalau harus telanjang secara langsung di depannya.


Jia hendak menutup pintu kamar mandi,tapi tangan Nara segera menahannya dan memaksa untuk masuk.


"Kamu mau apa?" Tanya Jia kaget.


"Ya mau mandi dong sayang."Jawab Nara tanpa rasa bersalah dan menghidupkan shower yang kini sudah membasahi kepalanya.


"Ah aku duluan Nara,kamu keluar dulu." Jia menarik tangan Nara supaya keluar.Tapi Nara malah balik menariknya memeluknya dan membawanya berdiri di bawah pancuran berdua.


"Dengan begini kita menghemat waktu sayang." Bisik Nara sambil menggigit telinga Jia pelan.


"Ahrgghhhhh Nara....."


.


.


.


.


Kakak-kakak jangan lupa votelike dan ratenya ya.terimakasih.