NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Firasat Seorang Kakak



"Ah...ini sangat indah...." Gumam Jia dengan mata berbinar melihat ke sekeliling dengan menggunakan perahu yang sudah di sewa Justin untuknya.Awalnya Jia menolak karena tidak mau berhutang budi semakin banyak padanya tapi seperti kebiasaanya dia tidak mau di bantah dan itu membuat Jia hanya bisa menurut karena tidak mau berdebat yang sudah pasti dia akan kalah.


"Apa anda menyukainya nona?" Tanya Justin hingga membuat Jia menoleh ke arahnya.


"Tentu saja, suasana di sini sungguh sangat menyenangkan suasananya sangat sejuk.Ini seperti dalam khayalanku selama ini.Asal anda tahu tuan,aku sudah sangat lama ingin pergi ke sini,dan impianku ingin mempunyai rumah di sini." Ucap Jia panjang lebar.


Justin tersenyum melihat ekspresi Jia yang tersenyum lepas,dia bisa melihat kejujuran di wajah Jia yang seakan tidak ada beban saat menceritakan suasana hatinya saat ini,tidak seperti saat sebelum sampai di desa ini.Dan yang terpenting Jia sudah merasa nyaman dengannya itu sudah lebih dari cukup untuknya saat ini.


"Apa anda ingin berkeliling dulu sebelum menuju ke rumah?" Tanya Justin lagi.


"Ehm...apa masih jauh? Sebenarnya masih mau melihat-lihat tapi aku sudah capek." Jia juga heran kenapa dia sekarang mudah lelah.


"Itu wajar nona kalau anda sekarang mudah cepat lelah,itu karena perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh anda saat hamil tapi anda tenang saja itu tidak berbahaya.Nanti saya akan memberikan vitamin untuk anda." Jia mendengarkan ucapan Justin dengan baik karena ini menyangkut kehamilannya.


"Eits....nanti? Berarti dia akan menemui aku lagi setelah ini?" Tanya Jia dalam hati sambil melirik Justin yang tersenyum padanya.Seolah tahu apa yang Jia pikirkan.


"Saya tahu nona,anda kesini tidak dalam keadaan baik-baik saja.Biarkan saya menjadi teman anda,saya rasa anda akan memerlukan bantuan saya nanti.Mengingat anda belum mempunyai teman di sini.Apalagi keadaan anda yang sedang hamil." Ucap Justin sedikit serius membuat Jia diam mematung.Dan hatinya membenarkan ucapan Justin.


"Apa anda bersedia berteman dengan saya nona?" Tanya Justin sekali lagi karena masih mendapati Jia yang diam mematung.


"I...iya tuan." Jawab Jia tergagap tersadar dari lamunannya.


"Dan tolong jangan panggil saya tuan,panggil saya Justin saja." Pinta Justin masih dengan tersenyum karena lega setelah mendengar jawaban dari Jia.


"Ok Justin,tapi panggil aku Jia saja jangan pakai nona." Pinta Jia pun dengan sedikit tersenyum.Jia merasa lelaki di depannya ini tulus dan bisa di percaya.


"Baiklah Jia,kalau begitu ayo turun kita sudah sampai." Ajak Justin yang sudah lebih dulu keluar dari perahu.


"Hah...apa? Jadi dari tadi sudah sampai." Batin Jia sedikit kesal lalu mengikuti Justin yang sudah menunggunya.


"Wow ini keren banget,apa benar ini rumahku? Kak Runa memang pintar dia tahu seleraku." Gumam Jia pelan dan tak henti-hentinya dia tersenyum karena bentuk dan suasana rumahnya sama persis dengan impiannya selama ini.


Justin tersenyum melihat ekspresi Jia yang terlihat sangat bahagia.Ada kebahagiaan tersendiri bagi Justin melihat Jia tersenyum.


"Permisi,apa anda penghuni baru di rumah ini?" Sapa seorang wanita setengah baya yang melintas di depan rumah Jia dengan menggunakan bahasa inggris.


"Iya nyonya saya penghuni baru rumah ini." Balas Jia tersenyum ramah pada wanita itu.


"Oh iya,perkenalkan nama saya Mery rumah saya ada di seberang jalan." Ucap Mery memperkenalkan diri.


"Oh iya nyonya Mery,nama saya Jia saya dari Indonesia.Senang berkenalan dengan anda.Kita akan menjadi tetangga mohon bantuannya." Ucap Jia tersenyum dan membungkukkan sedikit badannya.


"Dia benar-benar wanita menarik yang memiliki banyak kepribadian." Batin Justin menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.Justin melakukan hal yang sama saat Mery menatap ke arahnya.


"Iya saya tahu kakak anda sudah memberi tahu saya.Baiklah kalau begitu saya permisi nona,kalau anda butuh bantuan jangan sungkan datang ke rumah saya." Pamit Mery tersenyum dengan ramah setelah menawarkan bantuan.


"Oh benarkah nyonya? Kalau begitu baik nyonya Mery,terimakasih atas tawaranya." Jia tersenyum melihat kepergian Mery.Ada perasaan lega karena ternyata penduduk di sini sangat ramah,belum juga dia masuk ke dalam rumahnya tapi dia sudah mendapatkan sapaan hangat dari tetangganya yang ternyata sudah mengenal kakak iparnya.


Ceklek...


Jia kembali tertegun melihat interior dan perabot di dalam rumahnya.Semuanya benar-benar sesuai keinginannya.Ingin rasanya dia menelfon kakak iparnya untuk mengatakan beribu terima kasih karena sudah memilihkan rumah impiannya ini.Tapi itu tidak mungkin.


"Huh...kak Runa terimakasih." Gumam Jia pelan.


Justin tak heran melihat perubahan di raut wajah Jia.Dia yakin kalau sekarang Jia pasti sedang sedih teringat masalahnya.


"Jia kamu istirahatlah,aku ada janji dengan temanku aku harus pergi menemuinya."


"Oh iya Justin,terimakasih.Aku tidak tahu harus bagaimana membalas semua kebaikanmu."


"Kita ini teman Jia jadi kamu tidak perlu bilang seperti itu.Tapi kalau boleh meminta,kamu hanya harus selalu tersenyum walau seberat apapun masalahmu untuk membalasnya. Karena ada aku temanmu." Ucapan Justin membuat Jia bingung harus menjawab apa sebelum akhirnya dia menganggukkan kepala lalu tersenyum.


-------


"Sayang perasaanku benar-benar tidak enak.Aku takut terjadi sesuatu dengan Jia." Ucap Arga yang tengah gelisah di tepi ranjang hingga membuat Aruna menghentikan aktifitasnya di depan cermin lalu menghampiri suaminya.


"Sayang itu cuma perasaanmu saja.Jia di sana bersama suaminya,dan kamu tahu Nara dengan betul betapa dia sangat mencintai Jia.Dia pasti menjaga Jia dengan baik." Runa menggenggam tangan Arga untuk memberikan sedikit ketenangan.


"Aku tahu Run,aku tidak meragukan cinta Nara.Tapi entah kenapa hatiku tetap saja gelisah,apalagi dari kemarin aku masih belum bisa menghubungi Jia.Dan juga aku merasa ada kejanggalan dalam suara Nara saat menjawab setiap pertanyaanku kemarin seperti sedang menyembunyikan sesuatu."


"Itu cuma perasaanmu saja sayang,kita berdoa saja semoga Jia baik-baik saja." Ucap Runa mengusap bahu Arga pelan.


Justin:


"Maaf nona Aruna,sepertinya saya akan sedikit terlambat karena saya ada urusan mendadak.Sekali lagi saya minta maaf."


"Tidak apa-apa tuan,saya akan menunggu anda lagi pula saya juga masih di rumah.Kabari saya saat anda sudah selesai."


"Kamu istirahat saja dulu sayang,Justin masih ada urusan.Dia akan mengabari nanti kalau sudah selesai dengan urusannya.Aku akan membuatkan kopi untukmu sebentar." Runa mencium pipi Arga sebelum pergi meninggalkannya.


"Al...tolong kamu cari tahu tentang Jia.Perasaanku tidak enak." Arga menghubungi Aldo selepas kepergian istrinya dan meminta Aldo untuk mencari tahu kabar adiknya.Karena Arga benar-benar merasa gelisah belum mendapatkan kabar dari adiknya.


"Memang ada apa dengan Jia, Ga? Kenapa kamu terdengar cemas?" Sahut Aldo yang bisa merasakan kecemasan sahabatnya itu.


"Entahlah Al,aku juga tidak tahu.Tapi dari kemarin perasaanku tidak enak,tolong kamu cari tahu kabar Jia dan segera beri tahu aku bila sudah mendapatkan kabarnya Al apapun itu...!" Pinta Arga penuh penegasan,ikatan batin antara Arga dan Jia memang kuat. Dan Arga sangat yakin sudah terjadi sesuatu dengan adiknya.


"Ok Ga..."


-------


Tok...tok....


"Siapa yang bertamu? Aku kan belum mengenal orang-orang di sini,apa mugkin nyonya Mery?" Gumam Jia sambil berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek....


"Justin....?" Jia terkejut saat melihat Justin berdiri dengan membawa banyak paper bag di tangannya. "Kenapa dia balik lagi kesini?" Batin Jia bingung.


"Aku membawa beberapa bahan makanan yang mungkin kamu butuhkan."


"Justin,aku bisa membelinya sendiri nanti, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini,lagipula kamu harus segera menemui temanmu bukan?" Jia merasa tidak enak karena perhatian Justin yang sudah berlebihan menurutnya.


"Tidak apa-apa Jia,temanku bisa menunggu.Kamu harus banyak istirahat,kamu baru saja melakukan perjalanan panjang dan tidak baik kalau kamu harus sering pergi apalagi kamu belum terbiasa dengan cuasa di sini." Ucap Justin yang sudah menerobos masuk tanpa menunggu Jia mempersilahkan dia masuk dan meletakkan semua paper bag yang dia bawa di meja dapur.


"Tapi aku tidak apa-apa,lihatlah aku baik-baik saja." Jia merentangkan kedua tanganya untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja.


Jia tidak mau merasa di kasihani seperti ini,dia masih merasa mampu untuk bertahan sendiri.


"Aku tahu kamu wanita kuat,tapi jangan egois ada nyawa di dalam perut kamu yang belum bisa sekuat ibunya.Walaupun aku yakin dia akan menjadi anak yang kuat nanti saat dia dewasa." Justin menunjuk perut Jia mengingatkan.


Jia mematung mencerna setiap kata yang di ucapkan Justin.Sepertinya Justin benar-benar tahu kelemahan untuk membuat Jia tak bisa membantahnya.


"Ini vitamin dan penguat kandungan,minum dan cepatlah istirahat." Justin menyerahkan satu paper bag kecil berisikan vitamin dan juga obat yang sempat dia ambil tadi dari rumah sakit tempatnya magang yang tak jauh dari desa yang Jia tempati,sebelum dia pergi meninggalkan Jia.


------


"Maafkan saya nona Aruna,tuan Arga sudah membuat kalian menunggu saya." Sapa Justin saat sudah sampai di meja tempat Arga dan Runa duduk.


"Tidak apa-apa tuan Justin,kami juga baru sampai." Jawab Runa membalas jabatan tangan Justin di ikuti Arga setelahnya.


"Bagaimana bulan madunya,apa kalian menikmati suasana di negara ini?" Tanya Justin membuka percakapan.


"Sangat menyenangkan tuan Justin." Jawab Arga sambil tersenyum.


"Oh syukurlah kalau begitu,mampir juga ke rumahku tuan kalau anda tidak keberatan!"


"Tentu saja tuan,kami pasti akan mampir." Jawab Arga dan Runa hampir bersamaan.


Hampir setengah jam Runa dan Justin terlibat dalam pembicaraan serius tentang pekerjaan.Sedangkan Arga hanya menjadi pendengar setia sambil sesekali mengecek ponselnya menunggu kabar dari Aldo.


"Ok nona Aruna,saya setuju dengan konsep anda.Saya serahkan semuanya pada anda untuk kejutan ini.Seandainya saya bisa bertemu dengan adik anda.Karya adik anda sangat mengagumkan tuan Arga." Justin melihat Arga setelah sebelumnya dia berbicara pada Runa.


"Terima kasih tuan,sudah menyukai karya adik saya." Arga tersenyum menanggapi ucapan Justin.


Drt....drt....


"Runa kita balik ke Indonesia sekarang!" Ucap Arga dingin setelah membaca pesan yang masuk di ponselnya.Membuat Aruna dan Justin mengerutkan dahi bingung.Merasa sudah terjadi sesuatu yang buruk dengan melihat perubahan raut wajah suaminya,Aruna segera meminta ijin pada Justin.


"Maaf tuan Justin,sepertinya kami harus pergi terlebih dulu."


"Iya nona,silahkan."


"Aku tidak akan memaafkanmu kali ini Nara!!!"


.


.


.


like....vote......ya kakak.