
"Astaga,apa memang harus begini kalau pacaran sama abg?" Batin Reno menggelengkan kepalanya melihat Nara turun dari tangga dengan menggendong Jia.
"Pagi tuan Reno." Sapa Jia dengan senyum nyengir kudanya saat sudah sampai di bawah.
"Pagi non Jia." Sahut Reno tersenyum menganggukan kepalanya lalu matanya mengarah pada Abel yang berdiri di belakang Jia dan Nara.
Di tatapnya mata Abel dengan tatapan tajam karena tadi meninggalkannya di dapur.Di tatap Reno membuat Abel salah tingkah dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ren ayo." Seru Nara yang sudah berjalan duluan."
"Baik Tuan." Sahut Reno mengikuti Nara dari belakang,tapi sebelumnya dia mendekati Abel dan membisikkan sesuatu.
"Urusan kita belum selesai." Reno berlalu setelah berbisik di telinga Abel.
"Huh,dasar om om mesum." Gerutu Abel.
Abel menutup pintu rumah Jia dan berjalan menuju garasi.Reno sudah berdiri di pintu mobil belakang membukakan pintu mobil untuk bosnya menurunkan tubuh Jia dari gendongannya.
"Awww..." Jia merintih kesakitan karena kakinya terbentur jok mobil saat Nara hendak menurunkannya.
"Sayang maaf,kamu nggak apa apa kan?" Tanya Nara panik mendengar rintihan Jia.
"Itu tuan,kakinya Jia..." Sahut Abel yang sudah berdiri di sebelah Reno tapi tidak jadi meneruskan ucapannya karena Jia sudah melototkan mata ke arahnya memberi isyarat untuk diam.Abel pun terpaksa diam menutup mulutnya.Sebenarnya Abel ingin sekali memberi tahu Nara karena khawatir dengan keadaan Jia tapi mau gimana lagi sahabatnya itu memang keras kepala,dia takut kalau nanti Jia marah.
Reno yang sempat menatap Jia dan Abel secara bergantian merasa curiga.Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Abel dan Jia.
"Kamu sih nggak pelan pelan nurunin akunya,jadi kebentur jok mobil kan." Jia pura pura pura kesal untuk mengalihkan perhatian Nara karena ucapan Abel yang hampir keceplosan tadi.
"Tapi nggak apa apa kok,hehe aku cuma bercanda." Imbuh Jia,saat melihat muka Nara yang nampak sangat khawatir.Dia tidak mau membuat Nara merasa bersalah.
"Maaf sayang aku nggak sengaja,mana yang sakit?" Nara belum merasa tenang dengan penjelasan Jia dan hendak memegang kaki Jia,tapi dengan cepat Jia menggeser kakinya.
"It's ok,aku nggak apa apa sayangkuhh." Seru Jia manja dengan senyum manisnya,hingga membuat Nara percaya dan lega.
"Huh, jangan tersenyum seperti itu padaku di tempat umum.Aku takut nggak bisa kontrol diri.Senyummu itu sangat menggodaku sayang." Bisik Nara mendekatkan wajahnya di telinga Jia,hingga membuatnya merinding.
"Dasar om om mesum." Gumam Jia sambil mengerucutkan bibirnya kesal.Nara terkekeh melihat tingkah kesayangannya itu dan mengacak acak rambut Jia karena gemas.
Reno dan Abel hanya geleng geleng kepala melihat dua anak manusia di depan mereka yang selalu membuat baper dengan kelakuan mereka yang terkadang di luar nalar.Mau gimana lagi memang terkadang cinta bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
"Kamu mau masuk apa mau berdiri terus di situ?" Ucap Reno yang sudah membukakan pintu mobil untuk Abel dan membuyarkan lamunannya.
"Ehm,eh ..iya masuk dong." Jawab Abel gugup dan segera masuk ke dalam mobil.Dia dan Reno duduk di depan.
"Tuan kita berangkat sekarang?" Ucap Reno yang sudah masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Iya Ren,nggak usah ngebut kita pelan pelan saja." Sahut Nara.
"Baik tuan."
Kurang dari setengah jam mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah Jia dan Abel. Reno membuka kaca pintu mobil saat ada security yang mengetuk kaca mobilnya.Security yang sudah hafal dengan wajah Reno si tangan kanan dari pemilik yayasan sekolah tempatnya bekerja dengan segera memberi salam dan membungkukkan badannya lalu mempersilahkan mobil Reno masuk.
Jia yang merasakan tubuhnya terasa lemas mencoba menggerakkan kakinya lagi.
"Kenapa kakiku semakin terasa sakit,badanku juga jadi lemas." Batin Jia menggigit bibirnya menahan rasa sakit di kakinya.
"Sayang aku antar kamu sampai depan kelas ya." Ucap Nara meminta ijin,dia nggak mau Jia marah seperti kemarin.
"Iya terserah kamu aja." Jawab Jia. Nara sempat kaget karena Jia tidak menolak untuk di turunkan di depan kelas padahal kemarin dia menolaknya walaupun akhirnya mau karena Nara memaksa.Tapi Nara tidak mau ambil pusing memikirkan hal itu.
Sampai di halaman depan kelas Nara turun terlebih dulu dan langsung membukakan pintu mobil untuk Jia.Jia keluar dari mobil dengan pelan pelan,dia mencoba memaksakan kakinya untuk berdiri.Jia memejamkan matanya sebentar untuk menahan rasa sakitnya.
Abel yang masih di dalam mobil bersama Reno nampak khawatir melihat Jia yang sedang menahan sakitnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi,kalian seperti menyembunyikan sesuatu dari kami?" Tanya Reno dengan tatapan penuh curiga menahan tangan Abel yang hendak keluar dari mobil.
"Nggak ada apa apa kok." Jawab Abel mencoba melepaskan tangan Reno.
"Bel kamu nggak mau turun?" Seru Jia,hingga membuat Reno terpaksa melepaskan tangan Abel.
"Iya beb ini mau keluar." Sahut Abel membuka pintu dan di ikuti Reno.
Mereka berempat menjadi tontonan teman teman Jia dan Abel,dan dari jauh terlihat juga kepala sekolah memperhatikan mereka berempat,tapi kali ini dia tidak berani menegur seperti kemarin.Karena sudah bisa di tebak dia nggak mau cari masalah dengan sang pemilik yayasan sekolah.
Bima yang sudah datang,melihat dengan tatapan cemburu pada Jia dan Nara di dalam kelas,dadanya terasa sesak melihat pemandangan di depan kelasnya.Begitu juga dengan Mia,diapun mengumpat Jia habis habisan.
"Dasar wanita murahan,tunggu tanggal mainnya Jia, tidak lama lagi aku yang akan di antar Nara bukan kamu lagi." Gumamnya dengan emosi.
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya,nanti pulang aku jemput.Jangan kemana mana kalau aku belum datang!"
"Siap bos." Seru Jia pura pura tersenyum untuk menutupi wajahnya yang sebenarnya menahan sakit.
" Anak pintar." Sahut Nara mengusap rambut Jia.
Jia dan Abel menunggu Nara dan Reno sampai mereka pergi dari kelas mereka,baru mereka berjalan menuju kelas.
"Beb kamu beneran nggak apa apa kan? Muka kamu pucat banget lo." Ujar Abel yang dari tadi menahan diri untuk bertanya menunggu Nara dan Reno pergi dulu.
"Aku nggak apa apa kok beb." Ucap Jia berjalan ke kelas dengan pelan pelan.
Sampai di depan kelas Jia sudah di hadapkan dengan suara bisikan bisikan teman temannya.Banyak yang bilang Jia beruntung menjadi tunangan pemilik sekolahan mereka tapi banyak juga yang menggunjingnya karena iri.
Jia tidak memperdulikan mereka,yang dia pikirkan ingin secepatnya sampai di mejanya karena sudah tidak kuat menahan sakit di kakinya.Tapi Abel yang tidak terima dengan cepat membentak mereka dan membubarkan mereka.
Jia baru saja duduk di kursinya dan langsung menghempaskan kepalanya di atas meja,tidak lama dia merasa kesal karena tiba tiba Bima sudah berdiri di sebelahnya.
"Jia apa kamu marah sama aku?" Tanya Bima langsung duduk di sebelah kursi Jia.Mia yang sejak tadi memperhatikan mereka tidak ingin menyia nyiakan momen itu,dia segera mengambil gambar Jia dan Bima yang duduk bersebelahan.
"Ayo Bim,dekati Jia terus.Kamu sangat membantuku Bim walaupun secara tidak langsung." Batin Mia dengan senyuman liciknya.
"Aku nggak akan pergi kalau kamu nggak jawab pertanyaanku."
"Argghhh...kenapa sekarang kamu jadi nyebelin sih Bim! Aku nggak marah sama kamu,tolong kamu pergi." Seru Jia dengan suara agak tinggi.dan membuat Bima kaget karena baru kali ini dia melihat Jia berteriak galak.
Sebenarnya Jia tidak bermaksud membentak Bima,karena efek dari menahan rasa sakitnya Jia menjadi marah dan membentak Bima.
Mendengar Jia bersuara keras membuat teman temannya melihat ke arahnya dan Bima.Begitu juga Abel dia langsung menghampiri Jia dan Bima.
"Kamu apain Jia,Bim? Kamu jangan macam macam ya!" Seru Abel dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah Bima.
"Aku nggak ngapa ngapain Jia." Sahut Bima yang dari tadi memperhatikan wajah Jia yang terlihat pucat.
"Jia apa kamu sakit?" Ucap Bima reflek menyentuh dahi Jia,dan langsung di tepis Jia.Lagi lagi Mia tersenyum puas,karena bisa mendapatkan bukti untuk merusak hubungan Jia dan Nara.
"Hey Bim kamu jangan keterlaluan ya!" Seru Abel yang sudah tidak bisa menahan emosinya melihat sikap Bima.
"Aku hanya memastikan keadaan Jia,apa kamu nggak bisa lihat kalau wajah Jia pucat seperti itu." Seru Bima kesal.
Abel yang sebenarnya dari tadi juga merasa kalau Jia sakit,segera memegang dahi Jia.
"Ya Tuhan beb,badan kamu panas banget." Abel panik setelah menyentuh dahi dan badan Jia.
"Aku nggak apa apa,kamu nggak usah khawatir." Ucap Jia menyangkal.
Tringg
Terdengar bunyi bel pertanda masuk.Mau tidak mau membuat Bima berdiri bangkit dari duduknya dan kembali ke mejanya.
"Beb,kamu beneran nggak apa apa? Kita ijin aja yuk periksa ke dokter atau kita ke klinik sekolahan aja." Abel nampak sangat cemas melihat wajah Jia yang sudah pucat, dia terus membujuk Jia agar mau memeriksakan lukanya.
"Nggak apa apa beb,nanti aja pulang sekolah." Ucap Jia sambil memejamkan matanya.
"Mending aku kasih tahu Reno aja,biarin kalau nanti Jia marah ketimbang nanti ada apa apa sama Jia." Batin Abel mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Reno.
Om Mesum:
"Tuan,tolong bilang pada tuan Nara kalau Jia sakit."
Drt...drt
Reno mengambil ponselnya yang bergetar karena ada pesan masuk.Dia menghentikan mobilnya dengan tiba tiba setelah membaca pesan dari Abel.
"Kamu kenapa berhenti mendadak sih Ren!" Seru Nara kesal karena kaget.
"Maaf tuan Abel mengirimkan pesan kalau nona Jia sakit." Ucap Reno hati hati karena dia tahu berita ini akan membuat bosnya panik.
"Hah apa kamu bilang?" Nara langsung merampas ponsel Reno dan membaca pesan itu secara langsung.
"Ren buruan kita balik ke sekolahan Jia sekarang!"
"Baik tuan." Reno langsung putar arah kembali ke sekolahan yang belum begitu jauh dengan kecepatan tinggi.
"Anak anak hari ini pak Agus tidak hadir,kalian kerjakan latihan soal soal ini dan kumpulkan nanti setelah jam pelajaran selesai." Seru pak Hasan membagikan kertas soal soal latihan ujian matematika.
"Jia dan Abel kalian ikut bapak ke ruangan sekarang!" Perintah pak Hasan yang sekaligus guru BP.
Abel yang sedang membaca soal yang baru saja dia pegang kaget karena di panggil pak Hasan. "Aduh pasti ini karena kemarin aku sama Jia bolos pelajaran deh." Batinnya menatap pak Hasan.
" Pak saya saja ya yang kesana biar Jia di sini.Jia baru sakit pak." Abel mencoba bernegosiasi.
"Hey enak aja,mentang mentang pacarnya pemilik sekolahan jadi minta di istimewakan." Ujar Mia mencoba memprovokasi.
"Sudah sudah jangan ribut." Seru pak Hasan sebelum keluar kelas.
Jia yang nggak mau terjadi keributan segera berdiri dari duduknya dan mengajak Abel untuk ke ruang Bp.
"Sudah Bel ayo,nggak usah ribut."
"Tapi beb,apa kamu kuat jalan sampai sana?" Tanya Abel cemas karena melihat wajah Jia yang benar benar pucat.
"Iya aku nggak apa apa." Jawab Jia yang sudah berdiri dan menyuruh Abel berjalan duluan.Abelpun terpaksa menuruti perintah Jia.Baru beberapa langkah Jia berjalan,dia sudah tidak bisa menahan lagi sakitnya.
Brukk
Dengan sigap Bima langsung meraih tubuh Jia yang hampir terjatuh ke lantai.
"Jiaaa..." Teriak Abel,Bima dan beberapa temannya secara bersamaan karena melihat Jia pingsan.
Abel sangat panik melihat Jia pingsan dan segera menghampirinya.
"Jia bangun!" Seru Abel berulang kali.
"Bel kamu minggir ayo kita bawa Jia ke klinik." seru Bima yang tak kalah panik.
"I..iya Bim." Jawabnya dengan terbata bata.
Bima membopong tubuh Jia hendak membawanya ke klinik sekolahan,tapi di depan kelas terlihat Nara yang baru saja tiba dengan wajah cemas ,dan tambah cemas sekaligus marah karena melihat Bima membopong Jia.
"Kemarikan Jia!" Ucapnya setengah berteriak dan tanpa permisi merebut paksa Jia dari tangan Bima.
.
.
.
Bersambung....