NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Selalu Menggoda



"Nara,aku balik dulu ke rumah sakit ya." Reza menepuk bahu Nara dari belakang hendak berpamitan hingga membuat Nara yang sedang menelfon menjadi kaget.


"Sialan kamu Za,bikin kaget saja.Kalau kamu balik siapa yang mantau kondisi Jia.Memangnya kamu sudah selesai mengganti perbannya?" Nara memberikan pertanyaan bertubi tubi pada Reza,hingga membuat Reza menggelengkan kepalanya.


"Kamu bisa nggak nanyanya satu satu! Kalau aku belum selesai mengganti perban tunanganmu mana mungkin aku ada disini.Nanti malam aku balik lagi kesini,sekarang aku ke rumah sakit dulu karena ada urusan penting yang harus aku tangani.Lagian kamu kan tunangannya,ya kamu dong yang harusnya merawat dan mengawasi dia,bukannya aku.Kamu mau kalau tunanganmu yang ngegemesin itu jadi berpindah hati karena terpesona dengan ketampananku ini,hah." Reza mengedipkan matanya menggoda Nara,dan langsung mendapat pukulan bogem mentah dari Nara di lengannya.


"Hey enak saja,wanitaku tidak mungkin terpesona sama laki-laki playboy kaya kamu gini." Ucap Nara dengan bersungut sungut.


"Siapa tahu saja,week..."Reza menjulurkan lidahnya mengejek Nara seperti yang sering dia lakukan semasa kecil dulu dan buru-buru lari keluar menuju ke mobilnya.


"Sialan kamu Za...Sudah sana buruan pergi sebelum aku menghajarmu." Umpat Nara hendak mengejar Reza tapi berhenti karena Reza sudah masuk ke dalam mobilnya.


----


"Duh Abel kok lama banget sih ambil bajunya,aku sudah gerah banget dari tadi pakai seragam aku ingin mandi.Apa mending aku pinjam baju Nara aja ya sebentar,nanti kalau Abel datang aku tinggal ganti baju." Gumam Jia sambil susah payah berjalan menuju lemari pakaian Nara.


Jia memilah-milah baju Nara,dan pilihannya jatuh pada kemeja berwarna putih milik Nara. "Ah kayaknya ini nyaman deh kalau di pakai." Batin Jia lalu berjalan dengan hati-hati menuju kamar mandi.


Jia merapikan bajunya di depan cermin dan mengeringkan rambutnya dengan handuk saat sudah keluar dari kamar mandi.Tubuhnya yang mungil membuat dia nampak kedodoran memakai baju Nara yang yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari Jia.Kemeja yang Jia pakai bisa menutupi tubuhnya sampai lutut.


Nara yang sudah berdiri di depan pintu sejak beberapa menit yang lalu tertegun memandang Jia yang kedodoran memakai bajunya namun malah terlihat seksi menggoda di matanya.Nara menelan salivanya dengan susah payah karena melihat penampilan Jia.


"Aduh Ga,gimana aku bisa menepati janjiku kalau adikmu sangat menggoda iman seperti ini." Batin Nara yang masih berdiri,matanya tak berkedip sedetikpun.Nara mengusap kasar wajahnya mencoba menahan gairahnya.


Jia yang merasa sedang di perhatikan lalu menoleh ke arah pintu dan di lihatnya Nara sedang berdiri mematung.


"Nara aku pinjam kemejamu ya,habisnya Abel nggak datang-datang.Aku sudah gerah pakai seragam terus dari tadi." Ucap Jia sambil menarik-narik kemejanya ke bawah,tapi justru semakin terlihat menggoda bagi Nara karena Jia menarik bajunya dengan kuat hingga malah membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas,apalagi rambut panjang Jia yang basah setelah keramas membuatnya semakin seksi menggoda.


Wajah Nara memerah karena menahan gairahnya,tapi Jia salah mengartikan raut wajah Nara yang menurutnya sedang marah karena dia memakai bajunya tanpa minta ijin dulu.


"Nara kenapa kamu diam saja,kamu marah ya?" Jia sudah panik karena Nara tidak merespon ucapannya dan malah menutup pintu lalu menghampirinya dengan raut wajah yang masih sama.


"Ya sudah kalau kamu marah,aku ganti lagi bajunya." Jia hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tapi dengan secepat kilat Nara meraih tubuh Jia dan memeluknya erat.


"Kenapa kamu selalu menggodaku Jia,bagaimana kalau aku tidak bisa menahannya sampai hari saat kita menikah?" Nara berbisik di telinga Jia dengan nafas yang memburu,dan terdengar jelas di telinga Jia sampai membuatnya merinding.


"Nara..." Gumam Jia lirih.


"Biarkan seperti ini dulu sayang,jangan bergerak,aku takut tidak bisa menahannya lagi." Jia yang sadar kalau Nara sedang susah payah menahan diri,hanya bisa menuruti perintah Nara untuk diam.


"Nara...kakiku sakit."


"Maaf sayang,aku lupa." Nara membopong tubuh Jia berjalan ke tempat tidur,saat hendak membaringkan tubuh Jia,kaki Nara tidak bisa menumpu tubuh mereka dengan baik hingga akhirnya mereka jatuh bersama di tempat tidur.


Nara menatap wajah Jia yang ada di bawahnya,jantungnya berdetak sangat kencang begitu juga jantung Jia juga berdetak sangat kencang.


Seperti biasa kalau sedang berdua dengan Jia,Nara tidak akan bisa mengontrol dirinya.Perlahan tapi pasti Nara memajukan wajahnya dan langsung mencium dengan lembut bibir Jia.


"Sayang maaf aku selalu tidak bisa menahan diri saat bersamamu,kamu seperti candu buatku sayang." Nara menghentikan ciumannya sebentar dan berbisik di telinga Jia,lalu mencium bibir Jia lagi dengan lembut dan memberinya *******-******* lembut.


Nara menjatuhkan tubuhnya di samping Jia,dan memejamkan matanya.


"Maaf sayang,aku janji tidak akan melakukannya sebelum kita menikah." Ucap Nara dengan tidur menghadap Jia lalu mencium keningnya.


----


"Kamu tunggu di mobil aja,biar aku masuk sendiri ambil baju-baju Jia." Ujar Abel saat sudah sampai di depan rumah Jia dan hendak turun dari mobil.


"Terserah aku,mau disini apa mau masuk." Gumam Reno yang sudah turun duluan dari mobil meninggalkan Abel yang sedang menggerutu tidak jelas dalam mobil.


"Kamu mau turun sendiri apa aku yang maksa?" Ucap Reno di depan kaca jendela. sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iya-iya turun sendiri.Dasar nyebelin."Abel tetap saja menggerutu saat berjalan masuk ke rumah Jia.


"Non Abel,mari silahkan masuk." Ucap Bi Yanti yang sudah membuka pintu karena tadi mendengar ada suara mobil berhenti.


"Iya bi terimakasih,oh ya bi Abel kesini mau ambil baju-baju Jia."


"Emang mau di bawa kemana non,terus non Jianya mana kok nggak ikut pulang? Non Jia nggak kenapa kenapa kan non?" Tanya Bi Yanti khawatir.


"Non Jia baik-baik saja bi,tapi untuk sementara waktu Non Jia akan tinggal di rumah tuan Nara sampai kondisinya lebih membaik." Sahut Reno mendahului Abel yang akan menjawab pertanyaan bi Yanti.


"Huh,main serobot aja!" Seru Abel kesal.Reno hanya tersenyum melihat Abel kesal.


"Oh syukurlah kalau begitu tuan,mari silahkan masuk."


"Iya bi,terimaksih." Sahut Reno megikuti dua wanita itu masuk dalam rumah.


"Kamu tunggu disini aja,nggak usah ikut ke kamar!" Ucap Abel dengan menunjuk dada Reno menggunakan jari telunjuknya.


"Kalau aku nggak mau gimana?"


"Huh jangan macam-macam deh...!" Ucap Abel lalu berjalan ke kamar Jia meninggalkan Reno di ruang tamu.


Sudah lebih dari setengah jam Abel mengemas barang barang Jia,karena merasa lelah Abel berbaring sebentar di atas kasur Jia.


"Ah aku capek banget,tiduran bentar nggak apa-apa kali ya." Gumam Abel yang sudah menghempaskan tubuhnya di kasur Jia yang empuk.Niatnya hanya tiduran sebentar tapi malah Abel kebablasan tidur.


"Ini bocah kenapa lama banget sih,emang berapa baju yang mau di bawa.Mending aku susul saja." Reno segera berjalan menyusul Abel ke kamar Jia.


Betapa terkejutnya dia saat mendapati Abel yang sedang tertidur pulas.


"Dasar bocah,di tungguin tapi malah enak -enakan tidur." Reno menghampiri Abel hendak membangunkannya tapi dia malah mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto Abel saat tidur.


"Huh kamu bikin gemas saja."


.


.


.


.